Kamu menyalakan lampu berkali-kali, tak ada yang bertanya siapa yang menyalakannya.
Sekali kamu membiarkannya padam, semua orang tahu siapa yang harus disalahkan.

No title available

Jar Jar Binks Fan Club

❣ Chile in a Photography ❣
$LAYYYTER
No title available
todays bird
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
The Stonewall Inn
Cosimo Galluzzi
One Nice Bug Per Day
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr

Kiana Khansmith
noise dept.

shark vs the universe
h

oozey mess
KIROKAZE
The Bowery Presents
Sade Olutola
RMH
seen from United States
seen from United States
seen from Oman
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from India
seen from United States

seen from Italy
seen from Canada
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Portugal
@bayuvedha
Kamu menyalakan lampu berkali-kali, tak ada yang bertanya siapa yang menyalakannya.
Sekali kamu membiarkannya padam, semua orang tahu siapa yang harus disalahkan.
Manusia tidak diciptakan untuk mengabdi kepada manusia, melainkan untuk mengabdi kepada-Nya,
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku).
QS. Az-Zariyat 56)
Surplus Mengeluh
Harusnya ketika kita makin bertambah usia, maka kedewasaan pun bertambah. Semakin bertambah usia idealnya pengalaman kita juga harus bertambah pula. Termasuk keimanan kita.
Struktur utama untuk mencapai kedewasaan rohani ini adalah dengan belajar bersyukur dan menentukan titik syukur.
Sebab, seringkali kita justru surplus dalam mengeluh (surplus komplain). Kita mencari-cari alasan untuk mengeluh:
Masakan kurang asin.
Pasangan yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Ekonomi katanya susah, pekerjaan sulit.
dll
Bahkan, kita sering menyalahkan pihak lain atas keadaan yang terjadi: menyalahkan pemerintah, presiden, bahlil, gibran, circle pergaulan, atau bahkan hal-hal sepele seperti bantal atau tukang parkir.
Intinya, kita mengalami surplus mengeluh.
Padahal, struktur keimanan yang pertama dan utama saat mencapai kedewasaan adalah: Belajarlah Bersyukur.
Jangan bekerja untuk manusia. Bekerjalah hanya untuk Allah.
Dengan menyadari hal ini, perlahan fitrah dan karakter kita akan kembali terbentuk dengan sendirinya.
Tidak ada seorang pun yang bangun suatu pagi dan memutuskan untuk menjadi penjahat dalam cerita orang lain
Allah tidak hanya menjawab "Sama-sama", Tapi...
Umumnya kita manusia, jika kita menerima sesuatu dan mengucapkan terima kasih, maka yang memberi akan menjawab, "Sama-sama."
Lalu, bagaimana dengan Allah? Ketika kita mengucapkan terima kasih kepada-Nya?
Maka Allah tidak hanya menjawab "Sama-sama," tetapi Allah akan terus menambah, menambah, dan menambah nikmat itu kepada kita.
Hal ini adalah komitmen yang Allah sampaikan dalam Surat Ibrahim ayat ke-7:
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'."
Membaca Watak yang Tersembunyi
Alphaman The Series Eps. 03
Ada satu cara bagaimana mengungkap watak asli seseorang. Orang-orang bijak (ahlul hikmah) sering berpesan bahwa manusia itu seperti wadah; apa yang keluar darinya bergantung pada apa yang selama ini ia isi ke dalam jiwanya. Watak asli seseorang baru akan benar-benar tersingkap saat ia berada di bawah tekanan.
Sebab, dalam Islam pun diajarkan bahwa ujian adalah cara Allah menyingkap hakikat diri, sebagaimana firman-Nya: "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi?" (QS. Al-Ankabut: 2).
Mari kita lihat cermin itu satu per satu:
Watak asli seorang suami akan terlihat ketika istrinya sedang sakit. Apakah ia tetap sabar merawat, atau justru lelah dan berpaling?
Watak asli seorang kaya akan terlihat ketika ia sedang tidak punya apa-apa. Apakah ia tetap menjaga harga diri ('iffah) dan rasa syukur, atau justru menghalalkan segala cara?
Watak asli seorang teman akan terlihat ketika kita sedang berada di situasi sulit. Apakah ia tetap membersamai atau menghilang saat kita butuh bahu untuk bersandar?
Watak asli seorang saudara akan terlihat ketika saat pembagian warisan. Di sinilah seringkali tersingkap apakah nilai kekeluargaan lebih berharga daripada angka-angka di atas kertas.
Watak asli seorang anak akan terlihat ketika orang tuanya sudah berada di usia lanjut. Apakah ia melihat mereka sebagai beban, atau sebagai ladang pahala untuk meraih surga?
Watak asli seorang yang beriman akan terlihat ketika ia sedang ditimpa berbagai macam cobaan. Jika ia tetap tenang dan teguh, itulah bukti kualitas imannya.
Berbagai kondisi itu hanyalah cermin jiwa. Kesulitan memang diciptakan untuk menyingkap topeng-topeng yang selama ini menutupi watak asli manusia.
Sebagaimana sebuah pepatah mengatakan, "Kebenaran seseorang tidak tampak pada saat ia berada dalam kondisi stabil, melainkan pada saat ia berada dalam kondisi penuh gejolak."
Hal yang menyenangkan saat menjadi Bapak adalah:
Saat melihat anak kita tumbuh kembang,
Saat berangkat kerja anak nangis gak mau di tinggal,
Saat sakit yang di cari bapaknya,
Saat kita ajarin sesuatu anak tersebut langsung paham.
#parenting
Q: tadz, izin tanya..
Apa bener tugas laki laki: Lahir - kerja -mati???
A: Mau apa lagi..
Emang apa ada tugas lain selainnya yg lebih utama dari pada itu?
Sebelum menikah dia harus menafkahi orang tuanya, dan setelah menikah dia harus menafkahi istri dan anak anaknya, setelah semua cukup laki² akan pergi meninggalkan dunia.
Bahkan setelah wafat saja laki-laki masih harus bertanggung jawab atas perbuatan istri dan anak nya di akhirat nanti
Q: speechless 😟
Laut hanya terlihat tenang dari kejauhan... Padahal di bawahnya, ia menyimpan terlalu banyak gelombang.
Garam tetaplah garam.
Di meja makan raja maupun di dapur sederhana, ia tetap asin.
Itulah yang disebut karakter.
الحياة أقصر
من أن تشرح للناس حسن نواياك.
Hidup ini terlalu singkat untuk menjelaskan niat baikmu kepada semua orang.
Tidak Terjebak Rumput, Tidak Terbuai Angan
Alphaman The Series Eps.02
Hal yang membedakan manusia dan hewan ialah kemampuan manusia untuk mempercayai narasi abstrak. Hal ini bisa menjadi kekuatan besar karena memungkinkan menciptakan kerjasama dalam skala besar. Tapi di sisi lain, hal itu juga bisa digunakan untuk memanipulasi dan mengendalikan orang dengan janji-janji yang belum tentu bisa dibuktikan.
Lawan dari abstrak adalah konkrit. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dari keduanya, karena itu adalah sebuah paradoks.
Hewan cenderung hanya tunduk kepada hal yang konkrit, yang terkadang justru sering mencelakainya. Seperti burung, ikan, atau monyet yang sering terkena jebakan atau pancingan makanan yang ada tepat di hadapannya. Dalam Al-Qur'an, kecenderungan makhluk yang hanya silau oleh apa yang instan dan kasat mata di depan mata ini erat kaitannya dengan sifat Al-‘Ajilah (terburu-buru menikmati yang sekarang).
Dan hewan tidak akan pernah tertarik kepada hal yang abstrak, padahal mungkin itu jauh lebih menguntungkannya. Seperti halnya domba jika disodorkan dua pilihan antara sekarung rumput dan uang 100 juta rupiah. Jelas, domba akan memilih sekarung rumput karena ia tidak punya kemampuan mencerna nilai abstrak dari lembaran uang tersebut.
Lalu bagaimana dengan manusia?
Manusia seringkali terlarut dalam hal konkrit yang remeh, padahal itu tidak terlalu menguntungkan baginya dalam jangka panjang. Dan terkadang pula, manusia justru terhanyut dalam hal abstrak yang semu, padahal itu bisa saja menipu dirinya.
Di sinilah letak pentingnya merawat akal sehat. Kesimpulannya, manusia sebaiknya tidak terlarut dalam janji-janji atau konsep abstrak yang belum terbukti, namun juga tidak boleh hanya terpaku pada hal-hal konkrit yang bersifat jangka pendek.
Sebuah kehidupan yang bijak adalah ketika manusia dapat menggabungkan keduanya secara proporsional. Prinsip keseimbangan ini selaras dengan sebuah mahfudhot (kata bijak Arab) yang sangat populer:
اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا "Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok."
Pesan ini mengajarkan kita untuk hidup di dua alam berpikir: menggunakan pertimbangan abstrak (seperti visi masa depan, nilai keimanan, dan perencanaan jangka panjang) namun di saat yang sama tetap berpijak kuat pada kenyataan konkrit dan ikhtiar nyata yang ada di hadapan kita hari ini.
Sebagian laki-laki tidak sanggup menafkahi istri walaupun itu diwajibkan dalam Islam. Tetapi bersemangat menambah istri walaupun itu tidak diwajibkan dalam Islam.
Namun juga kadang sebagian laki-laki sanggup memiliki banyak perempuan sekedar selingkuhan dan mata jelalatan melihat perempuan walaupun dia tahu itu haram.
Sebagian wanita tidak sanggup berbagi suami walaupun itu dibenarkan dalam islam.
Namun kadang sebagian wanita sanggup berbagi auratnya kepada banyak laki-laki walaupun dia tau itu haram.
Kepastian Vs Keyakinan
Seni Menata Hati Eps.21
Langit tidak selalu cerah. Ada hari-hari ketika awan hitam tebal menutupi cahaya matahari dan membuat jalan di depan terasa gelap gulita serta tidak jelas. Namun, awan tidak pernah khawatir ke mana ia harus pergi. Ia tidak pernah protes atau panik; ia hanya mengikuti arah embusan angin dengan penuh ketenangan.
"Dan kepada Allah-lah kesudahan segala urusan." — QS. Luqman: 22
Sering kali hidup kita pun demikian. Kita tidak pernah diberi garansi atau kepastian mutlak tentang apa yang akan terjadi esok hari. Tetapi, bukan berarti kita harus menghabiskan sisa umur dalam ketakutan dan kecemasan.
Ada saatnya kita harus berani menapakkan kaki dan melangkah hanya dengan modal keyakinan di dada, meskipun mata kita belum mampu melihat ujung seluruh jalan di depan.
"Keyakinan adalah engkau tidak menuduh Tuhanmu terhadap apa yang telah Dia takdirkan untukmu." — Ibnu Athaillah al-Iskandari
Percayalah, tidak semua hal yang belum terlihat oleh mata itu berarti tidak ada. Kadang, kehidupan sengaja menyembunyikan akhir cerita untuk mengajarkan kita sebuah seni batin yang mahal: tetap berjalan dengan prasangka baik, sambil percaya sepenuhnya bahwa setiap jengkal langkah yang kita lalui memiliki tujuan yang baik di sisi Allah.
Sebab, ketenangan hidup tidak lahir karena kita berhasil menggenggam masa depan, melainkan karena kita percaya kepada Dzat yang menggenggam masa depan tersebut.
"Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku." — Hadits Qudsi, Riwayat Bukhari dan Muslim
Stres yang Dinormalisasi:
"Di dunia masa kini, kita tidak butuh ancaman fisik untuk merasa terancam. Cukup satu notifikasi atau pesan dari atasan, sistem saraf kita langsung masuk ke mode bertarung (sympathetic hyperarousal). Ketika stres ini dinormalisasi setiap hari, tubuh kita perlahan-lahan hancur dari dalam."
Project: RE:WIRE Episode 13