i) Sempat saya membaca sejarah tentang salah satu corak batik Mataram di masa Pakubuwono III, iaitu Tumaruntum. Corak batik tersebut bergambar pola bintang dan bunga yang tersusun rapi dalam grid teratur.
Dikisahkan, penciptaan batik Tumaruntum atau Truntum ini diprakarsai oleh istri Sunan Pakubuwono III, Kanjeng Ratu Kencana yang dilanda kesedihan hebat akibat ketidakmampuannya memberikan keturunan. Hal tersebut membuat Sunan kecewa sehingga ia beralih lebih memperhatikan istri dan selir-selir lainnya.
Dalam renungan kesedihan malam, Ratu Kencana dikisahkan salah satu versi pergi shalat malam untuk menenangkan hati. Selepas sembahyang, ia melihat taburan bintang-bintang di langit yang diiringi oleh aroma bunga. Kedua rangsangan indra tersebut mengilhami Ratu Kencana, maka dalam suasana kesedihan yang dalam, batik Tumaruntum tercipta sebagai ekspresi juga panjatan doa akan cinta yang bersemi kembali.
Ketekunan ratu menarik rasa penasaran Sunan hingga akhirnya tumbuh kembali perasaan cinta kasih yang hilang. Tumaruntum memiliki makna ‘tumbuh bersemi’, sehingga motif batik ini sering kali digunakan dalam upacara pernikahan.
ii) Membaca kisah penciptaan corak batik tersebut membawa saya kepada sebuah perenungan tentang ibadah dan produk kebudayaan. Saya melihat ada persinggungan antara ibadah dan kegiatan membatik; iaitu khusyu’.
Dalam istilah keagamaan, ada state of being dalam menjalankan ibadah yang dinamakan khusyu;, ia merupakan kualitas penghayatan ibadah dengan nilai-niali penyerahan diri, kerendahan hati, juga kebuatan hati. Dengan kata lain, khusyu’ merupakan kondisi tertinggi dalam penghayatan ibadah. Seperti salah satu cerita sahabat nabi ketika ia berada di dalam alam khusyu’’ beribadah dalam kondisi perang, sampai-sampai ia tidak merasakan ada anak panah musuh menancap punggung-nya.
Saya [menduga] bahwa dallam Islam, setiap kegiatan manusia merupakan kegiatan keagamaan, baik itu ibadah mahdah ataupun yang di luar itu. Dan setiap kegiatan keagamaan memiliki nilai seni, seperti khusyu’ yang merupakan salah satu bentuk dan puncak dari nilai ‘seni’ beribadah. Oleh karenanya, beribadah itu harus dinikmati, dan khusyu’ itu adalah puncak dari nilai seni ibadah.
iii) Adapun hubungannya dengan batik Tumaruntum, saya terilhami dari cerita Ratu Kencana. Kegiatan membatik yang dilakukan Ratu Kencana adalah perwujudan dari kegiatan ibadah yang khusyuk: dilakukan dengan tekun, teliti, dan penuh penyerahan diri.
Sering kali, dalam berhubungan dengan Tuhan kita berada di posisi Ratu Kencana. Kita merasa Allah terasa amat jauh, susah digapai, apalagi dirasakan. Rasanya kita sudah diabaikan, dicampakan. Dan satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah larut beribadah dalam diam, memberikan yang terbaik supaya Tuhan merasa penasaran dengan ibadah-ibadah yang sedang kita kerjakan. Dengan demikian, atas usaha yang tulus, penuh penyerahan serta kerendahan hati, Allah mau untuk kembali mendekat memberikan rahmatnya.
Sudah dua mingguan ini saya mengenakan kain jarik bercorak Truntum dalam ibadah-ibadah malam saya dalam rangka memberikan penghayatan juga corak kesenian dalam rangka meraih khusyuk itu.
Sudah satu-dua bulan ini saya merasakan sesuatu yang berat dari dalam. Saya kurang bisa menjelaskan-nya tanpa abstraksi. Sesuatu yang terasa amat berat, seperti jangkar yang karam, terjepit di antara bebatuan bawah laut. Memungkinkan kapal untuk senantiasa tidak terhempas di dalam pusaran badai yang hebat.
Namun, ketika badai surut, jangkar tersebut belum dapat kembali ditarik ke permukaan. Mengakibatkan kapal terhenti tidak berdaya. Terambang di laut lepas yang tenang, namun tidak bisa melakukan apa-apa. Padahal saya butuh untuk kembali. Untuk menyuplai ulang perbekalan, memperbaiki apa yang rusak, bercengkrama sebentar dengan sekitar untuk mengisi kembali batere sosial, menyalurkan cerita dan berita kepada yang dekat.
Terombang-ambing tak berdaya; namun berada di titik yang sama. Ada sejumlah bahan bakar untuk mencoba bergerak maju, namun tidak banyak. Ketika dipaksakan, yang ada hanya akan merusak deck kapal, juga membuat mesin kapal overheat karena daya yang tidak berubah menjadi dorongan melaju.
Jangkar harus dinaikan terebih dahulu.
Teruntuk klien-klien saya, saya minta maaf yang amat mendallam karena segalanya jadi berantakan. Saya belum kunjung dapat menyelesaikan gambar-gambar yang sebelumnya sudah dibuat perjanjian untuk diselesaikan. Sepanjang waktu saya tidak bertenaga, badan saya lesu dan berat.
Sebanyak apapun waktu dipakai istirahat tidur, sejumlah cangkir kopi ditenggak, segembira apapun musik bersentak, saya masih belum dapat mengagkat jangkar yang kian berkarat ini. Para nakhoda sedang mengeluarkan otot-ototnya untuk menarik, kapiten kapal berjungkir balik memutar otaknya, dengan segalal daya dan upaya mencari solusi untuk menarik jangkar ke permukaan.
17th of August is our independece day! which is three more days!
On indepence day we usually do several minigames as symbols of unity, fairness, cooperation and hard work. These games usually held within urban villages or neighbourhoods. People would compete for prizesss!! :>
Streets would be decorated with flags and in some areas turned into grounds on which we hold the games. Two of the most common games are ‘Tarik Tambang’ or tug of war and ‘Panjat Pinang’, a game where groups of people would compete to climb up a pole of oily palm or bamboo, on top of which prizes are hung. The prizes vary from basic household items such as pans, spoons, shoes, to something like bicycles. Though, the ultimate goal of panjat pinang is to take the flag mounted on top.
At the end of the day, everyone would be exhausted but elated! men and women are chit-chatting; laughing, kids playing around and mums preparing dinner for everyone to enjoy!