Keshalihan adalah penghubung
Di surat Al Kahfi ayat 82 Allah kisahkan tentang dua orang anak yatim yang mendapatkan penjagaan dan perlindungan dari Allah tersebab keshalihan orang tuanya atau bahkan nenek moyangnya semasa hidup.
Maka, boleh jadi, kebaikan-kebaikan yang kita dapat hari ini, adalah manifestasi dari berbagai macam amal shalih yang ditanam oleh para orang tua kita semasa hidup mereka.
Yang kemudian menjadikan Allah ridha untuk menganugerahi kita buah dari amal shalih para orang tua kita.
'Umar bin 'Abdil 'Aziz pernah berkata;
"Setiap mukmin yang meninggal dunia (dalam keadaan ia senantiasa menjaga kewajibannya kepada Allah (menjaga hak-hak Allah), maka Allah akan senantiasa menjaga anak dan keturunannya setelah itu." [Jami' Al-'Ulum wa Al Hikam, 1:467].
Saya jadi teringat, salah satu sunnah yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika ada dari keluarga tercinta kita yang telah berpulang menghadap Allah lebih dulu, adalah dengan menyambung silaturahim atau memberi hadiah kepada saudara, kerabat atau bahkan sahabat-sahabat karibnya.
Sebagaimana disebutkan juga dalam shahih muslim, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, setiap kali menyembelih kambing, selalu membagi-bagikannya kepada sahabat-sahabat karibnya ibunda kita, Sayyidah Khadijah radhiyallahu 'anha. Semua itu dilakukan Rasulullah sebagai bentuk penghormatan beliau kepada sang istri tercinta.
Belakangan, saya baru memahami hikmah terindah dari sunnah tersebut. Ternyata, itulah obatnya, ketika rasa rindu itu tiba-tiba datang, rindu pada orang-orang tercinta yang telah berpulang.
Bukankah kadang, kebahagiaan itu sesederhana bertemu dengan orang yang mengenal keluarga kita yang telah berpulang, lalu ia bersaksi dan berkata dengan setulus hati;
"Ayahmu / ibumu / kakekmu / nenekmu itu adalah orang baik".
Atau ketika kita duluan yang menyambung silaturahim dengan mereka (saudara/kerabat/sahabat dekat dari orang-orang tercinta yang telah berpulang), entah dengan mengunjungi atau memberi hadiah (sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam), lalu mereka membalasnya dengan do'a-do'a terindah bagi orang-orang tercinta yang telah berpulang. Tidakkah itu membahagiakan?.
Keshalihan adalah penghubung antara kita dengan orang-orang tercinta yang telah berpulang. Bahkan kelak di surga, buah dari keshalihan itu, atas izin Allah, bisa jadi washilah yang mempertemukan kita dengan keluarga kita yang belum pernah sekali pun kita lihat wajahnya, karena memang belum sempat bertemu dengan kita di dunia.
Sebagaimana yang Allah janjikan dalam Al Qur'an;
"Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga)..." [QS. Ath-Thur : 21].
“(Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” [QS. Ar Ra'du : 23]
Keshalihan adalah penghubung antara kita dengan orang-orang tercinta yang telah berpulang.
Itulah mengapa Ibnu al-Musayyib berkata kepada anaknya;
“Sungguh aku akan menambah panjang shalatku demi dirimu, dengan harapan aku dijaga, begitu juga dirimu.” (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, 2/554).
Di hari Jum'at yang penuh berkah ini, ayat ke 82 dari surat Al Kahfi itu kembali saya tadabburi dan saya baca berulang-ulang.
"...wa kaanaa abuhumaa shaalihaa..."
Seiring rindu yang kembali datang, pada dua sosok lelaki yang telah berpulang.
Jika kalian temukan ada kebaikan dalam diri saya atau dalam tulisan-tulisan saya, maka tolong do'akanlah kakek dan ayah saya, semoga Allah senantiasa merahmati mereka berdua.
Sebab kebaikan-kebaikan yang telah mereka tanam semasa hidup mereka, Allah jadikan washilah terbukanya banyak pintu-pintu kebaikan untuk saya.
@rizqan-kareema.











