Dalam perjalanan hidup sebagai manusia, kerap kali kita dihadapkan dengan situasi yang kurang mendukung. Bertemu dengan orang baru, tempat yang baru, pengalaman baru, yang di dalamnya mereka hadir bersama ketidaknyamanan. Kemudian seseorang bertanya, "Seberapa Sering kamu mengalami hal itu?".
"Sering Sekali.." Jawabku santai.
Waktu SD dulu dimarahi guru karena tidak bisa menyamaratakan diri dengan murid lain. Tidak bisa membaca, misal. Atau nilai MTK yang selalu rendah dan kemudian hal semacam itu menjadi pemicu terjadinya olok² di dalam kelas.
Waktu SMP, saya pikir adalah masa yang berbeda. Fase di mana saya akan menemukan hal baru dalam hidup. Menemukan sesuatu yang lebih berarti ketimbang di masa dulu duduk di bangku kelas dasar. Teman baru, guru baru, cara belajar yang baru, petualangan yang baru.
TIDAK!. Ternyata masih sama saja. Meski nilai MTK-ku sudah lebih baik, cara membacaku sudah bertambah lancar, namun tetap saja ada satu momentum di mana saya merasa tersudutkan. Kelas khusus berbahasa inggris membuat saya semakin tertekan. Apalagi waktu salah seorang tutor menunjuk diri saya sebagai perwakilan kelas untuk Speak Up di depan forum Meeting di akhir pekan.
Jadi, di SMP dulu ada satu program Bahasa Inggris di mana setiap pekan akan di adakan meeting bersama yang terdiri dari semua siswa dari tingkat 1 hingga tingkat 3, tutor dan kepala sekolah. Dalam acara tersebut akan ada penugasan setiap siswa sebagai perwakilan kelas.
Dan yang terjadi, saya kabur. Tidak menghadirkan diri sebagai speaker yang sudah dimandatkan ke saya. Waktu itu semua orang merasa kecewa. Memandang saya seakan baru saja melakukan Zina.
Padahal waktu itu saya hanya merasa takut. Ya, saya sangat merasa takut akan kegagalan yang pada akhirnya saya tidak pernah mau mencoba. Parahnya lagi, tidak ada satu orang pun yang bisa memahami situasi itu. Untungnya, situasi itu sudah berlalu.
SMA. Adalah masa yang sungguh luar biasa. Lain dari biasanya. Bertemu dengan orang baru, meninggalkan orang lama. Masa itu berjalan mulus sesuai dengan ekspektasi jalannya cerita. Hingga satu titik di mana saya menemukan teman yang menganggap saya lebih dari sekadar teman. Keluarga.
Ya, kita berdua serasa seperti saudara sedarah. Kemana-mana selalu bareng. Berangkat sekolah selalu dia yang jemput. Pun jika waktunya pulang, dia pasti bersedia untuk mengantarkan saya sampai di rumah. Semua berjalan sangat mulus sebelum akhirnya saya bertemu dengan satu gadis yang berwajah sendu. Namanya, Weny.
Ya, dia adalah orang yang menjadi takdir untuk kisah yang sedikit berlebihan. Persahabatan yang sudah saya anggap seperti persaudaraan, waktu itu harus kami sudahi. Singkat cerita, gadis itu hadir di antara kami, aku dan sahabat karibku sudah tidak bisa lagi sedekat dulu. Waktu itu.
Hampir kurang lebih 3 tahun, baru saya merasakan rongga dada yang sedikit lega. Setelah 2 tahun terakhir melihat mantan sahabat karib saya itu bermesra dengan si gadis berwajah sendu, dan 1 tahun setelahnya saya duduk di bangku perkuliahan. Jauh dari masa lalu, jauh dari orang-orang lama, jauh dari cerita-cerita lama, dan jauh dari dua orang yang membuat saya sangat kecewa.
Bertemu dengan orang baru sedikit demi sedikit membuat saya lupa dengan kisah cinta pertama saya. Seiring berjalannya waktu, saya banyak menemukan hal-hal baru yang menyadarkan saya akan sesuatu yang sebenarnya sudah lama ada dalam hidup ini, namun selama ini saya tidak sadar saja. Pengalaman.
Ya. Pengalaman akan banyak hal membuat kita sadar pula akan banyak hal. Mengajarkan kita sesuatu untuk. Memaksa kita memandang dunia yang ternyata lebih dari apa yang kita kira.
Ekspektasi dan realita yang sering tidak sejalan seharusnya bisa menjadikannya sebagai pembelajaran. Setidaknya untuk bisa menikmati hidup. Karena apapun yang terjadi, tetaplah bernapas. Sehingga kita akan sadar, ada satu orang yang sebenarnya selalu bersama kita, tidak pernah pergi dan selalu membersamai. Orang itu adalah kita dan diri kita. Bersyukur karenanya, kita bisa bertahan sampai detik ini.