Semua Kenyataan ini aku ketahui berawal dari keinginanku untuk menikah pada tahun 2020 lalu. Sekitar Bulan Juni semua persiapan pernikahan dilakukan. Oh iya, kenalin nama ku Nabila. Aku akan banyak cerita dengan kamu, nggak apa-apa kan?
Cukup sulit aku meminta restu dengan Bunda untuk menikah. Ada berbagai alasan masing-masing dari kami yang tidak bertemu. Namun, dengan proses perjalanan itu aku mengetahui sesuatu tentang masa lalu kedua orang tua ku. Pasti berat untuk Bunda mengatakannya, dengan pesan singkat berisi, " Kamu mau ke Handoko? Dia tidak bisa jadi wali kamu. Nggak usah temui dia."
Sontak aku kaget. Kenapa ayah ku sendiri tidak bisa menjadi wali aku untuk menikah? Aku bukan anaknya? Ada cerita apa sebenarnya?
Kepala ku tidak berhenti mengeluarkan banyak pertanyaan. Aku mencoba untuk menenangkan diri dan berfikir. Bertanya dengan Bunda secara detail tidak menjadi pilihanku, karena hati ku tidak kuat untuk bertanya kepadanya. Tetapi aku merasa tidak boleh diam saja, aku ingin mengetahui kebenarannya. Aku rasa bisa mendapatkan jawabannya dari ayah ku, atau mbah dari ayah atau bude (kakak) dari Bunda.
Saat itu waktu telah menunjukkan hampir tengah malam. Aku langsung pesan sewa mobil dan mengatur pertemuan dengan tiga pihak tersebut. Keesokan paginya tersusun jadwal pertemuan dengan ayah di pagi hari, selanjutnya ke rumah bude dan berakhir ke rumah mbah dari ayah.
Entah perjalanan mana yang akan memberimu jawaban. Saat itu aku kalut, bingung, dan deg deg kan.
Aku bertemu dengan ayah, aku buka pembicaraan mengenai teknis acara akad nikah. Ayah memberi clue dari semua pertanyaan dibenakku yang semakin membuat ku deg deg kan.
Ayah bilang, " Nanti sebelumnya ayah mau bicara ya dengan penghulunya. Satu hari sebelum akad. "
Aku bertanya dengan polos, "mau bicara soal apa yah? "
"Sudah. Kamu adalah anak, kamu nggak perlu tau urusan orang tua. Nanti Nabila diwali nikahkan dengan penghulu ya, tapi ayah ada disana. "
Aku semakin kalut mendengar jawabannya. Maksudnya apa? Aku berusaha membuat ayah menjelaskan tetapi tidak berhasil. Aku melihat matanya berkaca-kaca. Oke, aku tidak sanggup menekannya lebih jauh. Kebetulan aku pergi hari ini tidak sendiri, tetapi bertiga, bersama calon suami ku dan seorang sahabat perempuan ku.
Tidak terasa waktu berjalan dan sudah mau masuk waktunya shalat jum'at. Ayah dan calon suami ku berangkat menuju masjid sedangkan aku, sahabatku, dan dua adik tiri ku melanjutkan belanja di pusat perbelanjaan.
Begitu beratnya, ayah akhirnya mengakui dan menceritakan kepada calon suamiku dengan berlinang air mata. Tentunya setelah dibujuk rayu oleh calon suamiku.
Dalam perjalanan menuju rumah bude, calon suamiku menceritakan apa yang ayah ungkapkan. Sejak saat itu aku tahu, bahwa nasab ku tidak sempurna. Bunda dan ayah berpacaran cukup lama, 4 tahun. Bunda yang kehilangan sosok orang tua sejak kecil menjadi sangat bergantung kepada ayah. Hubungan mereka sangat dekat hingga melebihi batasnya. Aku berada dirahim Bunda sudah dia bulan ketika akad nikah Bunda dan ayah diikrarkan.
Hancur dan sakit perasaanku saat itu, mengetahui semuanya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Bunda saat itu.
Aku semakin merasa tidak bernilai dan hancur ketika aku bercerita ke pemuka agama dan ia menilai diri ku cacat. Karena memiliki nasab yang tidak sempurna. Melalui kata-katanya aku merasa tidak bernilai, merasa tidak punya pilihan lain dan merasa hanya calon ku yang mau menerima diri ku yang cacat nasab ini.
Banyak perasaan berkecamuk saat itu. Sedih, marah, kecewa, dan rendah diri. Namun ada satu perasaan yang sangat dominan. Kelahiran ku sebenarnya tidak diinginkan karena itu ayah pergi meninggalkan ku dengan Bunda sejak aku kecil. Menjadi sosok Bunda, seorang wanita yang harus menanggung malu ditengah keluarga besarnya dan harus mengurus serta bertanggung jawab atas diri ku sendirian dan penuh ujian, pasti berat. Tetapi Bunda selalu berusaha yang terbaik dalam merawat dan mendidik ku meskipun Bunda juga pernah melukai perasaan ku. Bunda menyayangi ku dan berjuang untuk aku yang merupakan tanda sisanya dan sumber penderitaannya. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana perasaannya selama ini.
Semenjak itu aku sangat rendah diri. Nasab ku yang tidak sempurna ini sesekali dibincangkan oleh pemuka agama, Ia yang menjadi jembatan terbangunnya rumah tangga ku, agar
aku bisa menerima kekurangan suami ku. Kekurangannya yang merupakan sikap tercela yang berulang-ulang.
Suami ku juga mengungkit persoalan nasab ku didepan keluarga besarnya ketika kami ada perdebatan. Hal yang sangat menyakitkan, hal yang ia sendiri berkomitmen dengan pemuka agama untuk tutupi aib keluarga ku ini. Sejak awal pun ia mengungkapkan tidak mempermasalahkan hal ini.
Sebenarnya, memang apa salahnya dari seorang anak yang terbentuk saat ikrar akad belum diucapkan?
Setiap manusia terlahir dengan tanpa bisa, bagaikan kertas putih. Orang tua dan lingkungannya lah yang akan memberikan warna pada kertas putih itu.
Orang tua ku dahulu salah, mereka menyadarinya dan mengakuinya serta merubah hidup mereka masing-masing untuk menjadi lebih baik. Lalu aku tumbuh dengan diri ku, prinsipku, dan menjadikan orang tua ku sebagai guru pertama dalam hidup ku.
Dengan begitu, sepertinya aku tidak layak untuk rendah diri. Aku manusia yang punya nilai dan berharga. Kebaikan dan kekurangan tentu satu paket. Orang tua ku seperti manusia pada umumnya yaitu pernah salah. Aku cukup jadikan masa lalu mereka sebagai pelajaran sedangkan orang tua ku cukup bertaubat dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Tidak ada masalah dari kelahiran ku. Karena ini kehendak Allah untuk aku hadir di dunia.