Aku ingin menulis. Tapi pikiranku kering, hatiku gersang, tintaku habis. Tak bisa lagi puitis.
Monterey Bay Aquarium

ellievsbear
ojovivo
noise dept.
cherry valley forever
official daine visual archive
Lint Roller? I Barely Know Her
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
art blog(derogatory)
d e v o n

pixel skylines
NASA
wallacepolsom

Product Placement

tannertan36
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

No title available
No title available
will byers stan first human second
Game of Thrones Daily
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from South Africa

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from Bulgaria
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from France
seen from Türkiye
@atulhmd-blog
Aku ingin menulis. Tapi pikiranku kering, hatiku gersang, tintaku habis. Tak bisa lagi puitis.
Mencoba menerapkan sepi ing pamrih rame ing gawe.
:)
Karena aku adalah abdi. Maka tanpa diberi imbalanpun aku akan tetap berbakti.
At the same time, at the different place and situation, someone feels happy and others feel sad.
St. Lempuyangan-Klaten 21 Oktober 2017 Menuju keluarga yang berduka
Hidup lo lebih berharga dari sekedar gesar geser layar gadget doang! Plis Tul. Kurangi intensitas ber-gadget ria
Lalu karya aku apa?
Salam Pengabdian!
Pesan Ibu Sri Mulyani dalam wisuda PKN STAN 2017: 1. Jangan pernah berhenti belajar 2. Jujurlah terhadap diri sendiri 3. Bekerjalah dengan passion 4. Berbaurlah dengan orang-orang yang berbeda
STAN Student Center, 03 Oktober 2017
Hidup ini penuh dengan kejutan-kejutan. Barangkali itu yang membuat hidup menjadi lebih menantang dengan tidak selalu membuat rencana-rencana. Meskipun tidak dipungkiri bahwa rencana juga sangat diperlukan untuk lebih mempersiapkan kemungkinan apa saja yang bisa terjadi. Dan sikap kita sendiri yang menentukan apakah kejutan itu membuat bahagia maupun terasa mengecewakan.
#satujiwa :)
[FILOSOFI EGRANG]
Jogja selalu istimewa. Pernyataan itu terdengar begitu subjektif. Namun setidaknya itulah yang kurasakan ketika singgah di Jogja. Meski pergi ke tempat yang sama, namun tidak membuat bosan, ia selalu menyisakan kenangan hangat tersendiri. Suasana yang masih tradisional, ramah, damai, kental dengan adat istiadat, aku menyukainya. Beberapa kali singgah di sana, aku selalu merasakan jatuh hati pada Jogja. Barangkali aku akan membenarkan pernyataan yg mengatakan bahwa Jogja itu terbuat dari rindu. Aku selalu merindukan untuk kembali. Haha. Dan aku berharap suatu saat bisa tinggal di sana, penempatan misalnya :) agar aku bisa mengetahui detail tiap sudut kota Jogja, lalu menikmatinya.
Terlihat ramai sekali di lapangan alun-alun kidul Jogja. Mobil odong-odong yang di desain dengan lampu warna-warni mengitari jalanan, berhamburan muda-mudi yang bercengkerama santai di tempat itu, keluarga yang menikmati kebersamaan di malam hari, tiang-tiang tinggi untuk lomba burung, pedagang lengkap dengan variasi jajanan dan souvenir, permainan menutup mata dengan melewati dua pohon beringin kembar, jika berhasil maka permintaannya dapat terkabul (permainan masangin), permainan egrang yang penuh filosofi. Oh, rupanya ini suasana Jogja di malam hari. Malam minggu ini.
Kemudian aku dan teman-teman menikmati kebersamaan kami malam itu. Di sudut lapangan alun-alun setelah menikmati se-cup ice cream yang lumer, kami iseng-iseng belajar main egrang. Kalau dibilang penyewaan, tidak juga. Sebab kami hanya diminta mengisi kotak seikhlasnya, tidak ada tarif tertentu. Aku terakhir kali bermain egrang kelas 1 SMP saat ada kegiatan pramuka. Setelah mencoba beberapa saat, akhirnya bisa juga aku melangkahkan kaki diatas egrang itu dengan lebih enjoy. Bermain egrang susah-susah gampang sih. Butuh perjuangan berkali-kali untuk bisa melakukannya, jatuh, naik, jatuh, naik lagi. Tapi kalau sudah bisa, seru bangeet. Cobain yah!
Bapak penyedia egrang tersebut mendekati kami yang sedang susah payah memainkan egrang. Cerita versi beliau mengatakan bahwa permainan egrang diciptakan oleh para wali pada zamannya sebab pada saat itu jalanan belum aspal, air kubangan ada dimana-mana, kotoran-kotoran berserakan, oleh karena itu egrang ini dibuat untuk menghindari najis. Bangga ga sih, seorang muslim yang menemukan hal itu? Kalo iya, buktikan dengan mencoba terus sampai bisa, ayeye!
Bagaimana filosofi bambu sebagai bahan dasar egrang itu sendiri? Yakni kita sebagai manusia hendaknya memberikan manfaat untuk sekitar kita, seperti bambu yang berguna untuk membuat anyaman, lincak (tempat duduk dari bambu), bambu muda untuk sayur disebut rebung, dlsb. Kita tidak pernah tau kapan ajal menjemput kita. Yang hidup pasti mati, yang ada pasti akan terganti. Oleh sebab itu, hendaknya kita memikirkan bekal apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapi kepastian itu? Istilahnya jangan sampai hidup kita sia-sia dan mati konyol. Berbuat baiklah di setiap kesempatan waktu yang kita miliki. Karena waktu tak akan kembali apalagi peduli dengan yang kita alami. Yok introspeksi!
Mengapa egrang hanya dimainkan oleh satu orang? Tidak berkelompok? Hal itu menggambarkan bahwa kita harus memiliki pendirian pada diri kita sendiri. Persaingan semakin ketat di luar sana dalam segi apapun. Kita harus bisa meng-upgrade diri kita agar dapat mengimbangi mereka. Meski harus tertatih, tapi kita tak boleh menyerah hingga bisa berdikari.
Selanjutnya, egrang dapat meningkatkan konsentrasi karena harus menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh. Juga dapat melatih percaya diri. Tidak ragu-ragu dalam melangkahkan kaki diatas egrang artinya tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Selain itu, kalau sudah bisa, kita dapat ngejek teman yang belum bisa. Ehe. Canda.
Selain itu egrang juga memiliki manfaat bagi kesehatan jasmani maupun rohani. Saat memainkannya kita seperti melakukan olahraga sebab menghasilkan keringat sehingga badan bisa bugar. Juga dapat menghilangkan stres akibat banyak aktivitas rutin yang menekan, dlsb.
Ternyata permainan tradisional selain sebagai wadah dolanan, juga menyimpan banyak filosofi dan manfaat. Yuk lestarikan agar anak cucu kita masih bisa merasakan kebahagiaan yang cukup sederhana dengan bermain egrang. Tak harus ke alun-alun Jogja untuk menikmati permainan ini. Bapak-bapak mas-mas yang kreatif seharusnya bisa membuatkan egrang untuk permainan anak-anak, adik-adik, ponakan, sepupu mereka.
Salam Rindu.
Pengagum Jogja Yogyakarta, 16-17 September 2017
Perangkap
Semua orang yang kamu benci barangkali tidak tahu tentang kebencianmu. Sementara mereka menjalani hidupnya dengan leluasa, Kamu terperangkap dengan perasaan yang menyulitkan dirimu sendiri. Kebencian itu menggelapkan hati, menggelapkan pandanganmu dari kebahagiaan.
Dan orang yang kamu cintai juga mungkin sama sekali tidak tahu tentang rasa cintamu. Sementara mereka menjalani hidupnya dan kamu tidak ada di hatinya. Kamu tertawan dalam imajinasimu sendiri, kamu kesulitan membedakan mana kenyataan dan mana angan-angan. Dan itu membuatmu tidak beranjak kemana-mana sementara ia telah melangkah jauh.
©kurniawangunadi
Kan sedih ya hahaha
Semakin banyak orang yg kita temui dan kenal, semakin banyak kesempatan kita untuk mendoakan orang lain :)
Ponorogo, 04 Agustus 2017
Don't be Ordinary
Dalam hidup ini, proses merupakan suatu hal yang patut dinikmati. Berproses menuntun kita untuk terus belajar dalam waktu yang kita jalani, di tempat yang kita naungi, dalam apapun keadaan yang terjadi, serta pada siapapun yang kita temui. Selama hampir dua pekan ini, saya menemui banyak orang baru di tempat yang baru pula. Pada saat itu tak terasa ada begitu banyak pelajaran yang dapat saya teladani, juga beberapa hal yang dapat saya hindari. Saya meyakini pada waktu yang akan datang, di tempat yang berbeda pula akan bertambah juga tuntutan pada saya untuk terus belajar. Tentunya bukan hanya belajar mengenai materi akademis, namun yang lebih dalam mengenai kehidupan.
Ada seorang pimpinan yang luar biasa kerendahhatiannya. Sebagian kecil saya paparkan dibawah ini. Apabila ada sampah yang terlihat, tak perlu lah beliau meminta anak buahnya untuk memungut. Tapi beliau sendiri yang langsung mengambilnya kemudian meletakkannya di tempat sampah. Hal ini menunjukkan bagaimana beliau tidak berlaku “bossy” meskipun beliau memang orang nomor satu dalam tempat tersebut. Apa yang dapat beliau kerjakan, akan beliau kerjakan tanpa merepotkan orang lain. Dalam memakai fasilitas kantor misal mobil dinas, beliau menggunakannya secara wajar, bahkan tidak pernah dibawa pulang apalagi memakainya untuk kepentingan pribadi. Beliau juga sering dijumpai naik turun tangga dibandingkan naik lift. Hal itu cukup menampar anak magang macam saya yang turun satu lantai saja menye-menye naik lift. Selain itu, meskipun tunjangan kinerjanya jika boleh saya katakan sangat besar, beliau tidak gengsi makan siang di warung nasi kantin maupun warung nasi di seberang kantor yang cukup sederhana itu. Bahkan saya mengalami sendiri ditraktir di warung sederhana tadi saat makan siang bersama teman-teman saya. Dalam kegiatan “morning activity” semacam apel kalo menurut saya tapi lebih santai, saya ingat pesan beliau kepada para pegawai untuk menjadi katalisator yakni faktor yang mempercepat suatu reaksi namun tidak larut dalam reaksi tersebut. Dalam hal ini para pegawai diharapkan untuk bersatu padu agar target yang ditentukan dapat dicapai dalam sedikit waktu yang tersisa. Di lain kesempatan beliau juga mengatakan bahwa jangan pernah mengatakan “saya tidak bisa…” sebelum mencoba. Berkatalah “akan saya coba…” Karena perkataan “saya tidak bisa” menunjukkan sikap mudah menyerah.
Selain diatas, saya juga menemukan orang-orang berkarakter lainnya. Ada pegawai yang mungkin terlihat brandal luarnya, tapi beliau merupakan sosok penggerak yang menghidupkan setiap even di tempat tersebut. Orang yang selalu muncul pertama sebagai penggagas diadakannya suatu acara meski dengan segala keterbatasan. Namun hebatnya tetap bisa jalan dan berhasil terselenggara dengan sangat baik dan meriah. Beliau juga jago musik, vocal, juga merangkap sebagai MC di setiap kegiatan. Walau terkadang bagi yang belum terlalu mengenal, beliau akan dianggap orang yang agak rese. Hahaha
Jika ada orang-orang yang cukup aktif dan memiliki andil besar dalam suatu hal pergi meninggalkan kita, pasti akan sangat terasa perbedaannya jika tidak ada mereka. Seperti dua pegawai yang beberapa hari lalu dilepas karena berpindah ke lain kota. Keduanya merupakan orang-orang yang keren. Mas Y yang luarnya terlihat “playboy” ternyata luwes juga pas jadi “minche” wkwkwk. Peace. Beliau orang yang humoris dan easy going. Meski usianya terpaut jauh dengan saya dan teman-teman, beliau tak sungkan untuk ikut-ikutan boomerang. Beliau juga merupakan salah satu tangan kanan pimpinan yang selalu diminta pendapatnya oleh pak kepala “Mas Y piye mas Y..” Mas Y ini orangnya multitalen. Beliau merupakan pemilik suara emas seantero kantor tersebut.
Satunya adalah mbak W. Beliau ini wanita tangguh jelita. Jika orang mengatakan beliau ini galak, tapi lebih tepat jika dikatakan tegas dan lugas. Sejauh yang saya ketahui beliau orangnya cak cek, supel, dan berwibawa. Satu pesan beliau yang saya ingat fokuslah pada solusi. Bukan pada masalah, apalagi mencari siapa yang salah. Kita bukan hendak berlomba, tapi kita menuju pada tujuan yang sama. Meski sudah cukup berumur, semangat jiwa muda beliau patut ditiru oleh kalangan anak menuju dewasa seperti saya. Salam satu nyali! Itulah slogan beliau untuk membakar semangat kami.
Selain diatas, ada juga yang saya temui memiliki sifat yang berbeda. Saya menyadari setiap orang tentu memiliki sisi baik dan buruk. Tak ada manusia yang sempurna. Pun kita juga tak dapat memaksakan semua orang untuk menyukai diri kita. Pasti ada saja yang kurang sreg. Namun bagaimana kita berusaha semampunya untuk mengurangi tabiat buruk tersebut.
Hal ini sebagai pengingat bagi diri saya yang masih tertatih mengejar ketertinggalan atas kebaikan-kebaikan. Agar semangat “dont be ordinary person, be changer” nya :)
Ponorogo, 16 Juli 2017
Di Masyarakat
Selepas lulus dan benar-benar keluar dari dunia perkuliahan kemudian menjadi bagian dari warga masyarakat, bertetangga, berumah tangga, bersosial, saya menjadi semakin banyak belajar dalam sekitar tiga tahun terakhir ini.
Sewaktu dikampus, banyak sekali bentukan label yang dibuat dan dilekatkan pada mahasiswa hanya dari apa yang dilakukannya. Saya hanya akan mengangkat satu saja dari sekian banyak, yaitu ansos (anti sosial). Label yang dilekatkan pada mereka yang tidak mau ikut dalam organisasi, tidak aktif dalam kegiatan mahasiswa dsb.
Kini saya paham bahwa setiap orang itu punya semestanya sendiri. Dan pemahaman ini hadir selepas saya masuk ke dalam wilayah organsisasi yang lebih luas, tidak hanya melingkupi kampus. Juga setelah saya masuk ke dalam masyarakat.
Orang yang tidak aktif dalam kegiatan kampus/organisasi tidak berarti dia tidak aktif sama sekali. Dulu saya mendapati kawan-kawan saya adalah orang yang banyak bekerja di lab, kalau dulu labelnya anak-anak SO (study oriented). Mereka punya keaktifan di tempat yang lain. Dan sebagaimana pengisian peran di dunia ini, mereka adalah orang-orang yang melengkapi peran-peran tsb. Dan kontribusi mereka sama sekali tidak bisa disepelekan.
Dulu saya masih dalam cara berpikir yang dangkal, mau sekece apapun peneliatannya kalau gak aktif ya akan dilabelin ansos atau SO. Dan semakin mendekati lulus kala itu, saya paham bahwa pencapaian saya secara akademis sangat biasa-biasa saja dan tidak memberikan kontribusi yang banyak dibidang ilmu pengetahuan, bahkan TA saya atau mungkin juga kita semua hanya dibuat hanya untuk memenuhi syarat kelulusan, kemudian teronggok begitu saja di perpustakaan. Tidak ada niatan untuk membuatnya benar-benar menjadi bermanfaat bagi kehidupan manusia atau alam atau apapun yang kita teliti.
Dan ketika berada di masyarakat, terjun langsung. Kita akan menemukan fakta bahwa tidak akan ada yang bertanya kita lulusan mana dsb. Tapi bagaimana sikap dan sifat kita di masyarakat itu sendiri. Apakah kita menjadi tetangga yang baik. Bagaimana kita berusaha mengenal dan saling kenal dalam satu wilayah baru semisal kita baru pindahan. Juga bagaimana kita mengambil peran dalam masyarakat itu.
Banyak dari kita mungkin merasa kaku atau kikuk ketika di masyarakat, padahal amat terkenal dan banyak teman di kampus. Kita juga enggan mengambil peran sesederhana misal jaga ronda, atau jadi bendahara RT, dsb. Dan sungguh, di masyarakat kita dihargai atau dihormati bukan dari label lulusan kita. Mereka tidak tahu apa yang kita perbuat di kampus, tapi bagaimana kita di masyarakat.
Selamat belajar menjadi warga masyarakat. Sebab sesungguhnya itulah kehidupan yang sesungguhnya, kampus terlalu ideal dan steril. Di masyarakat kita akan menemukan dinamika yang berbeda dan kita akan tinggal disana lebih lama daripada di lingkungan kampus.
Jadi sudah sejauh mana kita mengenal tetangga kiri kanan kos-kosan/kontrakan kita? Padahal sudah bertahun kita tinggal disitu, sebagai pendatang :)
Yogyakarta, 2 Juli 2017 | ©kurniawangunadi
Wah baru baca. Hari ini pertama kali PKL dan saya harus belajar (lagi) untuk beradapatasi dengan lingkungan kerja yang lebih realistis^^ Semangat lima minggu ke depan!
3 Juli 2017
Ini kali ketiga saya main sama mereka. Waaa.. Udah lama banget gak main bareng. Pertama waktu masih jadi maba miba. Yang cowo masih botak-botak yang cewe belum kenal gincu. Wkwk Gak tau jalan, naik KRL turun tanah abang, lalu naik angkot ke monas, makan popmie malem-malem disana, lewat istiqlal. Masih exited banget sama ibu kota. Kedua jalan ke Kota Tua. Makan mie ayam bareng. Pulang udh malem banget. Abis itu udah. Paling ketemunya pas kumpul arisan IKMP tiap bulan sekali. Kalo gak di jalan pulang or berangkat kuliah -.- Semua udah sibuk sama urusannya masing-masing.
Kali ini disempatin kumpul di Ponorogo sebelum tahun depan melanglang buana :’) Belum _fullteam_, karena ada beberapa yang berhalangan terutama temen-temen BDK yang sudah bekerja dan belum mudik. Alhamdulillah.. jarang-jarang saya main malem wkwkwk. Disebabkan karena rumah saya jauh dari peradaban. Lebih kurang 20 kilometer dari pusat kota. Itu artinya harus menempuh jarak sejauh sekitar 30 menit. *halah bilang aja mager :( Maaf saya masih suka keluyuran huhu.
Saya datang lumayan telat dari jam yang ditentukan. Tapi bukan yang terakhir kok *hmm tak patut dicontoh.
Oiyaa kemarin ulang tahun salah satu personil kami. Artis multitalen IKMP punya. Ledya Azizah. Tuh yang disebelah kanan saya. Anaknya kalem, cantik, pinter nyanyi, nari, main gitar & keyboard, pokonya apapun bisa😍😍 *bukan promosi, btw dia udah taken
Mereka adalah orang-orang yang saya kenal pertama kali disana. Organda (Organisasi Kedaerahan) menjadi keluarga STAN pertama yang saya kenal. Karena mereka yang mengurusi kami dari sebelum keberangkatan hingga mencarikan kos di Bintaro. Terima kasih mbak mas 💕💕 Tak terasa kemarin sampean-sampean sudah penempatan. Selamat! Semoga amanah di tempat barunya.
Setelah semua selesai, sebagian kami jalan ke alun-alun kota. Rame banget suasananya menjelang lebaran. Lalu naik kurungan manuk, begitu saya menyebutnya saat kecil😒 Terus main ke taman pemda. Tak lupa poto-poto & boomerang. Di atas salah satu hasil jepretan si gundul (wahjoe)✌✌✌ Makan tahu petis. Ngobrol sana kemari. Lalu udah malem aja. Kami berhamburan pulang. Saya mampir dulu beli jus wortel pesenan adik tergendoet. Kemudian di belakang diikuti temen saya yang jalannya searah. Terima kasih gaess💕💕
Paginya entah kena apa, mata saya belekan dan bengkak. Sampai saat tulisan ini ditulis belum juga sembuh. Semoga segera sehat kembali.
Ponorogo, 23 Juni 2017 28 Ramadhan 1438H
Ramadhan #4 : Kemudahan Kita
Saya pernah mengulas tentang hal ini ditulisan lama, saya lupa judulnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat dinanti bagi orang islam yang beriman dan bertakwa. Ada banyak keberkahan yang turun di bulan suci tersebut. Setiap orang yang saya kenal berlomba untuk menggapai setiap mili-keberkahan. Hari ini pun, jamaah subuh yang biasa saya kunjungi menjadi penuh. Kemarin malam padahal tetap seperti biasa, dua shaf.
Ramadhan ini seolah-olah setiap orang islam terlihat soleh/solehah. “Terlihat” karena memang itu yang nampak, perkara niat itu hak Allah.
Tadi malam, sepulang tarawih di Masjid Nurul Asri - Deresan, saya mampir dulu ke tempat makan untuk mencari makan malam sekaligus cadangan sahur. Saya berusaha berkaca seluas-luasnya di ramadhan ini. Saya dan mungkin begitu banyak orang memasang target besar dalam ibadah individu; baca Quran-nya lebih banyak, shalat sunahnya lebih rajin, tahajudnya lebih panjang, dan apapun yang terkait dengan ibadah individu.
Tentu ini bukan bicara tentang baik dan buruk atau salah dan benar. Saya merenung dalam perjalanan kembali ke rumah. Kalau keberkahan (dalam hal ini dalam bentuk pahala) hanya turun kepada orang-orang yang melakukan ibadah tersebut secara penuh, bagaimana dengan orang-orang yang mungkin tidak mampu bahkan tidak berkesempatan untuk itu?
Bukan karena mereka tidak ingin, tapi keadaan, kondisi, dan berbagai tuntutan hidup membuat mereka harus seperti itu. Saat kita sedang khusu’ tarawih, di luar sana ada bapak tukang parkir yang sedang menjaga kendaraan kita, di luar sana yang kita sering sekali abai dan tidak peduli, ada puluhan remaja seusia kita yang harus berjuang untuk hidup, mereka menjadi penjaga toko, pelayan restoran, dan untuk bekerja itu mereka merelakan waktu shalat tarawih berjamaah. Bahkan, pemilik tempat makan pun sengaja membuka tempat makannya di jam-jam itu (biasanya 17.00-22.00). Dan kita, sering tertawa usai tarawih ketika makan di sana atau saat berbuka puasa di tempat makan itu. Apalagi saat nanti ramai acara buka puasa bersama. Jahat gak sih?
Di saat kita begitu bersemangat menghadiri kajian-kajian dengan penceramah yang keren-keren, ada yang harus berjuang untuk hidup dan melakukan tugasnya. Para penjaga pintu kereta api, para sopir bus malam, para nakhoda di lautan, para kelasi, juga buruh-buruh bangunan dan pelabuhan, petugas pom bensin, penjaga mini market, tukang parkir, masinis, pilot, dokter dan perawat yang harus berjaga di rumah sakit, dll. Mereka berjuang untuk hidupnya juga hidup orang lain, mungkin juga untuk keluarganya di rumah. Kalau mereka semua meninggalkan tugas pekerjaannya, mungkin kita semua yang kemudian marah-marah. Jahat gak sih?
Di saat pagi kita bisa bersantap sahur, duduk manis di ruangan keluarga yang hangat, makanan yang enak. Ada di luar sana yang harus ke pasar dini hari, ada yang memasak untuk warungnya demi teman-teman yang nge-kos bisa beli makanan untuk sahurnya, dan lain-lain. Kapan terakhir kali kita berempati?
Betapa begitu banyak kemudahan yang kita miliki. Kita tidak perlu susah payah untuk memenuhi kebutuhan keuangan. Tidak perlu bekerja menjadi penjaga toko, pelayan restoran, apapun itu. Kita bisa menghadiri kajian rutin tanpa harus memikirkan hal lain. Kita diberikan banyak kemudahan untuk meraih keberkahan di bulan ramadhan ini dengan segala target ibadah individu yang sudah dibuat.
Pertanyaannya, adakah target ibadah sosial di sana? Adakah niat kita untuk ikut serta dan turun tangan membantu memudahkan orang lain beribadah juga sama seperti yang kita dapatkan? Akankah kita begitu egois, mengharapkan semua keberkahan itu menjadi milik kita semata tanpa peduli apakah itu juga didapatkan oleh orang lain?
Semoga keberkahan ramadhan itu turun kepada orang-orang yang memudahkan kita semua dalam menjalankan ibadah. Bahkan saya merasa, mereka jauh lebih pantas mendapatkan kebaikan itu. Yang jelas, Allah Maha Pengasih dan Penyayang.
© Kurniawan Gunadi
Tulisan ini adalah tulisan ramadhan tahun lalu, masih relevan hingga saat ini. Semoga tahun ini kita bisa meningkatkan kapasitas diri dan juga membantu kemudahan orang lain disekitar kita. Tulisan asli bisa di klik di sini.
Pengingat!