Suatu Hari Nanti, Kamu Akan Menemukan tempat pulang terbaik dalam bentuk Seseorang.
"kamu sudah 24, Nak," ujar Ayah, suaranya berat tapi penuh harap.
Aku hanya terdiam sejenak, menatap secangkir teh yang masih mengepul. Lalu tersenyum tipis.
"rencana menikah kapan? Ayah sama Ibu nggak keberatan kalau kamu ingin menikah lebih cepat. Ada beberapa guru juga yang sudah bilang, siap mengenalkanmu lewat CV. Dulu Nabi menikah di umur 25 tahun"
Aku menarik napas panjang. Pertanyaan itu sebenarnya bukan hal baru. Aku tau, dengan status sebagai penggiat organisasi keagamaan, dan riwayat pendidikan agama pula, peluang menikah lewat guru dan CV begitu terbuka. Banyak yang siap mengenalkan, banyak pula yang ingin mengenal. Sudah lebih dari tiga kali aku ditawarkan. Tapi… aku masih merasa ada satu hal yang belum tuntas.
Aku seorang pengelana. Bukan karena aku tak ingin pulang, tapi karena ada banyak jalan yang harus kutempuh. Ada pesan yang ingin kusampaikan lewat langkah, ada makna yang kucari di balik tiap perjalanan. Hatiku belum bisa menetap di satu tempat, karena jiwaku masih ingin belajar, masih ingin ditempa.
Aku tahu, menikah bukan sekadar menemukan seseorang untuk bersama. Tapi tentang menetap, membangun, berlabuh. Sedangkan aku… masih seperti perahu yang mencari dermaga.
Aku menunduk, lalu berkata pelan, "Doakan saja, Yah, Bu. Aku belum tahu kapan. InsyaAllah dia akan datang di waktu yang paling tepat. Saat aku siap menetap, dengan langkah yang berhenti di satu rumah."
Ayah terdiam. Ibu mengusap tangannya sendiri, menahan kata-kata yang hampir meluncur. Lalu akhirnya mereka hanya mengangguk.
"Semoga yang datang nanti, benar-benar yang terbaik ya, Nak," suara Ibu pecah di penghujung kalimat.
Aku pun mengaminkan. Karena aku yakin, suatu hari nanti, akan ada seseorang yang menjadi dermaga terakhirku.
Dan di matanya, aku bukan hanya seorang pengelana. Tapi juga suami yang pulang, menetap, dan menjadi hal terbaik baginya.