Bekal Perjalanan
"Bekalnya udah dimasukkin ke dalam tas kan?" Tanya ibunda saya, memastikan saya sudah membawa kotak bekal berisi masakan rumah yang dimasaknya dengan sepenuh cinta itu.
"Jaketnya jangan lupa dibawa. Botol minumnya juga!" Abaty ikut mengingatkan.
Begitulah, mereka berdua memang kompak sekali dalam hal ini. Setiap anak-anaknya akan safar (bepergian), keduanya pasti sibuk menyiapkan bekal.
"Apaan sih, kayak anak kecil aja masih dibekelin, kan udah gede." Ucap saya yang kala itu baru beranjak remaja.
"Nak, orang yang pergi membawa bekal, akan lebih tenang dalam perjalanan,...". Ucap Abaty.
"Kalau kamu punya bekal, setidaknya kami sebagai orang tua tidak khawatir lagi...". Timpal Ibunda.
Kalimat itu masih terngiang-ngiang hingga sekarang. Kalimat yang menyiratkan makna yang begitu dalam.
Bukankah begitu pula perjalanan kita untuk pulang ke kampung akhirat?.
Kita akan tenang dalam perjalanan "pulang", kalau kita pergi dengan membawa bekal, bukan?.
Saya tiba-tiba teringat dengan beberapa 'alim ulama yang belum lama ini berpulang ke rahmatullah. Akhir hayat mereka ditutup dengan ketenangan yang utuh, seolah-olah menjadi gambaran dari firman Allah di surat Al Fajr ayat 27-30.
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang ridha dan diridhai oleh Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.
Ada yang telah menanam begitu banyak amal jariyah lewat dakwah kemasjidan. Semasa hidupnya, beliau rahimahullah, terus berjuang untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban, sebagaimana dulu yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam teladankan. Lewat berbagai macam terobosannya, beliau menunjukkan aksi nyata, bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga tempat yang nyaman untuk singgah, untuk bermu'amallah, untuk membantu mengatasi berbagai macam persoalan Ummat. Bahkan sampai akhir hayat, beliau masih terus memikirkan bagaimana caranya membantu ummat.
Ada juga yang profil lengkapnya baru diketahui orang-orang justru setelah wafatnya. Beliau rahimahullah, yang selama ini dicintai ummat karena orasi-orasinya yang membangkitkan semangat juang, dan menggentarkan musuh-musuh Allah bahkan sebelum berperang. Allah benar-benar menjaga keikhlasannya beramal selama hidupnya, lalu Allah harumkan namanya setelah wafatnya. Hingga ia jadi buah tutur yang baik bagi orang-orang sepeninggalnya.
Mereka semua, pergi dengan senyum yang begitu tenang. Sementara orang-orang yang mengenal mereka, menangisi kepergian mereka, sambil bersaksi atas segala macam kebaikan mereka yang akan terus dikenang.
"Kalau kamu punya bekal, setidaknya kami sebagai orang tua tidak khawatir lagi"
Kalimat di atas mengingatkan saya pada firman Allah dalam surat An Nisaa' ayat 9
Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka (mati) meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.
Sudah menjadi fitrah bahwa yang akan menjadi kekhawatiran setiap orang tua adalah bagaimana anak-anak mereka sepeninggalnya mereka kelak. Bagaimana aqidahnya, bagaimana ibadahnya, bagaimana keilmuannya, bagaimana mu'amalahnya, hingga bagaimana kesejahteraan hidupnya.
Maka, menikah bukan hanya tentang kesiapan membangun rumah tangga, tapi juga kesiapan untuk membangun peradaban yang titik tolaknya dimulai dari lingkungan yang paling dekat yaitu keluarga.
Sebab, meninggalkan generasi yang lemah akan memberatkan hisab kita di hadapan Allah.
Ada satu sunnah yang mulai banyak ditinggalkan ketika seseorang hendak safar atau melakukan perjalanan, yaitu membuat wasiat.
Membuat wasiat setiap kali hendak melakukan safar adalah salah satu bentuk tanggung jawab seorang muslim, sekaligus latihan mandiri untuk menghisab diri sendiri.
Karena dengan membuat wasiat, otomatis kita akan ingat apa saja hal-hal yang belum sempat kita wujudkan atau kita selesaikan.
Adakah hutang yang belum dibayar?, adakah janji yang belum ditepati?, adakah puasa-puasa yang belum sempat diqodho (diganti)?. Bahkan rencana-rencana yang hendak kita wujudkan atau bekal-bekal yang sudah kita siapkan. Hingga seandainya, sewaktu-waktu Allah wafatkan kita, keluarga kita yang ditinggalkan, tahu apa yang harus mereka lakukan.
Berbekallah sebelum memulai perjalanan. Sebaik-baik bekal adalah ketaqwaan.
Wattaqqullah, wa yu'allimukumullah!
Catatan perjalanan,
@rizqan-kareema .



















