Seru Bareng, Pinter Bareng!
Bosen nggak sih kuliah gitu-gitu aja? Duduk di kelas, dengerin dosen, nyatet, ngerjain tugas, mampir perpus, makan siang di kantin, duduk selo di lobi sambil nunggu kelas selanjutnya. Kuliah di kampus doang? Bosen banget lah! Bersyukurlah aku kuliah di komunikasi UGM. Kemarin senin tanggal 13 Mei 2014, aku dan teman-teman angkatan 2013, main bareng ke Solo. Sebenarnya nggak main sih, kita melakukan kunjungan ke dua tempat bersejarah yaitu Lokananta dan Museum Pers Nasional. Kenapa di tempat-tempat bersejarah? Karena kunjungan itu emang salah satu kegiatan dari mata kuliah Sejarah Ilmu Komunikasi dan Media Indonesia. Yeay!
Hari senin itu, pagi-pagi banget kita udah disuruh kumpul di kampus. Disuruh kumpulnya jam 6 pagi coba. Padahal beberapa temanku ada yang susah bangun pagi. Sebenernya, aku juga sih (._.)v . Berangkat ke Solonya agak molor gara-gara tunggu-tungguan. Kita masuk bis sekitar jam 7 lebih, hampir-hampir jam setengah 8. Setelah milih bis dan nunggu beberapa orang yang belum datang, kami cus ke Solooo~
Lokasi pertama adalah Lokananta. Ada yang nggak tau Lokananta? Yang nggak tau, coba tanya bapakmu dulu. Bapakmu nggak tau? Yaudah, aku kasih tau sini. Lokananta adalah studio rekaman pertama di Indonesia. Lokananta mengkhususkan dirinya kepada rekaman musik daerah dan lagu nasional, tetapi belakangan ini Lokananta juga merekam musik-musik populer. Shaggy Dog dan Glenn Fredly baru-baru ini juga rekaman di Lokananta lho.
Lokananta itu tempatnya keren banget. Pertama kali datang, kami disuruh kumpul di sebuah ruangan yang guede banget. Awalnya aku pikir itu aula, ternyata ruangan itu adalah ruangan yang digunakan untuk rekaman. Ruangannya keren banget, gede, dinding dan atapnya ada peredam suaranya, tapi sayang lantainya masih karpet. Studio rekaman yang baik itu lantainya dari kayu, tapi karena lantai kayu relatif mahal, Lokananta yang keren itu masih berlantai lapis karpet deh. Nggak apa-apa, tetep keren kok!
Setelah mendengarkan penjelasan dari Bu Titi, Pak Adi, dan Pak Bembi tentang Lokananta di studio rekaman yang kece itu, kami mulai berkeliling Lokananta. Aku dan kelompokku memulai wisata museum kami di ruangan yang menyimpan piringan hitam. Beberapa dari kami ada yang baru pertama kali liat piringan hitam, jadi kami benar-benar senang gitu ngeliat piringan hitam yang buanyak banget. Di ruangan itu ada piringan hitam yang isinya lagu daerah, lagu nasional, lagu-lagu berbahasa daerah, dan lain-lain. Yang paling keren adalah piringan hitam Indonesia Raya. Lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya, pertama kali direkam di Lokananta lhoo dan di ruangan itu ada beberapa kopian piringan hitam Indonesia Raya. Super keren!
Lanjut ke ruangan berikutnya. Aduh sayang banget aku nggak memperhatikan nama ruangannya. Yang jelas, ruangannya keren banget dan kalo kamu foto di sana, fotonya jadi bagus. Cahayanya oke banget *salah fokus*.
Ruangan itu isinya alat-alat pembuat kaset, piringan hitam, dll. Di ruangan itu, kami dijelaskan lebih lanjut oleh petugas mengenai pembuatan kaset, pembuatan piringan hitam, ataupun piringan hitam dan kaset itu sendiri. Entah sih, tapi kayanya aku yang pengetahuannya sempit. Aku baru tahu kalau piringan hitam itu ada 3 ukuran gara-gara dijelasin petugas di sana, kecil yang berisi dua lagu, sedang yang berisi empat lagu, dan besar yang berisi delapan lagu. Lengkap dan seru banget deh di sana. Alatnya gede-gede, tua-tua, bersejarah, dan banyak. Beberapa gambarnya ada di bawah ini.
Nggak cuma dua ruangan, kami pergi ke empat ruangan. Ruangan ketiga adalah ruang remastering. Nggak tau apa itu remastering? Itu lho, aktivitas merekam kembali master-master lama sehingga menjadi master yang berbentuk digital. Master-master yang diremastering di sana itu adalah master yang berupa piringan hitam. Ruangan itu bentuknya kaya ruangan kerja biasa. Ya memang ruangan untuk kerja sih sebenarnya. Di sana kami nonton videonya Glenn Fredly, dengerin musik yang berasal dari piringan hitam, dan mengagumi ACnya yang jadul. AC di ruangan itu jadul banget, tapi masih berfungsi cukup baik sampai sekarang. Ya walaupun kata bapak petugas di sana memang kadang ACnya juga rusak sih, maklumlah sudah tua.
Ruangan terakhir adalah ruang rekaman. Kami balik lagi ke ruangan pertama. Ternyata di sana ada alat-alat rekaman yang kece banget. Beneran kaya di film-film gitu. Alat rekamannya tombolnya banyak banget *mulai ndeso*. Selesai dari ruang rekaman, selesai pula kunjungan kami di Lokananta. Sayang sekali nggak bisa beli kaset lagu-lagu daerah di sana untuk oleh-oleh bapak di rumah. Alhasil bapakku yang menyesal. Besok ya pak, tak bali meneh mbrana nggo nukokke kaset. Santaai lah
Setelah dari Lokananta, kami tidak langsung pergi ke Museum Pers Nasional. Kami mampir dulu ke tempat makan. Di sana banyak dedek-dedek gemes ternyata :3. Sempat salah tempat juga, memalukan. Kami makan prasmanan gitu di sana. Antriannya panjang, Alhamdulillah makanannya lumayan. Setelah makan, sholat, ke WC, dan istirahat sebentar, kami lanjut ke lokasi kunjungan kedua yaitu Museum Pers Nasional!
Tak lama, kami pun sampai di Museum Pers Nasional. Kami langsung disambut oleh patung-patung naga putih dan kenthongan raksasa yang penuh ukiran unik. Gedungnya juga lain daripada yang lain lho. Bentuknya kaya candi gitu. Begitu masuk museum, patung 10 perintis pers Indonesia langsung memonopoli perhatianku. Bagus e, hehehe.
Ternyata sebelum berkeliling, kami disuruh duduk dulu di tengah ruangan. Sudah disiapkan kursi dan kami dipersilahkan menonton film pendek mengenai Museum Pers Nasional. Serunya lagi, kami dapat buku mengenai Museum Pers Nasional dan snack yang enak, sumpah enak lho snacknya.
Kemudian mulailah kami berkeliling! Di ruangan pertama ada banyak barang-barang bersejarah. Ada beberapa replika majalah dan koran jadul, pemancar radio "RRI Kambing", patung perintis pers Indonesia dan lain-lain. Buat aku, hal yang paling menarik di sana, selain patung perintis pers Indonesia, adalah pemancar radio "RRI Kambing". Jaman dulu, pemancar radio ini disembunyikan di kandang kambing agar aman dari serangan musuh dan tetap menyerukan semangat perjuangan. Jadi, diantara seruan semangat perjuangan itu, kadang-kadang ada suara kambing mengembik. Memang keren banget perjuangan Indonesia.
Pemancar radio "RRI Kambing"
Ruangan berikutnya menyimpan benda-benda peninggalan pers yang lebih benda *apasih*. Di ruangan itu berjejer mesin-mesin ketik kuno, peralatan terjun payung Trisno Yuwono, pakaian Hendro Subroto, dan lain-lain. Sebenernya menarik banget sih pajangan di sana, tapi sayang banget lagi ada perbaikan, jadi aku nggak lama-lama di sana dan pindah ke ruang berikutnya.
Ruangan berikutnya yang aku masuki adalah ruang penyimpanan koran dan majalah cetak. Nggak cuma koran lama lho, koran baru pun ada. Ada koran kertas kuning, koran kertas abu-abu, majalah vintage, majalah modern, dan lain-lain.
Itu baru versi cetaknya, di Museum Pers Nasional ini juga ada versi digitalnya lho. Di ruang berikutnya, ada komputer-komputer touch screen yang isinya data koran dan majalah yang sudah berbentuk foto-foto kece. Data yang ada di komputer-komputer itu adalah data koran dan majalah dari jaman dahulu kala hingga sekarang. Sayang, data yang ada di sana nggak bisa dicopy, tapi tenang saja. Data yang ada di sana bisa diprint sebanyak-banyaknya dan gratiiissss.
Sebenarnya masih ada lagi ruangan digitalisasi. Jadi, di ruangan itu ada kamera dan alat-alat yang digunakan untuk memotret koran dan majalah. Kata teman-temanku sih ruangan itu seru banget, tapi aku justru ikut-ikutan teman-teman yang lain ke balkon museum dan menikmati suasana luar ruang Museum Pers Nasional. Duh parah banget salah fokusnya ni.
Setelah berhasil selamat dari kekancingan di balkon, kami turun deh. Beberapa ada yang sholat, beberapa ada yang ke WC, beberapa ada yang duduk-duduk manis sambil ngobrol, dan aku milih buat keliling melihat diorama. Ada enam diorama yang ada di sana. Namanya aja diorama, jadi di situ isinya miniatur-miniatur imut tentang sejarah pers. Diorama-diorama di sana bercerita tentang sejarah pers di Indonesia sejak jaman pra sejarah hingga masa kini.
Setelah selesai dengan diorama, aku bergabung dengan teman-teman yang lain nongki di depan museum. Eh kok ya ada es krim mendekat, ya kelarisan lah masnya yang jual. Setelah makan es krim, kami pulang ke Jogja dan bersiap dengan tugas-tugas yang sesaat kami lupakan ketika berada di Solo. Siap hidup normal kembali bersama tugas-tugas tersayang. Semangat!