Dari kaca bus 80 coret aku melihat ada layang2 yang terputus
Namun hal itu membawa ingatan ku melambung kembali ke 12 tahun lalu.
Saat ayah membantu adik kecilku kala itu membuat layang-layang. Ahad itu aku ingat persis bagaimana ayah mengajari adik ku dengan penuh cinta dan di balut kesabaran nya. Sore ba'da ashar layang-layang itu akhirnya siap di terbangkan, kamipun di ajaknya menuju sawah lapang yang saat itu habis di panen, menyisakan beberapa senti pangkal2 padi yang mengering.
Namun sayang sore itu angin tak terlalu kencang, kulihat adik ku sedikit kecewa dengan angin yang tak membawa terbang layang-layang nya. Tapi ayah tetap bersabar menunggu angin datang untuk mengajari bagaimana cara menerbangkan nya, sebagaimana pengalaman nya dulu ketika masih kecil, bermain di desa yang sama.
Ayah selalu bercerita tentang masa kanak-kanak nya yang indah di desa itu, katanya dulu di sungai ujung desa, dekat bendungan, ayah berenang bersama teman-teman nya. Terkadang ayah juga mengajak kami ke tanah lapang di sebrang sungai untuk menikmati Ahad pagi kami.
Desa yang kini aku tinggali adalah desa orang tua ku, yang banyak cerita indah masa kanak-kanak mereka, dan kini bersambung dengan cerita kami. Dari desa itu kami tumbuh dengan sederhana, namun penuh dengan rasa syukur nan luar biasa.
Mungkin kisah orang tua ku yang mendidik dan membesarkan kami di desa itu tak bisa terulang di keturunan selanjutnya, namun jika ada kesempatan kan ku ajak keturunan ku tuk bermain layang-layang dan mandi di sungai suatu hari kelak, sembari ku ceritakan kisah ku dan kisah nenek kakek nya, agar dia bangga akan tempat kelahiran leluhurnya.
Sudah berlalu hampir 12 tahun dari hari itu, namun rasanya seperti baru saja kemarin aku bermain disawah sembari ular berlarian kesana kemari.
Rasanya baru beberapa pekan lalu aku mandi di sungai.
Rasanya baru beberapa bulan aku menaiki pohon mangga kemudian patah dahannya dan jatuh tersungkur di tanah.
Rasanya baru saja, ibu mengajak ku tuk mencari sayuran di sawah.
Rasanya membekas, tak terkurang sedikitpun, bahkan aku ingat beberapa detai kenakalan ku masa kecil.
Kini aku sudah dewasa, tak lagi menerbangkan layang-layang, apalagi mandi di sungai ataupun memanjat pohon.
Aku sekarang, sedang menikmati perjalanan di negri Nil ini, dengan terik dan dingin nya angin ujian yang mengayun ujung kerudung ku.
Mungkin, di negri ini akan ku bawakan kisah berulang untuk keturunan ku, agar dia bangga dengan nabi dan ulama'nya, sebagaimana ibunya.
Menyisir pasir di gurun, dan menebarkan nya berharap mimpi ku bisa menebar kebaikan, kebahagiaan, dan surga-Nya.