Mengapa cinta harus terlarang begini?
Haruskah kulepaskan atau kupertahankan?

izzy's playlists!

shark vs the universe
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
No title available
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Janaina Medeiros
we're not kids anymore.

★
Sweet Seals For You, Always
noise dept.

#extradirty

Kiana Khansmith
macklin celebrini has autism

Love Begins
styofa doing anything

⁂
Today's Document
Cosimo Galluzzi
trying on a metaphor
he wasn't even looking at me and he found me

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from Australia

seen from Italy

seen from United States

seen from Germany
@azialrizki
Mengapa cinta harus terlarang begini?
Haruskah kulepaskan atau kupertahankan?
Seperti langit senja,
Nan tenang dari kejauhan.
Tapi menyimpan warna-warna kehilangan yang tak pernah benar- benar hilang.
Tentang Rumah
Aku berada di atas tanah antah berantah.
Merengkuh sunyi, mengais rindu diantara lelah di negeri orang.
Aku bukan pribumi, juga tak dikenal sebagai pendatang.
Ingin ku pulang, tapi janjiku masih terikat disini.
Meminta izin dua tiga hari lalu pergi lagi.
Datangku bagaikan tamu, rumah terasa asing bagiku.
Seperti makam waktu yang terlupa, meninggalkan debu-debu pencerita kisah lama.
Jeda telah usai, kembali ku ke negeri orang.
Harus ku kemanakan amarah ini?
Kepadamu, sudah tidak ada gunanya.
Kepada diriku, terlalu kejam rasanya.
Jadi ku biarkan ia duduk sebentar.
Hingga lelah menjadi api,
Dan belajar menjadi abu.
Anehnya, aku masih melihatmu sebagai orang baik.
Mungkin karena aku pernah melihat betapa kerasnya kau berjuang.
Aku pernah percaya, bahwa luka akan membuat seseorang lebih lembut.
Aku tahu, hidup tidak selalu mudah bagimu.
Aku tahu, ada hal-hal yang pernah menyakitimu.
Mungkin itu sebabnya aku tidak pernah mencurigaimu.
Aku kira, orang yang pernah merasakan sakit, akan lebih hati-hati saat memegang hati orang lain.
Aku kira, jika dunia membuatmu terluka, Setidaknya ... Kamu tidak akan melukai orang lain.
Namun ternyata, aku juga harus belajar Kecewa darimu.
Dan untuk waktu yang lama, aku terus memikirkannya, "kenapa?"
Tapi barangkali, tidak semua kecewa datang untuk dijelaskan.
Tapi aku tidak ingin kecewaku, mengubah caraku memandang manusia.
Karena aku tahu, betapa mudahnya luka mengubah seseorang menjadi pahit.
Jadi mungkin, aku memilih mengingatmu dengan lebih utuh. Tentang hangat dan kebaikanmu.
Dan mungkin itulah sebabnya, setelah semua ini aku masih melihatmu sebagai orang baik.
LALU
Aku datang lagi, setelah sekian tahun lamanya.
Kau tahu? Butuh beberapa waktu sampai aku menginjakkan kakiku disini?
Ditempat yang sama terakhir aku datang memelukmu.
Kenapa kau memperlakukan ku seperti ini?
Apa begitu sakit ketika melihat ku pergi?
Sehingga kau hapus kita dalam kenangan ini.
Apa seperti ini caramu menghukum diriku?
Apa tidak terpikirkan olehmu, bagaimana manusia tanpa tujuan satu ini akan bertahan hidup kedepannya?
Kau tahu betul apa tujuan hidupku.
Dan kau mengambilnya dariku.
Lantas hal apa yang harus meyakinkanmu, satu-satunya kupunya, cintaku.
Setidaknya, marilah hidup bahagia dengan semua yang ku punya.
Ini kali terakhirnya aku menemuimu.
Namun, ada malam-malam tertentu saat aku memandang langit terlalu lama.
Tatkala gelap menampung sejuta tanya.
Mengapa sebagian orang begitu mudah mendapat bahagia, sementara yang lain harus jatuh berkali-kali hanya untuk bertahan?
Tak pernah ku benci takdirku.
Aku juga manusia,
Masih punya perasaan,
Masih punya lelahnya.
Bukan tidak berusaha,
Masih di usahakan tetap hidup, tetap tersenyum. Meski ku miliki ribuan alasan untuk menangis.
Bukan niat ku untuk mengalah,
Bukan niat ku untuk terlihat lemah,
Tapi aku juga lelah.
Bagaimana bisa ku menyalahkan debu yang beterbangan. Jika akulah orang yang telah membukakan pintu . . .
RUMAH TANPA HATI
Rumah telah kosong,
Tiada lagi hiruk pikuk terdengar di setiap penjuru.
Hanya tangis pekik bertahan di ujung hati.
Rumah telah kosong,
Banyak barang disini.
Tak bergerak, usang berdebu termakan waktu.
Rumah telah kosong,
Kedua isinya telah pergi
Tidak berjanji, terasa sakit sekali.
Rumah telah kosong,
Siapa yang akan menyambut ku pulang nanti?
Tak ada lagi masakan sederhana untukku.
Lalu, Kemana harusnya rindu ini pergi?
Jika tiada lagi raga yang bisa dipeluk diri.
kadang aku ingin memanggil, hanya untuk memastikan ia masih mendengarku. tapi setiap kali udara membawa bisikan namanya, aku sadar panggilan itu tidak perlu dijawab. keheningan di antara kami sudah menjadi bahasa yang cukup.
Terlalu banyak yang pandai berperan.
Seolah hadir tanpa topeng kebohongan.
Aku pernah cukup bodoh untuk percaya.
Bahwa semua kata punya arah yang sama dengan niatnya.
Sebagian hanya sedang mencari penonton.
Diantara semua yang pernah datang, mana yang benar-benar ingin tinggal, dan mana yang hanya singgah bermain peran.
Namun hidup rupanya pandai bercanda.
Ia membiarkan ku percaya terlalu lama.
Lalu perlahan mengambilmu pergi.
Seperti jawaban yang sengaja digantung tanpa kepastian kembali.
Ayah
Bagaimana bisa tidak ku singgahkan waktu, sekedar duduk merenung bersamamu?
Kadang aku penasaran bagaimana rasanya kopi dan rokok yang selalu dihidangkan untukmu setiap pagi.
Lalu kita tumbuh dengan sendirinya dalam diam.
Bagaimana jika daku menyusulmu?
Seiring waktu kulitmu sudah kusam dan menua.
Bagaimana jika daku ingin sepertimu?
Berbagi hitam supaya tak pekat akhirnya.
Banyak yang ku khawatirkan di dunia ini.
Lalu, mereka berkata :
"jika kau ada, dunia akan baik-baik saja".
Tak banyak sosok pahlawan sepertimu.
Yang tegap kokoh berdiri tak takut mati.
Apa tulangmu terbuat dari besi? atau,
Apa otot terbuat dari kawat?
Seperti cerita-cerita pahlawan saat itu.
Tidak, Engkau hanyalah manusia.
Manusia yang sering ku sebut "Ayah".
Aku berjalan di atas rasa takut,
Bergandengan dengan jutaan ragu,
Ditengah episode-episode penuh tanya.
Semoga langit mengantarkan hal-hal baik.
JIKA RENDAH ITU TEMPATKU.
Awalnya, kupikir hanya capek yang biasa, yang akan hilang jika ku istirahatkan sebentar. Tapi ternyata tidak. Perlahan semua berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Bangun tidur tidak lagi terasa menyambut hal baru, tapi seperti mengulang hal yang sama. Lagi dan lagi, di tubuh yang sama dengan rasa yang tidak benar-benar pergi.
Dan apa yang harus kujalani bukan sesuatu yang bisa dinikmati. Dan pikiranku... Tidak pernah memberiku jeda. Dari hal-hal kecil yang terus menumpuk sampai aku tidak punya tenaga lagi untuk merasa apapun.
Aku tidak hancur dalam satu waktu, aku hanya habis perlahan. Aku mulai terbiasa diam. Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan. Tapi menjelaskan rasanya melelelahkan. Dan titik terendah itu, aku masih terlihat baik-baik saja. Aku masih melakukan hal-hal yang seharusnya. Tidak ada yang benar-benar berubah dari luar. Tapi di dalam, aku tau aku sudah tidak lagi baik-baik saja.
Ku bangun batas-batas malam sepi.
Menjadikannya saksi dari sebuah keruntuhan yang paling sunyi.
Hancur,
Dimana setiap kepingan harga diriku jatuh tanpa meninggalkan bunyi.
Sedang ku usahakan,
Membangun hidupku.
Yang tetap berdiri,
Meskipun tak dipilih.
Tak goyah saat dibandingkan.
Dan tidak hancur saat ditinggalkan.