“A tree is known by its fruit; a man by his deeds”
Suatu siang saat saya tengah berkendara, ada seorang kakek yang berpakaian serba kuning lengkap dengan topi capingnya menenteng ontel di bahu jalan. Di muka sepedanya tertulis, “Relawan Pejuang Kebersihan”. Ternyata sosok itu adalah Pak Sariban, relawan berumur 73 tahun yang terbiasa mengayuh ontel mengelilingi kota Bandung untuk membersihkan sampah-sampah yang berserakan dengan peralatannya sendiri.
Seorang alim pernah berbagi hikmah, dalam urusan menyalurkan kemanfaatan, ada orang yang terlihat seperti sungai. Mereka menyederhanakan dan membuka diri supaya mudah diambil manfaatnya oleh khalayak. Di sungai, banyak orang mencuci, bermain, bahkan membuang hajat. Di sisi lain, ada juga orang yang terlihat seperti sumur. Dalam namun lebih sulit diambil manfaatnya. Sebelum mencuci harus ditimba, bermain tak leluasa, buang hajat bisa mendatangkan bahaya.
Umumnya kita berpikir, sebelum menyalurkan kemanfaatan kepada orang lain, ada kegunaan yang harus kita kumpulkan terlebih dahulu untuk kemudian disalurkan. Ada benarnya, juga ada salahnya. Kesalahan yang hadir, umumnya berbentuk penundaan. Kita terus menunda sampai akhirnya kita enggak pernah merasa betul-betul bermanfaat dan berujung dengan ketiadaan maslahat yang dibagikan untuk orang lain.
Oleh karena itu, keterbukaan memang diperlukan untuk menindaklanjuti penyaluran kemanfaatan diri - seperti halnya sungai yang mudah diambil kegunaannya. Karena semestinya, kemanfaatan seseorang terus bertambah seiring dengan pertumbuhan dirinya. Dengan bersikap terbuka, arus kebaikan yang menderas bisa terus mengalirkan kegunaan. Semakin kemanfaatan dibagi, semakin bertambah kekuatannya. Semakin seseorang berguna, semakin besar dampak yang dihasilkan bagi lingkungannya.
Kita perlu bersyukur karena saat ini dengan mudah didapati banyak pengubah yang berbagi kemanfaatan untuk menyelesaikan permasalahan di lingkungan sekitarnya. Selain Pak Sariban, ada juga sosok pemulung yang rutin mengurai penyumbatan sungai karena gunungan sampah, ada wanita lumpuh yang mengajar bimbel anak-anak sekitar rumahnya atau kakek pengayuh becak yang hobinya menambal jalan berlubang. Rasanya, sebutan “pahlawan sosial” amat layak disematkan kepada mereka.
Sayang, kita yang lebih terdidik dan sejahtera dibanding mereka, masih bersikukuh untuk menumpuk-numpuk kemanfaatan tanpa menyalurkannya. Padahal, kondisi para pahlawan sosial tadi belum tentu lebih baik dari kita. Hanya saja, prakarsa mereka jauh lebih juara. Itu yang membuat kita merasa kecolongan dan malu. Malu dengan gelar. Malu dengan kepemudaan. Malu dengan prestasi. Malu dengan kepemilikan. Malu karena semuanya tak membuat kita menghasilkan dampak yang lebih berbekas dibandingkan mereka.
Saat era modern berprinsip “tak ada makan siang yang gratis”, para pahlawan sosial tadi terus bergerak dengan menggratiskan kemanfaatannya dalam berbagai bentuk. Saat teknologi masa kini mendorong penggunanya untuk menapaki tangga popularitas, para pahlawan sosial tadi terus bergerak senyap tanpa menghiraukan jumlah likes. Mereka meninggalkan jejak dari trotoar ke trotoar, sungai ke sungai dan tempat-tempat tanpa rasa nyaman yang juga bermasalah.
Jangan-jangan, kita menganggap diri sendiri tidak cukup bermanfaat bukan karena ketiadaan maslahat, tapi karena terlalu asyik dengan diri sendiri. Ogah ribet.
Saat kesempatan berbagi manfaat datang menghampiri, kita perlu terbuka dan bersegera menyambutnya. Yakinlah bahwa beringan tangan dalam menyebarkan kemanfaatan adalah gerbang awal untuk menjadi sebaik-baik manusia. Kalaulah setiap pohon dikenal karena buahnya, maka manusia dikenal karena jejak perilakunya. Bukankah harusnya kemanfaatan menjadi buah dari pertumbuhan kita sebagai manusia? Maka sudah sepantasnya, seluas-luas khalayak berhak memetik kebaikan kita untuk diambil kegunaannya.