(gak usah dibaca, panjang banget…)
Tuhan selalu punya plan B. Maka jika Warteg langganan tutup, perut akan kompatibel secara alamiah menerima Indomie goreng sebagai makan malam.
Riset menunjukkan Indomie goreng yang medok, tidak siap disantap secara mental. Sementara Indomie goreng yang kekenyalannya statis, sudah ikhlas dan berserah untuk disantap.
Indomie goreng bermazhab Archimidesisme, diberi wejangan “fa > w”, sehingga dapat meminimalisir panas dari dasar panci dan tidak menjadi medok yang merupakan aib.
Pacaran kadang seperti masak air untuk Indomie goreng, baru juga 1 menit tapi sudah merasa suami-istri.
Dan azab terberat bagi Indomie goreng yang medok adalah yang dicampur dengan dedak untuk pakan ternak. Di akhirat kelak, jadi cemoohan Indomie goreng lain.
Fakta Terbaru: Cabe-cabean pun menjangkiti Indomie goreng, tapi bungkusnya tidak gemez, jenisnya Indomie goreng cabe ijo.
Yang masih misteri adalah Indomie goreng soto. Masih diselidiki kemungkinan Indomie goreng tersebut punya selingkuhan di daerah Kudus.
Penyajian Indomie goreng yang lentur tanpa kuah dan teksturnya lembut seperti Fluida menginspirasi Fisikawan merumuskan Teori Perpindahan Kalor secara Konveksi.
Indomie goreng disinyalir juga makanan paling suci. Karena dalam semua kitab agama samawi, tak disebutkan ada nabi yang pernah makan Indomie goreng.
Seharusnya para perempuan belajar pada Indomie goreng yang penyajiannya tidak ribet, sehingga kaidah kata “Perempuan” menjadi hal se-sempurna-nya kesederhanaan dalam hidup yang fana. –
Indomie goreng sebagai upaya mendistorsi perasaan. Terkesan diskriminasi dengan melegitimasi bahwa yang digoreng lebih “kasih” daripada soto yang “sayang”. Apalagi dengan mengaitkan Mazhab Archimidesisme tanpa pembuktian teori, alih-alih sebagai wacana hipotesis tak berdasar dan salah konteks. Sejak zaman baheula, Indomie atau sebutan lain dari istilah generik yang merujuk pada mie instan. Dalam catatan sejarah, Indomie (berkuah) dengan aneka variasi hadir lebih dulu di Indonesia, baru kemudian Indomie goreng hasil eksperimen dan sudah terbukti kebenaran kelezatannya. Tapi ini lain soal, ada teori bantahan mutakhir di zaman pra-kambrium sekarang ini, bahwa Indomie adalah makanan yang selalu membuat manusia selalu merasa lapar, ia akan menggeliat seperti kangen yang diburu waktu, di uraian di atas samasekali tidak dijelaskan.
Perempuan selalu benar, lelaki selalu salah.
Balasan A untuk Sanggahan si C:
Perempuan merupakan makhluk yang unik, seperti bentuk segulung mie. Seluruh unsur kerumitan adalah kelindan bahasa tubuh dan bahasa lisannya tersusun sebagai kesatuan yang filosofis dan sufistik. Mengundang keintiman walau cuma berjabat tangan. Maka dari itu perempuan selalu menyodorkan sebuah filsafat, bagaimana lelaki dibuat kepayang oleh keyakinan, sikap, keraguan, kecemasan, kemarahan, kejengkelan, atau nuansa main-main terhadap maut.
Diam perempuan memng selalu bernada cemas, mengisyaratkan sebuah dunia baru yang membukakan sebuah peta. Kerja naluri lelaki adalah kerja yang penuh ketulusan membaca tanda, usaha yang mirip dikerjakan seorang Arkeolog, dengan membongkar seluruh mitos, penguasaan telik sandi, pemahaman terhadap sejumlah makna. Dan tentu, perempuan tak sekadar itu saja, kadang ia menyelusup ke dalam sunyi, walau pun sekadar lirih, gumam yang mambang, tak terdengar, namun merasuk ke dalam hati. Seperti halnya bumbu Indomie yang sedikit itu, namun meninggalkan aroma yang sedap pada indera penciuman dan perasa yang dirahmati lapar.
Balasan A untuk Sanggahan si B:
Ditilik dari penemuan mie pada zaman Dinasti Han di Qinghai, negerinya Andi Lau itu. Mie tercipta atas dasar keraguan perasaan menyikapi diam. Dan hukum Archimides yang benda melayang itu, adalah satu dari sekian banyak distorsi yang disebabkan oleh kangen. Tak ada makanan yang mengenyangkan, sebab hakikat makan adalah berhenti sebelum kenyang. Ini persis seperti mencintai seorang perempuan, tak ada kangen yang menyehatkan selain cinta yang belum sempat terucapkan.
Ini penjelasan kangen dengan menggunakan Logika Semantik ala Trotski dengan tabel TT
1. Jika p cinta yang belum dinyatakan, maka q tidak kangen. [ p (T) 🔜 q (F) ], berarti proposisi majemuk yang menggunakan operator implikasi material adalah salah. Maksudnya: jika anteseden (p) terbukti benar belum menyatakan cinta dan konsekuen kangen (q) terbukti salah. Artinya tidak ada hubungan kausalitas antara p dan q. Aturan ini berdasarkan prinsip kondisi yang tanpa kehadirannya suatu peristiwa tertentu sebagai akibat tidak terjadi.
2. Jika p mungkin kangen, maka q menunggu dinyatakan cinta. [ q (F) 🔜 p (T) ], berarti proposisi majemuk yang menggunakan implikasi material adalah benar. Maksudnya: jika anteseden (q) terbukti benar, maka proposisi itu benar. Artinya ada hubungan kausalitas antara p dan q, meski sebabnya (p) tidak cukup untuk membuat akibat (q) terjadi, karena mungkin ada sebab lain yang belum ditemukan. Aturan ini berdasarkan kondisi yang cukup (sufficient condition) dalam logika empirisme, yaitu kondisi yang memungkinkan suatu peristiwa, sebagai akibat akan terjadi.
3. Jika p cinta, maka q kangen. [ p (T) 🔛 q (T) ], berarti proposisi majemuk yang menggunakan implikasi material adalah benar. Maksudnya: jika anteseden (p) terbukti cinta dan sudah menyatakannya dan diterima, sudah barang tentu konsekuen kangen (q) terbukti benar, maka proposisi itu benar. Artinya ada hubungan kausalitas antara p dan q. Aturan ini berdasarkan prinsip kondisi yang perlu dalam logika empirisme, sama seperti poin kesatu. Selain itu, dalam logika kausalitas, perli diperhatikan sebab yang jauh atau tidak langsung (remote cause) dan sebab yang dekat atau langsung (proximate cause).
Dalam psikologi, perihal proyeksi Freud. Kecenderungan manusia tak sadar melindungi dirinya dari perasaan-perasaan dengan menyalahkan orang lain mengenai kesulitan dirinya sendiri yang tidak baik. Proyeksi merupakan usaha untuk menyalahkan orang lain mengenai kegagalannya. Kita sama tahulah, sastrawan Rusia, Paman Dosto (biasa saya menyebutnya) mengatakan: kami tak bahagia, tapi kami tak mampu berhenti saling mencintai. Semakin tidak bahagia “kami”, semakin kuatlah daya tarik cinta kami.
Balasan A untuk Sanggahan si B:
“Makna (illahiah) senantiasa ditentukan oleh konteks artikulasi,” begitu kata Volosinov.
Pemahaman yang sangat terbatas dalam melihat kaitan antara teks berisi kangen dan relasi asmara, bahwa teks menyembunyikan ketidakinginan atau relasi asmara tersembunyi di dalam teks, didasarkan pada perspektive Cultural Studies yang memahami budaya sebagai teks dan praktik hidup sehari-hari (praktik budaya). Teks berisi kangen dan juga praktik budaya (bertemu menunaikan kangen) tidak dijamin secara pasti oleh tujuan-tujuan asmara. Akan tetapi makna (illahiah) itu senantiasa merupakan akibat dari tindakan “artikulasi” (sebuah proses ‘praktik produksi’ yang sifatnya aktif). Proses ini disebut artikulasi karena harus diekspresikan dalam konteks yang spesifik, dan di dalam sebuah wacana yang spesifik. Dengan begitu ekspresi selalu dikaitkan dan disesuaikan dengan konteks.
Teks dan juga praktik budaya itu bersifat “multiaksentual”, yakni bisa diartikulasikan dengan aksen yang berbeda oleh orang yang berbeda dalam konteks yang berbeda untuk tujuan politis yang berbeda. Oleh karena itu, makna illahiah merupakan sebuah proses produksi sosial dan di situ merupakan tempat yang potensial terhadap konflik. Dengan demikian, teks berisi kangen merupakan rumah 'inkoporasi’ dan 'resistensi’, tempat hagemoni hubungan asmara dimenangkan atau dikalahkan.
Jika setiap persoalan kita begitu mudah menakar sesuatu ini-itu (katakanlah, solusi) lebih baik atau lebih perlu dari yang dibutuhkannya, berarti kita menolak hukum kemungkinan peristiw-peristiwa tak terduga yang diselenggarakan semesta… Kita bisa saja mengatakan, cinta itu, yang rumit adalah tafsirannya. Semua selesai, meski belum menemu kata “selesai”, kita berhenti berpikir karena sadar bahwa kita sebetulnya tidak mau menerima penjelasan itu saat ini, mungkin lain waktu di saat benar dibutuhkan. Barangkali, penjelasan Neruda memang benar dijadikan bahan pertimbangan kini, hanya karena kita menafsirkannya secara harfiah lagi dangkal dan sempit berpikir. Yang terjadi adalah penolakan terhadap semua unsur-unsur takdir itu sendiri.
Relasi terjadi karena ketidakseimbangan antara ini dan itu (kangen dan cinta). Ia ada karena sebab-akibat, tidak berdasar praduga dan prakira yang mengedepankan investigasi atau penyelidikan yang hanya menghasilkan nihilisme. Sebab-akibat digerakan oleh rasa ingin tahu, rasa ingin tahu digerakan oleh gelisah, gelisah hadir karena kita memang makhluk yang berpikir… Alangkah mengharukan, pemaknaan artikulasi dengan mengkontekstualisasikan demi kekuasan di puncak asmara. Ya, kehendak bebas sering dilakukan oleh manusia, yang disebabkan oleh kenyataan, ia menganggap intusisi alam akan menggagalkan apa yang sudah ia bangunkan di dalam dirinya, yaitu perasaan. Andai kata ia berpegang teguh pada dalil Phytagoras, sehingga dirinya merasa ada kepastian yang perlu dan sangat menenangkan dirinya, jangan kira ini semata membohongi diri sendiri. Tentu tidak. Dalil Phytagoras menegaskan, kita butuh diam bukan karena menyembunyikan perasaan, tapi karena kita tahu membuka perasaan adalah hal tak terbantahkan demi puncak kangen yang dahsyat dan cinta yang meluap. Berangkat dari situ, kita melatih diri dan uji kesabaran sebelum pada akhirnya, kita hanya akan menjadi Filsuf yang merasakan cinta dan tahu tidak bisa memiliki karena sangat mencintainya.
Balasan A untuk Sanggahan si B:
Mendadak puisi WB Yeats berputar di kepala…
kalau kita tua, lusuh, dan pengantuk terkantuk-kantuk di samping perapian, ambil buku ini baca pelan-pelan dan khayalkan sebuah tatatapan lembut yang dahulu milik matamu juga, yang berlekuk begitu dalam
berapa banyak yang pernah mengagumi saat-saat ceriamu dan mencintai kemolekanmu dengan genggam cinta murni atau palsu namun bagi putih jiwamu hanya seorang yang mencintai hingga ujung duka derita di wajahmu yang tak muda lagi
sambil membungkuk di samping api membara gumamkan sedikit sedih, bagaimana cinta pun terbang dan melayang di atas gunung tinggi jauh di sana dan menyembunyikan mukanya di antara rimbun bintang
Kekasih bekerja dengan cintanya. Kita kerapkali menganggapnya sebagai peristiwa cinta. Cinta mungkin gugur, tapi tidak peristiwanya.
Dan buat saya, di dalam teori tentang pengenalan hasil konsepsi Plato mengenai pra eksistensi jiwa, fungsi rasional adalah penentu kebijakan, canggung dan terbata, tidak lebih baik dari biasa saja (dengan kata lain, menemuinya langsung dan berdialog). Plato sangat menganjurkan untuk tidak menganggap dunia itu jahat: dunia ide juga dunia inderawi. Justru kata Plato, dunia harus diatur oleh manusia. Karena itulah entitias melekat di dalam diri manusia, jika memang ia ingin membuktikan kebenaran entitas menuju benar. Ia harus berani menerjang rimba kangen.
Balasan A untuk Sanggahan si B:
Salah satu yang tidak dibahas oleh Plato adalah “Malu”, sedangkan bukti empirik dari kangen adalah baper.
Segalanya bertanam dari kedongkolan yang berbuah kangen. Begitulah, perempuan adalah sekumpulan ilmu pengetahuan, darinya kita tahu bahwa yang “kasih” dan yang “sayang” itu setarikan napas dengan rasa kangen.
Tuhan bersama orang baper yang gengsi bilang kangen.