Karena Kita Kuat, Maka Kita Bisa
Jetleg penerbangan kemarin masih belum hilang. Aku bersama empat temanku sudah harus bergerak menuju tempat tugas. Pengabdian satu tahun di tanah flores tepatnya di kabupaten Manggarai Barat.
Masih bisa kurasa lelahnya perjalanan hari itu. Medan yang berkelok dan naik turun membuat perutku mual. Alhamdulillah aku bisa segera memulihkan kondisiku. Kulihat temanku sudah mulai tumbang dengan kantong plastik di tangan mereka.
Udara terasa lebih sejuk ketika kami sampai di Cancar. Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam, kami harus berganti kendaraan. Sepanjang mata memandang hanya truk dan bemo saja yang tampak. Tak ada bus atau minibus disana.
Kami akan menuju kecamatan Kuwus dan kecamatan Ndoso. Dua kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Manggarai. Setelah turun dari travel, kami diarahkan menuju 'oto'. Kendaraan truk yang dimodifikasi dengan menambahkan bangku penumpang dan atap di bak belakangnya. Aku bersama dua temanku naik oto yang sama. Sedangkan dua teman yang lain naik oto ke kecamatan yang berbeda.
Perjalanan yang kami tempuh dengan oto menuju kecamatan Ndoso memerlukan waktu kurang lebih 3-4 jam. Dengan iringan lagu daerah manggarai dan panorama perbukitan hijau sampailah kami di tujuan pertama yaitu kota Tentang, kota kecamatan Ndoso. Listrik ada dan air tak susah. Dua temanku turun disini, sedangkan aku harus tetap di oto untuk melanjutkan perjalanan. Aku harus melewati 4 kampung lagi.
Setelah 1 jam perjalanan akhirnya aku sampai. Aku masih sampai di pertigaan jalan aspal menuju kampung Kakor. Karena oto masih harus mengantar penumpang ke kampung Raca dan Sirimese, maka kepala sekolahkulah yang mengantar sampai ke kampung Kakor. Menuju kampung Kakor itu susah-susah gampang. Medan yang harus dilewati adalah jalan berbatu dan berpasir, berkelok serta menurun dengan tepian jurang. Lama perjalanan yang dibutuhkan kurang lebih 1-2 jam dengan berjalan. Sesampainya di kampung Kakor, aku melihat pemandangan yang berbeda. Rumah warga yang terbuat dari papan, jalan berpasir dan udara yang cukup panas menyapa kedatanganku.
Sekilas tampak sama dengan perkampungan di desa pada umumnya. Tapi perbedaan nampak ketika berbicara masalah listrik dan air. Disini tidak ada listrik dari PLN, air ada tapi harus ke sumber air dulu. Masalah listrik, warga di kampung Kakor ini menggunakan sel surya atau generator sebagai sumber penerangan di malam hari. Akupun pernah merasakan keheningan gelap malam tanpa cahaya. Pengalamanku ketika tinggal di area sekolah yang ketika itu hanya mengandalkan lampu dari power bank dan lilin. Hanya sendiri ditemani sunyi malam. Tidak takut? Tentu di awal aku merasa takut. Tinggal di tempat yang sepi, hanya ada dua rumah saja di sekitarku selebihnya hanya bangunan gedung sekolah dan hutan sekolah. Seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa dengan hal ini. Kunci utama untuk menghilangkan rasa takut adalah berpikir positif dan tidak putus untuk berdoa. Alhamdulillah aman sampai akhir waktu penugasan.
Masalah air? Ini yang sangat berkesan bagiku. Karena tidak ada air yang mengalir ke rumah warga, semua aktivitas seperti mandi, mencuci harus dilakukan di sumber air. Ketika tinggal di area sekolah secara otomatis aku melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri. Biasanya pagi hari sekitar jam setengah 6 aku pergi ke air untuk mencuci dan mengambil air. Jika tidak datang lebih awal, maka siap-siap kehabisan air. Kegiatan cuci cukup menarik nguras tenaga karena harus mengambil air dalam bak yang cukup dalam. Terlebih lagi kegiatan mengambil air, harus sabar dalam mengisi satu per satu jerigen. Seringnya aku bolak-balik 2 kali untuk mengangkut 8 jerigen berisi air dan ember berisi cucian. Air di jerigen itulah yang kugunakan untuk mandi dan memasak.
Itu semua menjadi rutinitas selama di penampatan.
Hal yang paling berkesan adalah berpuasa di kampung yang semua warganya katolik sembari tetap melakukan aktivitas cuci dan mengambil air. Aku tak menyangka aku bisa sekuat dan semandiri itu. Aku ternyata bisa melakukan hal yang selama ini kupikir tak mungkin kulakukan. Terkadang ada rasa iri melihat teman-teman yang mendapat tugas di daerah yang mudah terjangkau transportasi dan fasilitas terjamin. Tapi, aku tahu Allah itu adil. Allah menempatkanku disini karena aku mampu bertahan. Akhirnya aku sekarang merasa bersyukur pernah berada di tempat ini. Sebuah pengalaman hidup yang mengajarkanku untuk bersyukur dan semakin bangga menjadi seorang muslim.
Percayalah Allah tahu kemampuan kita, Dia tidak akan menguji kita diluar batas kemampuan kita. Ingatlah untuk selalu bersyukur dan berpikiran positif atas apa yang kita hadapi.
Semangat, salam menginspirasi kawan.