Klikisme dan Hidup Serba Instan
Kecepatan, kemudahan, dan keamanan yang disediakan oleh meida sosial memberikan alternatif partisipasi yang dapat melibatkan orang yang sebelumnya tidak akan terlibat tanpa adanya tiga kemudahan tersebut. Dahulu, untuk terlibat dalam sebuah kasus, kesempatan partisipasi terbatas dalam kegiatan fisik seperti ikut menghadiri press conference dan demo di jalan misalnya. Hal ini menyulitkan bagi pendukung lain yang tidak memiliki waktu, tenaga dan kemampuan yang sama sebagai contoh orang yang tinggal jauh atau tidak berani turun kejalanan karena alasan pribadi. Dengan adanya kampanye di sosial media sekarang orang bisa memberikan suatu ‘sumbangsih’ yang sebelumnya tidak bisa mereka berikan.
Menurut Lim, dalam tulisannya di ‘Klik yang Tak Memantik: Aktivisme Media Sosial di Indonesia’, suatu isu memiliki potensi terbesar untuk menjadi viral apabila memenuhi kriteria yaitu: kemasan ringan (light package), selera tajuk berita (headline appetite), dan tampilan cuplikan (trailer vision). Faktor-faktor iniberguna secara efektif untuk ‘mencuri’ perhatian orang yang memiliki preferensi yang berbeda-beda dan waktu yang terbatas untuk mengikuti pemberitaan. Dengan mengkooperasikan kriteria diatas, sebuah berita sekarang disajikan ‘size-bite’ atau satu suapan kecil yang artinya informasi inti dari suatu berita/kampanye bisa dipahami dengan sekali suap (baca).
Manfaatnya? Tentu, orang yang tadinya tidak berniat untuk aktif dalam suatu kampanye, mau tidak mau menjadi aktif karena terpapar dengan berbagai informasi yang mengalir di timeline akun sosial medianya, dan segala informasinya bisa teresap dengan cepat.
Di sisi lain pengemasan informasi yang sangat minimalis ini memiliki sisi buruk juga. Kebiasaan proses pembelajaran yang sangat singkat ini menumbuhkan sifat instant dari orang-orang. Otak kita akan terbiasa untuk meminta stimulasi dari berita satu ke berita lainnya. Artinya, komposisi cairan di otak kita terbiasa untuk terus meminta sesuatu yang baru, sehingga kita takan mengalami kesulitan baru ketika harus memproses informasi secara lama. Dampak ini tentu signifikan terhadap kaum akademis yang proses pembelajarannya bergantung terhadap kegiatan pencarian informasi yang mendalam dan terus-terus menurus. Kemudahan yang diberikan dari sosial media secara ironis memberi kesulitan untuk fokus dalam proses pembelajaran yang lama dan butuh untuk terus-terusan membaca tipe konten yang tingkat kesulitannya tinggi – seperti jurnal ilmiah dan buku literatur.













