(via)
$LAYYYTER
untitled
macklin celebrini has autism
Doug Jones
Noah Kahan
The Bowery Presents
occasionally subtle
Cosmic Funnies

Discoholic 🪩
Sweet Seals For You, Always
Monterey Bay Aquarium
No title available
hello vonnie

Jar Jar Binks Fan Club
Interview Vampire Daily
RMH
Xuebing Du
The Stonewall Inn
noise dept.

Andulka

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Netherlands
seen from United States

seen from Vietnam

seen from United States
seen from TĂĽrkiye

seen from United States

seen from United States
seen from Ukraine
seen from Poland
seen from TĂĽrkiye
seen from TĂĽrkiye

seen from Netherlands
seen from TĂĽrkiye

seen from United States
seen from United States

seen from Poland
seen from Malaysia

seen from United Kingdom
@annisahaps
(via)
http://iglovequotes.net/
Indeed; a good one.Â
http://iglovequotes.net/
When I was quietly sitting in my room on Sunday morning, trying to find happiness by watching korean drama and my aunt knocked my door, asking me to do house chore(s) for her.Â
It’s not shame if a man learns something from a woman’s heart which makes him more gentle and human.
Nizar Qabbani (via ificoulddrinkpoetry)
Jatuh Cinta
“Jadi, gimana rasanya?”
“Rasanya kaya lagi sakit flu, terus dikasih neozep.”Â
If you’re looking to go Al-Aqsa from England, I really recommend you going with Ibadah Tours, check them out online in'sha'allah
This story reminds me of Ozi, my friend who lives in Jerusalem, which claimed to be the capital city of Israel (but actually a part of Palestine). I thought he was an Israeli, but he said, “I’m a proud Palestinian”. He told me about his life there and they were suffering in their own land. It was so sad that the government unfairly treated he and his whole family as Palestinians. May Allah protects them.
Best post out of all posts I’ve seen like...forever.Â
http://iglovequotes.net/
I don’t like the quotes--it’s so negative, but the gif is so cute I can’t help myself.
http://iglovequotes.net/
YOU DEFINITELY LOOK FINE, FIN.Â
"Ibarat kita berjalan di tepi jurang di kegelapan malam, maka kita akan berhati-hati agar tidak terjatuh." Itulah taqwa. Taqwa ialah hidup berhati-hati.
Yang paling cepat itu waktu Yang paling berat itu amanah Yang paling mudah itu berbuat dosa Yang paling sulit itu ikhlas "Yang kita berikan pada orang lain itu hakikatnya milik kita, yang kita tumpuk itu milik orang lain..."
Percaya atau tidak, semua orang ingin berubah menjadi lebih baik. Tapi tidak semua orang benar-benar mengusahakannya. Mimpi akan terus menjadi mimpi jika tidak didampingi oleh bukti nyata dari dirimu bahwa kamu benar-benar ingin mewujudkan mimpi itu. Jadi jangan minder kalau kamu cuma bisa melangkah sedikit demi sedikit untuk menjadi lebih baik. Yang penting kamu sudah berusaha untuk maju dan tidak berdiam diri di tempat.
Dan...jangan berhenti, ya? Terus maju!
Everytime I get close with a man, Allah always show why can't I, shouldn't I be with that certain person. Someday, It was because the person was too romantic and clingy; which the type of person I could not stand the most. Or, It was because the person was too self-centered and what he could do was making me feel inferior towards him. Or, It was because he was too smart we could not even communicate for living in totally different world. Or, It was because he was always avoiding some topics when we have a conversation such as religion and etc, and he did not love Allah as much as he should do. Or, It was because he was just fooling around with me and did not have any good intention except for taking what he could grasp from me. Or, It was because we accidentally "bumped into each other" and try to work something between us but, in the end, things just did not work that way. So, When I meet someone, Who listens to me well, Who does not have any romantic sense (even an inch) at all, Who never make me feel small; instead he always make me proud of myself, Who does smart, but not that kind of people I can't even talk to, Whom I feel connected with, Who discuss literally everything with me, To whom I (used to) give my heart, But can't be with me, yet Allah haven't show any thing or any reason why I should not be with this certain person, it keeps me wondering, "why?" But actually I have an answer for that. It may be, just may be, because I kinda forgot about the fact that there are no certain things, or certain person that I should love or like or admire more than I love or like or admire Allah, period. It's just a very simple thing, yet I, most of the time, let myself drowning into something that is so temporary : a tiny particular aspect of my life in this world.
Ramai tapi Kosong
Terkadang, aku merasa kagum, bagaimana seseorang begitu memuja-muja seseorang lainnya, bahkan meski ia bukan siapa-siapa dalam hidup kita. Membela mati-matian; rela bersinggungan dengan teman/saudara/orang asing yang nggak kita kenal, bahkan kita nggak tahu orang itu baik atau buruk, hanya demi memenangkan argumen tentang bagaimana hebat/tidaknya seseorang ini.
Dari fakta di atas saja, bisa kan kamu menyimpulkan, dampak apa yang kamu dapatkan dari pembelaan-pembelaan atau penghinaan-penghinaan yang telah terjadi?
Di sini aku merasa ikut “terseret” dalam polemik yang sedang melanda negeri ini. Awalnya aku mau diam saja pura-pura tidak peduli, yang penting aku tahu di mana tempat aku berdiri. Tapi ternyata diam tidak seemas itu, tidak semenyenangkan itu.
Aku di sini tidak membela siapapun; aku tidak membela si A si B si C si D; aku hanya bersuara karena aku seorang WNI yang beragama Islam. Seolah ditempatkan di kondisi yang serba salah–seolah harus memilih: haruskah aku berpikiran terbuka, bersikap apa itu yang dianggap oleh kebanyakan orang sebagai bentuk toleransi, atau aku berdiri tegap membela agamaku?
Permasalahan utama: Benarkah dia tidak bermaksud melecehkan?
Tidak ada yang tahu. Kamu tidak tahu, aku tidak tahu; bahkan mungkin anggota keluarganya tidak ada yang tahu. Mudahnya seperti ini: Jika kamu seorang wanita, lalu ada yang terang-terangan menyentuh payudaramu. Apa lantas saat orang yang menyentuh payudaramu menangis-nangis di hadapanmu, mengatakan bahwa ia tidak bermaksud melecehkanmu, hanya ia ingin tahu ukuran payudaramu saja, kamu akan merasa bahwa pernyataannya benar? Apa kamu bisa melupakan perbuatannya begitu saja? Apa tidak ada yang mengganjal di pikiranmu?
Oleh sebab itu, apa yang kamu lakukan, kamu katakan, nggak akan semudah itu kamu tarik kembali. It is already out there.
Salah atau tidak sebuah kejadian itu persepsi. Semua orang punya persepsi masing-masing, dan tidak ada yang punya kuasa untuk mengatur persepsi orang lain. Itu sebabnya sebagai makhluk sosial, kita harus berhati-hati saat bersikap dan bertutur kata. Tentu orang Indonesia sudah paham akan hal itu. Bercanda boleh, tapi body shamming saja dilarang, apa lagi yang berhubungan dengan yang jauh lebih sensitif; prinsip hidup misalnya. Dan entahlah sayangnya atau syukurnya, agama merupakan bagian dari prinsip hidup. Katanya toleran?
Permasalahan selanjutnya: Kenapa dibela setengah mati seolah he’s a saint?
Sehebat-hebatnya raja, sebaik-baiknya orang lain terhadap kita, mereka nggak akan pernah bisa menanggung dosa kita.
Terlepas dari kebenaran apakah ia benar-benar melecehkan panduan hidup umat Islam atau tidak, mengapa begitu banyak umat islam yang mati-matian membelanya? Bukan, bukan masalah umat islam tidak seharusnya membela yang tidak seiman, karena selama ini, itu bukan masalah. Dalam Al-Qur'an pun telah disebutkan pada surat Al-Kafirun ayat 6: Untukmu agamamu dan untukku agamaku. Pada ayat itu sudah sangat jelas bahwa tidak seharusnya kami saling mengusik, dan selama ini berjalan baik-baik saja, bukan? Yang mengherankan justru adalah mengapa umat islam yang , tidak mati-matian membela islamnya terlebih dahulu?
Berbeda sekali dengan kecintaan umat Islam pada Nabi Muhammad SAW. Bahkan seringkali orang muslim menganggap remeh segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Apakah semua umat islam memuja nabi Muhammad seperti mereka memuja orang yang berniat-mendisiplinkan-warga-ibukota-ini? Sepertinya–dan aku yakin dugaanku hampir benar–belum. Lebih banyak yang sibuk memikirkan hal lain-lain, bahkan kadang akupun begitu. Sedih, ya. Padahal Nabi Muhammad SAW melakukan banyak sekali untuk kita. Kalau bukan karena Nabi Muhammad SAW yang sampai berkali-kali bolak balik menghadap Allah, memohon-mohon kepada Allah agar sholat wajib dipotong hingga hanya 5x sehari, mungkin kita akan benar-benar melakukannya sebanyak 50x dalam sehari. Bahkan hingga detik-detik kematiannya, ia masih terus saja memikirkan kita, sambil berkata “Ummati, ummati, ummati.”
Dan tahukah kamu, saat Rasul dicabut nyawanya perlahan dari kaki dan merasa kesakitan, ia bertanya pada malaikat pencabut nyawa, “Apakah semua umatku akan merasakan rasa sakit yang sama denganku?”
Yang dijawab oleh malaikat pencabut nyawa dengan, “Ya, tergantung banyaknya dosanya.”
Kemudian saat nyawa rasul sudah dicabut hingga dada, ia masih terus berdo'a kepada Allah, “ya Allah, sungguh dahsyat maut ini, timpakan semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku.”
Lho, Rasul saja yang gemati (bahasa jawa dari “sebegitu sayang dan cinta) sama kita aja, sering kita lupa. Lha ini, kok…?
Lalu, kembali lagi, mengapa aku kaitkan dengan cerita Rasul? Karena Al-Qur'an adalah Mu'jizat Rasul kita, teladan kita. Al-Qur'an turun pada saat Nabi Muhammad SAW menjadi Rasul. Isi Al-Qur'an adalah pesan-pesan Tuhan umat muslim yaitu Allah, kepada Nabi Muhammad, Rasul Allah yang menjadi teladan dan panutan semua umat muslim di dunia, agar menjadi pedoman hidup umatnya. Jadi saat Al-Qur'an dibawa-bawa untuk apalah itu menghasut/mengajak/menyadarkan/menuntun muslim/muslimah untuk melakukan yang sebaliknya dari isi Al-Qur'an itu sendiri (atau meski itu hanya persepsiku saja), memangnya tidak ada sesuatu dalam hati tiap muslim yang terasa seperti diinjak pakai kaki? Itu adalah hal yang tidak seharusnya ia (atau siapapun, hanya saja kebetulan ia yang melakukan jadi tampak semakin berbeda) lakukan, dan jika ia harus diadili, maka itu adalah konsekwensi dari perbuatannya, bukan? Bagiku ini tidak ada hubungannya dengan ras atau agama lain karena meski yang melakukannya bukan orang itu, hasil akhirnya pasti akan tetap saja sama. Ini hanya semata-mata tentang Al-Qur'an. Sayangnya Al-Qur'an adalah sesuatu yang paling berharga bagi semua umat muslim, atau setidaknya seharusnya seperti itu, tapi…
Semudah saat seperti status kita sebagai wanita atau laki-laki yang kemudian diusik, atau statusmu (misalnya) sebagai mahasiswa teknik, mahasiswa ekonomi, mahasiswa sastra, yang diusik, tentu kamu marah, sedih, kecewa, kesal kan? Apalagi oleh orang yang selama ini kita kira tidak akan melakukan hal itu terhadap kita. Lha ini sesuatu yang lebih prinsipil, lebih lekat dengan jiwa, lebih lekat tentang diri kita, tapi mengapa masih membabi buta membela?
Cukup ketahui satu hal: Orang baik belum tentu tidak pernah berbuat kesalahan. Dan saat sebuah kesalahan telah dilakukan, ya biarlah ia menanggung kesalahannya. Asal kamu tahu saja, hal itu tidak akan mengurangi kebaikannya, jika memang ia baik. Jadi, kamu (bagi siapapun yang membaca) tidak usah marah-marah, sabar saja, kalau kamu percaya bahwa dia baik karena seusai ini, sekali lagi, jika dia memang seperti apa yang kamu bayangkan, dia pasti akan punya kesempatan untuk melakukan kebaikan. Kebaikannya tidak akan berhenti sampai di sini saja jika memang seperti itu adanya. Kebaikannya tidak akan bergantung pada jabatan. Jangan jadi kamu menyinggung hal-hal lain dan menimbulkan permusuhan. Berhentilah merasa paling benar, khususnya saat kamu tidak benar-benar tahu, sama sepertiku.
Rasulullah SAW bersabda: Aku tinggalkan kamu pada jalan kebenaran dan jalan yang bersinar dan aku tinggalkan untuk kamu dua penasehat: Yang berbicara dan yang diam. Yang berbicara adalah Al-Qur'an sedang yang diam adalah kematian. Apabila ada sebuah kesulitan pada kamu maka kembalilah kepada Al-Qur'an dan Sunnah, dan apabila hatimu keras membatu lembutkanlah dia dengan mengambil pelajaran dengan hal ihwal kematian.
Bridge to Terabithia (2007)
Close your eyes, your ears, your heart. But the truth will always be out there, so just suck it up.
Hanya karena ada sesuatu yang besar terjadi hari ini, banyak pihak yang merasa bahwa negara tempat kita bernaung saat ini, sudah kehilangan “mata"nya atas hukum yang berlaku. Percaya nggak, meskipun Bapak mengharuskan aku untuk mempelajari segala hal berbau politik, aku nggak terlalu tertarik. Dan hal itu bukan hal yang ingin aku bahas juga di postingan ini. Postingan ini lebih mengarah kepada pandanganku terhadap orang "itu”, yang kuanggap sebagai Adipati Karna era modern.
Kenapa Adipati Karna? Karena aku percaya dia orang baik, sama seperti Adipati Karna. Aku tahu dia punya niatan yang baik, sama seperti Adipati Karna. Tapi seperti Adipati Karna pula, “senjata” yang digunakannya tidak baik, orang di sekelilingnya tidak baik, dan semua itu membuat segala hal yang melekat pada dirinya juga tampak buruk.
Kalau kamu masih belum begitu mengerti siapa Adipati Karna, kuceritakan sedikit ya tentang Mahabharata; sebuah karya sastra dari negeri India yang jauh lebih aku suka daripada Harry Potter sekali pun, yang sudah kubaca saat aku bahkan belum duduk di bangku Sekolah Dasar.
Adipati Karna adalah salah satu tokoh dari kisah roman yang berasal dari India ini. Kisah ini menceritakan sebuah kerajaan yang disebut dengan Hastina Pura. Singkat cerita, Adipati Karna merupakan anak Dewi Kunti, ibu dari tiga Pandawa, yaitu Yudhistira, Bima, dan Arjuna, bersama dengan betara Surya, salah satu dewa terhebat.
Selama hidupnya, ia tidak mengetahui fakta tersebut karena fakta itu disimpan rapat oleh Dewi Kunti. Selama hidupnya, Karna memercayai bahwa dirinya hanyalah anak dari seorang kusir. Sejak kecil Karna sangat ahli dalam memanah, hanya saja kemampuannya tidak ada yang mengetahui, karena ia tidak memiliki kuasa untuk menunjukkan kebolehannya dalam memanah, padahal kemampuannya dalam memanah setara dengan Arjuna.
Suatu hari, kemampuan Karna diketahui oleh anak tertua dari kumpulan Kurawa yang berjumlah 100 orang, Duryudhana. Karena mengetahui kemampuan Karna dalam memanah setara dengan Arjuna, salah satu anggota dari Pandawa, Duryudhana merasa bahwa ia bisa memanfaatkan kemampuan Karna itu pada saat perang saudara antara Kurawa melawan Pandawa. Oleh sebab itu, Karna diangkat sebagai seorang Adipati oleh Duryudhana. Sejak itu ia diketahui oleh khalayak, kemampuannya dalam memanah pun diakui oleh orang banyak.
Dan benar saja, pada saat perang saudara Pandawa melawan Kurawa, Adipati Karna ada pada pihak Kurawa. Selain kemampuan memanahnya, ia juga memiliki senjata Konta yang diberikan kepadanya oleh Betara Indra. Senjata Konta adalah senjata yang sangat ampuh dan mematikan, tapi hanya bisa digunakan sekali saja. Karena Adipati Karna menyadari antara dirinya dengan Arjuna tidak akan bisa dikalahkan dalam memanah saat perang Baratayudha, Adipati Karna berniat menggunakan senjata Konta untuk membunuh Pandawa. Terlebih pada saat itu, jumlah 100 dari Kurawa perlahan-lahan berkurang, sedangkan Pandawa yang hanya lima orang, belum ada satupun yang mati. Sayangnya, senjata itu kemudian terpaksa digunakan untuk membunuh Gatot Kaca, putra Bima dengan Arimbi, seorang raksasa.
Adipati Karna bukannya ingin membela Kurawa, tapi ia merasa ia harus membela Kurawa karena berkat Kurawa, ia bisa menjadi seorang Adipati dan kemampuan memanahnya diakui banyak orang.
Jadi, setelah membaca 1/689 dari kisah Mahabharata tentang Adipati Karna, kamu paham kan, maksudku?
When you meet the right person at the wrong time, it sucks. When you meet at the right time but with the wrong person, it sucks. But hoping the right person at the right time is greedy, so you just have to suck it.