Jika kau tak punya arah tujuan, sebaiknya kau malu pada angin. Ia selalu tahu ke mana harus berhembus, meski tak punya kaki.
🍃 (via poeticonnie)
Stranger Things
art blog(derogatory)
macklin celebrini has autism

tannertan36

JVL
Sade Olutola
sheepfilms
Show & Tell
d e v o n

Kiana Khansmith

ellievsbear

No title available
𓃗
Monterey Bay Aquarium
almost home
YOU ARE THE REASON

No title available
wallacepolsom
🪼

pixel skylines
seen from United States
seen from Ecuador
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore

seen from Germany

seen from Kenya
seen from United States

seen from United States

seen from Singapore

seen from Singapore
seen from Belarus
seen from United States
seen from Latvia

seen from Argentina
seen from Canada

seen from Malaysia
seen from Singapore

seen from United States
seen from Germany
@basra-rajab
Jika kau tak punya arah tujuan, sebaiknya kau malu pada angin. Ia selalu tahu ke mana harus berhembus, meski tak punya kaki.
🍃 (via poeticonnie)
“Hari ini jalanan masih lancar, Metro Mini belum keliatan banyak di jalan.”
Itu “laporan” yang saya terima barusan. Ini hari pemogokan kedua para pengemudi kendaraan umum bertubuh tinggi besar itu di Jakarta.
Saya sebenarnya sangat terbantu dengan adanya Metro Mini. Tarifnya ramah di kantong. Masalah nyaman jadi nggak penting lagi, mengingat tarif taksi yang kian lama kian melambung. Tapi ketika saya dibonceng sepeda motor, saya jadi mengerti perasaan para pembenci Metro Mini. Kendaraan berwarna cerah itu memang sangat mengganggu. Sudah badannya besar, menyebarkan polusi, merasa dirinya dewa jalanan pula.
Mereka punya alasan untuk sombong. Orang-orang seperti saya mungkin yang mendukung keangkuhan mereka. Karena saya sangat membutuhkannya. Mereka sombong karena sadar dibutuhkan.
Beberapa manusia seperti Metro Mini. Besar kepala. Dan pemompa kepala manusia-manusia sombong itu adalah lingkungannya. Kamu dan saya. Kita sering merajakan orang-orang yang punya pengaruh. Ketika pengaruhnya luntur, kita menjauh, mereka pun nggak lagi berani mendongakkan kepala besarnya tinggi-tinggi.
Akhirnya dia belajar, bahwa segala sesuatu di dunia ini ada tanggal kedalurwasanya. Termasuk kesombongan.
Dan ia lalu dilupakan saat teronggok sebagai sepotong besi tua.
Sementara kita, layaknya kawanan lebah, sudah sibuk menghisap madu pada bunga yang lain. – View on Path.
Masih kepikiran dan nggak habis ngerti sama orang (Asia) yang “ngebuang” orangtuanya ke panti jompo. Kalian kan juga punya anak, mau digituin juga nanti saat udah tua, sakit, nggak berdaya, digituin juga?
Remember that children follow their parents'examples. – View on Path.
got these two lovely postcards from two different countries (UK and Turkey) \o/
Karena ada ibu di setiap s(ibu)k
selamat ulang tahun, bu.
Enjoy the ride. Love the ending.
Sebatas Ingatan
Untukmu yang entah masih ingat atau tidak,
Mungkin ini bukan pertemuan pertamaku denganmu. Ini lebih cocok disebut pertemuan pertama pasca kesembuhanmu dari kecelakaan yang membuatmu sulit berjalan.
Masih ku ingat saat menerima pesanmu di malam itu. Pesan yang berisi ajakan untuk mentraktirku makan. “Ini sebagai balasan untuk susu kotak dan roti strawberry pemberianmu saat sakit dulu.” Kira-kira seperti itulah isi pesanmu setelahnya. Bahkan kau juga sempat bercanda ingin mentraktirku makan bawang goreng yang kau tahu aku tidak menyukainya.
Aku pun tidak tahu mengapa semua kejadian di tempat kita berjanji untuk bertemu masih saja terus berputar di kepalaku.
Aku masih ingat kursi dari anyaman kayu tempat kita duduk. Aku masih ingat dua ibu-ibu yang duduk di belakangku yang tidak berhenti bergosip. Aku masih ingat sinar matamu saat kau bercerita tentang mimpi-mimpimu. Aku masih ingat raut wajahmu saat kau mendengarkan puisi Zarry Hendrik dari Handphoneku. Aku masih ingat menemanimu pergi berbelanja setelah kita selesai makan. Aku masih ingat kau yang tidak ingin keranjang belanjaanmu aku bawakan karena tidak mau merepotkanku. Aku masih ingat pembersih lantai yang kau beli hanya karena warnanya pink. Aku masih ingat kita pulang naik angkutan umum bersama tetapi aku tidak bisa mengantarmu sampai di depan rumah karena jarak rumahku yang lebih dekat. Aku masih ingat mengirimimu pesan untuk memastikan bahwa kau sampai dengan selamat.
Tapi sekarang semua itu hanya sebatas ingatan yang tidak mungkin bisa diulang. Aku tahu kalau sudah lama aku tidak menghubungimu dan kau sekarang sedang sibuk mengejar cita-citamu, tetapi tiba-tiba saja aku kembali datang mengirimimu surat seperti ini. Maaf jika surat ini mengganggumu.
Dari Lelaki yang masih (saja) mengingat,
2 Anak Perempuan di Ruang Tunggu
Halo dik, apa kabar?
Sengaja kutuliskan surat ini, siapa tahu kalian bisa menemukannya di sudut lini masa kalian. Karena dari tadi aku hanya melihat kalian berdua sibuk memandangi smartphone kalian membahas akun Twitter ataupun Instagram kalian yang entah sudah berapa kali kalian membuat akun baru hanya karena lupa passwordnya. Maaf aku tidak sengaja menguping pembicaraan kalian.
Kalian kelas berapa? 5 atau 6 SD? Aku takjub melihat anak seumuran kalian memainkan smartphone dengan begitu lihai. Bahkan saat aku seumuran kalian, menyalakan komputer saja mungkin sudah menjadi prestasi buatku, apalagi jika bisa mengoperasikannya.
Tadi juga aku sempat menguping pembicaraan kalian tentang percintaan. Kalian saling mengejek satu sama lain dengan sebutan jomblo. Hey, ini belum saatnya kalian membahas percintaan. Kalian seharusnya lebih mengenal bermain lompat tali, binder, ataupun petak umpet daripada bermain hati. Ah, ini pasti pengaruh dari tontonan kalian. Sebaiknya kalian mencari tontonan lain yang lebih bermanfaat.
Oh iya, aku punya saran, kenapa kalian tidak bergabung dengan teman kalian yang dari tadi asik bermain kejar-kejaran di depan kalian. Tinggalkanlah media sosial kalian untuk sementara. Ayo tunggu apa lagi?
Dari laki-laki berkemeja abu-abu di samping kalian,
Maaf
Tuhan telah menghadiahi cinta.
Tuhan telah menghadiahi rindu.
Bersama itu Tuhan telah memberi mulut untuk mengucapkannya.
Pun telah memberi tangan untuk menuliskan yang tak terucapkan.
Tetapi sampai saat ini mulut masih setia untuk bungkam.
Tanganpun seakan lumpuh saat akan menuliskannya.
Memang Tuhan telah memberikanku keberanian, tetapi entah di mana aku menghilangkannya.
Semoga saja saat aku menemukannya semua belum terlambat.
Postwoman
Sepertinya baru kemarin saya telah menyelesaikan surat cinta hari ke-30, dan hari ini saya harus kembali menulis 30 surat cinta dalam 30 hari yang cukup melelahkan. Tetapi dengan mengikuti project #30HariMenulisSuratCinta ini saya bisa bertemu teman baru dan saya juga jadi punya banyak bacaan sebelum tidur :))
Selain itu, ada satu hal lagi yang menggembirakan, Akhirnya tahun ini saya diberi tukang pos perempuan oleh @PosCinta. Bukan, bukan karena saya tidak suka dengan para tukang pos saya terdahulu. Hanya saja saya ingin menganti suasana karena selama ini tukang pos saya selalu laki-laki. Hahaha. Tukang pos saya tahun ini adalah kak @ikavuje!
Saya memang belum mengenal kak @ikavuje, tetapi saya pernah melihatnya satu kali di youtube saat membawakan musikalisasi puisi “hukum kekekalan tawa” karya Aan Mansyur. Saya tidak menyangka kalau hari ini kak Ika menjadi tukang pos saya dan bahkan saya mengiriminya surat. Semoga saja saya masih bisa konsisten menulis selama 30 hari dan semoga surat-surat saya bisa membawa tawa bahagia bukannya tawa yang asin oleh air mata. Hahaha.
Sampai bertemu di surat berikutnya kak @ikavuje!
semoga saja bisa berpartisipasi (lagi) :))
Do you?
If only " (meng)ulang tahun" is possible.
Serigala
Pemikiran lewat tengah malam itu liar. Selalu liar. Lebih liar dari jam-jam lainnya.
Mungkin karena saat-saat seperti ini serigala memang sedang mengerang. Entah erangan kesepian, kemarahan, atau hanya ingin bersuara saja.
Suara yang sudah ditahannya sejak matahari masih di atas kepala. Suara yang akan ditahannya lagi saat nanti langit kembali terang.
Suara yang buruk, yang tak pantas didengar.
Lalu, mengapa Tuhan menanamkan pita suara di dalam kerongkongannya?
i know what it feels..
Bertahan di Barcelona
kumpulan cerpen Arjuna Menggugat Cinta; cerita sekilas tentang cinta tak mudah lepas
Kita sepasang tanda petik yang cemas menanti dibubuhkan ke sebuah kata hanya untuk tahu makna yang lain.
Adimas Immanuel (via mitafnas)
karena kamu tidak akan kehilangan apa yang tidak kamu miliki