Jika memang takdir memutuskan kita tidak bersama maka sudahi saja semua ini. Bukankah kita sama-sama tahu, bahwa sebuah kebersamaan yang didasari oleh keterpaksaan tidak akan berjalan dengan baik? Kita mungkin masih bisa melawan hati, tapi bagaimana dengan melawan takdir? Perpisahan memang akan terasa tidak menyenangkan, tapi akan lebih menyedihkan lagi jika sebuah kebersamaan didasari dengan keterpaksaan. Tidak semua kebersamaan itu indah, percayalah.
Meski aku tahu, aku akan sangat merindukan setiap detik kebersamaan kita. Namun, aku juga sangat tahu jika ini semua terus dipaksa hanya akan berakhir luka. Lebih baik kita akhiri sekarang juga. Karena jika menunggu nanti hanya akan memperdalam luka.
Semakin bersama, semakin terluka. Niat hati ingin membersamai, rupanya semesta tak merestui
@isnahidayatifauziah x @nonaabuabu
Adakah yang kau dapatkan dari kebersamaan yang sedang kita jalani selain dari sesayat luka? Ceritakan padaku bila ada. Sebab, semakin kebersamaan ini bertambah usia, semakin perih hatiku merasa.
Atau, kau juga sama? Kita hanya merapal mantra untuk cinta namun nyatanya tenggelam karena memaksa. Seolah mengira luka-luka sebagai ujian padahal ia adalah pertanda.
Bahwa bersama, tak selalu menjadi jawaban untuk bahagia.
@roonstalk x @manusiafajar
Pernah suatu hari saat kita meluangkan waktu bercengkerama, kutanya apa yang terlintas di pikiranmu saat kau dengar kata “Bersama”, “Satu langkah, satu tujuan,” jawabmu. Aku heran. Benarkah demikian? Apakah benar langkahmu dan tujuanmu sama denganku? Sedangkan ketika kita bersama tidak terhitung lagi berapa banyak perbedaan kita.
Baiklah, mungkin benar slogan itu “Bersama tidak mesti sama.” memang tidak selamanya satu langkah. Tapi yang pasti satu tujuan menjadikan kita berjalan beriringan, berjalan bersisian. Tidak selalu, atau bahkan kita berbada memilih jalan dan belokan, tapi tetap satu tuju, maka di akhir kita pasti bersatu.
Ah. Iya benar demikian. Bahwa pada akhirnya tujuan kita sama. Seperti Ibu yang pernah bilang padaku, bahwa di atas segala perbedaan yang ada di dunia. Tujuan manusia itu satu. Mencapai surgaNya.
Maka dari itu, tidak perlu risau atas banyak perbedaan jalan, perbedaan pilihan. Tak perlu susah payah memiripkan langkah. Di tujuan yang sama, jalanku mungkin banyak durinya, atau jalanmu mungkin banyak batunya, jalan orang lain bisa jadi banyak jurangnya. Kita semua sibuk dengan luka dan bangkit kita, tapi tetap berharap akhir yang satu, Taman syurga penuh bunga.
@alvianalisti x @padangboelan
Ini adalah luka yang kususun sendiri; dengan mencintai terkasih, sedang ia lengkara untuk kudekap dalam nadi. Di bilikmu yang kukira hampa ternyata berpenghuni, aku lancang menyelinap tanpa permisi. Terlampau jauh aku menelisik, menduga berapa kali kau patah hati dalam buaian ambisi mencintai. Tidak sedikit ruam hingga kau mati dalam temaram, terkubur drama cinta yang sering menjadi bumerang. Banyak kejutan yang aku dapati, hingga semakin jauh aku bertualang, inginku semakin besar untuk mendekapmu pulang. Hatiku terlanjur jatuh ke dalam tempat terlarang.
Datanglah nanti, aku sedang mati. Aku tahu kau hadir membawa puisi, namun aku masih menggenggam belati. Bukan karena aku masih mendekap yang pergi, tapi aku sungguh takut jika patah lagi. Aku terlanjur membangun dinding yang rupanya sudah cukup tinggi, tak akan kubiarkan siapapun menjangkaunya lagi.
Kau bercakap sedemikian mudah, tapi asmara terlanjur bergejolak kini. Siapa mampu membunuh mawar merah segar, sedang rupanya terlalu indah jika dibunuh mati? Aku mendamba kesempurnaan itu dalam cerita ini, namun kau memilih untuk menikmati perih. Duhai yang terkasih, izinkan aku membuatmu percaya bahwa bila benar cinta harusnya tak membuatmu nelangsa. Kan ku buat senyummu kembali merekah jika kita bersama. Kalaupun tak bisa merekah, sedihmu mari kita habiskan berdua.
Aku terlalu porak-poranda untuk menyempurnakan inginmu. Kau tahu, bahkan separuh hati telah lesap, sebab pengharapan yang kutanam pada salah satu makhluk Tuhan. Aku tak ingin membagi lara kepada siapapun, biarkan aku sesap racunnya sendirian. Di sini, di tempat yang sunyi ini, aku ingin kembali memeluk diri; menepi dari gejolak asmara yang membuatku tertahan hingga mati. Biarkan aku sendiri, aku sedang tak ingin dicintai atau melukai.
@synanymore x @menteritikustanah
Pada awalnya, aku berniat bertukar mimpi denganmu. Dengan dalih saling melengkapi, saling mengerti, saling memahami. Nyatanya tak semudah itu. Seringkali setiap langkah menuju mimpi sedikit berbelok, singgah diantara logika dan rasa, hingga satu kalimat pun terucap “Aku harus terlebih dulu menyelesaikan urusan dengan diri sendiri”
Tenanglah, ini bukan berarti jeda apalagi menyerah. Ini adalah salah satu pijakan menuju tempat duduk dengan kau disisiku. Tenanglah, impianku sudah bulat, akan kupastikan tanganku mendekap tangan ayahmu, dan. Kamu cukup diam di sampingku.
@hardkryptoniteheart x @yurikoprastiyo
Aku masih tidak tahu mengenai perasaan ini. Setiap kali bersama dengan dirinya, aku merasakan bahagia. Hanya saja, aku terlalu takut mengungkapkan perasaan ini kepadanya.
Kamu tau kan, ada yang dekat hanya fisiknya saja. Ada juga yang sampai hatinya juga. Beruntung sekali kamu memiliki itu. Tapi yang lebih perlu kamu tau bahwa pertemuan seringkali tidak lama. Mengungkapkan apa yang perlu diungkapkan lebih baik bukan? Daripada belum mengatakan tapi sudah tak bersama?
Kamu benar, kawanku. Dalam setiap hariku, aku selalu menerka-nerka apakah mungkin dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Ketakutanku kini adalah ketika nanti aku mengungkapkan perasaan ini, maka segala akan menjadi berbeda. Bagaimanakah caranya menaklukan ketakutan ini, Kawan?
Bahkan mungkin dia juga menerka-nerka apakah engkau memiliki perasaan yang sama? Saat mengungkapkan hanya ada dua kemungkinan, kehilangan atau mendapatkan. Saat tak diungkapkan hanya ada satu kemungkinan, pastinya kehilangan. Soal ketakutan, ia seperti kabut ditengah perjalanan. Kita menerka bahwa ada ketidakbaikan apa yang ada didepan. Tapi justru baik-baik saja ketika sudah dilewatkan. Boleh jadi itu ilusi untuk membuat kita tidak bergerak sama sekali.
Untuk saat ini, aku belum cukup siap mengungkapkan kepadanya. Namun, bila kutunda lebih lama, maka dia mungkin akan bersama dengan orang lain. Dan, hal itu akan membuatku kehilangan dirinya. Aku sangat ingin menjadikannya pendampingku dalam mengarungi kehidupan ini. Tetapi, kamu tahu kan Kawan. Aku yang sekarang belumlah menjadi siapa-siapa. Apakah mungkin dia mau menerima perasaanku ini?
Sebagaimana bunga yang bersedia tumbuh dilahan yang kotor. Begitupula air jernih dari pegunungan yang rela mengalir ke sungai yang keruh. Yang tidak kita tahu, selalu ada ruang penerimaan yang lebih besar yang diberikan orang lain kepada kita. Kadang kita hanya perlu menjemputnya.