“Much of our life is spent wishing others understood us better than they do.”
— Gordon Allport

❣ Chile in a Photography ❣
Keni

JVL
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Three Goblin Art

Product Placement
art blog(derogatory)
noise dept.
styofa doing anything
trying on a metaphor

@theartofmadeline
todays bird

tannertan36

祝日 / Permanent Vacation
Cosmic Funnies

Kiana Khansmith
Misplaced Lens Cap
Show & Tell

★
Stranger Things
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from Thailand
seen from Netherlands

seen from Netherlands

seen from Australia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Japan
seen from China

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
@azzahamzah
“Much of our life is spent wishing others understood us better than they do.”
— Gordon Allport
Disiplin itu di setiap detik hidupmu loh bukan cuman soal kerjaan. Sejak bangun tidur di waktu pagi sampai nanti tidur lagi di waktu malam, ada manajemen waktunya.
Kalau cuma disiplin ketika dipanggil pimpinan di tempat kerja, nyelesein kerjaan tepat waktu, tapi di rumah gegoleran gak jelas, bikin janji sama teman dan keluarga selalu telat bahkan kadang gak ditepati, ya jangan ngomong masalah disiplin waktu.
Bangun tidur rapikan tempat tidur, ke kamar mandi, wudhu, sholat, setelah itu olahraga, belanja, dan lain sebagainya. Itu didiplin. Bukannya bangun tidur, pegang hp, gegoleran seharian tanpa mengindahkan apapun.
Semua ada waktunya, ada gilirannya. Mau bersantai silakan, tapi selesaikan dulu tanggung jawabmu, kewajibanmu, tugasmu. Yaa tapi beda cerita sih ya kalau *gak ngerasa* punya tanggung jawab.
Logikanya, kau tidak akan marah pada seseorang yang bukan siapa-siapa bagimu, ya kan? Kalau kau sedang marah, sebal, kesal pada seseorang, itu artinya dia menempati sudut istimewa di ruang hatimu. Bisa jadi dia orang yang sesungguhnya kau sayangi, kau harapkan, sahabatmu, keluargamu, atau rivalmu (Rival juga istimewa lho. Jangan salah 😉).
Kuatkan doamu pada setiap sujud, bersabarlah, dan berprasangka baiklah.
Karena kau tak pernah tahu, kapan doa-doamu akan diijabah oleh-Nya.
Memaknai Pernikahan
Beberapa bulan lalu, saya mengikuti kajian Keadilan Gender Islam dengan topik Layangan Putus. Kajian tersebut menyegarkan kembali makna pernikahan di kepala saya. Manusia adalah bagian dari budaya. Ketika kita berbicara tentang pernikahan, mau tidak mau, kita tidak akan terlepas dengan budaya yang melingkupi kita.
Dalam budaya patriarkis, perempuan dianggap sebagai makhluk fisik sementara laki-laki dianggap sebagai makhluk ekonomi. Konsekuensinya, jika perempuan tidak bisa memuaskan hasrat seksual laki-laki, perempuan akan kehilangan nilai. Demikian juga ketika laki-laki menghasilkan nafkah yang lebih rendah dari isteri, maka masalah-masalah dalam pernikahan akan muncul.
Ada banyak pertanyaan tentang pernikahan yang masuk di inbox blog ini. Salah satu tema yang banyak ditanyakan adalah:
“Kalau perempuan sudah menikah, apakah ibadahnya jadi sesempit taat kepada suami?”
Setiap mendengar pertanyaan demikian, yang terpikir di kepala saya ada dua pilihan jawaban. Pertama:
“Jangan meremehkan ketaatan kepada suami. Setiap ibadah yang dikerjakan dengan ikhlas, akan sangat besar nilainya di sisi Allah”
Kedua:
“Perempuan tetep bisa beribadah di ruang publik karena islam mendukung itu”
Tentunya saya tidak akan membahas pendapat mana yang lebih baik. Semua orang sudah punya pilihan masing-masing untuk diambil. Saya hanya menggambarkan kecamuk pertanyaan di kepala orang-orang yang belum menikah dari yang umum hingga yang paling liar.
Suatu hari, ada seorang teman yang bertanya ke saya:
“Kalau misal ada orang yang sadar bahwa dia gay lalu memilih menikah dengan seorang perempuan dengan niat beribadah, apakah pernikahan bisa dihukumi makruh? Karena hal kayak gini pasti berat bagi perempuan. Berat juga dari sisi laki-laki. Bahkan mungkin akan menghasilkan mudhorot bagi keduanya”
Tidak mudah menjawab pertanyaan seperti. Saya tidak punya kemampuan untuk memberi fatwa. Saya bisa saja menjawab dengan general:
“Selama niat kamu baik, akan ada pahala yang menunggu kamu dan isteri kamu nantinya”
Tapi itu tidak mudah. Saya tidak membayangkan kalau mereka harus menikah sementara hati mereka belum begitu legowo menerima kondisi.
Di sisi lain, saya berpikir bahwa di luar sana juga ada orang-orang yang sangat paham bahwa poligami akan menyakiti isteri pertama. Akan tetapi, mereka tetap melanjutkan pernikahan tersebut dengan dalih:
“Perempuan kan pada dasarnya cemburuan. Selagi manageable ya kenapa enggak?”
Saya tidak setuju dengan poligami. Saya ngasih warning ke temen-temen LGBTQ yang ingin menikah dengan lawan jenis. Tapi, saya tidak dalam kapasitas menghakimi pilihan orang lain karena perspektif saya terlalu sempit untuk melakukan itu.
Di dunia ini ada jutaan rumah tangga. Ada jutaan yang gagal. Ada jutaan juga yang berhasil. Kondisinyapun sangat berbeda-beda. Kita tidak bisa menjadikan keluarga orang lain sebagai standard bagi keluarga kita. Kita juga tidak bisa menjadikan alasan dari pilihan orang lain sebagai alasan dari pilihan kita tanpa berpikir lebih panjang.
Di samping itu, sebaik apapun kita, berkonflik dengan orang yang setiap hari hidup bersama kita adalah niscaya. Jadi alih-alih menghadapi pernikahan dengan rasa takut dan overthink melihat rumah tangga orang lain, kita perlu belajar menghadapi pernikahan sebagai manusia biasa yang punya kesadaran atas kelemahan diri juga punya pemakluman atas kelemahan orang lain.
Manusia itu makhluk fisik, makhluk intelektual sekaligus makhluk spiritual. Secara umum, ketika kita jatuh cinta, aspek yang paling banyak terlibat adalah aspek fisik.
Setiap kita menghadiri walimah teman kita, kita akan berdoa agar rumah tangga mereka Sakinah - Mawaddah - dan dipenuhi Rahmah. Mawaddah adalah cinta yang melibatkan aspek fisik. Kita mencintai pasangan kita karena mereka menarik, punya senyum yang manis atau mungkin punya hati yang lembut. Apakah cinta yang demikian baik untuk kita?
“Kalau kita cuma mencintai karena kecantikan atau ketampanan, itu bukan cinta yang sebenernya”
Tidak demikian. Mawaddah itu bagian dari kasih sayang Allah kepada manusia. Allah menumbuhkan perasaan cinta dari mana saja. Dari fisik, dari perilaku atau dari hati. Sekalipun kita banyak berbicara tentang betapa rapuhnya cinta yang diawali dari fisik, kita tidak boleh lupa bahwa mawaddah memberi kehangatan di hati kita. Bahasa jaksel-nya “Sparks joy”.
“Kalau kamu sadar kamu gay dan memilih menikahi perempuan, yang harus kamu perhitungkan adalah.......bisa jadi mawaddah ini tidak ada dalam pernikahan kamu. Bisa tidak ada di awal, atau mungkin selamanya”
“Tapi apakah pernikahan orang-orang pada umumnya akan sparks joy sampai mereka menua?”
“Entah. Mungkin sebagian begitu. Sebagian lain belum tentu. Tidak ada kepastian”
“Kamu mah jawabannya semua depends on”
“Ya kan emang gitu. Emang ada yang menjamin perasaan yang ada di hati manusia bakal awet?”
...
Sewaktu ibu masih ada, saya pernah random bertanya ke ibu:
“Di antara Sakinah, Mawaddah dan Rahmah, mana yang hadir lebih dulu?”
“Tergantung pernikahannya seperti apa. Kalau nikahnya diawali love at the first sight ya mawaddah hadir lebih dulu. Tapi kalo lewat taaruf, bisa jadi mawaddahnya ada di tengah”
“Ibu sama bapak dulu gimana? Ibu pernah kehilangan perasaan ke bapak nggak?”
Ibu saya ketawa.
“Ibu sama bapak memilih menikah karena saling suka. Di samping itu, ibu tahu kalau bapak baik dan bertanggung jawab. Begitu juga sebaliknya. Jadi ya yang lebih dulu mungkin Sakinah sama Mawaddah”
“Orang bilang Rahmah itu hadir kalau Mawaddahnya habis?”
“Nggak gitu juga dek wkwk. Rahmah itu hadir kalau kita paham ada cinta yang murni karena Allah sehingga kita bisa mencintai semua makhluk tanpa pamrih. Termasuk ke pasangan”
...
“Berarti orang yang tidak tertarik secara seksual kepada pasangan masih memiliki amunisi Sakinah dan Rahmah?”
“Apa bisa disebut amunisi ya? Soalnya kedua hal inipun tidak bisa kamu dapatkan secara take for granted”
“I see. Soo....do you suggest me to get married or celibate?”
“Wkwkwk.....tanya hati kamu lah....”
“I did....many times......Kadang aku ngerasa egois sih”
“Egois ke?”
“Ke calon isteri. Ke diriku sendiri”
“Lha motivasi kamu nikah apa? wkwk”
Bagi sebagian besar orang, motivasi menikah adalah untuk hidup bersama orang-orang yang mereka cintai. Tapi bagi beberapa orang yang mungkin minoritas banget jumlahnya......ada banyak hal yang perlu dieksplore untuk menata niat:
“Naif nggak kalo niatnya buat ibadah?”
“Enggak naif. Tapi kenapa harus menikah? Kan ada banyak ibadah yang lain?”
“Kamu kenapa nggak bilang: nikah aja, ntar Allah yang nolong wkwk”
“Aku cuma mikir realistis dan nyoba mengeksplore banyak hal”
“Pengen punya keluarga yang hangat aja sih. Pengen ada yang ngingetin kalo misal aku salah. Pengen ada yang nyemangatin kalau capek. Aku family man loh. Jangan ketawa wkwk”
“Wkwkwk thanks sudah ngasih motivasi buat aku yang sebenernya sampai sekarang belum nangkep point kenapa dua orang manusia harus hidup bersama, serumah dan bersepakat untuk tidak saling meninggalkan?”
“Padahal kamu suka anak kecil ya. Apa nggak ada keinginan nikah buat punya anak?”
“I do. Tapi gimana ya? wkwk ....”
“Kamu nggak tekanan batin pas ditanyain kapan nikah?”
“I used to ....I keep praying for myself tho....Kalopun ditakdirin nikah, semoga dapet suami yang baik dan sayang ke keluarga. Kamupun, kalo ditakdirin nikah, semoga bisa dapet keluarga yang baik”
...
Ada banyak motivasi dalam sebuah pernikahan. Cinta, Ibadah, menghindari zina, pengen berkeluarga atau mungkin motivasi-motivasi lain yang nggak terbayangkan.
Dulu, saya tuh suka nyinyir sama orang yang menikah dengan niat menghindari zina. Belakangan, saya belajar bahwa niat dalam hati bisa saja berbeda. Berniat menghindari zina itu tidak buruk. Yang buruk itu jika kita hanya bermodal niat tapi tidak belajar bahwa konsekuensi pernikahan itu bisa sangat mahal. Setara seumur hidup manusia. Maka untuk mitsaqan ghaliza ini, jangan tergesa. Lakukan dengan tenang, belajar agar kita menjadi pasangan, menantu dan orang tua yang baik. Nggak perlu sempurna. Tapi setidaknya, jangan sampai kita mendzolimi orang lain karena kebodohan kita.
Malam dan hujan. Entah kenapa dua kata ini terasa begitu melow. Bagiku. Apalagi kalau sudah malam, hujan, di jalan, sendirian pula. Terasa begitu alone and lonely.
“Stay single until someone actually complements your life in a way that makes it better not to be single. If not, it’s not worth it.”
— Unknown
Di dunia kerja itu kawan gak selamanya jadi kawan. Pun begitu juga lawan, tak selamanya akan bermusuhan. Suatu ketika semuanya menjadi terbalik. Kawan dekat menjadi lawan. Teman ngobrol menjadi rival. Sebaliknya, yang dulunya saling membangun tembok diantara mereka, tiba-tiba bergandengan mesra.
Maka berhati-hatilah. Jaga obrolanmu, jangan terpancing untuk nggosipin rekan or atasan. Karena suatu ketika gosip yang kalian perbincangkan bisa jadi senjata yang akan memukulmu. Kamu, bukan dia.
Berhati-hatilah. Karena mencari teman di dunia kerja tak semudah seperti di masa sekolah
“No matter how honestly you open up to someone, there are still things you cannot reveal.”
— Haruki Murakami, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage
“Sometimes I keep my feelings to myself because it’s hard for someone else to understand them.”
— Unknown
Poems & Words
Suatu saat nanti, ketika aku bertemu denganmu, aku sungguh ingin bertanya,
"Apa yang membuat perjalananmu begitu lama, hingga kita baru bisa bertemu sekarang ?"
Dan lalu kau akan menjawab,
"Takdir,"
😂😂😂
"Terlihat indah apa-apa yang belum dimiliki."
Pertanyaannya, jika suatu saat memilikinya, akankah kau akan menerimanya apa adanya?
“Jangan berlebihan dalam menyukai hingga kamu terpaksa Tuhan pisahkan, tersebab harapan dan hidupmu kini hanya untuk manusia. Jangan berlebihan pula dalam membenci, hingga terpaksa Tuhan jatuhkan kamu untuk meminta bantuan pada yang kamu benci.”
—
Hal terberat itu ketika kamu harus terpaksa kembali pada titik 0 saat rasa dan langkahmu sudah terlampau jauh, pada jiwa dan raga yang sudah banyak kamu idamkan dan inginkan dari manusia tapi terpaksa Allah patahkan dan matikan. Dia hanya ingin mengajarkanmu bahwa segalanya itu milik Allah, semudah bagiNya mendekatkan maka semudah itu pula bagiNya menjauhkan.
Maka beruntunglah bagi mereka yang mengutamakan Allah dalam setiap pencariannya, pada dunia atau hati manusia. Tidak mustahil salju turun pada musim semi, dan tidak mustahil hujan akan turun pada musim kemarau. Begitulah konsep kuasa dari pemilik segalanya.
Semakin kamu mengutamakan Allah dalam setiap sisi kehidupan, semakin kamu akan mendapatkan kemudahan. Semakin kamu mengutamakan keberkahan dalam setiap pilihan, maka semakin banyak pertolongan Allah dalam setiap kesulitan.
Tenanglah, bukankah setelah segala kesulitan hati dan penantian ini menandakan akan segera hadir jawaban dari doamu? bukankah setelah tangisan airmata ini akan ada senyuman bahagia dari hasil usahamu?
Allah tahu kamu mampu, hanya saja kamu yang tidak percaya dan memilih berhenti. Mari kembali, menguatkan hati dan melatih rasa, bersama-sama menuju kebahagiaan dunia dan akherat.
Sabar, sebentar lagi.
@jndmmsyhd
Ini bukan video penularan covid lho ya 😁)
Emosi, entah positif ataupun negatif bisa dengan mudahnya ter-transfer dan tertular pada orang lain. Bagi mereka yang rasa empatinya begitu kuat, bisa jadi akan termakan oleh emosi-emosi tersebut. Kalau positif sih gakpapa, tapi kalau termakan emoso negatif itu yang bahaya.
Tapi coba, pernah gak sih kalian ngerasa lelah sangat ketika ndengerin curhatan seseorang tentang hidupnya? Kalau aku sih pernah. Kepala dan hati berasa penuh, sampai rasanya males ngomong dan cuma pengen hibernasi.
Video diambil dari akun twitter @PsychologyDoc
Tulisan : Bertanya-tanya
Pertanyaan demi pertanyaanku tak selalu menemukan jawabannya. Bahkan sampai bertahun terlewati, semuanya masih menjadi tanda tanya bagiku. Sementara hidup ini terus bergerak, aku bahkan masih bertanya-tanya mengapa semua ini harus aku yang menjalaninya. Kesulitannya, kekhawatirannya, dan semua hal yang sebenarnya tak ingin ku rasakan. Bahkan, hal-hal yang kuinginkan pun tak kunjung menjadi milikku.
Apakah itu juga pertanyaanmu? 28 Maret 2020 | ©kurniawangunadi
Rasanya seperti, semua pintu tertutup dan terkunci. Kemana pun aku menuju, ke arah mana pun aku melangkah, tak ada satu pintu pun yang bisa kubuka. Padahal pepatah bilang, ketika satu pintu tertutup maka pintu lain akan terbuka. Tapi kenyataan yang kulihat sungguh berbeda.
Mimpikah ini? Jika iya, aku ingin segera bangun, beranjak pergi dan melupakannya.
Tapi sepertinya ini bukan mimpi. Sayang sekali.
Lalu kemana aku harus pergi? Pintu mana yang bisa kubuka? Sementara tak ada kunci yang bisa kutemukan dimana pun.
Apa yang harus kulakukan? Rasanya seperti kehilangan arah, tersesat dalam kegelapan yang pekat.
Kepada siapa aku harus bertanya? Jika teriakanku bahkan tak didengar oleh siapapun.
Aku ingin pergi. Aku ingin lari. Tapi aku tak bisa. Seperti kaki ini terantai oleh keadaan.
Aku seperti hewan buruan yang terperangkap dalam sebuah jebakan. Hanya gelap dan dingin yang terasa.
Aku ingin menangis. Tapi aku tak boleh. Aku tak boleh menambah masalahku dengan tangisan.
Jadi apa yang harus kulakukan?
.......
(Kalo dibuat script drama bagus kali ya haha...)