“Dunia sudah terlalu asing untuk kita, dik. Dulu sih enak, ga ada gengsi pas anak-anak sekomplek main hujan-hujanan pakai pakaian dalam doang di pekarangan. Ah, dunia udah terlalu asing, dik.”
Orang yang selalu membuat nyali menciut. Tak ada keraguan. Orang itu. Ya, yang itu. Dia selalu memenangkan pertandingan. Apapun itu. lomba renang tingkat kecamatan, baca puisi se RW, ranking 1 di kelas, sampai balap karung pun tak satupun yang bisa mengalahkan. Tapi sesuatu mengusiknya. Dia dan aku berbicara lama sekali. Diatas dipan yang dulu dibuat bapakku. Bersama secangkir kopi hitam yang dibagi dua. Juga pisang goreng yang selalu ikhlas kita bagi dua buah per orang. Berbalut sarung dan jaket yang tebal, dia menceramahiku yang memang adiknya itu. Aku yang dulu kalau pulang sekolah dipalak oleh anak-anak sekolah lain. Aku yang tak pernah bisa berenang. Juga naik sepeda. Aku yang berjalan pulang meski puluhan kilometer jauhnya. Yang, sungguh itu disengaja, uang untuk ojeg yang merupakan satu-satunya transportasi ke desaku ku sisihkan untuk membeli beberapa batang rokok.
Dia menceramahiku layaknya seorang kyai di lemburku. Kyai yang kalau ngomong itu selalu jadi wejangan paling ampuh untuk masalah yang skalanya satu kampung. Mulai dari perselisihan lahan, perceraian, perkara nama anak, sampai kapan waktu yang pas buat bercocok tanam. Semua diserahkan kepada ‘si juru khotbah’.
Kakakku itu. Dia tak selalu bisa diandalkan memang. Dalam beberapa hal memang aku lebih baik daripada dia. Tapi yang aku suka adalah caranya memandang hidup. Bahwa segala sesuatu yang ada di desanya adalah kuasa Tuhan. Memang. Yang kita tahu adalah takdir yang sejak semula ditandatangani diatas materai saat kita masih dekat-dekatnya dengan Tuhan. Hanya saja dia memandang bahwa Tuhan sengaja membuat kita lupa apa yang menjadi kodratnya di dunia. Ya, ketika kita dilahirkan tak ada yang ingat apapun sebelumnya. Dia, Sang Pencipta dan Sang Pengatur Segalanya, sengaja membuat kita lupa isi perjanjian yang ditandatangani sejak awal. Entah untuk apa. Orang-orang selalu berusaha mencari tahu apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan segala sesuatunya. Tapi dia tidak. Bagiku dia hanya berpendapat bahwa Tuhan adalah sutradara yang tak pernah memberi tahu aktornya apa yang harus diperankan. Bingung? Memang. Semua aktor mulai dari aktor film layar tancep misbar sampai hollywood pun akan bingung. Bukankah kita akan memainkan peran lebih baik jika Tuhan memberitahu skenario-Nya seperti apa?
Subuh itu kita masih bercerita. Tentang kuliahku. Tentang istrinya yang lagi hamil 12 minggu. Tentang bagaimana dulu ibu memperlakukan kami selayaknya dua belah mata uang yang berbeda tapi satu.
“Dik, kau tahu? Jaman sekarang orang selalu memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Senja lah, hujan lah, kopi lah, cinta, sampai Tuhan pun mereka pikirkan.”
“Bukannya bagus yah? Berarti mereka termasuk kedalam kaum-Nya yang berpikir” Jawabku ketus. Entah kenapa aku seperti diserang mendengarnya.
“hahahaha, santai dik. Maksudku beginiloh. Kapan kiranya kau pernah memikirkan ibumu? Orang yang selalu mencuci baju-bajumu. Yang memakan sisa-sisa makanan yang tak dihabiskan olehmu. Yang menjawab dengan sangat serius ketika kamu bertanya ‘bu, kalau gigi copot itu satu-satu apa semuanya langsung?’ Ngerti kan dik?”
“hahahaha iya A. Tapi ga usah bahas-bahas gigi copot lah. Malu. Hahaha”
Dulu aku sempat berpikir ketika tinggiku masih selutut. Apa yang terjadi ketika sakit gigi? Ketika gigi-gigi itu copot aku kira semua yang ada langsung hilang begitu saja. Dan aku akan jadi seperti Sang Kyai yang ompong melompong itu.
Tapi dia ada benarnya. Aku merenung. Melihat setiap senti rokok yang perlahan habis terbakar. Di kota sana, tempatku berkuliah, orang-orang selalu tampak keren ketika mereka berfilosofi. Memuja senja juga mengagung-agungkan kopi yang mereka seduh setiap hari. Puluhan buku, mungkin juga ratusan, telah berusaha menggungkap apa yang terkandung dalam secangkir kopi. Bukan kandungan secara nilai gizi. Tapi makna si kopi itu sendiri. Dan kini aku tersengat. Ternyata orang ini, yang duduk disampingku sebagai bapak dari anak-anaknya. Yang duduk disampingku sebagai seseorang dari kalangan ‘orang-orang kampung’. Ternyata dia berani menentang para anak-anak kota. Anak-anak kota yang borjuis. Yang setiap hari makannya daging diiris. Yang kerjanya habiskan duit buat kasih coklat buat si pujaan hati. Yang juga belum tentu jelas nantinya dikawin apa tidak.
‘Anak kota borjuis’ itu melekat juga akhirnya sebagai titelku. Titel yang diberikan kakakku. Titel sebagai tanda bahwa dia sedang memprotes tingkah laku ku yang penulis itu. Titel yang sewaktu-waktu, semoga saja tidak, dapat merubah perangaiku menjadi tak lagi santun.
“Dik, kalau ada waktu, pikirkan ibu. Jangan nulis soal kopi melulu.”
“Dik, kalau ada waktu, jangan rindu sama pacarmu melulu. Tapi sama kampungmu ga rindu.”
“Dik, kalau ada waktu, jangan lupa beli baju buat adikmu. Beli aja di Cihampelas. Nanti aa ganti.”
“Dik, kalau kamu kaya nanti, jangan jadi borjuis. Sewaktu-waktu kan kantongmu juga menipis.”
“Dik, kalau kamu mau, jadi guru atau apapun itu. Boleh dik. Tapi kerjamu itu buat hidup. Jangan hidup buat kerja.”
“Dik, jangan banyak merokok, nanti sakit kaya bapakmu dulu.”
Selalu begitu. Percakapan dengannya selalu berakhir di kata ‘iya A’. Kata yang menjadi tanda bahwa dia adalah si benar yang harus dituruti sedang aku adalah si salah yang lagi meminta petuah. Ah, tapi dia benar. Terkadang rindu tak selalu diselesaikan dengan bertemu. Terkadang rindu bukan tentang kekasih melulu. Terkadang rindu juga tentang ibu. Mungkin sewaktu-waktu aku harus menulis tentang itu. Tentang ibu. Tentang filosofi rindu. Bukan rindu yang biasanya itu. Tapi untuk seorang ibu. Tentang secangkir kopi, untuk Ibu.