CAPEK TAUK!!!
Tulisan ini dibuat semata-mata hanya untuk pelampiasaan perasaan sesaat. Dalam kata lain, mau mengeluh atas keadaan yang terjadi saat ini. Boleh, ya!
Tahun 2020 terasa begitu berat, bukan hanya bagi saya tapi bagi hamper seluruh penduduk di dunia, terutama Indonesia. Kenapa? Baru memasuki detik pertama di tahun 2020, beberapa kota masih diguyur hujan lebat, apalagi Jabodetabek. Hal ini menyebabkan banjir besar hampir di seluruh wilayah Jabodetabek. Sama seperti tempat tinggal saya yang memang sudah jadi langganan banjir, beberapa wilayah yang cenderung “aman” dari banjir juga kebagian air melimpah seperti ini. Ingat, hari pertama di 2020, kita sudah diuji.
Terlepas dari itu, masih ada bencana alam di beberapa negara lain. Seperti kebakaran hebat yang terjadi di Australia dan gempa bumi di belahan dunia lainnya. Belum puas sampai di situ, masih banyak kejadian luar biasa lainnya yang membuat kita semua lelah, lelah walau hanya melihat dan mendengar beritanya saja.
Yang membuat kita semua merasa lelah hari ini, tidak lain adalah dampak dari penyebaran virus Corona yang menyebabkan penyakit Covid-19. Ya, virus ini baru, hingga rumus pasti untuk penyembuhannya saja sampai kini masih bisa berubah. Untuk penjelasan mengenai virus ini, you better dig in the internet.
Soal dampaknya, luar biasa luas. Jangankan untuk menulisnya, membayangkan dan merasakan yang terjadi saat ini saja sudah membuat saya lelah dan stres luar biasa. Mulai dari kebijakan WFH yang awalnya terlihat mudah dan menyenangkan. Tapi lama-lama membuat psikis ini jadi semakin miris. Kebutuhan sosial manusia untuk bertatap muka langsung mulai dibatasi.
Jujur, pandemi ini menguras hampir ¾ energi saya setiap harinya. Bayangkan, sejak SMP saya memang banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Selain sekolah, saya banyak membuang waktu saya untuk ikut ekskul, organisasi, dan memperluas pergaulan saya di mana-mana. Hal ini berlanjut hingga ke tahap kerja. Waktu saya di rumah hanya dihabiskan untuk tidur dan sesekali berinteraksi singkat dengan anggota keluarga lainnya. Dari sini saja sudah terlihat betapa pandemi ini mampu mengurung saya di rumah selama lebih dari satu bulan lamanya.
Sampai pada suatu hari saya menerima sebuah surel dari kantor yang menjelaskan akan adanya beberapa kebijakan baru selama dan pasca pandemi ini. Beberapa rekan kerja terpaksa harus menjalani cuti tanpa digaji mulai dari akhir bulan ini. Semacam pukulan hebat bagi mental saya dan beberapa rekan kerja saya. Selang 2 minggu dari surel itu, muncul lagi surel serupa yang menjelaskan kebijakan selanjutnya. DANG!!!! Pemotongan gaji bagi setiap karyawan. Mengerikan. Awalnya saya kira keputusan cuti tanpa dibayar bagi sebagian rekan kerja itu sudah menjadi mimpi buruk, dengan adanya kebijakan tambahan ini membuat mental saya tertekan. SANGAT.
Memang ada beberapa dampak positif dari adanya pandemi ini. Tapi tidak akan saya jelaskan. Saya menulis ini hanya untuk mengeluh, kok! Harapannya, menulis bisa mengeluarkan energi negatif pada diri saya supaya mulai detik berikutnya bisa berpikir lebih positif lagi.
Stay Safe.












