Hallo rumah :)
tumblr dot com
ojovivo
art blog(derogatory)
almost home
taylor price
trying on a metaphor
One Nice Bug Per Day

Product Placement

No title available
No title available

Kiana Khansmith
Jules of Nature

★
Claire Keane
Cosimo Galluzzi

oozey mess

No title available

Kaledo Art
I'd rather be in outer space 🛸
Cosmic Funnies

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from France
seen from United States

seen from Malaysia

seen from France

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Germany
seen from Mexico

seen from Germany

seen from Germany
seen from United States

seen from Netherlands
seen from United States

seen from Belgium

seen from Türkiye
seen from Ukraine
@aliffpratamaaa
Hallo rumah :)
Yang bikin saya iri itu, mereka yang melakukan kebaikan tapi tak pernah menampakkan ke khalayak.
“Saya takut pamernya saya malah menghilangkan pahala sedekah saya” alasannya.
Wannabe Zero Again
Ga bisa dipungkiri, awalnya saya make Tumblr karena platform ini nyaman banget untuk jadi tempat pelarian.
Lari dari depresi. Dari perasaan bahwa diri ini ngga berharga. Dari perasaan have no idea what to do with my own life.
Entah kenapa, saat itu, banyak konten di Tumblr seolah dibikin untuk saya.
Bukan karena banyak quotes motivasi. Gimana jelasinnya ya. Pokoknya total experience yang saya dapatkan ketika nge-Tumblr itu.. Seolah menarik saya ke sebuah dimensi yang saya ngga perlu mencemaskan kehidupan nyata.
Rasanya ngga ada beban, ngga ada tuntutan harus jadi seorang ini atau itu. I can just be myself yang bukan siapa-siapa ini. I can be just a zero. Ga perlu pencitraan. Duh enak banget. (Makanya, dulu saya ga seneng kalau orang yang saya kenal nemu Tumblr saya–di sisi lain saya juga gamau akun saya anonim. Ini paradoks yang sulit saya jelaskan).
Sekarang, hidup udah berjalan jauh sejak saya pertama kali kenal Tumblr (10 tahun ada kali ya? Waaw, saya juga baru nyadar udah selama itu).
Saya udah ngalamin banyak hal, belajar banyak hal, dan mungkin jadi seseorang yang agak berbeda dengan saya 10 tahun yang lalu. Dan Tumblr udah jadi semacam dokumentasi bagaimana saya bertumbuh.
Saya sadar bahwa motif saya make Tumblr juga bukan lagi untuk lari, tapi untuk berekspresi bahkan beraktualisasi. Ya mungkin sesekali curcol. Kayak gini.
Yang jelas cara saya make Tumblr juga jadi beda. Kalau dulu banyak baca konten orang, reblog konten orang, ngerepost konten orang dari platform lain ke sini, sekarang banyakan bikin konten dan sedikit baca-reblog konten orang.
Dulu buka Tumblr just to run away, have no idea what I was looking for, pokoknya scroll-scroll-scroll, found gold and diamond, dan seterusnya. Sekarang saya buka Tumblr karena emang udah punya intensi untuk nulis.
Saya nulis ini karena terpicu oleh gagasan bahwa I wanna be zero again. I wanna be no one again (lah emang lu udah jadi siapa??)–maksudnya, I wanna gain freedom like I used to have. Freedom dalam arti independensi, atau kemerdekaan.
Kemerdekaan dari penilaian orang lain. Kemerdekaan dari kewajiban-kewajiban yang engga jelas kenapa kita mengembannya dan untuk apa kita mengembannya (seriously, do a general check up on this and terminate kewajiban-kewajiban ga jelas/berlarut-larut itu). Kemerdekaan dari hutang apapun, materiil maupun nonmateriil (janji, amanah yang tertunda, ekspektasi orang lain, dll).
I really really want to simplify my life. Enjoying every second of it. Learn things I found interesting without having to think “ini align ngga ya sama career goal saya?”. Making everyday as the best day ever. Yes yes, I used to be that kind of person. Pursuing a beautiful life without sacrificing the present happiness.
So, yeah, let’s just do it.
Jangan Hidup dengan Sampah
Kamu punya dompet kan?
Coba lihat isi dompetmu, temukan benda-benda yang sudah lama ada di sana tapi sebenarnya nyaris tidak pernah kamu gunakan.
Struk-struk, kartu-kartu, foto-foto, dll.
Ada? Buang.
Isi dompet hanya dengan hal-hal yang kamu perlukan, seperti uang tunai, kartu debit/kredit yang sering digunakan, kartu identitas—tentukan seselektif mungkin.
Sama seperti isi dompet, kalau diperhatikan, hidup kita juga banyak mengandung urusan-urusan yang sebenarnya kecil dan remeh, namun kita biarkan menggantung.
Urusan-urusan yang serba tidak tuntas. Serba tanggung. Kita pikir kita akan menyelesaikannya nanti, ketika ada pemicu dan kondisi tertentu yang lebih ideal. Tapi pemicu dan kondisi ideal itu tidak akan pernah datang.
Urusan-urusan itu menghantui setiap hari, menjadi beban pikiran. Namun karena kita terbiasa mengabaikannya—sama seperti mengabaikan benda-benda tak penting dalam dompet, kita jadi berpikir memang begitulah hidup. Tidak ada masalah dengan kehidupan seperti itu.
Akhirnya, secara keseluruhan kita menghidupi hidup yang suboptimal. Medioker. Ketika kamu mestinya bisa menghabiskan 8 jam waktumu untuk menajamkan keahlian—misalnya, waktu kamu menetes ke berbagai urusan kecil yang tidak pernah kamu tuntaskan. Si A menagih janji, Urusan B minta diperhatikan, Pekerjaan C tiba-tiba muncul kembali.
Ketika kamu mestinya bisa menjadi seseorang bernilai 10, sumber daya kamu bocor ke mana-mana sehingga kamu hanya menjadi seseorang bernilai 5.
Maka, saran saya, definisikan lagi kehidupan seperti apa yang kamu inginkan. Seperti apa kamu dalam kondisi bernilai 10. Eliminasi urusan-urusan yang tidak menjadikan kamu seorang bernilai 10. Tolak tawaran, mundur dari amanah, lunasi hutang, penuhi janji, tuntaskan urusan.
Lukaku tak laku. Ya, aku jual di media sosialku. Ku harap orang bersipati padaku. Ya tapi tak laku. hmm
GERAH
Kadang kita suka gerah kalo liat orang lain
Liat orang punya usaha, pengen jadi pengusaha juga biar berasa sukses. Liat orang akademiknya dahsyat sampe scholarship ke luar negeri, kita ikut-ikutan pengen ke luar negeri. Liat orang hafal quran, kita pengen jadi hafidzh juga. Liat orang nulisnya bagus sampe dilike dan difollow ribuan orang, kita gatel pengen nulis juga Tapi nyatanya, kita malah sibuk bermimpi. Mungkin kita sempet mencoba untuk ngejar kualitas mereka. Awalnya kita coba nulis lalu post. Bikin karya lalu post. Bikin cv lalu daftar. Buka Quran lalu mulai menghafal. Satu jam. Dua jam Sehari. Dua hari Kita geregetan buka instagram tiap 30 menit untuk liat likesnya nambah berapa. Kita kepoin temen kita yang sama-sama apply scholarship untuk tau pengalaman organisasinya lebih banyak siapa. Kita sok-sok nanya temen soal hafalan, padahal cuma ngecek hafalan dia masih oke apa nggak Kadang, sadar nggak sadar kita terjebak dalam insecurities. Kita silau liat mereka, temen-temen kita yang udah ‘sukses’ duluan. Mereka yang udah dapet predikat 'panutan’ di mata masyarakat. Kita kebelet pengen bisa kaya dia. Kita mulai coba satu dan lain cara
Setelah sekian menit, sekian jam, ternyata yang kita rasa malah hantaman kecewa karena likes di postingan kita cuma 10, punya dia 2000. Kita kecewa karena ternyata sebelumnya dia bahkan udah pernah lolos exchange. Kita kecewa karena ternyata hafalan dia masih mempecundangi hafalan kita
Lalu kita merasa terpuruk, bergumul dengan pikiran sendiri. Malu sendiri karena ngerasa payah
Dan hari-hari selanjutnya rasanya abu-abu Aku nggak bisa kayak dia. Ini nggak bakal ngefek. Aku nggak punya bakat apapun di sini
Dan sejuta pembelaan pembenaran lainnya
Bukankah ini aneh? Kenapa kita harus ngerasa kecewa? Mungkin, ini waktu yang tepat untuk diam sejenak dan tanya hati kita sendiri. Hey, kamu ngelakuin ini semua buat apa sih? Sebenernya apa yang kita kecewain? Ngerasa gagal karena kapasitas kita untuk menebar manfaat masih sangat kecil, atau karena kita nggak dapet pengakuan seperti yang dia dapet dari orang-orang? Kalo hati kita cenderung ke jawaban yang kedua, menangislah. Menangislah meski kamu belum bisa mengakui kalo itu bener. Its okay to cry. Its okay to feel ashamed. Its okay to be sad when you realise that you’ve done something bad.
Fitrahnya, ruh manusia punya kecondongan untuk berbuat baik. Jadi ketika sadar niat kita salah, menangis itu tandanya ruh masih punya kebaikan. Menangislah, tumpahin semuanya Ya Allah, aku malu. Ya Allah, aku ngelakuin hal yang salah. ya Allah…ya Allah… Ketika kamu ga punya kata-kata lagi untuk diluapkan, just cry and call His name
Allah bahkan ngga butuh kalimat apapun untuk paham apa yang kamu rasain. Menangislah sampai jiwa kamu rasanya robek-robek. Menangislah, its okay untuk nunjukin bopeng-bopeng di hati kita sama Allah
Allah paham setiap luka, setiap sakit yang kita rasa. Allah nggak bakal menghujat kamu, nggak bakal melabeli kamu cengeng, ngga bakal geuleuh meski ingus kamu berleleran. Somehow, kita akan sadar kalo Allah ngedengerin curhat kita. Entah gimana ngejelasinnya, tapi hatimu pasti bakal tau. Dan bagian terbaiknya, Allah selalu merespon dengan cara terbaik
Udah kelar nangisnya? Udah ngerasa baikan? Oke, sekarang saatnya liat ke depan dan setting ulang niat. Apa rencanamu selanjutnya? Lanjut nulis? Lanjut benahin cv? Lanjut murajaah? Apapun itu, mulailah dengan niat yang sederhana, yang penting ketulusannya terjaga. basmallah, mulai melangkah pelan-pelan, tanpa perlu bandingin diri kamu dengan capaian orang lain. Setiap orang punya waktunya masing-masing dalam mencapai sesuatu. nggak selalu sama antara satu dan lainnya. Nggak usah dibandingkan karena faktor yang membentuk diri kamu dan orang lain itu juga berbeda.
Kalo kamu gereget saat ada orang yang seusia dengan kamu tapi kebermanfaatannya sudah besar, cukup diteladani aja. nggak perlu ditambah dengan meratapi diri sendiri, apalagi menyalahkan keadaan
Bukan karena kamu ngga mampu, dia hanya mulai lebih awal. Orang tuh ngga bakal jago logaritma kalo ngga mulai belajar operasi sederhana macam tambah-tambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian dulu. Ngga bisa skip terus langsung loncat ke perpangkatan
Kalo kamu masih gagal. Yaudah, gapapa. Ngga mungkin sebuah proses dilalui tanpa ada hambatan dan kegagalan dulu. Lagian, ngga ada kisah yang lebih bosenin dibanding kisah yang isinya seneng-seneng doang dari awal sampe akhir Every expert once a beginner, they said
Jadi, hargai setiap pelajaran yang kamu dapet sepanjang perjalanan. Kenikmatan dalam perjuangan itu didapat dari seberapa kamu tumbuh dari nggak bisa jadi bisa, dari lembek jadi strong, dari begajulan jadi sayang sama Allah
Bukan dari cie-cie yang didapat dengan instan padahal usahanya nggak seberapa. Asikin aja dulu pait-paitnya. Percaya deh, suatu hari nanti, ketika kamu ngeliat ke belakang kamu bakal mikir “wah ternyata dulu aku semenye menye itu ya hahahaha”. Kamu bakal ketawa dengan entengnya, sadar sekarang kamu jauh lebih tangguh, dengan kebermanfaatan yang tanpa disadari sudah mengalir deras ke mana-mana tanpa terbersit pikiran buat riya’, Insya Allah Tunggu apa lagi? Ayo stop scroll down sekarang juga, libatkan Allah dan mulai usaha lagi :3 From a friend who strive just like you, Orcinus Orca
Aku manusia (katanya), katanya manusia (katanya) ini hidup diatara kata cerita-cerita (katanya). Katanya manusia (katanya) ini tak pantai berkata-kata (katanya). Aku manusia (katanya) hanya pandai mencaci manusia (katanya) yang sesama manusia (katanya). Aku manusia (katanya) bermimpi seperti manusia (katanya) yang sama manusia (katanya). Ah katanya manusia (katanya). 🚀 (at Planet Namek)
Allah tak pernah meninggalkanmu, kamu saja yang seringkali lupa melibatkan-Nya.
— Taufik Aulia
Rasanya disini semua pernah merasa kehilangan.
Ya lalu tumblr lah yg menyatukan kitaaa ~
Al Quds adalah tanah suci yang penuh berkah. Al Quds tanah para nabi. Allaah menjadikannya kiblat pertama Muslim. Kesinilah wajah menghadap saat sholat dahulu.
Rasulullaah shallahu allaihi wassalam memerintahkan Usamah bin Zaid ra membawa pasukan untuk membebaskannya. Dibawah kekhalifahan Umar bin Khaththab ra, Al Quds bebas dari penguasaan Romawi, hingga Yahudi bisa masuk kembali dan kesucian Nasrani tetap utuh.
Sholahuddin Al Ayyubi kembali mencontoh Umar, membebaskannya dari The Crusaders, kaum salib Eropa sehingga Al Quds kembali menjadi pusat ilmu dan peradaban Islam.
Saat Zionist Internasional mengirimkan Yahudi Eropa ke Palestina pada tahun 1900-an, jumlah Yahudi di Al Quds tak sampai 10%. Mayoritasnya adalah Muslim.
Dimana logika pembenaran Al Quds/ Yerusalem dijadikan Ibu Kota Penjajah yang tidak punya hak berdiri di tanah suci?!
SAY NO!!! to Al Quds/ Yerusalem for Israel!!!
—
©smart_171
Hmmmmmmm.. it's time for me to live in Mars (at Bumi)
Memesona itu Berani Bermimpi Tanpa Batas
Saya selalu terpesona dengan orang-orang yang tahu apa yang di-mau, melihat mereka yang berhasil berdiri dengan tegaknya di atas mimpi sendiri. Sungguh suatu hadiah diri paling luar biasa atas keringat dan air mata yang jatuh di setiap langkah menuju ke sana.
Wanita pertama yang membuat saya langsung jatuh hati dan terinspirasi adalah @perempuanthicka. #Memesonaitu melihatnya bercerita bagaimana pekerjaannya sebagai penulis tentang kopi membawanya terbang ke mana saja. #Memesonaitu kilatan bahagia yang terlihat jelas di matanya, membuat saya percaya, bekerja sesuai dengan passion tak hanya akan membuat dompet mengembang, semangat dalam jiwa pun akan terus kenyang.
Tidak Ada Kata Terlambat
Dari kecil, kita sudah biasa ditanya tentang cita-cita. Dokter, pramugari, polisi dan banyak profesi keren yang lainnya. Namun, dengan bertambahnya usia, passion akan membawa kita ke tempat yang diinginkan. Kamu mungkin akan tersesat lebih dulu dengan salah jurusan atau pekerjaan yang hanya membuatmu mengutuk di setiap pagi. Tak pernah ada kata terlambat untuk berganti haluan, mengejar mimpi yang selama ini pura-pura kamu ikhlaskan. Di usia menjelang 30 tahun, saya masih terkungkung di rumah. Bekerja seadanya. Lowongan kerja kantoran bahkan meminta usia di bawah 26 tahun, bukan? Hobi menulis pun cuma jadi ajang curhat di blog. Sampai akhirnya tawaran bekerja sebagai content writer datang. Saya yang seorang Sarjana Teknik Pertanian, dengan tulisan acak adul yang mostly cuma puisi ala-ala? Serius? Tentu saja saya ambil! Apa sih yang tak bisa dipelajari?
Keliling Diri dengan Vibe Positive
Bertemanlah dengan orang-orang yang punya energi positif. Mereka akan menulari kita dengan pikiran-pikiran optimis. Bagaimana mereka tetap semangat menghadapi hidup yang kadang kejam, atau tentang taktik menjauhkan diri dari penyakit hati. Belajar mendengarkan juga perlu. Karena setiap menyediakan telinga untuk mendengar, ada ilmu baru untuk dipelajari. Dari seorang teman, Titasya, saya belajar bahwa apapun bisa diraih asal terus berusaha. Sahabat yang juga bos saya ini mengajarkan bahwa penting untuk terus berkembang. Dari kawan lainnya, @tetavaganza saya belajar, bahwa terus berpositive thinking baik untuk kesehatan jiwa. Teman akrab ini juga membuat saya sadar, berbagi tidak akan pernah membuatmu kekurangan.
Berani Mendobrak Keluar dari Zona Nyaman
Keluar dari zona nyaman dan aman yang hangat memang sedikit menakutkan. Ratusan ‘bagaimana jika’ menghantui kepala dan memberati kaki untuk melangkah. Namun, kita tak tahu harta karun apa yang ada di luar kalau melangkah keluar saja tak berani. Ingat pepatah yang mengatakan, ‘Jangan mengharapkan hasil berbeda kalau masih melakukan usaha yang sama’, kan? Pertama kali menulis artikel, saya dapat tugas untuk membuat berita artis. Butuh waktu satu tahun bagi saya hingga akhirnya bisa menciptakan artikel yang enak dibaca dan paham bagaimana memilih tema yang menarik. Lalu, tawaran lain muncul. Bagaimana kalau menulis bidang baru? Traveling, misalnya? Sedikit menakutkan, memang. Tahu apa saya tentang traveling? Jalan-jalan juga paling jauh ke Jogja. Mendaki gunung pun belum pernah. Namun, sekali lagi saya tertantang menaklukkan bidang baru ini. Dan lagi, apa sih yang tak bisa dipelajari?
Tidak Berhenti Belajar
Berteman dengan berbagai macam orang dengan watak yang bervariasi, mau tak mau membuat saya banyak belajar tentang hal asing. Buat saya, hidup adalah sekolah sepanjang masa. Tempat di mana saya memberi makan otak dan hati dengan hal-hal baru setiap harinya, selama masih bernapas. Ilmu pun juga begitu. Saya memang sudah menyelesaikan pendidikan resmi, namun pelajaran hidup tak akan ada habisnya. Salah satu yang akhirnya saya pahami adalah ketika mengerjakan sesuatu sesuai passion, rasa haus akan ilmu di bidang tersebut tidak akan hilang. Contohnya, karena menulis tentang jalan-jalan, saya jadi semangat belajar memotret, bikin video pendek tapi informatif dan tetap seru. This is so much fun.
Bermimpi Tanpa Batas
Tak ada batasan untuk bermimpi. Kecintaan saya pada kopi pernah membuat saya bercita-cita untuk memiliki sebuah coffee shop agar tak perlu lagi membayar mahal untuk setiap gelas minuman surgawi yang saya minum. Kini, impian saya makin tinggi. Dalam jangka waktu 5 tahun ke depan, saya ingin menikmati kopi di kafe sendiri yang tak jauh dari rumah, menulis buku ke 2 atau ke 3 untuk diterbitkan, dengan anak-anak yang bisa mengganggu saya kapan saja. #Memesonaitu ketika kamu berani bermimpi tanpa batas.
Tetap Menginjak Bumi
Manusia bisa berubah karena harta dan derajat. Sombong nggak sih kalau belum apa-apa saya sudah khawatir tentang ini? Menurut saya, penting untuk mewanti-wanti diri agar tidak keblinger dan untuk terus membumi sejak dini. Saya ingat pesan sahabat lainnya, sekaya-kayanya manusia adalah ia yang bisa bermanfaat bagi orang lain.
Jangan takut untuk bermimpi. Kalau terlalu menyeramkan berjalan sendiri, ajak saja teman yang punya passion sama. Pancarkan pesonamu dengan semangat menggapai impian!
Berani?
Kamu sadar ngga, dalam banyak kesempatan, penghalang terbesar antara dirimu dan keberhasilan adalah diri kamu sendiri. Iya. Rasa malas, suka berleha-leha, hobi menunda-nunda, meremehkan komitmen, lemah kemauan, terlalu sensitif, dan banyak lagi. Akarnya? Kamu memanjakan nafsu dan membiarkan hatimu terkotori sedikit demi sedikit. Ingat, kamu selalu punya pilihan untuk menundukkan nafsu dan mengikuti apa yang hati bersihmu katakan. Kamu bisa mulai detik ini juga. Jangan menunggu sampai Allah yang menamparmu agar kamu sadar.
(via yasirmukhtar)
Malam anugrah terburuk, bagi perindu
Iya, berlaku buatku sih. Gatau juga tapi buat yg lain haha
Gatau juga mau nulis apa, yg jelas susah juga buat diungkapin apalgi ditulisin
“Kuliah, pusing. Mau nikah aja.”
“Kerja, pusing. Mau nikah aja.”
“Nanti nikah pusing juga, mau apa lagi?”
Bukan. Bukan begitu. Menikahlah bukan karena lelah dari kehidupan. Tapi menikahlah karena butuh diringankan dan meringankan beban pada saat yang sama.
Bukan. Bukan begitu. Menikahlah bukan karena ingin lari dari kenyataan. Tapi menikahlah karena ingin saling menguatkan hadapi kenyataan.
Bukan. Bukan begitu. Menikah bukanlah tentang kamu saja yang harus dijaga perasaan dan dibahagiakan hidupnya. Menikah adalah tentang sama-sama menjaga perasaan dan sama-sama membahagiakan.
Menikah bukanlah pelarian yang akan melepas beban-beban hidupmu. Menikah adalah tentang penyatuan dua kekuatan untuk membawa beban yang sudah ada sebelumnya. Menikah adalah tentang berkawan, saling berbagi dan menerima. Menikah adalah tentang membangun masa depan dan mencapai impian sama-sama.
Maka bayangkan, apa jadinya bila dua orang yang saling lari dari kenyataan hidup kemudian bertemu dalam satu bingkai pernikahan? Ya, mereka akan saling melarikan diri pada akhirnya.
— Taufik Aulia
telan saja
saya pernah punya cita-cita bekerja di perusahaan besar. ingin sekali mencicipi bagaimana rasanya menjadi “budak korporat” yang sesekali dapat tugas sulit nan banyak sampai lembur, lalu bisa misuh-misuh di media sosial tentang betapa rumitnya pekerjaan saya, betapa susahnya–sambil mengisyaratkan betapa hebatnya diri saya bisa mempunyai pekerjaan semacam itu.
selang dua tahun saya lulus kuliah dan bekerja, saya semakin sadar bahwa ternyata mengeluh tentang pekerjaan tidak elit sama sekali. norak dan malu-maluin malah.
“telen aja,” begitu pesan mas uta kepada kami adik-adiknya. di dalam dunia yang mengembangkan diri kita, baik sekolah, kuliah, maupun bekerja bahkan berkeluarga, selalu ada hal yang tidak enak, tidak sesuai keinginan dan harapan, tidak pas menurut kita. terhadap hal-hal seperti itu, kata mas uta, telan saja.
pertama, apapun pekerjaan yang kita miliki, sadar nggak sadar, pekerjaan kita juga adalah jawaban dari doa diri kita sendiri, diri yang sebelumnya. pekerjaan kita juga adalah buah dari upaya-upaya kita yang sebelumnya. misalnya, seseorang yang berprofesi sebagai dokter tentunya telah melalui pendidikan menjadi dokter. menjadi dokter itu doanya sendiri, hasil usahanya sendiri.
kedua, percayalah di luar sana ada banyak sekali manusia yang menginginkan, berusaha dan berdoa, untuk bisa memiliki pekerjaan yang kita miliki.
ketiga, daya juang dalam bekerja–dalam hidup–itu pentingnya luar biasa. setiap kali kita menelan ketidaknyamanan, kita sedang menjadikan diri kita lebih kuat, lebih hebat. tapi yang terutama, seharusnya ketidaknyamanan bisa menjadikan kita lebih bijak, lebih baik dan dewasa. masa iya daya juang kita segitu-segitu saja. di dunia ini ada banyak sekali orang yang tidak kunjung berkembang karena terhadap masalah yang segitu-segitu saja, cara dirinya merespon juga begitu-begitu saja. jangan jadi yang demikian.
keempat, menjadi bermanfaat itu artinya menyelesaikan masalah, bukan menjadi bagian dari masalah atau nambah-nambahin masalah. semakin banyak dan besar masalah yang bisa kita selesaikan, semakin bermanfaat diri kita artinya. kita bekerja, dibayar orang, intinya adalah untuk menyelesaikan masalah. itulah mengapa kita tidak boleh mengecilkan diri di depan masalah. yap, jadilah lebih besar daripada masalah yang ada!
kelima, diri kita di hari ini memang merupakan akumulasi dari diri kita yang sebelumnya. tapi, diri kita di masa yang akan datang ditentukan oleh diri kita di hari ini pula. semua prestasi kita di masa lampau, termasuk gelar atau di mana kita sekolah, hanyalah nilai yang berharga sesaat saja. saat kita ikut kontes mahasiswa berprestasi, misalnya. saat kita baru pertama kali mendaftar kerja, misalnya. kalau sudah bekerja, semua itu berkurang nilainya. yang terus bernilai adalah kecakapan nyata diri kita. plus, attitude bekerja kita, sikap dan perilaku kita.
keenam, prinsip ke-aku-an hanya boleh berlaku kalau kita sudah menjadi orang besar. definisi orang besar? silakan diartikan sendiri. yang jelas, masih muda begini, nggak perlulah kita gengsi apalagi malas untuk melakukan hal-hal yang menurut kita kurang berkelas. jadi, tinggalkanlah semua cara berpikir “ya kali gue bla bla bla”. anggaplah selalu bahwa diri kita ini masih belajar, masih remah-remah, masih belum ada apa-apanya.
disuruh nunggu dosen sampai bosen? telen aja. bikin laporan capek-capek eh cuma dibaca gitu doang? telen aja. udah gaya-gaya magang di perusahaan keren nggak taunya cuma disuruh motokopi? telen aja. harus kerja di pabrik, kotor-kotoran, becek-becekan? telen aja. intinya, terhadap apapun yang menurut kita nggak enak (apalagi yang enak), telen aja!
ketujuh nih, nggak ada pekerjaan yang remeh atau kecil. yang ada, orang yang melakukannya, yang meremehkan atau mengecilkan. segala sesuatu yang dikerjakan sungguh-sungguh selalu akan bermakna besar, dan sungguh-sungguh dapat membuat seseorang menjadi besar.
terharu nggak sih sama Allah. ada dosa-dosa yang hanya bisa terhapus atau terampuni dengan lelahnya mencari nafkah. jadi, kalau lelah bekerja atau berupaya apapun dalam hidup, ingat saja itu sambil tagih janjinya Allah. berdoa, minta diampuni dan dihapus dosa-dosa kita. bukannya misuh-misuh di media sosial. yang begitu, ternyata norak kan.
dan jangan lupa, telen aja. sambil ngetawain semuanya juga boleh. mendingan kita yang ngetawain hidup daripada hidup yang ngetawain kita. bersyukur dan berbahagialah!
Hujan kembali datang, Rindu kembali menyerang, dan hati kembali meradang.
Jakarta, 12 Januari 2015 18:47 (via estehmanistanpagula)