Museum Misi, Perjalanan Penyebaran Agama yang Dimuseumkan [Catatan Feature yang Gagal]
Tepat ketika sepeda motor kami memasuki Kompleks Pendidikan Pangudi Luhur di Muntilan, awan hitam mulai berarak ke selatan. Tak lama, rinai hujan mulai turun membasahi pelataran berumput tempat kami berpijak. Segera, kami pun berlari menuju teras gedung untuk berteduh.
Suasana bangunan berarsitektur Belanda dengan dua lantai tersebut cukup lengang siang itu. Dari teras tempat kami berdiri, hanya terlihat beberapa pegawai yang tengah duduk di meja kerjanya masing-masing. Sepinya suasana ditambah dengan keminiman penunjuk arah, membuat saya dan teman saya pun bertanya-tanya, di mana letak pintu masuk Museum Misi Muntilan yang kami cari.
Tak lama, setelah kami saling melempar kalimat, “Kamu aja yang tanya,” keluarlah teman saya bersama salah seorang pegawai di museum tersebut. Ia pun membuka sebuah pintu dan mempersilakan kami berdua masuk. Ia memperkenalkan dirinya dengan nama Seno.
“Tunggu sebentar di sini, ya, saya masih ada tanggungan mengetik, sebentar saja. Nanti saya temani berkeliling,” ucapnya. Kami berdua pun mengiyakan.
Sepuluh menit berlalu, Seno kembali menemui kami dan langsung mengajak kami berkeliling. Di tengah ia bercerita mengenai asal mula berdirinya Kompleks Misi Muntilan, tiba-tiba saya pun sadar bahwa tenyata untuk bangunan khusus museum ini kecil saja tempatnya. Lantai satu difungsikan sebagai kantor. Sementara itu, barang-barang bersejarah diletakkan di lantai dua.
Laiknya museum pada umumnya, di museum ini terdapat barang-barang bersejarah yang dipajang dalam etalase kaca –penataannya sendiri tidak dilakukan berdasarkan urutan waktu (tidak kronologis), melainkan menurut tema. Mulai dari sekedar foto, buku catatan, kamera, jubah yang digunakan sang uskup saat kebaktian, hingga sebuah kitab kuno yang tebalnya kurang lebih 9 cm –panjangnya, saya taksir lebih dari 30 cm. Semua barang tersebut nampak terawat. Hal ini terlihat dari keberadaan kapur barus dan silica gel yang masih baru di dalam setiap sudut etalase.
Tak hanya itu, melalui museum ini, kami juga dikenalkan pada beberapa tokoh penting di keuskupan, seperti Van Lith, Soegijapranata, dan Mangunwijaya. Sayangnya, tidak terdapat teks yang memadai mengenai sepak terjang para tokoh tersebut dalam menyebarkan agama Katolik di tanah Jawa, khususnya Semarang, Yogyakarta, dan Solo.
“Kami menyadari kalau museum ini memang minim teks karena tokoh sejarahnya tidak ada. Sumber data di museum ini sebagian besar diperoleh secara lisan,” jelas Seno. Oleh karenanya, pihak museum pun merasa kesulitan untuk menuliskan penjelasannya, “Lebih mudah kalau diceritakan secara lisan begini,” tambahnya diselingi tawa.
Seno pun menjelaskan bahwa pendekatan yang dipakai untuk menyebarkan agama katolik –hingga akhirnya agama tersebut dapat diterima dan orang-orang bersedia dibaptis– salah satunya adalah melalui aspek budaya. “Kalau di islam, kurang lebih sama seperti Wali Songo,” ucapnya.
*PERSETAN DENGAN KEINGINAN MENULIS ARTIKEL FEATURE YANG BAIK*
*ALIFTYA KEMBALI MENULIS DENGAN GAYA TIDAK TERDEFINISIKAN*
*YA RABB, MENGAPA DARI DULU AKU TIDAK BISA MENULIS FEATURE YANG MENARIK*
Menarik pula saat mengetahui bahwa ternyata sekolah misi yang dibangun saat itu tidak hanya berorientasi sebagai upaya para misionaris untuk menyebarkan agama katolik, melainkan juga sebagai tempat perjodohan. Dalam hati, saya pun berkata, “Oh, pantes anak JB (SMA Kolese De Britto –red) banyaknya deket sama anak-anak Stece (Stella Duce –red).” Duh, obrolan zaman SMA banget ini mah –anak Jogja pasti paham.
By the way, aku baru betul-betul tahu keberadaan museum ini saat aku mengunjunginya beberapa waktu lalu –15 Februari 2018. Menurutku, keberadaannya cukup menarik karena baru kali ini aku tahu bahwa ada “perjalanan” sebuah agama di suatu wilayah yang dimuseumkan. Apakah ini karena mainku kurang sering dan kurang jauh?
Sewaktu temanku mengajak untuk berkunjung ke museum itu, aku sempat berpikir usil, “Museum misi? Terus isinya soal pembaptisan gitu? Pengunjung yang ke sana bakal di-katolik-isasi, nggak?” Dan tentu saja jawabannya tidak!
Meski namanya “Misi”, pengunjung tidak serta merta akan di-katolik-isasi, kristenisasi, islamisasi, hinduisasi, buddhaisasi, dan sasi-sasi lainnya kok. Museum ini murni bercerita soal sejarah penyebaran katolik.
Sebagai informasi tambahan, museum ini dibuka untuk umum dari pukul 8.00-15.00 di hari kerja, kalau hari libur harus dengan perjanjian. Jadi, tidak hanya untuk pemeluk katolik saja yang boleh datang ke tempat ini, bahkan kamu yang tidak beragama pun diperbolehkan untuk datang kok.
Ya, mungkin karena hampir 90% pengunjung yang datang adalah pemeluk agama katolik, palingan kamu hanya ditanya, “Dari paroki mana?” seperti saya dan teman saya haha –dan kami kelimpungan harus menjawab apa, saya hanya cengesesan sambil mengirimkan kode mata, “Kamu aja yang jawab,” pada teman saya yang kemudian berkata, “Dari Semarang, Pak.”
Untuk biaya masuk, tenang, gratis guys –dan ini adalah salah satu alasan aku dan temanku datang, setelah sebelumnya mau ke Oei Hong Djien (OHD) tapi tiket masuknya sedang tidak bersahabat di kantong waktu itu hehehe. *peluk sobat misqinku satu per satu*
Lepas dari itu, hal yang paling aku suka dari tempat itu ada pada arsitektur bangunannya yang masih Belanda totok, lengkap dengan jendela-jendela tingginya dan tata saluran air yang apik. Lingkungannya pun tenang sekali.
Singkat cerita, sekitar pukul tiga sore kami telah berkeliling ke seluruh ruangan di museum tersebut. Agenda berkunjung ke museum hari itu pun kami sudahi. Tak lupa, di akhir perjumpaan, kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Seno yang telah meluangkan waktunya untuk menemani kami berkeliling.
[A.A. Balkon Rumah, 22-02-2018 – 23.41]
*) sumber gambar: Aliftya Amarilisya














