'Gw mau udahan aja ah sama abang. Ga sanggup gw makan ati mulu' curhatku pada seorang teman, agvinabara yang akrab gw panggil dengan nama agvi.
'Ah lu mah wacana mulu dari kemarin kak' katanya
'Ya abis gimana, gw sayang'
'Ga muak sama diri sendiri kak?. Gw takut jadi benci sama diri sendiri loh kalo gw jadi elu, karena diperlakukan dengan sangat tidak sopan', katanya lagi.
'Gw rindu sama pribadi gw yang dulu. Yang periang, yang semangat. Sekarang gw mewek mulu bawaannya'
'Iyaaa itu bisa jadi resiko dari cinta atau emang pertanda masuk ke dalam hubungan yg salah 😌 '
Ada dua orang teman baikku yang selalu tau setiap perkembangan ceritaku dengan abang. Agvi dan Meliora. Kami bertiga tinggal dikota yang berbeda namun selalu terhubung dalam satu grup WhatsApp. 10 tahun bersahabat membuat kami semakin mengenal satu sama lain. Aku selalu bercerita tentang abang pada mereka. Jujur saja, aku butuh saran dari orang-orang yang masih berotak waras.
Hubunganku dengan abang tidak ada kemajuan. Masih jalan ditempat. Sekalipun aku tau ia memiliki yang lain, aku tetap berada ditempatku. Mengambil posisi apapun agar bisa tetap bersamanya. Abang selalu berkata padaku 'nanti kita jumpa disurga ya dek. Kalau adek ga jumpa abang disurga, tolong tanyakan pada Allah ya' manis sekali bukan? Dan aku luluh hanya dengan kata-kata seperti itu. Pengabaian sebesar apapun mendadak membuatku lupa ingatan. Abang tau bahwa aku bukanlah wanita yang bisa digoda dengan hartanya yang melimpah. Abang tau aku bukan perempuan seperti itu. Abang ini orang kaya sekali. Pernah ia memperlihatkan slip gajinya kepadaku dan angkanya gajinya setara dengan 5 tahun aku bekerja dengan gajiku sekarang. Pernah dua kali dia bertanya aku mau apa? Kukatakan aku hanya menginginkan rekamannya membacakan Ar-rahman. Itu saja. Aku tak butuh yang lain. Pernah juga ia bertanya berapa ukuran sepatuku, kujawab bahwa aku lupa. Aku termasuk wanita yang agak anti diberikan barang seperti itu. Menurutku, quality time bersamanya jauh lebih berharga daripada barang yang sebenarnya bisa kubeli sendiri.
Disisi lain, aku juga tau bahwa abang sering berbohong kepadaku. Kisah yang sama bisa berbeda-beda cerita. Diawal kenalan ceritanya seperti ini. Lalu bulan depan jadi seperti ini, bulan depannya lagi bisa jadi seperti ini. Tapi aku memilih untuk diam saja. Mungkin dia lupa, batinku menyenangkan diri sendiri padahal hal seperti ini sering terjadi. Aku melakukan apapun agar hubungan ini tetap baik. Namun suatu hari pertengkaran hebat tidak terelakkan lagi.
Hari itu kutanya abang mengapa ia tidak makan siang karena tak kunjung tampak di kantin. Dia bilang, dia tengah shaum. Senang hatiku mendengarnya. Sore hari, aku punya urusan dikantornya dan kudapati gelas kopi dimejanya. Hatiku mulai menaruh curiga. Saat aku mengucapkan selamat berbuka, dia mengirimkan foto gelas yang sudah kosong pertanda sudah selesai minum padahal waktu itu belum adzan. Malam hari seperti biasa, kami mengobrol via whatsapp, dia bercerita kalau pada bulan mei, project nya akan selesai dan dia akan segera pergi dari kotaku. Dia adalah pendatang karena sebuah project besar, jadi ketika project telah berakhir, dia juga akan pergi. Sebelumnya abang pernah mengatakan bahwa project akan berakhir pada bulan agustus dan kami sama-sama tau bahwa itulah saat perpisahan. Namun malam ini ketika ia mengatakan bulan mei dia akan pergi, aku merasa aku sudah terlalu banyak dibohongi.
'Abang pernah bohongi adek?'
'Apa ini? Perasaanku ga enak'
'Adek cuma nanya. Kalau ini mah kalau. Kalau suatu saat abg terpaksa harus bohongin adek, Jangan biarin adek sampai tau, oke? Kalau ini mah'
'Guaranteed besok tdk akan sebanyan ini chatingan kita. Abang batasi'
'Kok gitu? Adek cuma nanya loh'
'Tolong jangan chat lagi ya'
'Serius adek ga ada maksud apapun. Please jangan jauhi adek'
'Tolong chat seperlunya saja. Assalamualaikum'
'Apa sampai sebegitu benci abang sama adek?'
'Apa segitu fatal kesalahan adek dimata abang?'
'Ga ada yg salah ... pantang bagi ku buat berbohong .. abang selalu katakan benar walaupun pahit adanya. Tolong sudah ya saya mau tidur'
'Adek cuma bilang kalau suatu saat abang terpaksa bohong, bukan adek bilang abang bohong.'
'Kalau bertanya, itu sudah indicate!!'
Dia marah besar. Sebenarnya kalau mau membuka kebohongan-kebohongan nya kecilnya bisa saja. Tapi aku lebih memilih memendam daripada harus kehilangan dirinya.
'Abang, please jangan kasi hukuman kayak gini. Adek percaya sama abang. Kalau abang mau pukul adek, gapapa. Tapi jangan jauhi adek seperti ini. Please bang please'
'Orite. Bisa tolong berhenti chat? Saya mau tidur'
'Abang ga akan batasi chat kita kan?'
'Tolong jangan chat-chat lagi ya, chat seperlunya saja'
'Adek minta maaf. Assalamualaikum'
Rasanya seperti mati rasa. Tau bahwa besok tak akan ada lagi video call atau nada dering wa yang ku setting khusus untuknya. Tak akan ada lagi senyumku yang melengkung saat pesan darinya masuk. Aku benar-benar shock Karena aku tau dia memiliki pendirian yang kuat. Dia pernah bercerita bahwa secinta apapun ia, tidak ada istilah kembali. Dan aku tau, sekali dia buat keputusan, maka itu adalah mutlak.
Orang dengan cinta yang lebih banyak, memang harus memikul beban-beban seperti ini. Orang dengan cinta yang lebih dalam, memang dibatasi hak-haknya dalam bertanya dan berbicara. Orang dengan cinta yang lebih luas, memang kadang terlihat seperti pengemis.