Sepucuk Kartu Pos
“Negara adidaya sebesar Amerika saja masih menghormati tradisi surat menyurat bahkan sampai sekarang. Itu bukti bahwa pos never dies, tak lekang oleh waktu!”, tegas pria berkacamata itu, mengalahkan volume lagu Manusia Bodoh di belakangnya. Aku hanya bisa mengangguk takzim sebab memang tak tahu apa-apa perihal pos.
*
Siang itu langit mendung, namun aku tetap berangkat ke Kantor Pos Tembalang karena sudah terlanjur berjanji akan mengirim kartu pos untuk salah seorang kawanku di Jakarta Selatan, sekaligus membuat alasan untuk bertanya tentang dunia pos yang selama ini hanya kunikmati melalui kisah dalam cerpen dan novel. Aku mendorong pintu masuk pelan, mendapati Kantor Pos sangat lengang. Hanya ada dua orang pelanggan dan tiga orang petugas mengenakan kemeja abu-abu dengan bordir burung merpati di dada kiri. Pertanyaan pertama kutujukan pada petugas perempuan satu-satunya, apakah Kantor Pos ini masih menyediakan Kartu Pos. Perempuan berjilbab oranye itu mengernyit, “Tentu saja masih. Banyak pula orang yang mengirimkan kartu pos ke luar negeri.”, terangnya menggugurkan prasangkaku. Kukira semua orang telah beralih ke jejaring media sosial.
Empat lembar kartu pos kubeli seharga Rp 1.000 sedangkan perangko seri gerhana matahari dihargai Rp 3000. Kikuk rasanya mengisi kartu pos untuk berkorepondensi setelah selama ini menggunakan kartu pos hanya untuk menjawab TTS, itu pun sudah sangat lama sekali. Berulang kali aku mengganggu petugas Kantor Pos, menanyakan tempat menulis alamat, berapa nomor kode pos Tembalang, hingga dimana biasanya pesan itu ditulis. Saat itulah aku merasa malu menjadi generasi kekinian.
Rasa malu ketika tak becus mengisi kartu pos tidak ada apa-apanya dibanding dengan ketika aku iseng menanyakan apakah bis surat masih sering dibuka. Joko Rustiyono, lelaki yang sudah mengabdi di Kantor Pos selama 30 tahun terakhir ini membuat pertanyaan isengku tadi merembet ke mana-mana. Setelah menjawab “Ya!” sambil membelalakkan mata, ia menerangkan panjang lebar bahwa PT. Pos akan senantiasa berkembang secara dinamis mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan tradisi persuratan. Wartel bisa punah, tetapi Kantor Pos tidak. Penghobi filateli dan pengirim surat-surat cinta masih setia bersama PT. Pos. Pak Pos pun masih menjaga kepercayaan pelanggan, senantiasa menelusuri alamat kemana surat-surat itu ditujukan. Tak peduli banyaknya jasa ekspedisi bermunculan setelah monopoli PT. Pos berakhir, perusahaan yang sudah beroperasi selama 277 tahun ini akan terus bertahan.
Tepat pukul 14.30 Joko Rustiyono memintaku pulang, sebab Kantor Pos akan tutup. Aku hanya bisa berterimakasih atas waktu dan pengertian yang ia berikan, lalu meninggalkan Kantor Pos meski di luar masih turun hujan.












