saat-saat perempuan kalah (dan menang)
sepanjang perjalananmu menikah kelak, akan ada banyak sekali yang harus kamu korbankan. itu sudah pasti. itu adalah keniscayaan. pada setiap pengorbanan yang kamu berikan, akan terbesit di hatimu bahwa kamu–kalah.
mungkin yang kamu sebut sebagai kekalahan adalah ketika kamu harus mengganti cita-citamu. mungkin yang kamu sebut sebagai kekalahan adalah ketika kamu tidak bisa bersinar sebagaimana kamu mampu, sebab sumber cahayamu harus kamu bagi kepada anak-anakmu. mungkin yang kamu sebut sebagai kekalahan adalah ketika pasanganmu bisa memenangkan dunianya, sedangkan kamu tidak. atau, ketika pasanganmu tidak lagi jatuh cinta kepadamu–meskipun dia masih menyayangimu.
percayalah, kami para perempuan sebelum kamu, sudah pernah mengalami perasaan-perasaan kalah itu. itu semua bukanlah “kekalahan” yang berarti. ada perasaan kalah yang sangat hebat–yang mungkin terjadi pada perempuan dan semoga tak pernah terjadi kepadamu–yaitu saat seorang perempuan, tak lagi menjadi yang satu-satunya.
sudah, tidak bisa kami ceritakan bagaimana rasa kalahnya. kami hanya bisa mengerti mengapa Rasul tak izinkan Ali menikah lagi. perasaan kalah itu tidak hanya akan menjadi milik sang perempuan sendiri.
kami tidak membenci poligami, kami hanya belum mampu untuk mengalaminya apalagi menjalaninya. pada semua jenis mengalah untuk menang, tidak menjadi satu-satunya tak ambil bagian. tidak menjadi satu-satunya seringkali adalah mengalah untuk benar-benar kalah.
sekiranya hampir semua perempuan sudah memahami bahwa ada dua cara baginya untuk menang: mengalah dan mengabdi. namun sekiranya semua laki-laki juga perlu memahami bahwa perempuan tak mampu menjadi yang pertama–perempuan hanya mampu menjadi yang satu-satunya.
ini adalah pesan untuk anak-anakmu kelak. kepada yang perempuan, mengalahlah untuk menang. sungguh semua yang kamu sebut sebagai kekalahan adalah tangga-tangga menuju kemenangan–jika kamu sabar dan ikhlas menapakinya.
kepada yang laki-laki, jangan ada yang kedua, ketiga, keempat–hanya Rasul yang bisa dan boleh–jangan pernah ada meskipun hanya terbesit di benakmu saja. sebab bagimu, ada dua cara untuk menang: menjaga dan menghargai. menjaga pandangan, lisan, pendengaran, dan kemaluanmu. menghargai setiap “kekalahan” pasanganmu.
dari generasi sebelum kamu, agar kamu mendengarkan dan memahami.