merawat teman hijau ini membuatku lebih perasa akan nilai hati. sekecil duri-duri mereka yang membuat nyeri jika menusuk jari. betapa pentingnya pertahanan diri seringkih apapun tubuh ini.
seen from United States
seen from South Korea

seen from Malaysia
seen from Thailand
seen from China
seen from China

seen from Malaysia
seen from South Korea

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from France

seen from France
seen from United States

seen from United States
seen from France

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Austria
seen from China
seen from United Kingdom
merawat teman hijau ini membuatku lebih perasa akan nilai hati. sekecil duri-duri mereka yang membuat nyeri jika menusuk jari. betapa pentingnya pertahanan diri seringkih apapun tubuh ini.
trakteer / ko-fi
Green tomatoes.
Mengapa Alam?
Ke alam adalah pulang. Memperkuat relasi dengan seluruh bumi dan juga diri. Merasakan dan merenungkan segala hal yang biasanya tenggelam atau terlupakan dalam kesibukan sehari-hari. Apakah harus alam? Ya.
Pergi ke alam bukanlah sekadar melepaskan penat dan menghibur mata dengan yang ijo-ijo. Mendaki gunung dan berenang di lautan adalah menemukan ketenangan dan berbincang dengan diri sendiri. Dalam perjumpaan dengan alam, kita diingatkan kembali tentang betapa lemahnya manusia. Kalau Anda mencoba mengalahkan hujan badai di pegunungan atau arus lautan yang dasyat, bagaimana rasanya? Kita kerap merasa begitu hebat dan penting. Namun, di hadapan alam yang berkekuatan besar, kita hanya menjadi satu bagian mungil.
Salah satu hal favorit saya di alam adalah menjadi pendengar. Ketika menyelami lautan dan memasuki hutan, saya senang mencoba menerka dari mana datangnya suara-suara unik. Sering sekali saya salah, apa yang saya kira burung ternyata serangga atau bahkan kera. Begitu juga dengan suara-suara laut. Tahukah Anda suara terumbu karang? Kertak (crackle) dan kersak (rustle) yang khas, sangat sulit dideskripsikan. Suara yang mungkin terdengar seperti audio rusak bagi kebanyakan orang, namun menunjukkan betapa lively kehidupan hewan-hewan di terumbu karang (kalau Anda sama sekali tak bisa membayangkannya, mungkin video ini dapat membantu ☺️).
Betapa banyaknya hal yang perlu kita pelajari untuk memahami alam ini. Betapa jauhnya kita mencoba memetakan tata surya yang luas, padahal Bumi saja belum diselami seutuhnya.
Di alam, kita juga menjadi versi diri yang lebih tulus. Perbincangan terjadi tanpa beban. Saling bantu dilakukan tanpa banyak pertimbangan. Tempat ini seakan secara instan mengubah kita menjadi orang yang lebih baik. Rasakanlah sendiri naik gunung dan bertemu pendaki lain. Bisakah sebuah percakapan acak dengan orang asing terjadi semudah itu jika tidak di gunung? Tak peduli apa merek pakaian atau latar belakangmu, semua di gunung adalah teman seperjalanan. Sama-sama mendaki menuju puncak yang sama.
Pergi ke alam juga mengajari kita untuk dekat dengan makhluk hidup lain. Masuk ke ‘rumah’ yang berbeda dengan segala aturan yang harus dihormati. Perjumpaan dengan hewan-hewan lain, sekecil atau sebesar apapun, seharusnya mengingatkan kita bahwa manusia hanyalah satu spesies di bumi. Relasi yang hendaknya kita bangun bukan didasari rasa ingin menguasai atau mendominasi, melainkan saling menghargai. Di teritori mereka, kita mungkin merasa rapuh dan lemah. Terkadang bahkan merasa tidak aman. Pernahkah Anda mencoba berpikir, seperti itu jugakah yang dirasakan hewan-hewan di Bumi yang kian hari makin tak ramah bagi mereka? Seperti itukah rasanya masuk ke tempat yang asing dan penuh dengan hal-hal yang tidak kita ketahui?
Segala hal di alam merupakan guru yang tidak mengajari dengan teori, tetapi praktik yang perlu kita telaah dan resapi dengan perlahan. Seperti cerita-cerita di film jadul, seorang murid harus mengikuti gurunya 24 jam sehari dan melihat bagaimana cara melakukan berbagai hal. Begitu juga dengan alam. Makin banyak kita melihat lebih dekat, makin banyak pula petuah yang ia berikan.
Nilai-nilai moral bertebaran di setiap lengkung akar dan buih air. Kita belajar bahwa segala sesuatu ada masanya dari buah yang berproses dengan sabar dari sebutir biji hingga ranum. Kita belajar bahwa badai sebesar apapun akan berlalu dan berganti dengan hangat pijar matahari. Kita belajar bahwa tanaman tak saling iri dengan bunga lain, justru keberagaman menjadikan semua indah. Setiap jengkal alam mengajarkan nilai-nilai yang baik bagi siapapun yang peka dalam mengindra.
Melupakan alam sama dengan membuang kulit kita. Identitas dan dasar keberadaan kita.
Bila Anda merindu alam, sudah sewajarnya.
Dekapannya memang selalu memanggil kita pulang.
Pohon apel cebol ini berhasil menumbuhkan apel hampir setengah ukurannya.
Eceng Gondok (Eichornia crassipes) hidup mengapung di air dan kadang berakar dalam tanah. Tingginya sekitar 0,4 – 0, 8 meter. Memiliki daun tunggal berbentuk oval, ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkal daun menggelembung dan tidak memiliki batang.
Tumbuhan yang tergolong dalam famili Pontederiaceae ini dapat ditemui kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air yang lambat, danau, penampungan air dan sungai. Eceng gondok dapat tumbuh dengan cepat ketika air mengandung banyak nutrien terutama nitrogen, fosfat, dan potasium, dan akan terhambat pertumbuhannya ketika kadar garam dalam air naik.
Eceng gondok dianggap sebagai gulma dan membawa dampak buruk, baik bagi tumbuhan dan lingkungan di sekitarnya. Akibat yang ditimbulkan eceng gondok diantaranya: 1. Meningkatkan evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman) disebabkan oleh daunnya yang lebar serta pertumbuhan eceng gondok yang cepat 2. Cahaya yang masuk kedalam perairan terhalang sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air 3. Mengganggu lalu lintas air 4. Meningkatkan habitat bagi vektor penyakit pada manusia 5. Mempercepat proses pendangkalan karena eceng gondok yang mati akan langsung turun ke dasar perairan.
Dibalik sisi negatif yang dimiliki eceng gondok, ternyata eceng gondok juga menyimpan manfaat positif, diantaranya yakni dapat diolah sebagai pembuatan kertas, pupuk kompos, biogas, perabotan, kerajinan tangan, sebagai media pertumbuhan bagi jamur merang, dan masih banyak lagi.
“The forest in the memory#19” Hutan yang dalam ingatan#19 記憶の森#19 2022 51×35 Acrylic on paper #contemporarypainting #contemporaryart #abstractart #abstractpainting #artcollector #contemporaryart #lukisankontemporer #lukisanabstrak #senikontemporer #senirupaindonesia #senirupa #greenpainting #greens #hijau #tanaman #lukisantanaman #絵画 #田中奈津子 #natsukotanaka #karantina #quarantine #quarantinelife #quarantinecrafts #quarantineart #isolationcreation #isolationart #lukisangyangdikarantina https://www.instagram.com/p/CYmUh6GP0-C/?utm_medium=tumblr