“Cerita beberapa tahun yang lalu”
Belum tahu apa yang membuatku akhirnya harus menuliskan beberapa paragraf di laman ini. (Panjang kayaknya ya cerita ini hehehe)
Percayalah, ketika tulisan ini terpublish tidak mempunyai maksud apapun, tidak ada maksud membuat penyesalan, merasa tersakiti, atau apapun.
Perasaan dan pikiranku sudah jauh jauh lebih baik, anyway.
Hanya saja, beberapa part masih suka terlintas sekilas hehe
Jadi teringat beberapa tahun yang lalu ada yang replay whatsapp, yang isinya kira-kira begini :
“Kamu kalau mau nikah duluan gpp atau mau deket sama orang lain juga gpp, aku belum mau nikah cepet, aku mau nikah umur 26/27 lah. Kamu kan cewek jadi kalo nunggu juga lama”
Saat itu reaksi pertamaku adalah mengerutkan dahi sambil berkata dalam hati “mundur atau gak sama sekali ini”
Padahal saat itu aku belum ingin menikah, bahkan terpikirkan pun belum, tapi tiba-tiba ada yang berkata seperti itu.
Ahh, saat itu aku hanya menanggapi biasa saja. karena awalnya aku yang chat “kata ayah, anak gadisnya dah tamat kuliah, tapi sampe hari ini belum ada cowok yang main ke rumah hihihi” tapi ternyata balasan singkatnya seperti di atas tadi hehe
Padahal, kalau pun punya keinginan menikah ya gak harus saat itu juga. Tapi, maksudnya di hubungan yang udah terjalin lama ini, ada gak niatan kesana, karena pada akhirnya kita akan menikah toh. Aku juga ngerti loh, kalau harus berjuang, kumpulin uang, ya maksudnya sama-sama. Tapi, kayaknya dia gak mau sama-sama loh ya, mau nya malah nyuruh aku sama orang lain hehe
Tapi akhirnya, kejadian itulah yang membuatku bisa berpikir kembali.
“Mundur atau tidak sama sekali”
Pelan-pelan seperti instrospeksi bagaimana keadaan hubungan selama ini, yang ternyata gitu-gitu aja.
Dichat terus gak dapat balasan, lalu nethink, terus nunggu berharap dibalas cuma jadinya centang 2 biru aja :))
Jam 8 pagi chat buat kasih semangat, cuma ceklis satu, jam 15.00 berubah jadi ceklis 2 dan biru, akhirnya dibalas jam 8 malam.
Gpp loh, udah biasa pikirku.
Nelpon/video call tengah malam, yang herannya aku excited buat angkat telpon, karena emang ditunggu-tunggu.
Lama kelamaan aku mulai menyadari sikapku, ternyata hubungan ini sepertinya “aku aja gitu yang mau” pikirku. Orang lain yang ada dihubungan ini “ya biasa aja sebenarnya”
Cuma aku yang sebenarnya “kayak harus mempertahankan hubungan karena udah berjalan lama”
Sedih yaa, dulu aku nggak ngerasa sedih sih, cuma aku tahunya “aku harus bertahan, karena memulai dengan orang baru itu capek bgt 🙂”
Tapi, kayaknya effort itu dianggap biasa aja sih sama seseorang itu. Dikatain berlebihan atau lebai, ya gpp :))
Dulu, aku ngerasa nggak pantes aja buat siapa-siapa. Insecure kalo sekarang bahasa gaulnya. Mungkin, dulu seseorang yang sama aku itu malu punya aku ya 🙂, karena aku gak cantik, badanku gendut, gak putih tapi item, lebay, cengeng, gak pinter sama sekali, lulus kuliah cuma jadi guru honor aja, pokoknya nggak ada apa-apanya dibanding dia yang tamat kuliah buka coffee shop sendiri, punya usaha sendiri, sibuk, sedangkan aku cuma tahunya protes karena chat nggak dibalas hehehe
Jujur, waktu nulis ini rasanya sedih bgt, masih kerasa sampai hari ini. Emang nggak ada apa-apa nya aku ini dibanding cewek-cewek lain yang punya kelebihan apapun. Dan aku ngerasa insecure gak punya apa-apa.
Nggak ada usaha buat apa-apa saat itu, selain diem aja, berdoa buat ikhlas kalau pada akhirnya jalannya ya emang harus begini.
Berusaha buat menahan diri untuk gak chat duluan, gak spam chat, gak telpon, atau gak basa-basi buat sok ngasih semangat buat kerja. Karena aku sendiri juga harus semangat hehehe
Walaupun awalnya berat untuk menahan diri, akhirnya aku bisa juga. Mulai terbiasa tanpa adanya kabar, nggak ada chat, atau nggak ada telepon, karena udah biasa, ya gpp aku jadikan aja kebiasaan.
Karena katanya “mengubah kebisaan itu yang sulit”
Terus dengan mudah aku menahan diri?
Tentunya tidak, kadang bengong sambil lihat hp, sambil ngomong sendiri “chat gak ya, chat duluan gak ya? Kan gpp loh kalau aku chat duluan?” Akhirnya, yang awalnya sulit, akhirnya aku bisa hehe
Kadang buka hp juga gak ada sama sekali notif dari orang yang aku tunggu itu (dulu).
Saat itu mungkin posisiku tidak penting, bukan prioritas. Ya masak orang kayak aku harus ngomongin prioritas, pasti bukanlah.
Diumur segitu ngomong prioritas, berlebihan kan ya aku :))
Sehari nggak chat duluan, ya emang nggak ada chat apalagi telepon. Dua hari, sampai seminggu sebulan nggak ada chat juga. Jadi mikir “oh iya, se nggak penting itu aku loh” .
Sampai kadang handphone ini berhari-hari aku simpan saja, tanpa aku buka dan cek, bahkan tidak aku isi paket internet, biar aku nggak kecewa kalau waktu aku lihat “yaa tetap nggak ada juga notif dari orang yang aku harapkan menanyakan kabarku ini”
Atau bahkan inget juga nggak kalo aku masih ada HEHEHEHE.
Pernah waktu itu, ayahku masuk rumah sakit karena sesak nafas, sampai aku sedih, lalu aku buat status. Nggak pernah berharap dinotice, tapi akhirnya orang itu datang menanyakan “ada apa?” Tapi, dengan dinginnya aku menjawab “gpp, aku gpp” cuma hal sepeleh aja ini kok, aku bisa sendiri.
Di masa-masa itu, dari yang ngerasa nggak enak akhirnya terbiasa. Sambil scroll instagram, lihat-lihat foto-foto yang pernah aku post di feed, akhirnya satu-persatu foto “kita” berhasil aku hapus 🙂
Dengan harapan dinotice, tapi kan nggak mungkin, karena nggak mungkin juga hari-hariku diperhatikan, jelas-jelas aku yang chat duluan aja biasa aja, jarang bgt dibalas.
Gpp, mungkin punya kesibukan yang lebih penting ya 🙂
Tapi, akhirnya “notice” dengan perubahan feed instagramku.
Seingatku dulu, wisuda di bulan Agustus, sempat ketemu karena menghadiri teman seangkatanku wisuda, ketemu dengan teman-teman lain juga. Jalan-jalan rame-rame teman seangkatan, karena baru tamat kuliah juga kan. Ya, seingatku itu terakhir kami bertemu.
(Setelah itu tidak pernah bertemu lagi sampai hari ini, noted!)
Setelah kesempatan akhir ketemu itu, seperti biasa kebiasaan “hilang kabar” setiap hari itu biasa juga hehehe
Pernah sempat janjian buat ketemu di kampung halamannya, karena aku dan teman-temanku mau liburan kesana, tapi rencana tinggal rencana, yang akhirnya batal karena dia akan berlibur ke Lombok bersama rombongan organisasi sekolahnya.
Akhirnya, aku dan teman-temanku berlibur ke salah satu daerah yang juga dekat dari sana.
Selama liburan tidak ada chat atau saling berkabar, ya selain aku sudah bisa menahan diri untuk tidak menanyakan kabarnya, aku juga tidak memiliki keinginan untuk chat juga.
Walau sesekali masih bengong liat hp yang tidak ada chat sama sekali hehehe
Tapi, di lain sisi, seseorang itu update foto liburan, snap instagram, atau live.
Ternyata, semakin sadar bahwa keberadaanku juga tidak diingat. Atau bahkan ingat tapi dianggap “biasa saja”.
Awalnya sedih, suka nangis, tapi kayaknya ada hal yang lebih penting lagi buat ditangisin.
Pernah ada suatu kejadian, ada hal yang membuat sesak, tapi nggak bisa nangis di rumah, ditahan sampe nangisnya di motor waktu dibonceng teman cowokku untuk pergi latihan musik.
Waktu naik motor, temanku sudah notice, dan langsung jalan. Di jalan aku nangis sesegukan, sampe dia keliatan bingung, dan stop.
Dibiarkan saat itu aku menangis, temanku yang jarang sekali untuk touching, akhirnya dengan sedikit ragu, dia bertanya sambil mengelus dengkulku sedikit “ada apa?” “Sudah nangisnya?” Apa yang membuat kamu sedih hari ini gak usah disesali. Nangis aja buat orang yang bener-bener anggap kamu penting, kalo gak untuk apa. Kamu penting untuk orang yang anggap kamu penting juga 🙂
Sambil sesekali masih sesegukan, akhirnya kita jalan lagi. Sampe di tempat latihan musik.
Pikirku “beruntungnya punya mereka ini” 🙂
Seingatku, di siang hari menjelang sore, kudapati notif chat di handphoneku, yang kira-kira isinya begini “Assalamualaikum. Apa kabar? Btw, kenapa foto-foto kita di instagram sudah nggak ada?”
Kubaca, tanpa menunggu lama aku mengetik balasan “Waalaikumsalam, kabarku baik. Foto instagram sudah aku hapus. Nggak usah cari aku lagi🙏”
“Kenapa? Aku minta maaf kalau ada salah”. - balasnya
“Tidak usah cari aku lagi” - balasku.
“Ya sudah kalau memang keinginanmu seperti itu, aku tidak akan memaksa. Maaf kalau ada salah” - balasnya lagi.
Setelah percakapan itu, malah chat dan telponnya lebih intens setiap hari. Terlihat seperti worry dengan keadaanku, tapi sepertinya sikap dan kebisaannya tidak berubah hehe
Seingatku percakapan itu terhenti dan tidak aku balas lagi. Namun, ada suatu waktu aku pernah berkata “semoga suatu saat nanti kamu nggak bersikap seperti ini lagi ke perempuan yang selanjutnya, cukup ke aku aja, yang mungkin bisa bertahan sedikit. Tapi, nggak akan kamu temui “aku” lagi di diri orang lain”
Pernah lagi seseorang itu tiba-tiba chat “Arum, jangan lupa doain aku terus ya”
Tidak dipungkiri saat itu aku langsung berkata “lah kamu siapa butuh doa ku” hahahaha
Beberapa hari kemudian teman-temanku chat ke aku, dengan sedikit pertanyaan :
“Si ex upload foto cewek baru”
“Loh kalian sudah putus?”
“Selingkuh nih? Apa udah putus?”
“Kalian beneran emang putus nian dek?”
Aku yang emang udah melalui hari-hari itu dengan mudah menjawab “Ahahahahaha, iya, emang udah putus. Nggak diselingkuhin atau selingkuh juga. Putusnya udah lama” 😂
Fyi, aku dan ex emang jarang publish foto, jadi kalau pun lagi nggak baik-baik aja juga orang lain nggak tahu pun. Karena foto-foto juga udah dihapus lama.
Beberapa waktu berlalu, akhirnya aku sudah terbiasa tanpa chat dan dekat dengan siapapun.
Strugglenya anak-anak yang baru lulus kuliah itu menghadapi hal-hal percintaan receh yang sekarang ngerasa “nggak penting banget ya dulu itu”
Kayak ngerasa sedih tu bukan ke orang yang nggak tepat, yang akhirnya nggak berjodoh. Apalah aku ini, kalau diingat zaman nangisin hal-hal nggak penting bgt 🙃
Sampai akhirnya, temanku mengenalkan aku ke seseorang teman masa kecilnya. Perkenalan awal kami pun sederhana, lewat satu message facebook yang sangat jarang aku buka lagi saat itu. Singkatnya dia menanyakan apakah benar ini aku, temannya itu, basa basi dan minta nomor telepon/whatsapp.
Tiba-tiba mulailah percakapan itu melalui whatsapp dari seseorang yang sekarang menjadi suamiku.
Dulu, katanya susah sekali menghubungiku, chat 3 hari baru aku balas. Karena maklum, waktu itu kebiasaan tidak mengaktifkan paket data dan tidak membuka handphone atau chat di whatsapp masih jadi kebiasaan.
Pikirku untuk apa nggak ada yang chat/telepon selain ayah/ibu dan sesekali teman-temanku hehehe
Awalnya begitu ragu, balas chat singkat dan jarang. Tapi setiap hari tanpa ku minta beliau mengirimkan pesan singkat untukku, walau hanya sekedar berpamitan untuk berangkat kerja. Dengan suka rela kubalas seperlunya.
Cukup lama, aku meyakinkan diri. Hampir satu tahun trauma itu. Sampai akhirnya aku bertanya ke beliau “chat setiap hari ke aku cuma pamitan kerja terus ngabarin kalau udah pulang kerja, ada apa kak? Aku bukan siapa-siapa nya kamu, kita baru kenal jug” balasku dalam chat nya 🙂
Mulai bertukar cerita, tanpa canggung dan takut dihakimi dari ceritaku ini. Ngerasa lega aja gitu dapat teman cerita.
“Ya gpp, cerita aja” kalau pun keadaannya seperti itu aku nggak akan mundur.
“Kamu udah ada rencana menikah beberapa tahun ini? Karena diumurku yang segini nggak mikir buat main-main atau sekedar kenalan aja loh kak. Karena kalau belum mau serius kita nggak usah serius, temenan aja gitu loh kak”
Dengan sedikit keberanian aku ngomong itu lewat telepon hari itu.
Katanya “boleh main ke rumah?”
Ya boleh, langsung ketemu ayah ya? - ucapku
Katanya “iya, nanti kalau libur aku kabarin kalau jadi ke rumah ya”
Singkatnya, dia bertamu ke rumah ketemu ayah dan ngobrol.
Sampai akhirnya 2 tahun kedekatan kami, bukan seperti pacaran, tapi iya temen kata ibuku, katanya komitmen, setiap ada orang yang ngajakin kenalan atau dicomblangin kita berdua saling cerita dan jadi tahu hehe
Dari beliau aku banyak belajar, ngerasain dicari, ditanyain kabar, dikhawatirin.
Aku yang awalnya malah anggap itu sih biasa aja, karena aku selalu ngomong ke beliau, “aku bisa sendiri, udah biasa nggak ada yang chat, tapi kamu dengan suka rela kasih kabar setiap hari tanpa aku minta, makasih banyak ya”
It’s almost 3 years, akhirnya aku yakin diajak nikah, setelah menunggu jawabanku yang lama hehehe
Katanya “ketemu kamu jadi yakin untuk menikah” -“bukan karena mau menikah dan aku cari kamu”
“Jika kamu tidak berjodoh dengan seseorang yang sering kamu doakan. Maka kamu akan berjodoh dengan seseorang yang sering menyebutmu dalam doanya”
Definisi yang insecure parah karena ngerasa nggak pantes buat siapa-siapa, nggak punya kelebihan apa-apa, akhirnya ketemu orang yang dengan suka rela pelan-pelan meyakinkanku dengan semua usahanya.
Yang aku dengar darinya “wah, hebat ya kamu. Keren. Bangga pokoknya”
Dan hal-hal positif lainnya yang berhasil membuat aku yakin bahwa “ohh ternyata aku bisa loh ya”
Ternyata aku nggak sejelek yang aku kira.
Ternyata aku gak segendut yang aku rasa.
Dan ternyata aku punya kelebihan yang awalnya pun aku nggak sadar bahwa aku punya itu 🥹
(Yang akhirnya bisa membuat aku menjadi diriku sendiri, leluasa bergerak dengan gayaku sendiri, tanpa aku harus menjadi versi wanita kurus putih dan cantik seperti kebanyakan. Aku ya aku, yang mulai menemukan versi diriku sendiri)
“Jangan minder-minder lagi ya”- tambahnya
Maa syaa Allah. Alhamdulillah. Tabarakallah.Kata-kata itu yang sampai hari ini aku dengar dari beliau. Banyak sekali belajar kesabaran dan keikhlasan, yang nggak pernah ucap kasih sayang jadi terbiasa untuk buat panggilan yang bagus 🙂
Ternyata, manusia butuh seseorang yang nggak hanya menerima kurangnya, tapi juga butuh seseorang yang bangga terhadapnya, meskipun melakukan hal kecil sekali pun.
Bahkan ketika kamu gagal, menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri.
Yang percaya bahwa kamu bisa melakukan apapun, bahkan saat kamu tidak percaya akan dirimu sendiri.
Semoga kita menjadi manusia yang selalu bersyukur. Hal-hal yang mungkin menyakitkan untukku akhirnya bisa aku terima dan dapat menjadikan diriku lebih baik dan ikhlas.
Semoga kita bisa menerima masa lalu dengan bijak. Karena kita bukan hidup di masa lalu. Kesalahan fatal yang kita lakukan, baiknya kita maafkan dengan hati yang lapang.
Agar dapat menjalani masa sekarang dan masa depan dengan lebih ikhlas.
Siapapun orangnya, nyatanya dia adalah manusia yang paling baik yang ditakdirkan untukmu. Jangan menyimpan penyesalan terhadap apa-apa yang sudah dilakukan, semua sudah sesuai porsinya.
Semoga kita semua bisa berbahagia dengan pilihan kita masing-masing.
Terima kasih untukmu, yang selalu dengan sabar menghadapi sikapku yang kadang tidak masuk akal ini, yang menjadikan aku kuat, dan membantu menyembuhkan hal-hal yang kiranya membuatku sakit.
Semoga Allah selalu menjagamu, seperti kamu menjagaku dengan baik.
Maa syaa Allah, Alhamdulillah, Tabarakallah.
Semoga Allah berkahkan hidup dan rezekimu ya mas! 🤍🤍🤍