ANTARA EKSTREM ATAU PERTENGAHAN
“Menjadi ekstrim itu enak lho.”
Agak kaget aku mendengarnya dari bibir penulis kondang, Bapak Lili Nur Aulia saat mengikuti pelatihan menulis di kantor Adara kemarin Kamis. Benarkah? Benarkah menjadi ekstrim itu enak?
Bukan, ini bukan karena aku salah dengar mengira ekstrim yang dimaksud adalah eskrim dengan taburan chocho di atasnya karena makanan kesukaanku itu sudah pasti enak buatku. Tak perlu dipertanyakan ulang, apalagi kalau dapatnya gratisan. Makin mantap pasti. Namun karena Pak Lili jelas menyebutkan kata ekstrim di kalimat beliau seterusnya, jadi aku yakin tidak salah dengar.
Masalahnya adalah, dari sisi mana ekstrim itu enak?
Karena kalau ditilik di KBBI, kata ekstrim (yang ternyata adalah kata tidak baku, sedangkan bentuk bakunya adalah ekstrem) memiliki makna :
paling ujung (paling tinggi, paling keras, dan sebagainya)
sangat keras dan teguh; fanatik: mereka termasuk golongan -- dalam pendirian mereka
Dari definisi di atas, mungkin yang paling mendekati dengan topik tulisan yang dimaksud adalah definisi kedua, yaitu yang sangat keras dan teguh, fanatik. Nah lho, fanatik ini kan biasanya diasosiasikan dengan makna negatif karena cenderung berlebihan dalam mempercayai sesuatu sehingga seringkali dinilai kurang masuk akal saat bertentangan dengan sesuatu yang lain. Jelas ini nggak enak menurutku. Karena sifat seperti ini biasanya mendapat penolakan keras dari orang lain.
Namun, penjelasan beliau selanjutnyalah yang membuatku menganggukkan kepala setuju, sambil berkata dalam hati
“Karena menjadi ekstrim itu tinggal pilih dari 2 pilihan, mau jadi ekstrim kanan atau ektrim kiri. Kalau ekstrim kanan, gampang. Tinggal ke masjid, sholat, dzikir, puasa, gitu aja terus sepanjang hari. Sedangkan ekstrim kiri ya tinggal mabuk, zina, jadi liberalis, tak perlu agama. Enak kan? Tapi tentu kita tidak bisa seperti itu. Harus seimbang dunia akhirat. Makanya kita disebut ummat wasathiyah.”
Kurang lebih demikian penjelasan Pak Lili yang sebenarnya panjang namun hanya kuingat intinya. Inti yang membuatku memikirkan ulang berkali-kali kalimat beliau sehingga jadilah tulisan ini, yang berfungsi mengembangkan lagi gagasan beliau di pemikiranku.
Kalau dipikir-pikir lagi, jadi ekstrim kiri memang enak. Nggak perlu pusing mikir dakwah, mikir halal haram, mikir tetangga yang kesusahan harus dibantu, mikir mati mau ke mana. Nggak perlu. Suka sama lawan jenis atau bahkan yang sedang tren, sesama jenis ya mudah saja. Pacaran, sex bebas, selingkuh, tanpa tanggung jawab apapun. Bebas. Yang penting cinta katanya. Bahkan yang lebih lucu lagi UU-nya mau disahkan di negeri ini. Ekstrim memang. Masalahnya kalau banyak anak lahir di luar nikah (yang otomatis dipertanyakan masa depannya, statusnya, pendidikannya, mentalnya), penyakit HIV bertebaran, keluarga yang tercerai berai, siapa yang akan mengambil alih kepemimimpinan di negeri ini bila generasinya tak karuan begini? Asing dan Aseng?
Itu baru menyinggung sisi generasi bangsa. Belum masalah alkohol, narkoba, korupsi, ketimpangan sosial, adab, pendidikan yang carut marut, dan ekonomi yang morat marit. Biar pemerintah yang urus saja. Lha kalau masalahnya ada di pusat juga, trus siapa yang mau memperbaiki? Entahlah..
YOLO katanya. You Only Life Once. Do everything you want. Kalau keingininanmu ternyata melanggar agama? Nggak masalah. Kapan lagi bisa senang-senang?
Gimana? Enak kan jadi ekstrem kiri.
Jadi golongan ekstrem kanan juga nggak kalah enak kok. Katanya dapat surga lagi. Wiih..
Ah masa iya? Saya susah kok sholat 5 waktu, ngaji 1 juz, puasa sunnah. Susah lhoo
Enggak kok, nggak susah. Soalnya yang ngelakuin ini dari zaman Nabi Muhammad SAW sampai saat ini juga ada. Dan mereka fine aja dengan kehidupan mereka. Enjoy. Karena memang fokus mereka hanya ke situ. Tidak ada kewajiban cari nafkah untuk keluarga, membantu anak yatim dan fakir miskin, berdakwah ke masyarakat seperti Nabi Muhammad dan para penerusnya, menegakkan ekonomi Islam, syariat Islam. Yang penting mereka beribadah di masjid atau di tempat khusus mereka, sampai ajal menjemput, lalu mati masuk surga.
Hmm.. Padahal tidak semudah itu Ferguso!
Saat pelatihan, Pak Lili menceritakan tentang betapa nikmatnya beribadah di Masjidil Haram. Rasanya begitu dekat dengan Allah. Nggak pengen pulang ke Indonesia, pengennya ibadah aja di sana. Beberapa orang yang kutemui pun mengatakan hal yang sama saat mereka kembali ke tanah air. Pengennya sekalian wafat di sana dalam keadaan terbaik, menyembahNya.
Tapi sekali lagi, bukan kehidupan seperti itu saja yang Rasulullah ajarkan. Bukan tentang ibadah mahdhoh sholat, puasa, zakat saja yang wajib kita lakukan. Namun ada tugas mulia lain, yang diemban oleh setiap muslim. Yaitu melanjutkan risalah Rasulullah SAW. Menegakkan agama Allah sesuai dengan fitrah manusia, rasional, dinamis, dan elastis.
Selain 5 kewajiban utama yang ada dalam rukun Islam, muslim juga harus menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhiratnya. Tidak boleh timpang salah satu. Coba bayangkan seandainya Rasulullah dulu tidak mencontohkan tentang bagaimana bermusyawarah yang baik, bagaimana membangun tata pemerintahan yang sesuai Al Qur’an dan As Sunnah, bagaimana adab terhadap tetangga muslim maupun non muslim, tentang kewajiban menuntut ilmu bahkan bila sampai ke negara Cina, dan lain sebagainya. Mungkin kita tidak akan pernah mendengar cerita-cerita sejarah kejayaan yang pernah diraih oleh Islam.
Itulah sebabnya mengapa muslim tidak boleh berdiam diri saja dengan apa yang terjadi di tempat tinggalnya, negaranya, pemerintahannya. Apalagi bila ternyata sang pemangku tahta memiliki wewenang membuat kebijakan yang bisa menguntungkan ataupun merugikan muslim dalam menjalankan syariat Allah. Bila sudah demikian, jalan terbaik ya memang menjadi bagian dari penguasa tersebut, atau mendukung penguasa yang adil, tidak mendeskriminasi muslim.
Bukankah dalam Qowaidul Fiqhiyyah, terdapat teori bila ada dua mudharat (bahaya) saling berhadapan, maka wajib bagi kita untuk memilih yang paling ringan mudharatnya. Apalagi di zaman teknologi maju seperti saat ini. Lebih mudah memilah, menyeleksi dan memilih mana yang sesuai dengan syariat Islam dan mana yang justru menjatuhkannya. Atau kalau memang masih bingung, kurang yakin dengan kapasitas otak kita, maka condonglah dengan pilihan Ulama yang hanif dan lurus.
Karena memang hidup ini adalah tentang pilihan kita. Pilihan untuk menjadi baik atau buruk. Pilihan untuk mentaati syariat Allah atau mengingkarinya. Menjadi bermanfaat untuk sekitar atau justru benalu yang merusak. Mendukung kebaikan atau justru menggerogotinya dengan kebodohan kita dalam bersikap. Sesimple itu. Tidak ada netralitas dalam keberpihakan pada kebaikan atau keburukan.
Jadi ummat wasathiyah memang ga mudah. Itulah sebabnya kita dituntut untuk terus bergerak, berdakwah, bersinergi dengan muslimin lain untuk menegakkan kalimat tauhid. Agar seluruh makhluk alam ini merasakan betapa indahnya agama Islam sebagai agama yang membawa Rahmat bagi seluruh alam. Agar saat ditanya Allah nanti, kita bisa menjawab dengan percaya diri untuk apa saja waktu, harta, tenaga, dan badan yang telah Allah pinjamkan kepada kita.