Tips Untuk Bisnis Kecil turned 1 today!
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
tumblr dot com
One Nice Bug Per Day
Show & Tell
Cosmic Funnies

@theartofmadeline
Fai_Ryy
official daine visual archive
occasionally subtle
todays bird
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

tannertan36
$LAYYYTER
Doug Jones
KIROKAZE

shark vs the universe
Mike Driver

Origami Around

Game Changer & Make Some Noise
Color Me Curious
seen from United States
seen from Algeria
seen from Argentina
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from Japan
seen from Portugal

seen from United States

seen from Japan

seen from United States
seen from Azerbaijan

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Australia

seen from Bangladesh
seen from Mexico
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@anitamaharani
Tips Untuk Bisnis Kecil turned 1 today!
source: pinterest.com
Tipe-Tipe Pekerja Saat Ini Yang Penting Diketahui
Usia saya bekerja belum terlalu lama, baru akan menginjak tahun ke-13. Karir pun juga biasa saja, hanya sebagai “pemerhati” dan pelaku di dunia pendidikan. Tapi beruntung, karena bidangnya ini, saya berkesempatan melihat perjalanan hidup manusia, dari mulai di lingkungan pendidikan hingga masuk ke dunia kerja (tentunya dunia sosial). Apalagi, beruntung dunia pendidikan yang saya tekuni adalah di lingkungan perguruan tinggi, saya jadi banyak ilmu tentang bagaimana seluk belum calon manusia “pekerja” masa depan.
Sebenarnya artikel ini hanya artikel ringan yang berasal dari apa yang saya lihat, rasakan bahkan juga alami (ya karena saya juga pekerja :) ). Jadi, bisa benar dan sebaliknya mungkin bisa salah. Tapi sharing is caring kan, jadi tidak ada salahnya untuk berbagi pengalaman yang sedikit ini, mungkin saja nanti justru saya dapat tanggapan dari pembaca yang akan memperkaya pandangan saya ini.
Tipe-tipe pekerja yang saya temui sepanjang ini adalah sebagai berikut:
1. Si biasa saja
Tipe yang seperti ini biasanya, datang dan pulang sesuai jadwal, hubungan dengan teman kantor seperlunya saja, yang penting kinerja terpenuhi.
2. Si yang penting ada
Tipe yang seperti ini biasanya akan berusaha “eksis” dimana semua teman-teman kerja nya ada. Biasanya dia pun tidak paham kenapa harus ikutan “nimbrung:
3. Si yang kelihatannya workaholic
Tipe yang seperti ini biasanya datang lebih cepat, pulang bisa jadi lebih telat, dan kelihatannya sibuk sekali (padahal kita juga tidak tau apa yang dikerjakannya)
4. Si yang kelihatannya cuek padahal ingin selalu unggul
Tipe yang ini seakan-akan tidak peduli dengan apa yang tengah terjadi di lingkungan kantor, tapi sebenarnya dia berusaha juga menjadi bagian “kekinian” di kantor
5. Si yang kelihatannya ga ngerti padahal paham banyak
Tipe yang seperti ini biasanya akan berusaha “mendiskon” dirinya diantara teman-temannya, sepertinya tidak paham apa-apa, padahal sebenarnya karena dia tidak ingin ketahuan sudah paham.
Nah, kira-kira, dari lima tipe yang saya sebutkan di atas, ada lagi kah yang tipe pekerja saat ini yang mungkin anda lihat?.
Success is the sum of small efforts, repeated day in and day out. – Robert Collier
https://blog.fivestars.com/15-inspiring-small-business-quotes-start-day/
Ini Alasan Mengapa Orang Sepuh Sulit Belajar Teknologi Baru
Pernah mengalami jengkel karena harus berkali-kali mengajarkan soal penggunaan fitur-fitur telepon pintar ke orang yang sepuh usianya? Itupun belum tentu mereka paham kan. Kalau sudah begini, biasanya kita akan “nerima” dan seraya berkata dalam hati “ah entar juga saya begitu”, ini sebenarnya pemikiran yang baik loh, tapi mau tau mengapa hampir rata-rata orang yang sudah sepuh “agak” sulit menerima teknologi baru, diantaranya kecanggihan telepon pintar. Simak berikut ini.
Ada konsep yang dinamakan “digital divide”. Apa itu? digital divide atau yang disebut sebagai digital split, menurut beragam sumber intinya adalah isu sosial yang terjadi antara mereka yang dapat mengakses internet dengan mereka yang tidak mengakses internet. Meskipun ini istilah diperuntukkan untuk membandingkan antara mereka yang mampu menggunakan internet dengan mereka yang tidak mampu menggunakannya, tapi bisa juga diterapkan pada mereka yang mengalami kesulitan pada saat berhadapan dengan teknologi baru.
Semakin bertambah usia seseorang, semakin mungkin seseorang merasa yakin pada kalimat klise “orang yang sudah tua sudah tidak mungkin belajar hal baru”, karena lingkungan kita yang mendorong kita meyakini hal ini. Padahal sebenarnya tidak juga, kesulitan untuk memahami teknologi baru pada orang tua diantaranya bukan karena mereka tidak mampu menerima hal yang baru, tapi lebih kepada pendekatan “guru” yang mengajarkan kepada hal yang baru. Kita harus paham, mengajarkan suatu hal baru pada mereka yang sudah sepuh berbeda dengan mengajarkan sesuatu pada “anak kecil” diantaranya, karena orang tua memiliki beban pikiran yang sudah sangat kompleks, selain itu, ada “ketidakyakinan” dalam diri orang-orang tua (seperti kalimat klise).
Jadi, bagaimana supaya orang yang sudah sepuh mau belajar teknologi, ini sebagian caranya:
Tidak perlu memaksa mereka untuk langsung mengerti, namun paksa mereka untuk menggunakan Berikan keyakinan dalam diri mereka, kalau teknologi baru bertujuan mempermudah hidup mereka, bukan sebaliknya Sesekali berhenti sejenak saat mengajarkan sesuatu yang baru, agar tidak ada “information overload”, ingat para orangtua adalah mereka yang punya “banyak hal” yang perlu dipikirkan, mereka akan perlu menata prioritas.
Hati-hati Warisan, Segera Hitam Di Atas Putih!
Beberapa saat selepas bapak itu wafat, ketiga anak dan ibunya berkumpul untuk merundingkan sesuatu, tentang warisan. Bukan perkara mudah bagi sebuah keluarga yang ditinggal kepala keluarganya, apalagi yang sehari-harinya berprofesi sebagai usahawan, meski usaha kecil, berdagang kelontong.
Ibu, begitu sensitif pada saat pembicaraan soal waris ini menginjak pada perihal pembagian hak. Ketiga putranya bersikukuh agar warisan diberikan sesuai pesan almarhum bapak mereka. Namun, sang Ibu berpikir lain, tidak mudah membagi warisan sesuai pesan, terutama ketika warisan yang dibicarakan sebenarnya adalah bagian dari modal, dan seluruhnya sudah dijaminkan ke bank untuk mendapatkan dana pinjaman
Putra pertama memicu sebuah diskusi di antara anggota keluarga yang tersisa untuk segera membagi-bagi warisan yang masih ada (termasuk juga yang dijaminkan ke bank). Dalam diskusi, putra kedua kemudian melakukan rekapitulasi apa saja wujud “aset” yang dianggap warisan keluarga. Sedangkan putra ketiga sesekali sumbang saran di antara diskusi, dan ibu memperhatikan ketiga putra nya yang sedang sibuk.
Sulit bagi sang ibu bahkan ketiga putranya untuk merekapitulasi harta, dan yang bisa dianggap warisan, pertama karena semua harta yang tersisa sudah masuk ke bank, dan yang kedua adalah bahwa semua harta yang dianggap warisan sebenarnya bergantung pada ingatan anggota keluarga. Putra pertama mengklaim aset A sebagai miliknya berdasarkan ingatan ucapan almarhum ayahnya, putra kedua dan ketiga pun demikian, dan ibu sekali lagi hanya memperhatikan.
Di ujungnya, akhirnya ketiga putra sepakat, bahwa tidak ada satupun warisan yang bisa dibagi dan seluruhnya dianggap harta bersama, yang disebabkan karena rupanya semua harta menjadi bagian dari jaminan ke bank. Ketiga putra tersebut akhirnya sepakat untuk membicarakan kembali “aset” yang dianggap warisan, hingga nantinya sang ibu memutuskan untuk menyelesaikan pinjaman bank.
Gambaran kisah di atas sebenarnya adalah gambaran fenomena yang dialami oleh beberapa pengusaha lokal, yang belum menganggap penting melakukan pendataan warisan ke pakar hukum. Klaim atas harta sangatlah sensitif terutama ketika tidak ada bukti hitam di atas putih. Meskipun lisan menitipkan sebuah ingatan bagi setiap orang, namun sangat sulit untuk diklaim, kecuali jika ada saksi yang dapat dipercaya, dan hal ini tentunya tidak mudah. Bagaimana dengan pengalaman anda?.
Dr. Anita Maharani
Akademisi dan memiliki ketertarikan pada isu Bisnis Keluarga dari Binus Business School (bbs.binus.ac.id)
Linkedin/Twitter: anitamaharani
Tanpa Perlu Klenik, Ini Magnet Penarik Pelanggan Untuk Usaha Kecil
“Kenapa dagangan hari ini tak banyak laku?” ujar seorang pemilik usaha pada suatu hari. Karyawan yang berada di hadapannya spontan berujar “Iya bu, soalnya si mba nda masuk”. Pemilik usaha tertegun, dan kemudian berujar kembali “Ah, sama saja, mau ada dan nggak ada dia sebenarnya ga pengaruh”, karyawan kemudian menanggapinya kembali “nggak juga bu, benar, kalau si mba datang, pelanggan banyak mampir dan kadang berlama-lama di toko sampai jadi beli, kalau saya sendiri yang jaga, boro-boro bu, pelanggan nyarinya dia terus”.
Sepenggal kisah di atas terjadi baru-baru ini pada usaha kuliner milik Ibu Marni, yang kebetulan baru merintis kembali usahanya di tempat baru karena harus pindah dari tempat sebelumnya yang sudah berjalan hampir sembilan tahun karena satu dan lain hal. Jika sebelumnya di lokasi permanen dan mempekerjakan lima orang karyawan, maka kali ini tempat yang dipilih cenderung lebih kecil, berada di tengah-tengah usaha kuliner yang sudah lebih dahulu ada, sehingga hanya perlu mempekerjakan dua orang, satu orang laki-laki dan satu orang perempuan, yang berbagi tugas, yakni untuk karyawan laki-laki bertugas mengantar pesanan sedangkan karyawan perempuan bertugas menjaga stand dan menjadi kasir.
Ibu Marni mendapati selama satu bulan usahanya berjalan kalau persaingan usaha kuliner di tempat baru “cukup menarik”, terutama karena menu yang dijajakan cenderung laku dan diterima oleh pelanggan. Hal ini tentunya membuat Ibu Marni semakin tertarik dan semangat untuk bereksperimen menjajakan menu lainnya di lokasi usahanya. Sampai suatu ketika, karyawan perempuan tidak dapat hadir bekerja, dan ini terjadi di awal bulan kedua usaha, yang terjadi adalah makanan yang dijajakan hanya laku sedikit, gambarannya adalah jika seharusnya dari 10 porsi yang dibawa maka yang kembali ada enam porsi, tidak sampai separuh dari total porsi yang ditargetkan. Dan, kalau sudah begini, tentunya Ibu Marni mulai meradang, karena antara uang operasional dengan uang masuk lebih tinggi uang operasionalnya, kemudian terjadilah percakapan singkat sebagaimana di paragraf pertama.
Ada yang dilupakan oleh Ibu Marni pada saat pertama kali berada di lokasi usaha yang baru, yakni magnet penarik pelanggan. Kalau pada masa lalu (atau bisa jadi sekarang pun masih terjadi), biasanya pada pengusaha menyelipkan “barang” yang dianggap dapat menarik perhatian pelanggan, dari mulai yang berbau mistis sampai teknik warna cat yang “menyala”, salah satu dari praktik tersebut sebenarnya juga bisa memposisikan seseorang yang berwajah menarik, sehingga pelanggan tertarik untuk datang dan bisa jadi akan berakhir pada pembelian, dengan catatan hanya andaikata karyawan yang berwajah menarik itu juga dibekali dengan kemampuan menjual.
Dalam situs peaksalesrecruiting.com (2017) disebutkan, bahwa “dalam dunia yang sempurna, penampilan tidak memiliki dampak untuk bisnis, namun pada dunia nyata, sayangnya, penampilan memberikan efek luar biasa”. Sehingga tidaklah heran, bagi perusahaan yang mampu menggaji karyawannya dengan jumlah yang bersaing mampu merekrut dan memiliki karyawan yang “memiliki penampilan menarik” selain tentunya tidak melupakan faktor kompetensi.
Sebagaimana dikutip dalam peaksalesrecruiting.com (2017), ada buku menarik yang ditulis oleh Daniel Hamermesh berjudul “Beauty Pays: Why Attractive People Are More Successful”, yang didalamnya memuat sebuah temuan menarik, bahwa mereka yang memiliki penampilan menarik, biasanya akan mendapatkan 3 - 4 % lebih banyak uang dibandingkan mereka yang memiliki penampilan di bawah rata-rata dan mereka yang memiliki penampilan biasa akan mendapatkan 1- 2 % lebih banyak uang sepanjang waktu kehidupan mereka dibandingkan mereka yang berpenampilan “buruk”, atau dengan kata lain Hamermesh ingin menyampaikan bahwa orang-orang yang menarik akan menjual “lebih” dibandingkan orang-orang yang tidak menarik.
Penampilan menarik juga memiliki hubungan dengan impresi pelanggan, ini merupakan temuan lainnya. Dalam situs peaksalesrecruiting.com (2017) juga disampaikan mengenai temuan lain dari Peter Reingen (yang merupakan Profesor di Arizona State University), yang mengatakan bahwa penampilan yang menarik, akan memiliki hubungan dengan impresi pelanggan tentang karyawan yang menarik. Bahwa, karyawan yang memiliki penampilan menarik dianggap memiliki kemampuan menimbulkan kesukaan pelanggan dan menumbuhkan kepercayaan, memiliki kemampuan komunikasi dan kemampuan karyawan untuk menjual.
Bagi usaha kecil, tidak perlu khawatir tentang penampilan karyawan yang menarik, karena tidak mudah untuk menemukan karyawan yang sesuai dengan anggaran usaha, dan ada pemakluman dari pelanggan bahwa usaha kecil memang tidak selalu identik dengan penampilan, karena nilai tambah usaha kecil adalah pada “keeratan” dan “keramahan”. Meski demikian, seandainya beruntung dan mendapatkan karyawan yang menarik, tentunya akan memberikan nilai tambah tersendiri bagi usaha.
Dr. Anita Maharani
Akademisi dan memiliki ketertarikan pada isu Bisnis Keluarga dari Binus Business School (bbs.binus.ac.id)
Linkedin/Twitter: anitamaharani