Lagu yang mengingatkanku pada momen tanggal 1 Januari 2012

gracie abrams
Jules of Nature
No title available
Xuebing Du
$LAYYYTER
EXPECTATIONS
Misplaced Lens Cap

ellievsbear
TVSTRANGERTHINGS

Discoholic 🪩
RMH
we're not kids anymore.
NASA
🩵 avery cochrane 🩵
todays bird
Keni
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

pixel skylines
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
The Bowery Presents

seen from United States

seen from Germany

seen from Netherlands

seen from Italy

seen from United Kingdom
seen from Poland

seen from Greece

seen from Uzbekistan

seen from United States

seen from Singapore

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Poland
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Singapore

seen from Germany

seen from Japan

seen from Poland

seen from France
@autumnfairyflies
Lagu yang mengingatkanku pada momen tanggal 1 Januari 2012
Sebelum detik berubah menjadi tahun yang berbeda, di penghujung tahun ini, aku tetap merindukan #Senja .. Terima Kasih 2024...
Desem[ber]samamu..
RinduSenja
Official music video. Album .. And The Story Continues (2011) Subcribe https://goo.gl/2x6eZp Alb. ... And The Story Continues Publisher : E-Publishing Twitte...
setiap orang yang hadir dalam hidup kita, tak akan pernah terganti karena setiap dari mereka memberikan kesannya tersendiri, tak ada yang perlu dilupakan, karena menghadirkan mereka pun bukan dari kesalahan. Saya bersyukur, kalian datang dan selalu menghadirkan hal yang baik.
Menjadi kreatif bukan hanya soal tuntutan karena keterpaksaan memanfaatkan hal yang terbatas menjadi sesuatu yang lebih berguna saja, melainkan kreatif juga mengiringi sebagian hidup kita baik disaat dalam kondisi terbatas dan juga sebaliknya. Jalan apapun yang kita tempuh, kreatif menjadikan kita hidup tidak hanya melulu fokus pada efisiensi fungsi namun juga efisiensi yang diiringi dengan sentuhan lain yang membuat fungsi tersebut memiliki nilai lebih.
Bagaimana jika kita hanya menggunakan barang terbatas secara fungsi saja tanpa sentuhan kreatifitas?Dengan sentuhan kreatifitas, suatu barang memiliki nilai lebih tidak hanya sekedar fungsinya saja. Nilai ini yang belum dirasa hampir sebagian orang bukan hal yang penting. Memang, tidak sepenting fungsinya, tapi nilai tersebut membuat barang tersebut lebih berarti, lebih berkesan, dan lain sebagainya.
Kadang kreatifitas selalu disandingkan dengan “harga” yang lebih mahal, tapi bukankah kalau kita sendiri yang kreatif, kita dapat menjadikan suatu barang yang tidak ada nilainya menajdi lebih bernilai?
Kalau dengan kreatifitas kita bisa mendapatkan nilai dari sekedar fungsi, mengapa tidak?
Trust & Lies
Bertahun-tahun saya diajarkan untuk mendapatkan trust dari orang awam yang saya temui, tentu saja alasannya untuk mendapatkan data yang valid (maklum, sering bawa tugas pedoman wawancara). Eits, jangan dulu berpikir “wah, situ nyari trust karena ada maunya doang”. Tidak hanya itu dan tidak sesederhana itu, saya diajarkan untuk mengasah diri agar mudah diterima oleh orang awam sekalipun dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga keberadaan saya di antara mereka cukup “fluid”. Jangan salah, hal itu cukup sulit buat saya pribadi karena lekuk “basa-basi” tidak biasa saya lakukan setiap harinya. Saya baru menyadari beberapa tahun belakangan ini bahwa basa-basi cukup ampuh untuk mendapatkan atensi terlebih dahulu. Mengapa begitu? Sebelum, kita mendapatkan trust, saya pikir, atensi lah yang perlu dibangun meskipun sekedar basa-basi. Enggak salah kan? :)
Setelah berbagai macam basa-basi tertuang dalam sebuah pembicaraan, dan bisa dikatakan kita bisa mendapatkan setidaknya sedikit atensi, rasanya sudah sedikit lega dan kita bisa melanjutkan pembicaraan dengan orang awam tersebut, Mendapatkan atensi saja rasanya sudah cukup, apalagi bisa mendapatkan trust kedepannya, Oke, lanjut. Kita dapat mengatur gestur kita yang mencoba menunjukkan bahwa kita adalah orang yang terbuka dan bisa dipercaya untuk mendapatkan informasi, menerima sebuah cerita dan lainnya. Hal yang perlu kita perhatikan dalam tahap ini adalah respon lawan bicara. Kita pribadi yang dapat merasakan respon tersebut, nah mersakan responnya pake hati ya, karena kadang respon itu tersirat.
Jika respon tersebut positif, kita bisa melanjutkan pembicaraan atau komunikasi kita untuk lebih jauh lagi sehingga kita mendapatkan trust tersebut. Anggaplah, kita sudah mendapatkan respon dan trust dari lawan bicara dalam sebuah pembicaraan yang cukup memakan waktu, tapi, jangan salah, ada orang-orang yang perlu didapatkan trust nya dalam berkali-kali pertemuan, jadi yang sabar yaaa....
Betapa sulitnya kita membangun trust ‘dari- dan ke-’ orang lain apalagi orang awam, lantas, semudah itu kah kita bisa bilang lawan bicara kita sedang “berbohong”? Eits, tunggu dulu, jangan cepat mengambil keputusan. Orang bohong udah bisa diliat dari awal bicara, toh kita pribadi sebelumnya mencoba menunjukkan bahwa kita terbuka dan dapat dipercaya, masa semudah itu kita bisa mengatakan bahwa lawan bicara kita berbohong ketika kita sudah berusaha sampai tahap mendapatkan trust tersebut? Ayo kita bedakan dulu antara Suudzon sama mencerna pembicaraan lawan bicara. Jangan mudah curiga, kita sedang butuh trust dari lawan bicara dengan berbagai cara, jangan sampai kita rusak dengan kecurigaan yang berlebihan.
Saya percaya, ketika kita berniat baik, dan dari dalam diri kita juga membuka diri untuk dipercaya oleh orang serta memberikan usaha untuk mendapatkan trust, gak semudah itu kok orang tiba-tiba berbohong :). Kadang lebih baik tidak diberi tahu (keep silent), daripada harus berbohong loh.. Kalau berbohong jaminannya adalah rusaknya semua kepercayaan yang priceless.
Hargailah sesuatu yang priceless, bukan karena tidak berharga tapi tak ternilai harganya, layaknya “rasa percaya”. itu hanya ada dalam nilai kehidupan :) :)
masih merindukan senja....
bukan soal kudapan yang tersaji ini, karena inti dari mengapa aku ada disini adalah untuk melihat Senja dari ketinggian tertentu. Terimakasih telah merealisasikan semua ini.. :)
Selalu ada ketenangan setiap aku menatap senja... entah pada saat nya nanti apa itu akan berubah atau tidak... hanya bisa memastikan, aku selalu merindukan senja-senja yang pernah kulalui.... #Jakarta2015
mengapa aku harus 'membayar' kekhawatiran? dan menjaminkan 'waktu' untuk menunggu kepastian?
Heart Feeling
Lavandula afficinalis
Terima Kasih Banyak :)
yes, you are.... my past, my first... :)
selalu ada ruang yang disiapkan hanya untuk menyimpan kenangan, yakni kapsul waktu yang tersimpan dalam hati masing-masing
t.r.p July, 31
Definisi Bahagia
“kata orang, bahagia itu sederhana, apanya yang sederhana jika kebahagiaan itu dikejar?Mengapa harus dikejar, apa kita bisa ketinggalan bahagia?”
Bagi setiap orang pada umumnya, bahagia selalu diuntai dalam kata-kata bernafaskan harapan, seakan-akan bahagia itu belum didapat dan semoga segera didapatkan. Ada yang salah? tentu tidak. Mengapa bisa begitu? karena pada dasarnya ada sebagian orang yang menempatkan kebahagiaan sebagai tujuan, atau sesuatu yang harus dikejar, dan juga sebagian orang ada yang menempatkan kebahagiaan sebagai sesuatu dari apa yang sudah didapatkan.
Pengalaman hidup menjadi dasar bagaimana “definisi bahagia” setiap orang terbentuk. Setidaknya dari dalam diri saya pribadi, salah satu hal yang membuat bahagia adalah dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang menambah atau memperluas wilayah jelajah. Dengan basic menambah isi kamus “keruangan", maka setiap perjalananya akan memperkaya pengetahuan keruangan dengan semakin banyak tempat yang dikunjungi.
Nah, kembali lagi pada istilah “bahagia itu sederhana”, dimana sederhananya? Sederhana tergantung pada sumber-sumber kebahagiaan itu sendiri. Apakah kita menyadari sumbu-sumbu yang menyalakan setiap percikan rasa bahagia?jika belum ada, muungkin karena kita terlalu jauh berpikir bahwa satu-satunya alasan bahagia adalah karena hal yang besar saja. Hal tersebut dapat menjadikan manusia melupakan sumber-sumber sederhana yang sebenarnya sudah membuat seseorang itu bahagia. Mengapa harus sibuk mencari hal besar jika hal kecil di depan mata sudah membahagiakanmu? Kuncinya adalah bersyukur sehingga kita bisa lebih peka terhadap sumber-sumber kebahagiaan itu tanpa harus repot mencari hal besar.
Bagi sebagian orang lagi, bahagia bisa bersumber dari “membahagiakan orang lain”. Jika bingung mendapatkan kebahagiaan, coba saja, “bahagiakanlah orang-orang yang membutuhkan kita”, spontan dengan kita membahagiakan orang lain maka kita bisa ikut larut dalam kebahagiaan itu sendiri.
Ayo dicoba, bahagiakan diri sendiri dengan membahagiakan orang lain, jadi double manfaatnya. Selamat mencoba :)
Memanusiakan Manusia
DENGAN berubahnya transaksi bisnis, percepatan perubahan, dan berbagai perkembangan teknologi, urusan etika dan sikap kerja seolah kurang mendapat perhatian. Terkesan bahwa etika bukan lagi hal yang penting untuk dibicarakan. Kita seperti kurang tergugah untuk memikirkan dasar-dasar etika dalam bertindak. Kita mengelu-ngelukan mereka yang bersalah dan menghujat orang yang bertindak benar. Namun, cara kita menghina atau mengelu-elukan mereka pun juga tampak tak peduli etika.
Kita lupa bahwa perilaku kita dalam bertindak, bereaksi, menegur, dan mengoreksi bisa juga merendahkan atau meninggikan martabat kita sebagai manusia. Bagaimana dengan tempat kerja? Apakah tempat kerja, yang tengah digeruduk oleh para milenial, juga beranggapan bahwa etika tidaklah penting? Apakah pencapaian financial menjadi prioritas utama dan satu-satunya? Sejenak kita perlu bertanya, hasil macam apakah yang akan diciptakan atau diinovasikan oleh individu-individu maupun organisasi yang tidak memedulikan etika?
Belakangan ini, EXPERD yang dikenal sebagai sekumpulan ahli ilmu manusia kebanjiran permintaan pelatihan ataupun riset terkait perbaikan sistem pengelolaan manusia. Para pemilik perusahaan dan manajemen puncak mulai menyadari adanya hal-hal lain selain aspek kognitif yang dibutuhkan untuk mengembangkan organisasi. Seberapa pun ahlinya individu, bila ia tidak memperhatikan perilaku dan etikanya, pada suatu saat ia dan juga organisasinya akan menghadapi kesulitan.
Etika sebetulnya memang dibuat manusia. Etika adalah standar acuan atau tidak baiknya tindakan seseorang, dengan mempertimbangan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih luhur seperti keadilan, kejujuran, penghormatan pada sesama manusia, kesehatan lingkungan, dan hal-hal lain yang lebih luas dan lebih tinggi. Namun, dengan adanya perbedaan pandangan antargenerasi, termasuk dalam penghayatan etika bisnisnya, pengabaian terhadap nilai-nilai luhur ini kemudian menjadi problem yang serius. Sudahkah kita memikirkannya?
Urgensi pemikiran etis
Kita sekarang dihadapkan pada berbagai tontonan yang menyeramkan. Plagiarisme tanpa rasa malu, sadisme kejahatan yang terekam kamera, dan senyum semringah para koruptor di media, membuat diskusi publik menjadi ramai dan dipenuhi perang komentar. Namun, pernahkah kita bertanya: apakah saya sendiri juga menjunjung tinggi etika dalam bekerja, dalam berinteraksi di organisasi, ataupun dalam berkomunikasi di media sosial?
Sehebat-hebatnya prestasi dan produktivitas, bila tidak dibarengi dengan sikap dan etika yang relevan, dampak negatif nya akan dituai di kemudin hari. Orang-orang yang tidak menjaga sikap dan etikanya di lingkungan organisasi sudah pasti adalah orang-orang yang tidak peka, terutama dalam memersepsi lingkungan sosialnya. Mereka tidak tahu bahwa orang lain bisa tersinggung oleh percakapannya, merasa dirugikan karena dijelek-jelekan, ataupun tidak menikmati suasana bekerja lagi. Sikap sangatlah bisa memengaruhi suasana kerja.
Sebenarnya apa dampak yang paling signifikan pada organisasi yang tidak memikirkan etika para anggotanya? Pada saat tejadi perubahan, organisasi ini akan sulit bergerak. Benak para individu tidak lagi alert. Ketidakwaspadaan ini disebabkan karena orang tidak terbiasa untuk memikirkan hal-hal di luar dirinya, termasuk organisasi. Pikirannya terpusat pada keselamatan dan keuntungan dirinya saja.
Urgensi mengejar harkat yang lebih tinggi
Di mana-mana kita menyaksikan berbagai bentuk tindakan tidak etis seperti korupsi, tertidur di dalam rapat, adu jotos di dalam persidangan, atau orang yang mendadak “lupa” akan ikrarnya. Orang-orang yang jujur, berintegritas, dan bertindak lurus menjadi sehingga kelihatan bersinar dibanding yang lain. Ini adalah timing terbaik bagi kita untuk meningkatkan daya saing di antara mereka yang sama-sama pintar, berpendidikan, dan berpengalaman. Nilai-nilai apakah yang bisa membuat kita stand out dibandingkan kebanyakan orang?
Pertama-tama, keterandalan. Kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah selama ini kita bisa mewujudkan apa yang kita katakan dan janjikan? Apakah kita bisa men-deliver hal-hal yang diharapkan orang lain? Demikian pula dengan dedikasi. Kita juga sudah jarang membicarakan isu ini. Kita seolah hanya menjadi penonton dari kisah-kisah para heroes yang mendedikasikan dirinya di pelosok-pelosok desa untuk menolong orang melahirkan, membantu anak-anak belajar, dan menyelamatkan lingkungan. Namun, kita lupa bahwa sebagai profesional, politikus, atau pekerja pabrik, kita juga bisa menampilkan dedikasi yang tinggi. Dalam berkarya bagi organisasi sesungguhnya kita tengah dilatih untuk berpikir tentang “kita”, bukan hanya “saya”.
Marilah kita berupaya untuk menjadi orang yang tidak hanya pandai berdiskusi dan memecahkan masalah, tetapi juga mau memikirkan orang lain, menunjukan dedikasi dan keterandalan, serta berpikir besar bagi organisasi tempat kita berada. Etika memandu tindakan, cara berpikir, dan cara bereaksi kita terhadap sesama. Kekuatan kognisi saja tidaklah cukup untuk menciptakan kesejahteraan bagi semua. Dunia ini membutuhkan manusia-manusia yang mampu menunjukkan respek, kooperatif, dan memikirkan hal-hal penting yang lebih besar dan lebih luas daripada dirinya sendiri. “You are personally responsible for becoming more ethical than the society you grew up in”. Eliezer Yudkowsky. Jangan lupa, etikalah yang membedakan kita sebagai manusia dari semua makhluk yang ada di muka bumi ini.
KOMPAS, 15 Juli 2017
Kalimat-kalimat yang disuguhkan oleh Saudara Fahru cukup tegas dan memberikan gambaran umum yang nampak di sekitar kita. Sebagai manusia yang mencoba memanusiakan manusia, maka tidak ada salahnya berpikir “beyond our own bussiness” yakni membangun kondisi atas nama “dari kita dan untuk kita” sehingga kedepannya tidak hanya membanggakan diri sendiri atas hasil yang didapat tanpa mengapresiasi jerih payah orang lain, dan juga tidak hanya sepenuhnya menyalahkan orang lain atas masalah yang dihadapi tanpa melihat bahwa diri sendiri mungkin berkontribusi atas masalah tersebut. Mari mulai menjaga etika yang relevan, respek, kooperatif dan kepekaan terhadap lingkungan sosial seperti yang telah diucapkan oleh penulis. Terima kasih atas tulisan yang sangat menarik ini. :)
Dalam menciptakan sebuah Momen, ada harga yang harus dibayar, tapi bukan dinilai dengan uang.. beyond that matters, ada waktu yang harus diluangkan, ada kesempatan yang harus disediakan, ada makna yang harus disampaikan, lalu hasilnya? Kenangan dan Pengalaman yang tersimpan dalam kapsul waktu..
Kompromi Pada Diri Sendiri
Mendengar istilah “kompromi” sedikit tak biasa dalam keseharianku sebelumnya, namun setahun terakhir ini, kata “kompromi” seperti sudah banyak kujumpai. Sebelum jauh membicarakan soal “Kompromi”, kita bedah terlebih dahulu, apa sih sebenarnya kompromi itu?
Kompromi pada dasarnya merupakan upaya untuk memperoleh kesepakatan di antara dua pihak yang saling berbeda pendapat atau pihak yang berselisih paham. Nah, jika hanya dilihat dari terminologinya secara umum, kompromi seperti sesuatu yang sederhana terucap namun sulit untuk dijalani, Mengapa? karena dalam kompromi, hal yang perlu dicatat adalah membutuhkan 2 unsur penting yakni kedua belah pihak. Kompromi tidak akan berjalan jika hanya salah satu pihak yang berupaya menjalani sebuah kesepakatan. Eits, tahan dulu rasa kritisnya, mari kita mulai dengan kesepakatan.
Kesepakatan setidaknya merupakan tujuan ketika kita melakukan kompromi dengan pihak lain. Jika kesepakatan sudah terbentuk, setidaknya kedua belah pihak sudah melewati yang namanya proses kompromi. Namun, bisa jadi menjalani kesepakatan bersama tidak semulus yang diharapkan, karena apa? Karena selain kita harus berkompromi dengan pihak lain, kita juga harus bisa berkompromi dengan diri sendiri.
Baiklah, mari kita straight to the point. Kadang, ada kalanya ketika kita menjalani kesepakatan dengan seseorang terbesit sedikit rasa kecewa “Kok gini sih, saya sudah melakukan a,b,c, tapi dia nya gak komitmen nih sama kesepakatan..”. Mungkin saja pihak lainnya merasa sudah melakukan kesepakatan tersebut sesuai dengan standarnya. Rasa kecewa atau pertanyaan-pertanyaan tersirat dalam batin yang muncul tersebut mungkin dikarenakan diri kita belum bisa berkompromi dengan diri sendiri. Menekan rasa perasaan tersebut adalah dengan berusaha berkompromi dengan diri sendiri bahwa setiap menjalani kesepakatan juga ada masa up & down nya. Semua proses tidak begitu saja mulus untuk mencapai tujuan. Dari setiap naik turunnya proses menjalani kesepakatan itu, ada hal yang lebih berarti, yakni menikmati setiap prosesnya. Dari situlah kita mendapatkan sumber-sumber pendewasaan yang tanpa sadar kita sedang menjalaninya.
Semua orang tidak ada yang ingin tidak mencapai tujuan. Jika tujuan dirasa sebagai satu-satunya hal yang sempurna untuk dicapai, maka kita hanya akan mengejar kesempurnaan tanpa melihat apa yang terbaik untuk diri kita. Hal tersebut yang sering kali dilupakan ketika seseorang hanya mengejar yang sempurna sehingga melupakan hal yang terbaik. Oleh karena itu, kembali pada diri kita masing-masing, sebenarnya, apa yang kita sedang cari?
Mari kita berkompromi dengan diri kita, baik sebelum atau sesudah “memilih” pada saat menjalani kesepakatan dengan pihak lain. Ingat, kesepakatan bukan soal yang memimpin dan yang dipimpin, kesepakatan diajalani bersama dan beriringan (kedudukannya setara). Mungkin dalam menjalani kesepakatan masing-masing pihak punya cara yang berbeda, namun selama tidak melawan arah, hal tersebut masih dapat dimaklumi. :)