Ada celah serupa retakan didalam aku. Terlalu rapat untuk diselipkan perekat, terlalu renggang untuk tetap dibiarkan. Melalui celah setiap retakan itu, memori tentangmu terus menguar. Aroma tanah selepas hujan selalu berhasil membuatku mengingatmu. Mata sayu itu dan caramu tersenyum dengan lesung di pipi, seringkali tiba-tiba ingin diingat kembali. Aku, pernah teramat membenci kota ini, karena pergi ke arah manapun selalu mengantarku pada ingatan tentangmu. Setiap penanda jalan yang kulewati selalu mereka ulang ceritamu tentang sudut-sudut kota. Dari sekian hal yang bisa kusadari, tidak seharusnya aku berandai-andai untuk bisa kembali.
















