Cukarnikus! Keren banget hari. Parang yang slama ini beta pengen punya akhirnya dalam genggaman. Sudah berbulan-bulan cari parang. Masuk keluar pasar baru, ulang-ulang main di lapak pisau parang ama Sabu, tapi tidak ada parang yg jodoh dihati. Entah kenapa. . Beberapa hari lalu, waktu jalan ke desa Sadi, baru tau kalo ada orang Belu yang berprofesi sebagai pandai besi. Dia dari etnis Kemak. Tidak pake lama, Kita langsung mnuju ke bengkelnya. . Mnurut cerita bapak pandai besi, profesi ini dalam rumpun Suku Kemak, ada Suku yang khusus bertugas sebagai pandai besi. Proses menempa besi diawali dengan ritual adat. Ya waktu main ke workshop besi kemarin, terlihat seikat jagung digantung tepat atap daun. Sebagai sesajen saat ritual. . Cerita selanjutnya, beta akan cerita (foto) lewat akun @fohoraifestival. . Desa Sadi pada bulan November nanti akan ada festival Fohorai. Si Bapak sang penempa besi juga akan hadir disana. . Back to parang. Besi tuk parang ini di ambil dari Plat yang ada di sensor. Murni ditempa secara tradisional. Tanpa mesin gurinda dan mesin amplas. Hari ini beta dengan resmi melamar parang si Bapak Kemak. 150 ribu belisnya. . Parang ini beta kasi nama : UMAI (Ada cerita sejarah salah satu suku kemak dibalik nama ini) . Ini parang beta mau pake tuk kupas kelapa tuk bikin Virgin Coconut Oil di kosan. Juga tuk dibawa saat ada job prewedding. . Sudah gita sah dulu. #tebas . #fohoraispirit #fohoraibelu #timorobserver (at Belu, Nusa Tenggara Timur) https://www.instagram.com/p/B0YUcTyF8fz/?igshid=w0gc5tqjrepc












