Hi, I'm here again.
Biasanya kalau mampir sini, ada hal yang mengusikku. Kali ini sebuah kemarahan yang menurutku boleh untuk kurasakan, tetapi tidak bisa kuluapkan ke luar sana.
Orang tuaku tidak pernah memperingati hari pernikahan mereka. Mungkin karena ekonomi, mungkin juga karena merasa bukan budayanya.
Aku tidak begitu. Hari pernikahan sungguh sakral buatku, yaitu di bulan November. Aku ingin memperingatinya bersama pasanganku, entah dengan pergi keluar atau membeli dimsum tower. Jujur aku sedikit menantikannya, meski aku tidak tahu pasanganku merasakan hal yang sama atau tidak.
Tahun kemarin berbeda. Banyak perayaan terjadi di keluarga kami, di bulan November hingga awal Desember. Pernikahan anggota keluarga, ulang tahun banyak orang terdekat yang berurutan, hingga anakku masuk rumah sakit. Tidak ada budget untuk perayaan hari pernikahan.
Aku kesal.
Dengan sadar aku menunda peringatan hari pernikahan itu, hingga Januari.
Tapi apa yang kudapat di Januari? Orang-orang yang menjadi alasanku menunda peringatan hari pernikahanku, mengatakan hal tidak baik tentang aku. Anakku sakit lagi. Dan rencana wisata kami, tidak sesuai rencana.
Hahahahaha
Aku tidak menyalahkan siapapun. Tapi rasanya seperti... aku berusaha menghindar dari kekecewaan, tetapi gagal.
Ada sebuah titik dimana aku merasa, aku tidak terlalu penting bagi sebagian orang.
Dan pada akhirnya, perayaan hari pernikahanku, cuma berlaku untuk diriku sendiri. Jadi, mengundurnya pun, meski aku merasa berat soal itu, tampak biasa saja dan bukan pengorbanan di mata orang lain.
Apa memang aku yang ribut sendiri?
Ah yaa... memang itulah tujuanku menulis di sini. Aku tidak ingin ribut sendiri, tetapi aku juga tidak mau mengabaikan diriku sendiri.
Perayaan tahun ini, aku akan membeli dimsum tower untuk diriku sendiri. Akan aku makan sendiri. Akan kurayakan sendiri bertahun-tahun perjuanganku menjadi istri yang perlu jauh dari keluarga, perjuanganku menjadi ibu yang penuh lelah.
Aku akan beli satu tower lagi untuk dinikmati suami dan anak-anakku. Tapi kupastikan jatah dimsumku paling banyak!
Aku tidak sedang kesal dengan siapapun. Aku hanya ingin mengajak diriku, tidak perlu merasa tidak penting, karena aku selalu bisa merayakan diriku sendiri.










