Beriktikad pada Kekuatan Mutlak
Ketika membaca kutipan dari sebuah roman, aku teringat kisah Perang Hunain yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an (9:25–26). Saat itu Rasulullah membawa 12.000 pasukan ke medan perang. Komposisi pasukan Rasulullah terdiri dari 10.000 orang berasal dari Madinah dan 2.000 di antaranya adalah orang-orang yang baru masuk Islam pada peristiwa Fathu Mekah.
Jumlah ini adalah jumlah terbesar di dalam sejarah peperangan Rasulullah. Dan seperti yang kita tahu, bahwa seringnya jumlah pasukan Rasulullah kalah jauh dengan pasukan musuh. Tersebab jumlah yang banyak inilah beberapa pasukan mulai berbangga hati. Mereka berpikir, "jika dengan jumlah yang sedikit saja kita bisa menang, apalagi dengan jumlah sebanyak ini. Kita tidak akan kalah". Rasa ujub menyusup dalam hati pasukan-pasukan yang belum begitu kuat rasa percayanya.
Lalu, terjadilah perkara yang tidak mereka harapkan. Di pagi buta, serangan panah tak terduga dari musuh membuat para pasukan kocar-kacir. Pasukan 12.000 orang itu kini tidak sekuat yang mereka banggakan di awal. Mereka angkuh dengan jumlah dan tergiur dengan harta rampasan perang.
Maka, Rasulullah berupaya untuk membalikkan keadaan dengan mengumpulkan pasukan intinya, yaitu Muhajirin dan Anshar, terutama mereka yang terikat dalam Perjanjian Hudaibiyah. Tersisalah 1.500 pasukan yang tetap pada barisannya. Dengan izin Allah, kekuatan inti inilah yang justru merebut kemenangan pada Perang Hunain.
Kisah ini sungguh dipenuhi hikmah. Sebagai manusia yang terbatas akal dan pikirannya, kita sering kali melihat sesuatu yang hanya nampak di depan mata. Jika dikaitkan dengan konteks beramal jama'i, kita terkadang khawatir sekali dengan jumlah yang sedikit. Lupa dengan adanya pertolongan Allah yang lebih besar dari segalanya. Dan ketika Allah karuniai jumlah yang banyak, kita bangga dan lupa bahwa sesungguhnya kemenangan atas apa pun itu adalah milik Allah dan itu adalah kewenangan yang mutlak.
Dalam kisah ini pun, Allah juga ingin kita menyadari, bahwa orang-orang yang ada dalam barisan dakwah memang tidak banyak. Tidak semua diberikan kekuatan, kesabaran, dan keyakinan oleh Allah untuk senantiasa bertahan.
Yang kita perlu yakini adalah Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang menolong agama-Nya bersusah payah berkepanjangan. Seperti ketaatan Muhajirin dan Anshar yang membuahkan kemenangan dalam Perang Hunain, kita pun harus yakin, di depan sana Allah sudah gariskan kemenangan manis atas perjuangan hari ini.
—Bandung, 5 Maret 2023
note: kalimat di atas artinya, "Jangan biarkan angka-angka tersebut menyesatkan kita ke dalam optimisme palsu!" Dikutip dari roman karya August Niemann. "Der Weltkrieg, Deutsche Träume”













