Aku berlindung kepada Allah atas ketidakpastian masa depan, dari keputusan yang keliru, dari perihnya kenyataan, pahitnya kekecewaan, dari hati yang berbolak balik, dari pengkhianatan manusia dan dari cinta yang salah.
:)
RMH

No title available
Jules of Nature

Kaledo Art
No title available
Peter Solarz
Claire Keane

@theartofmadeline
he wasn't even looking at me and he found me
NASA

PR's Tumblrdome
Cosimo Galluzzi

Janaina Medeiros

oozey mess
will byers stan first human second

roma★
d e v o n

tannertan36
I'd rather be in outer space 🛸

titsay

seen from Canada
seen from Pakistan

seen from Panama

seen from Serbia
seen from Ukraine
seen from United States

seen from Germany
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Netherlands
seen from Portugal
seen from Türkiye
seen from France
seen from United Kingdom

seen from Brunei
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
@creativemuslim
Aku berlindung kepada Allah atas ketidakpastian masa depan, dari keputusan yang keliru, dari perihnya kenyataan, pahitnya kekecewaan, dari hati yang berbolak balik, dari pengkhianatan manusia dan dari cinta yang salah.
:)
Dari banyaknya hal dalam hidup yang sedang dikhawatirkan, barangkali perasaan khawatir itulah yang patutnya kita khawatirkan.
Tidak ada penawar kekhawatiran selain sebuah keyakinan, dan keyakinanlah yang kelak mengantarkan kita pada perasaan yang kita sedang cari, yaitu rasa tenang.
Coba ingat, kenapa kita tidak khawatir ketika masuk ke rumah makan tanpa melihat daftar harga?
Kenapa kita tidak khawatir memasukkan ragam barang saat sedang berbelanja?
Kenapa kita tidak begitu khawatir masuk taksi tanpa menanyakan berapa argonya?
Itu semua karena kita yakin. Kita yakin memiliki dana yang cukup, sehingga kita mampu untuk nanti membayarnya.
Lantas, mengapa pada urusan kehidupan, kita tidak punya keyakinan yang sama?
Apa mungkin karena kita tidak cukup yakin, kalau diri kita tidak mampu menghadapi hal-hal yang kita khawatirkan?
Apa mungkin karena kita tidak cukup yakin, bahwa bekal yang kita siapkan tidak akan bisa melawan yang sedang kita khawatirkan?
Atau lebih buruknya, apa mungkin kita tidak cukup yakin, bahwa Allah—Yang Maha Mengetahui—tidak mampu untuk mengatur, menolong, menjaga kehidupan kita?
Itulah mengapa, kadang-kadang yang perlu dikhawatirkan itu adalah perasaan khawatir itu sendiri.
Kekhawatiran yang ternyata menegasikan Allah yang berkuasa akan kehidupan kita.
Kekhawatiran yang ternyata membuat kita lupa bahwa tak pernah ada daya upaya selain karenaNya.
Kekhawatiran yang ternyata... selalu menjadi sebab tidak turunnya ketenangan pada hati kita, karena rasa khawatir kita begitu penuh hingga menjelma menjadi bentuk ketidak-yakinan kita padaNya.
Maka, semoga Allah selamatkan kita dari kekhawatiran yang jauh lebih besar daripada mengimani kuasaNya atas segala sesuatu dalam hidup kita.
Biar nanti keyakinan—keimanan itu menjadi jalan. Menjadi sebab turunnya ketenangan dari Allah yang dituangkan ke dalam hati kita. Tidak peduli bagaimanapun kondisi dunia yang sedang kita menghadapi, karena kita tau ada Allah yang selalu membersamai.
@creativemuslim
Begitu lucunya ya kita—manusia. Seringkali disibukkan dengan isi kepalanya sendiri, sibuk menggeledah kemungkinan-kemungkinan pada hal-hal yang sebenarnya belum pasti terjadi.
Pikiran kita terbang ke sana kemari, menggumamkan gumaman "kalau nanti" yang seakan-akan skenario itu pasti akan dialami. Padahal yang dipikirkan itu pun belum sama sekali terjadi. Aneh sekali.
Lalu kita kesal, marah, bingung, lelah hanya karena membayangkan hasil fantasi skenario pikiran yang kita buat-buat. Lucu. Mau sampai kapan sebenarnya kita, membiarkan pikiran kita disibukkan oleh kekhawatiran?
Mau sampai kapan sebenanya kita, membiarkan pikiran kita diramaikan oleh ketakutan?
Mau sampai kapan sebenarnya kita, membiarkan pikiran kita dijejali oleh rasa keputus asaan?
Dan mau sampai kapan sebenarnya kita, melupakan Allah yang dengan kemahaanNya mudah sekali memberikan ketenangan? Mengatur kepastian. Memberikan jawaban.
Sibuk sekali ya kita menyusahkan diri. Padahal tak pernah-pernah Allah suruh kita mengurusnya sendiri.
Berhentilah membuat banyak rekaan kejadian di kepala. Bukan sebuah tugas untuk kita meraba-raba kepastianNya. Karena sejatinya kita tak mungkin bisa mengatur kejadian di masa depan.
Maka, hiduplah di atas keyakinan bahwa Allah adalah sebaik-baik perencana. Sebaik-baik yang menetapkan ketetapan. Dan segala apa yang ditetapkanNya adalah hal yang terbaik untuk kita dapatkan.
Apa ya yang sebenarnya dimenangkan dari perasaan lebih baik dari pada orang lain?
Kepuasan apa yang sebenarnya dirasa ketika orang lain berada dibawah kita?
Lucu ya, sering kali kita memaksa diri untuk berkompetisi pada perlombaan yang sebenarnya tak pernah terjadi. Sibuk mencari lawan, membuat musuh, hingga mengejar-ngejar piala yang sebenarnya itu fana.
Ah, padahal bukankah tanpa melihat orang lain, tanpa membanding-bandingkan, kehidupan kita ini sudah begitu "luar biasa"?
Terlalu banyak tanggung jawab yang perlu kita selesaikan dibanding waktu yang kita miliki, tapi kenapa malah menyibuki diri dengan semua permainan kosong ini?
Kalaupun ada perasaan tertinggal, sebenarnya kita tertinggal dari mana? Pun apakah tujuannya juga sama? :)
Maka, tenangkanlah kembali diri. Mungkin saja keletihan, kebingungan, kekacauan kita selama ini adalah karena kita terlalu terobsesi pada tujuan-tujuan yang salah. Menaruh tujuan pada pencapaian orang lain—atau berusaha menjadi lebih baik dari orang lain.
Ingat, ketika kita berjuang hanya untuk menjadi lebih baik dari orang lain, kita sebenarnya tidak memenangkan apa-apa. Yang ada kita memenangkan nafsu dan ego kita saja.
Dan sialnya, nafsu dan ego tidak ada batasnya.
Kadang-kadang ya, bagian tersulit itu sebenarnya bukan tentang memilih. Tetapi tentang melepaskan.
Iya, melepaskan diri dari keterikatan-keterikatan masa lalu yang menghantuinya. Dari kesalahan masa lalu, dari rasa takut, sakit hati, dari trauma, dari kekhawatiran, dari dendam sampai pengkhianatan.
Termasuk juga dari kesuksesan dan pencapaian masa lalu, yang kadang terlalu menerus dielu-elu, padahal musim kehidupan kita selalu berputar dan berganti.
Tidak terpungkiri sebenarnya, karena memang niscaya terjadi. Cuman, mau sampai kapan kah selalu seperti ini?
Padahal kesempatan untuk bisa memilih pun tidak akan selalu datang, kan? Bisa jadi pula pilihan yang ada di tanganmu kini adalah hadiah dari Allah atas kehidupan—dan kesabaran yang sudah kamu lewati.
Dunia ini terkadang berat bukan karena ujiannya, tapi karena kitanya yang terlalu percaya diri memikulnya sendiri.
Maka, semoga tidak lupa untuk melibatkan Pencipta dalam segala apa yang ada di kehidupan kita. Lepaskan semuaNya padanya. Allah tak mungkin membiarkan kita sendiri pada apa yang dia telah berikan kepada kita hari ini.
Kecuali jika kita yang memang suka sekali menjauhkan diri pergi—mengabaikanNya—yang sebenarnya selalu menunggumu untuk kembali :)
Memang terkadang ada saja sebagian dari kita atau sebagian diri kita merasa lebih baik dari pemain-pemain lain. Merasa lebih tau aturan permainan, merasa paling jago dalam permainan, atau merasa paling boleh menggugat sebuah keputusan.
Tetapi, semoga kita tidak menafikkan jika tiada dari kita yg bisa mengelak bahwa kita juga adalah seorang pemain. Kita sama seperti yang lain, tidak kebal dari hukuman, harus patuh pada keputusan. Sekalipun kita merasa benar.
Karena pada akhirnya, kebenaran bukan mengikuti keinginan seorang pemain tapi mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Dan permainan ini akan indah, jika kita semua taat dan tunduk pada aturan.
Apalagi jika aturannya datangnya dari Yang Maha Benar, bukan? :)
Ingatlah jika pada akhirnya setan itu hanya berbisik, selebihnya adalah dirimu.
Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan (sekadar) aku menyeru kalian, lalu kalian mematuhi seruanku.
Oleh sebab itu, janganlah kalian mencerca aku, tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian, dan kalian pun sekali-kali tidak dapat menolongku.
Qs. Ibrahim: 22
Untuk siapapun yang sedang Allah titipkan kasih sayangNya dalam bentuk yang tak biasa, semoga Allah mampukan pula untuk merayakannya dengan kesabaran.
Karena ketahuilah tersebab kesulitan yang datangkan kemudahan.
Ketika Allah meminta, maka disaat yang sama Allah memberi. Lihatlah kala kita kesulitan ketika shalat dalam perjalanan, Allah beri kemudahan untuk menggabungkan dan meringkasnya. Lihatlah kala kita kesulitan ketika shalat dalam posisi berdiri, Allah beri kemudahan untuk melaksanakannya dalam posisi duduk. Lihatlah kala kita tak mampu untuk melaksanakan puasa, Allah berikan kemudahan untuk menggantinya nanti di lain hari.
Sungguh, Allah menghendaki kita kemudahan, bukan kesulitan.
Dan tidakkah kita bisa pahami, bahwa semua kemudahan ini diberikan agar kita bisa terus menerus beribadah? Agar kita semakin bisa mendekat kepadaNya?
Maka, tak perlu lagi berlarut risau, ujian—kesulitan—cobaan yang saat ini sedang dilalui adalah hal baik yang mungkin belum kita pahami. Namun, semailah yakin dalam hati bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi.
Hingga nanti waktu membawamu melihat, bahwa ada banyak hal yang Allah berikan di hidupmu namun luput dari penglihatanmu. Karena cukuplah Allah sebagai penolong & juga pelindung bagi orang-orang yang beriman.
@creativemuslim
Sebagaimanapun kamu mampu membohongi dunia, kamu tidak akan mampu membohongi dirimu sendiri—apalagi Tuhanmu.
Memang tak akan nampak di mata manusia, pun tak sampai terdengar oleh telinga, namun tersesaknya dada memendam dusta akan buatmu merana.
@creativemuslim
Dunia yang kamu lihat pada diri orang lain adalah dunia yang sama yg sedang kamu jalani.
Maka tak usahlah risau tentang apa yang telah dimiliki ataupun yang belum dimiliki. Pun tak usahlah khawatir atas apa yang belum datang ataupun yang telah datang.
Dalam bumi yang tak seberharga ini, merugilah kita yang membayarnya dengan kerja keras untuk memuaskan apa yang terlihat mata. Padahal tenaga dan waktu kita sangatlah terbatas.
Kebahagiaan yang kita cari, kenyamanan yang kita damba dan ketenangan yang ingin kita rasakan, tak akan pernah kita raih jika kita menjadikan mata sebagai pelacaknya.
Kita tidak layak menilai bahagia dari 15 detik yang terlihat di story kita. Tak akan kita tau tentang rasa di balik feed-feed bahagia yang selama ini terlintas di lini masa.
Allah lebih tahu tentang isi hati-hati mereka. Maka jangan jadikan apa yang orang lain telah dapatkan menjadi sebuah tujuan untuk kita perjuangkan. Dunia masih terlalu luas jika mata hanya melihat apa yang ada di genggaman tangan.
Esok hari, berhentilah untuk terus-terusan melihat dunia yg sedang dijalani orang lain. Kamu lebih dari pantas untuk menciptakan bahagia dan pencapaian dalam duniamu sendiri. Nyatanya pula, setiap kita akan dihisab atas apa yang kita jalani, bukan apa yang orang lain jalani.
Bahagia yang nampak di mata belum tentu akan indah jika ia dimasukkan ke hati. Namun, bahagia yang lahir dari hati akan nampak indah terasa bagi kamu yang mulai bersyukur hari ini.
@creativemuslim
Semangat! Barangkali bukan karena kekurangan ikhtiar-nya, tetapi karena kurang tawakkal-nya :)
Rapalkan dengan percaya, bahwa tiada kesia-siaan pada perjuangan yang teriring iman di dalamnya.
Semoga keputusan-keputusan hidup yang kita ambil, bukanlah di-drive oleh rasa negatif; takut, kekhawatiran, kekecewaan, kecemasan, ataupun rasa dendam. Hiduplah kita di atas keputusan-keputusan yang diambil atas keyakinan dan desire yang berkesadaran.
Ketika perasaan-perasaan itu yang mendorong diri kita untuk memutuskan pilihan-pilihan hidup, maka bukankah berarti kita hanya hidup dari dan di atas ketakutan ke ketakutan yang lain?
Rasa takut, kekhawatiran, cemas itu keniscayaan. Hingga Al-Qur'an bilang setiap kita akan diuji untuk merasakan. Namun, jangan sampai perasaan-perasaan itu kita biarkan hingga membutakan kita pada apa yang kita butuhkan dan pada tujuan yang benar.
Dan mungkin sepertinya ada banyak keputusan besar dan kecil yang kita luput untuk menyadarinya di hidup kita.
Seseorang memilih jurusan atau kuliah misalnya hanya karena cemas melihat teman-temannya pada kuliah. Lalu, seseorang memilih untuk menikah hanya karena khawatir dengan umur dan pertanyaan orang tua. Atau misalnya seseorang memilih mengambil riba hanya karena ingin memiliki seperti apa yang dimiliki orang lain.
Lantas ketika pilihan itu diambil, apakah perasaan-perasaan tadi akan hilang? Belum tentu, karena selepas keputusan kita ambil ada konsekuensi yang menanti setelahnya.
Setiap keputusan itu memiliki konsekuensi. Sayangnya, tak semua kita memiliki kesiapan menerima konsekuensi tersebut.
Lalu bayangkan jika banyak keputusan hidup diambil dari perasaan negatif, lalu setelahnya harus menanggung konsekuensi yang sejak awal tak disadari.
Maka, sering-sering sadarkan diri kala memutuskan untuk memilih dan siapkan diri kita atas konsekuesinya nanti. Dan jangan pernah berhenti untuk selalu meminta petunjuk dariNya. Karena pada akhirnya Allah akan selalu memberikan yang terbaik dan hanya Dialah yang memberikan ketenangan ke dalam hati.
Terlena dan alasan yang mulai dibuat-buat.
Mungkin itu kata yang paling tepat untuk menggambarkan manusia yang terlalu percaya diri membiarkan dirinya masuk pada perangkap yang ia buat sendiri.
Tenang, ini tidak berbicara tentangmu. Ini berbicara tentangku yang malu mengaku telah terlena oleh waktu—dan pilihanku.
Entah sudah berapa lama, awalnya merasa perlu untuk mengambil jeda karena ada banyak perjalanan besar dan hal-hal yang diterima. Dengan kepercayaan diri bahwa tak akan apa-apa, tak akan lama, tapi nyatanya semua berubah menjadi hal yang terbiasa.
Pilihan mengambil jeda ternyata berubah menjadi perangkap yang hampir membuat diri melupa bahwa ini hanyalah sebuah jeda.
Tidak ada benar-salah memang. Namun, ada sisi hati yang terusik menyadari jika diri seperti menciptakan alasan-alasan yang nyatanya semakin melenakan. Perlahan masa yang awalnya dianggap jeda berubah jadi rutinitas harian biasa.
Inilah yang seringnya kita lupa, inilah yang harusnya saya kecamkan terus di dada, untuk selalu menggugat kesadaran atas hari-hari kita, atas konsekuensi dari pilihan-pilihan masa lalu yang kita pilih.
Cobalah bertanya pada diri, apakah benar ini yang aku mau, yang aku inginkan? Apakah benar ini sebagaimana harusnya ia berjalan? Apakah benar ini yang mengantarkanku ke tujuan? Dan yang terpenting, apakah ini semua bernilai kebaikan? Bernilai kebermanfaatan dan ibadah?
Seketika jadi teringat, mungkin sebenarnya ada banyak kejadian-kejadian sama yang kita alami, hanya saja dalam bentuk lain yang berbeda.
Seperti mungkin dalam mengabaikan ibadah-ibadah, dalam memilih teman dan pergaulannya, memilih tanggung jawab yang diemban, mengambil kesempatan, dan semua pilihan-pilihan yang pernah kita ambil.
Barangkali di antara pilihan-pilihan itu ada hal-hal yang membutakan kita, tak disadari membawa dan membentuk kita menjadi kita yang tidak seharusnya.
Layaknya pilihan untuk jeda/istirahat. Istirahat memang bagian dalam perjalanan dan perjuangan. Memilih untuk istirahat tentu bukan sebuah masalah.
Namun, jika jeda/istirahat berubah menjadi rutinitas yang biasa, bukankah bisa jadi ia tak lagi menjadi bagian perjalanan? Mungkin ia telah berubah menjadi perjalanan baru pada tujuan lain yang berlawanan atau berbeda jalan.
Maka semoga Allah selalu memberikan kita petunjuk dan kesadaran untuk memahami petunjukNya. Semoga Allah berkenan mengantarkan kita pada pilihan-pilihan yang diridhoiNya.
Pada akhirnya, momentum itu harus diciptakan. Dan waktu terbaik untuk menciptakan itu adalah sekarang.
Kala lelah menyapa dalam upaya beribadah, pejamkan mata dan suarakan lirih di dalam dada:
Ya Rabb, aku lakukan ini hanya untukmu ya Rabb. Tidak ada yang lain. Sungguh, tidak ada yang lain. Aku tau bahwa ini tak mudah, namun jangan pernah Engkau biarkan aku menyerah.
Engkau adalah alasan & Engkau adalah jawaban. Engkaulah yang telah memilihkan jalan, maka bersamailah hamba selalu di dalam naungan keridhaanMu.
Semoga Engkau berkenan terima semua persembahan ini ya Rabb. Agar nanti Engkau izinkan kami yang rapuh ini, mampu... mampu untuk bersimpuh menemuiMu—melihat indah wajahMu di keabadian surga milikMu.
Semoga pilihan-pilihan yang kita ambil, pilihan-pilihan yang kita imani, adalah pilihan-pilihan yang kita sebabkan karenaNya.
Sebab semua pilihan yang kita ambil, pada akhirnya akan tetap bermuara pada konsekuensi yang telah ditetapkanNya.
Termasuk, segala sesuatu yang kita harapkan atas pilihan tersebut. Semuanya sungguh ada di dalam kuasaNya. Dan memilih pilihan untuk mengabaikan—mengingkari syariatNya adalah petaka yang sedang kita siapkan sendiri untuk diri kita.
Memang sebenarnya tak akan ada yang berhak menjudge pilihan kita, kita bebas memilih apa saja. Tapi, semoga pula kita ingat bahwa kita tak bisa membohongi diri kita sendiri, apalagi membohongi Tuhan kita—Allah SWT.
Segala hal, semua kondisi, seluruh alasan, yang menjadikan dasar atas pilihan-pilihan kita memang hanya kita yang mengetahui, maka lagi dan lagi semoga itu tersebab karenaNya. Sebagai upaya dari kita menjalankan syariatNya—sesuai dengan kapabilitas yang kita punya masing-masing .
Maka, tertitip doa untuk kita semua, semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima syariatNya, semoga Allah menguatkan kita untuk mampu menjalankan perintahNya, semoga Allah memberikan ganjaran terbaik pada kita semua atas pilihan-pilihan hidup yang kita pilih karenaNya.
Tidak ada satu pun penyesalan ketika bersamaNya. Tidak ada satu pun kelemahan yg berdaya di hadapanNya.
Segala puji bagi Allah, yang senantiasa memberikan banyak nikmat, walau kita lebih sering tak mensyukurinya.
Segala puji bagi Allah, yang senantiasa memberikan banyak kebutuhan yang tidak pernah kita pinta, walau kita lebih sering mengabaikannya—setiap harinya.
Segala puji bagi Allah, Rabb yang sedari awal tak pernah meninggalkan, yang telah hujankan kita dengan ragam kenikmatan, walau... kita baru tersadar kala kita kehilangannya.
Lagi-lagi telak kita ditampar realita, jika kita memang tak memiliki daya upaya. Semua hal yang kita anggap jaya, ternyata hanya kamuflase dari fananya keperkasaan kita.
Sepertinya memang sudah terlalu lama kita lalai, terlelap di atas pemberianNya yang tidak pernah kita ganjar dengan kesyukuran.
Sudah terlalu lama sepertinya kita abai, termabukkan di dalam kehebatan yang ternyata hanyalah tipu daya setan.
Maka, semoga kedustaan kita atas nikmatNya segera berakhir. Semoga puji syukur kita mengalir tak henti atas segala apa yang telah Allah beri.
Segala puji bagi Engkau ya Rabb, yang masih menyelamatkan dan masih berikan kesempatan. Ampuni diri kami yang lebih sering mengingkari semua ini.
Di bawah tanah nanti, apa ya kiranya yang akan tertinggal di atas sini?
Ketika nama kita nanti akan berhenti dicari. Ketika jabatan kita nanti akan ada yang mengganti. Harta kekayaan kita? Mungkin akan diberi atau bahkan dibagi-bagi.
Lalu, apa ya yang akan kita bawa ketika kita berada di bawah tanah nanti?
Akankah popularitas yang dijunjung tinggi itu akan dibawa mati? Apa mungkin segala yang dibanggakan mampu menolong diri? Kemana nanti perginya semua hal yang katanya diperjuangkan sampai mati?
Kita, sebenarnya menyadari. Ketika nanti kita pergi dari dunia ini, tak akan ada satu pun yang mampu menemani. Tak akan ada yang bisa dibawa pergi. Apa yang ada di dunia, hanya akan tetap di dunia hingga akhirat tiba.
Satu-satunya yang bisa kita bawa hanyalah amal. Amal yang bahkan kita pun tak mengetahui secara pasti, akankah ia yang menolong diri ataukah ia yang akan memberatkan hukuman kita nanti.
Maka, sebelum tanah menyelimuti tubuh kita, kembalikanlah hidup pada jalan yang seharusnya ia berada. Pada tugasnya sebagai hamba. Pada jalan yang menambah ketaqwaan. Pada jalan-jalan yang keridhoanNya tercurahkan—di sepanjang perjalanan.
Semoga ibadah-ibadah kita menjadi teman yang baik untuk nanti menemani diri ketika benar-benar telah sendiri. Semoga dosa-dosa kita Allah berkenan ampuni sebelum nanti kita dipanggil untuk kembali.
Jangan pernah sekalipun merasa aman melakukan dosa. Jangan pernah sekalipun meremehkan sekecil apapun bentuk pahala.
Ingatlah bahwa di bawah tanah nanti, penyesalan tak lagi memiliki arti. Sekali kita masuk ke dalamnya, tak ada kesempatan untuk berteriak hidup sekali lagi.
Semoga kita tak berhenti berupaya dan tak pernah berputus asa dari rahmat Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.