274
Nak, ini kali pertama ayah dan ibu hidup. Kamu pun juga. Kita sama-sama berdiri di tepian waktu yang baru saja lahir, dengan tangan gemetar menggenggam hari-hari yang belum pernah disentuh. Kami berjalan di lorong-lorong waktu yang belum pernah kami kenali, menerka-nerka arah di antara dinding yang terus bergerak. Dunia ini luas dan asing, Nak, lebih luas dari yang kami sangka, lebih sulit dari yang pernah kami bayangkan, penuh tebing curam yang tetap saja kami daki meski dengan kaki yang sering goyah. Kami melangkah di atas peta yang tak pernah digambar, dengan separuh yakin dan sisanya ragu yang menuntun. Setiap pilihan adalah lembar kosong yang kami coretkan tanpa panduan. Setiap keputusan adalah benang yang diulur, sering kusut, sering terputus, dan kami mencoba menyambungnya dengan hati yang tak pernah utuh.
Nak, kita sebetulnya sama saja, hanya kami lebih dahulu menjalani detik demi detik pertama. Kami tak lebih tahu dari dirimu, Nak. Waktu hanya memberi kami lebih banyak kesempatan untuk keliru, untuk mengulang, untuk mencoba lagi. Detik-detik yang kamu lihat di mata kami adalah cermin; bayangan dirimu yang suatu hari akan berdiri seperti kami, menatap kehidupan dengan langkah yakin dan ragu yang boleh jadi serupa. Kami berjalan sedikit di depanmu, bukan karena kami tahu arah, tapi karena kami ingin kamu punya jejak untuk memilih—mengikuti atau meninggalkannya.
Maafkan kami, Nak, jika kami masih bodoh dalam menghadapi hidup ini. Kebodohan kami adalah tanah yang keras dan kering, di mana benihmu kami tanam dengan doa-doa yang sebetulnya belum selesai kami pahami. Tangan kami bukan pengrajin mahir; mereka kasar, sering salah menakar. Kadang kami membangun dinding yang tinggi namun masih sering lupa menutup pagar. Bagaimanapun, apa-apa yang kami beri meski baru sedikit saja, adalah kasih sayang yang berusaha berbentuk, meski sering tak sempurna—kadang terlalu penuh hingga meluap, kadang terlalu sedikit hingga kering. Pada akhirnya kebodohan kami adalah cinta, yang tak takut salah, yang tak malu jatuh, karena kami tahu setiap jatuh adalah pelajaran yang mendewasakan kita bersama.
Nantinya, mekarlah kamu, Nak, lebih wangi daripada ayah dan ibumu. Kami tak lebih dari sekadar akar, menancap dalam gelap, tak terlihat oleh langit. Tapi kamu adalah kuncup, yang mengangkat kepala kecilmu ke arah matahari, menyerap cahaya yang tak mampu kami gapai. Angin akan berhembus padamu, lebih kencang dari yang pernah kami tahu. Hujan akan jatuh di kelopakmu, lebih deras dari yang pernah kami rasa. Tapi percayalah, Nak, kamu akan tumbuh melampaui kami. Wangimu akan memenuhi ruang-ruang yang kami tinggalkan kosong, memeluk cakrawala yang hanya kami pandangi dari jauh. Warnamu akan menari di tempat yang hanya bisa kami bayangkan. Biar kami jadi pijakan atas puncak manapun yang kamu tuju, jadi batu kecil di dasar gunungmu, asalkan bisa menjadi setapak pertama bagi langkah-langkahmu yang suatu hari akan menggapai awan meski mungkin saat itu kami pergi lebih dulu.
Terima kasih sudah hadir di dunia, Nak. Jadilah hidup dan bercahaya.









