Tanpa Perlu Klenik, Ini Magnet Penarik Pelanggan Untuk Usaha Kecil
“Kenapa dagangan hari ini tak banyak laku?” ujar seorang pemilik usaha pada suatu hari. Karyawan yang berada di hadapannya spontan berujar “Iya bu, soalnya si mba nda masuk”. Pemilik usaha tertegun, dan kemudian berujar kembali “Ah, sama saja, mau ada dan nggak ada dia sebenarnya ga pengaruh”, karyawan kemudian menanggapinya kembali “nggak juga bu, benar, kalau si mba datang, pelanggan banyak mampir dan kadang berlama-lama di toko sampai jadi beli, kalau saya sendiri yang jaga, boro-boro bu, pelanggan nyarinya dia terus”.
Sepenggal kisah di atas terjadi baru-baru ini pada usaha kuliner milik Ibu Marni, yang kebetulan baru merintis kembali usahanya di tempat baru karena harus pindah dari tempat sebelumnya yang sudah berjalan hampir sembilan tahun karena satu dan lain hal. Jika sebelumnya di lokasi permanen dan mempekerjakan lima orang karyawan, maka kali ini tempat yang dipilih cenderung lebih kecil, berada di tengah-tengah usaha kuliner yang sudah lebih dahulu ada, sehingga hanya perlu mempekerjakan dua orang, satu orang laki-laki dan satu orang perempuan, yang berbagi tugas, yakni untuk karyawan laki-laki bertugas mengantar pesanan sedangkan karyawan perempuan bertugas menjaga stand dan menjadi kasir.
Ibu Marni mendapati selama satu bulan usahanya berjalan kalau persaingan usaha kuliner di tempat baru “cukup menarik”, terutama karena menu yang dijajakan cenderung laku dan diterima oleh pelanggan. Hal ini tentunya membuat Ibu Marni semakin tertarik dan semangat untuk bereksperimen menjajakan menu lainnya di lokasi usahanya. Sampai suatu ketika, karyawan perempuan tidak dapat hadir bekerja, dan ini terjadi di awal bulan kedua usaha, yang terjadi adalah makanan yang dijajakan hanya laku sedikit, gambarannya adalah jika seharusnya dari 10 porsi yang dibawa maka yang kembali ada enam porsi, tidak sampai separuh dari total porsi yang ditargetkan. Dan, kalau sudah begini, tentunya Ibu Marni mulai meradang, karena antara uang operasional dengan uang masuk lebih tinggi uang operasionalnya, kemudian terjadilah percakapan singkat sebagaimana di paragraf pertama.
Ada yang dilupakan oleh Ibu Marni pada saat pertama kali berada di lokasi usaha yang baru, yakni magnet penarik pelanggan. Kalau pada masa lalu (atau bisa jadi sekarang pun masih terjadi), biasanya pada pengusaha menyelipkan “barang” yang dianggap dapat menarik perhatian pelanggan, dari mulai yang berbau mistis sampai teknik warna cat yang “menyala”, salah satu dari praktik tersebut sebenarnya juga bisa memposisikan seseorang yang berwajah menarik, sehingga pelanggan tertarik untuk datang dan bisa jadi akan berakhir pada pembelian, dengan catatan hanya andaikata karyawan yang berwajah menarik itu juga dibekali dengan kemampuan menjual.
Dalam situs peaksalesrecruiting.com (2017) disebutkan, bahwa “dalam dunia yang sempurna, penampilan tidak memiliki dampak untuk bisnis, namun pada dunia nyata, sayangnya, penampilan memberikan efek luar biasa”. Sehingga tidaklah heran, bagi perusahaan yang mampu menggaji karyawannya dengan jumlah yang bersaing mampu merekrut dan memiliki karyawan yang “memiliki penampilan menarik” selain tentunya tidak melupakan faktor kompetensi.
Sebagaimana dikutip dalam peaksalesrecruiting.com (2017), ada buku menarik yang ditulis oleh Daniel Hamermesh berjudul “Beauty Pays: Why Attractive People Are More Successful”, yang didalamnya memuat sebuah temuan menarik, bahwa mereka yang memiliki penampilan menarik, biasanya akan mendapatkan 3 - 4 % lebih banyak uang dibandingkan mereka yang memiliki penampilan di bawah rata-rata dan mereka yang memiliki penampilan biasa akan mendapatkan 1- 2 % lebih banyak uang sepanjang waktu kehidupan mereka dibandingkan mereka yang berpenampilan “buruk”, atau dengan kata lain Hamermesh ingin menyampaikan bahwa orang-orang yang menarik akan menjual “lebih” dibandingkan orang-orang yang tidak menarik.
Penampilan menarik juga memiliki hubungan dengan impresi pelanggan, ini merupakan temuan lainnya. Dalam situs peaksalesrecruiting.com (2017) juga disampaikan mengenai temuan lain dari Peter Reingen (yang merupakan Profesor di Arizona State University), yang mengatakan bahwa penampilan yang menarik, akan memiliki hubungan dengan impresi pelanggan tentang karyawan yang menarik. Bahwa, karyawan yang memiliki penampilan menarik dianggap memiliki kemampuan menimbulkan kesukaan pelanggan dan menumbuhkan kepercayaan, memiliki kemampuan komunikasi dan kemampuan karyawan untuk menjual.
Bagi usaha kecil, tidak perlu khawatir tentang penampilan karyawan yang menarik, karena tidak mudah untuk menemukan karyawan yang sesuai dengan anggaran usaha, dan ada pemakluman dari pelanggan bahwa usaha kecil memang tidak selalu identik dengan penampilan, karena nilai tambah usaha kecil adalah pada “keeratan” dan “keramahan”. Meski demikian, seandainya beruntung dan mendapatkan karyawan yang menarik, tentunya akan memberikan nilai tambah tersendiri bagi usaha.
Akademisi dan memiliki ketertarikan pada isu Bisnis Keluarga dari Binus Business School (bbs.binus.ac.id)
Linkedin/Twitter: anitamaharani