Jika aku melupakanmu, mungkin tidak sepenuhnya.
Sebab ingatan bukanlah lembaran kertas yang bisa dibakar hingga menjadi abu. Ia lebih menyerupai aroma hujan yang tertinggal di tanah setelah badai berlalu. Tak terlihat, namun sesekali hadir, menggelitik kesadaran tanpa permisi.
Mungkin suatu hari aku tak lagi mengingat warna pakaian yang pernah kau kenakan, atau tanggal-tanggal yang dulu kuanggap suci. Namun akan selalu ada residu kecil yang bersembunyi di sudut-sudut pikiranku. Pada lagu tertentu. Pada senja yang terlalu jingga. Pada secangkir kopi yang mendingin terlalu lama di atas meja.
Dan saat itu terjadi, aku tahu, yang tersisa bukan lagi dirimu.
Melainkan jejak yang pernah kautinggalkan pada cara aku memandang dunia.
Namun jika aku memilih pergi menjauh darimu, maka yang mati bukan hanya perasaan ini.
Aku harus membunuh jati diri yang pernah kau kenal.
Aku harus menguburkan lelaki yang hafal caramu tertawa.
Membakar seluruh peta yang pernah mengarah pada namamu.
Merobohkan bangunan-bangunan kecil yang diam-diam kubangun dari harapan dan kemungkinan.
Sebab terlalu banyak bagian diriku yang pernah tumbuh di bawah bayang-bayangmu.
Terlalu banyak makna yang pernah lahir karena keberadaanmu.
Maka pergi darimu bukan sekadar melangkahkan kaki ke arah yang berlawanan.
Ia adalah pembongkaran besar-besaran atas seorang manusia.
Sebuah peristiwa sunyi ketika seseorang mencabut akar dari tanahnya sendiri, lalu berharap tetap hidup setelahnya.
Barangkali itulah sebabnya aku tidak pernah benar-benar berlari.
Aku hanya berjalan perlahan, membiarkan waktu mengikis segala yang pernah kau sentuh.
Sampai suatu hari nanti, jika takdir mempertemukan kita kembali, mungkin kau masih mengenali wajahku.
Namun tidak dengan lelaki yang pernah kau kenal.
Karena ia telah menjadi puing, lalu debu, lalu cerita.
Dan cerita, seperti kita, pada akhirnya hanya hidup selama ada yang bersedia mengingatnya.
@gramabiru | residu yang tertinggal