Chaikue Goreng Pedas
sheepfilms

roma★

izzy's playlists!

Love Begins

No title available
Keni
will byers stan first human second

JVL
we're not kids anymore.

tannertan36
noise dept.
One Nice Bug Per Day
Claire Keane
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Kaledo Art
d e v o n
Cosimo Galluzzi
Game of Thrones Daily

oozey mess
seen from Sweden

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Italy

seen from South Korea

seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from Hungary
seen from Saudi Arabia
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Argentina
seen from United States
seen from Canada

seen from Portugal
@andreayolandaa
Chaikue Goreng Pedas
College life is hard, I miss my high school moments.
My custom emoji from MojiEdit ☺️
Jangan pernah mencintai seseorang yang tak bisa kau miliki. Cinta harus berbalas agar nyata.
Hades, Alexandra Adornetto
Resep: Tumis Cabe Ijo Son Mi Jiu
Saya orangnya kalo soal masak selalu mood-mood-an. Kalau saya lagi nggak pengen masak, meskipun banyak bahan di kulkas, ya saya nggak akan masak. Kalau saya lagi pengen masak tapu nggak ada bahan sama sekali, saya nekat belanja ke pasar pagi-pagi demi membeli bahan yang saya inginkan.
Sebagai anak rantau yang jauh dari orangtua, khususnya Mamak saya yang masakannya endeus banget, saya nggak punya pilihan lain selain masak sendiri kalau lagi rindu dengan masakan rumah. Masakan rumah = masakan Mamak saya (dan rasanya harus mirip, baru saya puas).
Ini adalah salah satu masakan yang sering saya buat karena bahannya gampang dan masaknya nggak ribet. Takarannya kira-kira aja ya, sesuai selera.
Tumis Cabe Ijo Son Mi Jiu
Bahan:
Cabe ijo besar secukupnya (belah dua, buang bijinya)
Bawang putih cincang
Penyedap rasa (saya pakai masako sapi)
Minyak goreng
Cara membuat:
1. Panaskan minyak goreng.
2. Tumis bawang putih cincang sampai harum
3. Masukkan cabe ijo, tumis hingga layu, tambahkan masako secukupnya, koreksi rasa.
4. Sajikan.
Gitu aja? Iya, gitu aja. Saya makan itu aja pakai nasi hangat udah cukup. Dan sekedar saran, sebelum menambahkan cabe ijo, menumis bawangnya jangan terlalu lama, soalnya pengalaman saya dulu bawangnya hampir gosong gara-gara ditumis kelamaan.
Resep: Fire Wings ala rumahan
Oke, gambarnya memang nggak meyakinkan. Pertama, karena saya fotonya cuma pakai kamera HP. Kedua, bawang bombaynya berserakan, dan resep aslinya nggak pake bawang bombay. Itulah kenapa saya namakan ‘fire wings ala rumahan’, karena saya iseng-iseng berkreasi dengan bahan-bahan yang ada di rumah aja.Tapi percayalah, ini beneran enakkkk. Langsung aja deh ya.
Bahan:
5 buah sayap ayam, di potong jadi 2 bagian
2 siung bawang putih di haluskan
Garam dan lada secukupnya
minyak untuk menggoreng
Bahan pelapis 1:
Tepung terigu (gak ingat takarannya, kira-kira ajalah ya)
Garam dan lada secukupnya (bisa diganti penyedap rasa)
Bahan pelapis 2:
1 butir telur, kocok
Saos pelapis:
1 buah bombay (optional)
2 siung bawang putih, cincang halus
5 buah cabe rawit, tumbuk halus
2 sdm sambal botol
1 sachet saos tiram
2 sdm saos teriyaki
Cabe bubuk (sesuai selera, saya pakai agak banyak karena doyan pedas)
Cara membuat:
1. Lumuri ayam dengan garam, lada, dan bawang putih yang sudah di haluskan. Diamkan beberapa saat.
2. Gulingkan ayam ke bahan pelapis 1, kemudian bahan pelapis 2, dan gulinkan kembali ke bahan pelapis 1 sambil dicubit-cubit (supaya tepungnya crispy saat digoreng nanti)
3. Panaskan minyak. Goreng ayam dengan api kecil hingga cokelat matang. Sisihkan.
4. Tumis bawang putih dan bawang bombay, tambahkan cabe rawit halus, sambal botol, saos tiram, dan saos teriyaki. Kalau terlalu kental boleh tambahkan sedikit air (ingat ya, SEDIKIT, karena saosnya memang harus kental)
5. Matikan api, masukkan ayam goreng ke dalam saos, aduk-aduk hingga saosnya melapisi seluruh permukaan ayam goreng. Taburkan cabe bubuk. Sajikan.
Kalau kalian heran kenapa banyak sekali ‘cabe-cabean’ di resep di atas, ya namanya juga fire wings. Ditambah lagi saya memang doyan makan pedas. Tapi kalian bisa sesuaikan kok, kalau memang nggak mampu atau nggak doyan pedas, nggak perlu pake cabe rawit dan cabe bubuk. Cukup dari sambal botol aja (tapi kalau gitu sih, bukan firewings ya, jadinya malah kayak ayam saus teriyaki yang pernah saya tulis resepnya kemarin-kemarin).
Because I’m Happy.
Be Thankful
Sebagai manusia biasa yang tak luput dari segala kesalahan, kita seringkali lupa bersyukur. Kita lupa dengan apa yang kita miliki karena meratapi apa yang tak dapat kita miliki. Kita mengeluh dan mengeluh karena tidak pernah merasa puas. Senang, lupa bersyukur. Susah, baru ingat Tuhan, baru ingat doa. Itupun isinya lebih banyak meminta daripada berterima kasih.
Salah satu hal yang menurut saya menjadi alasan kenapa kita jarang bersyukur adalah ekspektasi yang terlalu tinggi. Sebagai contoh, bagi sebagian orang, mungkin standar ‘bahagia’ adalah punya uang yang banyak, punya jabatan dan pangkat yang tinggi, punya rumah dan mobil mewah, atau menjadi terkenal dan semacamnya. Bermimpi setinggi-tingginya memang tidak ada salahnya, tapi seringkali orang-orang menyalahartikan hal ini menjadi “kalau belum tercapai, aku belum bahagia”. Akhirnya ketika mereka tidak bisa mencapainya, mereka lupa bahwa mereka punya hal-hal lain yang lebih penting.
Yah, kalau dipikir-pikir, bahagia yang sesungguhnya itu berasal dari hal kecil. Misalnya, masih bisa makan dan minum ketika lapar dan haus, masih punya rumah untuk berteduh dari hujan dan panas, masih punya uang untuk isi bensin, masih punya kuota untuk internetan. Oh, atau punya pencernaan yang lancar. Ini bukan hal yang konyol, mengingat tidak ada seorang pun yang tenang dan bahagia kalau sedang sembelit. Betul?
Ini bukan postingan nyinyir lho, karena saya pun sering tidak bersyukur dengan apa yang sudah saya miliki. Dengan masalah-masalah yang datang dalam hidup saya, saya lebih memilih untuk mengeluh ketimbang melihat dari sudut pandang yang berbeda. Saya sering duduk, diam, dan murung memikirkan apa yang belum bisa saya capai. Dan akhir-akhir ini, saya jadi kepikiran. Terlalu banyak rasanya hal-hal yang harusnya saya syukuri. Orangtua yang tidak pernah mengekang dan selalu percaya kepada saya, adik perempuan yang tidak annoying dan selalu sepemikiran, sahabat yang selalu setia meski jarang sekali berkomunikasi, teman-teman yang memaklumi saya yang sering badmood tiba-tiba dan sering asal ngomong, pacar yang sabar dan selalu membimbing saya untuk jadi lebih baik meskipun saya kadang-kadang selalu keras kepala, dosen pembimbing yang baik dan tidak mood-mood-an. nilai-nilai yang bagus, oke, not bad lah, apalagi mengingat saya sering malas-malasan, dan masih banyak lagi. Kalau saya tulis semuanya, kepanjangan. Kalian pasti males banget bacanya (kayak ada yang baca aja). Pokoknya gitu deh. Saya jadi merasa tidak tahu diuntung. Tuhan sudah segitu baiknya dengan saya, meski saya jarang berdoa dan jarang bersyukur. Mungkin karena alasan itulah, saya diberi masalah-masalah dalam hidup saya, sebagai teguran sekaligus pengingat, agar saya tidak lupa bersyukur, agar saya tidak lari dari Tuhan, agar saya tidak terus mengeluh dan diam dalam keterpurukan, apalagi kalau dipikir-pikir, masalah saya ini tidak seberapa besar. Saya aja yang manja dan mellow, terlalu pesimis dan malas berusaha. Hiks..
Ya sudahlah, mumpung saya lagi kepikiran ini, makanya saya tulis dan curhat di sini. Supaya saya tidak lupa lagi, karena ingatan saya payah banget. Mudah-mudahan, setiap kali saya buka blog dan melihat postingan ini, saya termotivasi untuk (sedikit demi sedikit) mengurangi kebiasaan mengeluh saya. Sebelum semua terlambat, saya harus bisa melihat dan mensyukuri apa yang sudah saya miliki sampai hari ini. Terlepas dari alasan mulia semacam ‘masih banyak orang lain yang tidak beruntung di luar sana’, saya hanya ingin menjadi orang yang lebih bahagia dengan satu kata: Bersyukur.
Resep: Ayam Saus Teriyaki
Ayam Saus Teriyaki
Bahan:
Sayap ayam 10 buah (bisa diganti dengan bagian lain, kalau mau bikin lebih, bumbunya disesuaikan saja)
Cabe merah besar secukupnya, diiris serong
Bawang bombay, cincang kasar
Bawang putih 5 siung, cincang halus
SAORI saus tiram, 1 sachet
SAORI saus teriyaki 1 sachet
Bumbu marinade ayam special Sasa (bisa diganti yang lain, tapi saya suka yang merk ini, enak)
Air secukupnya
Minyak goreng
Cara membuat:
1. Bumbui sayap ayam dengan bumbu marinade, diamkan beberapa saat sampai kira-kira bumbunya meresap. Goreng hingga matang.
2. Panaskan minyak. Tumis bawang putih dan bawang bombay hingga harum. Masukkan cabe merah besar yang sudah diiris, saus tiram dan saus teriyaki. Tambahkan air secukupnya, aduk-aduk hingga mengental.
3. Masukkan sayap ayam yang sudah digoreng, aduk-aduk hingga bumbu merata. Biarkan beberapa saat hingga bumbu meresap. Matikan api, angkat, dan sajikan.
Resep: Tumis Terong Kampung Sambal Terasi
Lagi nggak ada ide mau nulis apa, jadi saya nge-share resep aja ya hari ini. Hehehe. Masakan saya sih masih yang simple-simple dan sesuai selera saya aja, tapi masih bisa lah ngasih makan anak orang. :p
Jadi, ini dia salah satu masakan saya, tumis terong kampung sambal terasi. Berhubung terong kampung agak susah didapat, jadi bisa diganti terong ungu biasa, dan untuk bumbu-bumbunya, saya nggak ingat takarannya, jadi kira-kira aja, sesuai selera masing-masing, ya.
Bahan:
Terong kampung (bisa diganti terong ungu biasa)
Garam dan gula secukupnya
Sambal terasi ulek siap pakai (bisa juga diganti terasi yang sudah dibakar, diulek dengan bumbu halus)
Minyak goreng
Bumbu halus (diulek):
Cabe rawit, sesuai selera
Bawang merah dan bawang putih masing-masing 4 siung (atau sesuai selera aja)
Cara membuat:
Potong terong sesuai ukuran yang diinginkan, goreng, tiriskan. Panaskan minyak, masukkan bumbu halus dan sambal ulek, tumis hingga harum. Tambahkan terong yang sudah digoreng, kemudian garam dan gula sesuai selera. Tumis hingga layu dan bumbu meresap, kemudian angkat. Sajikan dengan nasi panas.
Untuk melihat terang, kita harus berada di tempat yang gelap terlebih dahulu. Seperti bintang-bintang di tengah pekatnya malam. Seperti lilin di tengah kegelapan.
Aku, setelah melihat bintang di kegelapan dan debu jalanan Kota Sanggau.
Curhatan Mantan Anak Kost-kostan.
Saya tidak pernah habis pikir dengan orang yang punya pikiran “Kalo kamu ngekost, kamu pasti rusak. PASTI.”
Beberapa hari yang lalu salah seorang kerabat datang mengunjungi saya di tempat tinggal saya yang sekarang. Setelah ceramah soal pendidikan dan bagaimana menjadi wanita yang baik, beliau berkata, “Syukurlah kalau kamu sekarang nggak ngekost lagi. Saya yakin lingkungan kost pasti membawa pengaruh buruk bagi kamu. Kalian tahulah, anak-anak sekarang...Bla..Bla...”
Mungkin bisa dimaklumi, mengingat usia beliau yang sudah lebih dari setengah abad. Saat ia muda dulu, mungkin belum ada kost-kostan, yang ada hanya asrama. Tapi saya tetap saja tidak terima, meskipun saya sekarang bukan anak kost lagi.
Saya adalah orang yang tidak suka terikat oleh apapun. Apapun , kecuali terikat dalam hubungan yang serius untuk masa depan saya kelak. Saya pernah tinggal di kost selama dua tahun dan sampai sekarang saya masih baik-baik saja. Saya tidak merokok, tidak memakai narkoba, tidak melakukan seks bebas, apalagi hamil hanya gara-gara saya tinggal ngekost. Saya sering keluar malam, tapi hanya untuk pergi makan atau sekedar duduk-duduk di warung kopi bersama teman-teman untuk membicarakan hal-hal menyenangkan.
Saya ngekost karena saya ingin bebas, betul. Tapi bebas yang saya maksud adalah saya tidak perlu merasa tidak enak dengan orang lain, tidak perlu menahan hati karena menumpang di rumah orang, dan saya bisa menjalani kegiatan-kegiatan saya dengan tenang (karena saat itu saya aktif di organisasi yang menyebabkan saya sering keluar rumah). Saya ingin tinggal sendiri karena saya senang menyendiri. Selama saya tinggal di kost, hanya beberapa waktu saja yang saya habiskan untuk berkumpul dengan teman-teman saya, sisanya saya habiskan sendiri di kost. Saya menyenangi konsep ‘me time’ dimana saya bisa melakukan hal-hal yang saya senangi, sendirian, dan menikmati hidup saya dengan tenang tanpa harus berinteraksi dengan manusia lain.
Saya baik-baik saja. Saya berteman dengan orang-orang baik. Saya berpacaran dengan orang baik. Anak-anak kost lainnya juga baik. Tidak ada alasan bagi saya untuk bilang “Anak kost itu pasti rusak karena lingkungannya.”. Rusak atau tidaknya seseorang memang seringkali dipengaruhi oleh lingkungan bermainnya, tapi TIDAK untuk orang-orang yang mengerti apa itu pengendalian diri. Saya bersyukur dilahirkan dan dididik oleh keluarga yang mengajarkan saya apa itu ‘kebebasan yang bertanggung jawab’. Pengaruh terbesar yang mempengaruhi hidup seseorang adalah keluarga. Jika keluargamu sukses menanamkan nilai-nilai yang baik kepadamu, percayalah, tinggal di kota sebesar apapun, berteman dengan orang jenis apapun tidak akan mempengaruhi prinsip hidupmu. Mungkin banyak orang yang akan bilang “Ah, kamu cuma bisa ngomong aja. Hal begitu nggak berlaku di dunia nyata.” maka kalian salah. Saya sudah lihat banyak sekali contoh, bahkan mengalami sendiri. Saya berteman dengan tukang selingkuh, tidak membuat saya berselingkuh. Saya berteman dengan orang yang materialistis yang senang menguras dompet pasangannya, tidak pula membuat saya ikut-ikutan menguras dompet pacar saya. Saya berteman dengan banyak perokok, tidak otomatis membuat saya menjadi seorang perokok juga.
Intinya, seperti yang saya katakan sebelumnya, rusak atau tidaknya seseorang tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh lingkungannya. Dimanapun kamu berada, siapapun temanmu, seburuk apapun lingkungan bermainmu, jadilah orang yang setia pada prinsipmu. Kamu bukan apa-apa tanpa pengendalian diri.
Rule #4
Semua manusia memang punya perasaan, tapi bukan berarti kamu bisa menyalahkan orang lain atas segala perasaan buruk yang kamu miliki. Perasaanmu adalah tanggung jawabmu sendiri, bukan tanggung jawab orang lain.
Rule #3
Budayakan bercermin, jangan hanya bisa berkomentar. Ketahuan menyindir diri sendiri itu malunya berkali-kali lipat. :)
Rule #2
Jangan peduli dengan omongan-omongan miring dari mulut orang lain tentangmu. Omongan miring hanya keluar dari mulut orang-orang miring. Miring otaknya, miring tingkah lakunya.
Rule #1
Kamu tidak akan pernah bisa mengendalikan pikiran orang lain tentangmu. That’s why, saya tidak akan membuang waktu saya untuk menunjukkan kepada publik bahwa “Saya ini benar lho, saya ini tidak seperti yang kamu pikirkan.” Ingat, orang benar tidak perlu pembelaan diri untuk terlihat benar. Belajarlah untuk lebih banyak mendengar, bukan menjawab.