“I found I was more confident when I stopped trying to be someone else’s definition of beautiful and started being my own.”
— Remington Miller

JBB: An Artblog!
cherry valley forever
hello vonnie
Stranger Things
No title available
Cosimo Galluzzi

@theartofmadeline
we're not kids anymore.
h
RMH
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

❣ Chile in a Photography ❣
Xuebing Du
Misplaced Lens Cap
Today's Document
YOU ARE THE REASON

oozey mess
Three Goblin Art
Keni
No title available
seen from United States
seen from Ireland

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Spain
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from United States
seen from Canada

seen from United Kingdom

seen from Brazil

seen from Japan

seen from Singapore

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Portugal
seen from United States

seen from United States
@anotheryumnasworld
“I found I was more confident when I stopped trying to be someone else’s definition of beautiful and started being my own.”
— Remington Miller
Dari sekian banyak petuah hidup yang kuamini, aku paling suka kalimat ini: sungguh, Allah tidak menciptakanmu hanya untuk menjadi sia-sia.
Ya Allah, sungguh hamba seyakin itu bahwa pertolongan-Mu selalu hadir, bahkan saat diri ini tak menyadarinya.
Ternyata aku pernah begitu menyayangimu. Hingga kini tiba masa orang lain bertahta di hatiku, ternyata ruang kecil untukmu di sudut itu masih ada. Meski tak seluas dulu, tak sedalam yang telah lalu.
Atau mungkin aku yg memang tak pernah berniat untuk benar-benar menutupnya?
Aku banyak memaknai gejolak perasaan yang baru di hatiku ketika menjalin hubungan denganmu. Bagaimana upaya darimu itu kemudian memudar seiring waktu. Aku melihat semua itu, mas. Tepat di saat aku mulai mencintaimu dengan perlahan.
Apakah benar kau menganggapku kekasihmu? Apakah kehadiranku justru mengganggu harimu, dan kau baru sadar itu setelah mengenalku sedikit lebih dalam lagi?
Atau...
Ini semua hanyalah kekhawatiranku yang merasa perhatianmu mulai berkurang saja? Mungkin aku mulai terbiasa dengan semua perhatianmu, dan ketika itu memudar, aku merasa hampa. Aku mencintaimu bahkan sejak aku belum menyadari apa makna cinta. Dan semua rasa itu telah kucurahkan padamu.
Hari ini rasanya aku banyak merefleksi tentang hubungan kita. Menurutmu, selanjutnya bagaimana?
Aku berdoa.
Semoga suatu hari nanti, akan ada seseorang yang menatapku seperti kamu menatapnya.
Merindukanku seperti caramu untuk dekat dengannya.
Menjadikanku ratu, seperti caramu memperlakukannya.
Hanya ada aku. Setianya hanya padaku. The one and only, kalau boleh kukatakan.
Meski jauh di dalam lubuk hatiku, harapan bahwa aku bisa menggantikan posisinya sekali dua kali terbayang.
Aku tak suka menjadi pilihan kedua. Hanya pengganti yang dihantui bayang-bayangnya.
Kini, hatiku sedikit lebih tenang. Jika dia memang jodohmu, sejauh apapun langkah yang kuambil, takkan pernah menggeser posisinya di hatimu. Takkan pernah ada kesempatan untukku.
Dan kini hanya tersisa diriku. Selamanya, maybe?
Menjadi pilihan cadangan memang tidak nyaman. Melangkahlah sejauh mungkin, terbanglah setinggi mungkin. Jika beruntung, suatu hari nanti akulah ratu di hati seseorang. Jika lebih beruntung, tersisalah diriku sendiri yang paling mampu membahagiakan diri ini.
-
Harapan tak pernah berujung. Mimpi takpernah berbatas.
Jika itu adalah kamu...jika itu adalah aku...maka semoga semesta mempertemukan kita dengan cara yang terindah.
Siapa sangka, tepat pada tanggal 11 Juli 2025, aku menemukannya. Dia yang menyatakan cintanya padaku, bahkan sangat mencintaiku.
Pada akhirnya, aku pulang pada diriku sendiri. Mungkin jatuh cinta adalah sesuatu yang tidak ditakdirkan untuk berpihak padaku.
Hai, aku baru memulai lagi. Dan seperti biasa, aku kebingungan; tak tau apakah yang kulakukan ini tepat.
Satu minggu yang penuh makna, juga kebimbangan.
Aku merasa tak utuh, aku tak seperti diriku. Dan aku, menyesali itu. Seharusnya tak kutunjukkan sisi lain diriku.
Seharusnya aku lebih menjaga emosi, juga hatiku.
Seharusnya aku tidak gegabah.
Dan upaya untuk mengembalikan semua seperti semula, jalan menuju ke sana, tampaknya berkabut. Aku tak sanggup melihatnya.
Ya Allah, aku bingung dengan hati yang Engkau ciptakan ini. Tak bisakah aku hidup hanya untuk-Mu? Tak bisakah hatiku berhenti mengharapkan cinta dari hamba-Mu?
Ya Allah, penuhilah hatiku dengan cinta pada-Mu, agar tak ada celah lagi bagiku untuk berharap pada hamba-Mu.
Aku mencintainya, tapi ya Allah, kuatkan aku untuk selalu kembali kepada-Mu.
Sungguh aku takut pada setiap perasaanku. Dan sungguh, Engkau maha membolak-balikkan hati. Tolonglah aku, sayangi aku yaa Allah.
Sungguh hidupku hanyalah untuk-Mu.
Masa Muda
Kamu mungkin akan bertemu dengan orang yang kamu kira akan menjadi pasangan hidupmu, ternyata tidak. Kamu bersedih. Tapi ketahuilah, nanti kamu akan tahu kenapa kamu tidak dengannya. Nanti. Setelah kamu melewati waktu beberapa tahun ke depan. Kamu mungkin akan bertemu dengan pekerjaan yang kamu rasa cocok, tapi nanti kamu akan ketemu sama pertanyaan mendalam : apakah kamu akan menjalani hal itu seterusnya dan selamanya, seumur hidupmu? Lalu kamu akan mulai berpikir bercabang-cabang karena pekerjaan yang kamu dapatkan sebelum kamu berkeluarga itu ternyata seberpengaruh itu pada keputusan-keputusan besarmu yang lain, seperti tinggal dimana, nikah sama siapa. Kamu mungkin akan ketemu sama hal-hal yang kamu rasa adalah petunjuk, tapi ternyata adalah ujian. Sama halnya dengan orang-orang yang hadir dalam hidup kita, banyak diantara mereka yang datang sebagai ujian, hanya sedikit sekali yang menjadi karib, dan hanya satu saja yang menjadi pasangan hidup. Saat itu kamu begitu berapi-api seolah semua hal akan sesuai dengan sangkamu, tapi ternyata kamu terjerumus pada ujian yang membuatmu kelelahan badan dan pikiran. Kamu bersedih. Tapi ketahuilah, ujian itulah yang nanti akan menjawab pertanyaanmu kenapa orang dewasa/orang tua itu bisa lebih bijaksana.
Kamu mungkin akan ketemu sama hal-hal yang di luar nalarmu. Seperti kamu hari ini, yang tengah berdiri pada apa-apa yang telah kamu raih dan memang ada juga yang belum berhasil kamu raih. Tapi sadar nggak, kalau kamu bisa berjalan dan bertahan sejauh ini saja udah merupakan pencapaian yang luar biasa di tengah semua dinamika hidup yang kamu jalani. (c)kurniawangunadi
Hujan pagi ini membawaku memanggil kembali memori yang telah lama, yang hampir terlupakan.
Ternyata sudah sangat lama sejak hari itu. Time flies so fast. Dan kita tak pernah tau akan ada apa di penghujung.
Ditarik kembali sejak timeline hari itu, maka saat ini yang sedang berjalan adalah bagian dari "menuju penghujung" yang pernah dilangitkan dalam angan dan harap.
Atau, ini adalah penghujungnya?
Aku takut jika langkah yang kulalui saat ini tidak sejalan dengan visiku dahulu.
-to be continued.
Lupa sampe 2 tahun dong. Hahahaha.
Dan jika keraguan itu hadir menyapa, ingatlah bagaimana seluruh tekad ini bermula.
Terima kasih sudah mengingatkan ini, diriku sayang.
Stand for yourself.
Life is too short to be normal. Stay weird.
Waw suda setahun berlalu, ternyata.
Berhentilah mengejar deadline, karena deadline tidak bersalah.
.... Ok🙂.
Ada hari di mana aku ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi, jauh di lubuk hatiku, aku bersyukur karena aku yakin Allah tak akan pernah meninggalkanku barang sepersekian detik.
Dan sungguh, ketetapan-Mu adalah yang terbaik yaa Allah, meski saat ini semua masih terasa hampa.
Ya Allah, sungguh hidupku hanyalah untuk-Mu🤲.
I love you, but I love myself more.
Menguatkan diri di tengah badai.
Bertahanlah. Seperti yang kemarin, kita akan baik-baik saja asal tetap memegang teguh prinsip sebagai hamba-Nya.
Tahan, sabar, jalan di depan masih sangat panjang.
Sejatinya setiap rangkaian peristiwa dalam hidup akan bermuara pada titik yang sama; berserah pada Allah. Entah melalui jalur syukur atau sabar; entah dimulai dari tawa atau air mata. Pada akhirnya, takdir selalu membawa kita untuk 'kembali', dan seringkali sulit untuk dicerna hamba duniawi ini.
Sebuah simpulan yang dengan mantap aku yakini setelah dihantam berbagai kabar mengejutkan dalam rentang waktu yang singkat, baik suka maupun duka. Semua terjadi begitu saja. Hati belum siap menerima, akal belum sempat mencerna yang lalu sudah ada kabar baru yang mengguncang jiwa. Hidup penuh dengan ketidakpastian yang konon lebih terasa di masa-masa yang.. ah, sudahlah. Seperempat abad lebih beberapa bulan sudah, aku berpartisipasi dalam hiruk pikuk dunia ini. Hingga berada di titik di mana diriku mempertanyakan eksistensi dan berpikir bahwa jika aku bisa memilih dengan kesadaran penuh, aku tak ingin dilahirkan di dunia ini. Yaa Allah, maafkan aku.
Bohong jika aku mengatakan baik-baik saja ketika mendengar kabar bahagia dari orang yang kukenal, sedangkan aku berada di titik ambang batas emosi. Nol. Tidak senang maupun sedih. Datangnya kabar bahagia dari orang itu membuat semua upayaku untuk tenang menjadi buyar seketika. Mempertanyakan takdir. Membenci diri sendiri. Dan, menangisi dosa kemudian.
Lain halnya ketika kabar yang kudengar dari orang lain menyangkut kesedihannya. Dosa apa yang membuatku merasa tenang ketika orang lain mendapat kesedihan, yaa Allah. Sungguh aku tak ingin perasaan ini bersarang dalam hatiku, tapi sangat sulit untuk mengendalikannya.
Tak bisakah aku menambah wujud syukurku?
Tak bisakah aku merasa cukup dengan semua ini?
Tak bisakah aku fokus pada diriku sendiri, seperti aku yang dulu... Sungguh, kehilangan terberat yang aku alami hingga detik ini adalah kehilangan jati diriku yang dulu.
Dunia sudah seperti ini, sekacau ini, sesulit ini untuk dilalui. Bagaimana aku bisa memikirkan pernikahan dan mempunyai anak yang harus berjuang di dunia yang aku tau sebagai tempat manusia diuji ini?
Aku meyakini dengan kesadaran penuh, bahwa, setiap rangkaian peristiwa yang terjadi dalam alunan detik demi detik aku lalui di dunia ini tentu sejalan dengan takdir-Nya. Pada detik, menit, jam, hari, bulan, di waktu yang tepat. Ketidaksabaran dan ingin segalanya sesuai keinginan, cepat sampai; harus cepat, cepat, dan cepat; rasanya menjadi pemicu dalam mempertanyakan kapan waktunya aku bahagia yaa Allah? Lagi-lagi aku tak bersyukur.
Aku selalu menekankan pada diriku untuk tidak menerapkan standar ganda. Aku selalu bilang pada orang lain bahwa berpasrah pada-Nya adalah kunci, sedang aku meragukan batin rohaniku sendiri. Aku selalu bilang semua akan baik-baik saja, tapi meragukan apakah diri ini sebaiknya mati saja. Agar tak menambah dosa. Begitu, pikirku. Aku selalu memberi alunan penenang bagi orang lain, sedang aku begitu kejam pada diriku sendiri. Tanpa ampun.
Semua kekacauan pikirian ini terkadang hanya berlangsung dalam beberapa menit, namun dengan frekuensi yang tinggi dalam sehari. Setelah semua gemuruh ini reda, aku memohon ampun pada-Nya. Sayangnya seluruh emosi ini seringkali reda setelah aku terlanjur melakukan tindakan impulsif. Misalnya, membalas pesan orang dengan emosi, merencanakan pembalasan untuk siapapun yang kuanggap menyakitiku, hingga keinginan untuk menjauh dari semua orang. Aku akui, secara internal, aku cukup kejam jika harga diriku terinjak dalam situasi ini. Setelah itu? Kadang menyesal, sedikit.
Begitu besarnya rahmat Allah, entah sebab doa pendahuluku atau memang takdirku, Allah menuntunku untuk kembali. Yaa Allah, aku malu pada-Mu. Bahkan saat aku menulis ini pun, aku berprasangka bahwa takdir membawaku untuk mengurai pikiranku dalam tulisan ini. Terima kasih banyak, Tuhan yang menciptakanku dan aku yakin, Engkau tak akan meninggalkanku.
Sungguh setiap apa yang datang dari-Mu adalah yang terbaik. Maka yaa Allah, tolong, kuatkan dan bantu aku melewati semua ini. Karena hanya Engkaulah satu-satunya tumpuanku, satu-satunya tempat bersandarku di tengah masa krisisku ini.
Dan sayangilah aku Yaa Allah, dengan kasih sayang yang luas; serta bagi orang-orang yang menyayangiku.
Bantu aku untuk selalu menuju-Mu dengan jalan terindah, hingga sepenuhnya aku mampu percaya bahwa Engkau ridho padaku. Aamiin.
----------
Jumat, 7 Maret 2025. Ditulis dalam keadaan belum ada kabar baik satu pun yang menghampiriku di saat aku paling membutuhkan kabar ini.
Tidak semua hal yang indah harus dipertahankan. Kadang, memutuskan untuk berhenti sebelum 'keindahannya' itu sirna adalah jalan terbaik agar terjaga esensi keindahannya.
Merawat kenangan indah yang terhenti dalam ingatan, hingga tak ada lagi bayang bahwa suatu hari nanti keindahan itu akan hambar dan tak pantas lagi untuk dikenang.
Depok, 17/03/2024.
Hai, aku di tahun lalu. Aku di tahun ini akhirnya berani melawan arus dan menghadapi risiko terburuk yang mungkin terjadi.
Meski harus berurai air mata, meski harus tenggelam dalam lautan mati rasa; aku akan mengenangmu selamanya.