Pertama Kali Berkenalan dengan Laut
Aku adalah anak yang sangat disayangi bapak dan ibuku. Betapa bahagianya aku bisa menyadari hal itu. Saat aku melihat tepi laut daerah Kendal dari dalam gerbongku siang ini, aku teringat saat pertama kalinya ku dibawa melihat laut oleh ibu dan bapakku.
Keluargaku hidup dengan sederhana sehingga kegiatan liburan atau rekreasi keluarga sangat jauh dari agenda sehari-hari. Betapa kusadari bahwa akulah anak satu-satunya yang sempat merasakan luangnya waktu ibu dan bapakku yang dicurahkan untukku melalui piknik sederhana kala itu.
Sejak pagi kami telah bersiap berangkat. Ibu dan bapakku khusus menyewa delman untuk kami yang dapat kami naiki sejak di dekat rumah hingga ke kecamatan sebelah, Kecamatan Bandung. Sepanjang perjalanan menggunakan delman, aku yang saat itu masih sangat kecil sempat terbayang lirik lagu "Kereta Kuda." Yang kupikirkan saat itu adalah "ternyata begini rasanya naik delman."
Sejak kecil aku memang sudah cerewet sehingga kutanyakanlah berbagai hal pada mereka selama di atas delman itu.
Setelah sampai di Kecamatan Bandung, perjalanan kami lanjutkan dengan menaiki angkutan umum. Tentunya kendaraan ini sangat ramai dipadati oleh penduduk asli setempat yang baru selesai berbelanja di pasar besar Bandung.
Mendekati wilayah pantai yang kami tuju, ternyata jalanan menjadi semakin berkelok-kelok. Ada tanjakan dan turunan, bahkan tikungan-tikungan tajam. Aku kecil merasakan itu sebagai hal yang memang baru sekaligus sedikit mengerikan. Bagaimana orang bisa membuat jalan beraspal di pegunungan seperti ini, pikirku. Bagaimana kendaraanku ini bisa kuat menaiki jalanan seperti ini, penasaranku. Tak lupa hal-hal itu juga kutanyakan pada bapak dan ibuku, bahkan sopir kendaraan itu.
Di sela-sela pikiranku yang sibuk sendiri, akhirnya kulihat air berwarna biru di kejauhan. Tapi agak aneh menurutku, karena airnya nampak seperti tergantung di langit, di atas bukit-bukit. Sopir kendaraan itu berbicara dengan semangat padaku,"Lihat nak, itu lautnya!" Aku mengikuti apa yang dia tunjukkan padaku, dan benar yang kulihat adalah air berwarna kebiruan yang sedari tadi menggantung di langit. Sempat kulihat wajah ibu dan bapakku menunjukkan perasaan senang dan antusias dengan apa yang kami lihat.
Karena tak bisa menahan kebingunganku, kutanyakan lah pada mereka semua,"Kenapa lautnya ada di atas?" Aku sungguh bingung saat itu karena setauku laut itu luas dan tidak berada di langit. Sopir kendaraan itu lantas berkata bahwa itu bukan air di langit, tapi karena kami melihatnya dari jauh, maka air lautnya nampak seperti berada di langit. Aku masih tak bisa memahami kata-kata bapak sopir itu. Tapi aku hanya diam dan kembali melihat sekitarku.
Hingga akhirnya jalanan yang kami lalui mengantarkan kami di bibir pantai. Hari itu bapak dan ibuku mengajakku ke pantai yang sangat sepi. Hanya kami bertiga yang datang ke tempat itu. Untuk pertama kalinya aku diajarkan melihat laut dengan penuh kewaspadaan. Aku dilarang menghampiri air laut atau pun mandi di dalamnya. Kata bapakku karena ombak di sini terlalu besar dan pantainya sepi.
Hari itu aku mengenal laut sebagai air raksasa yang membahayakan, namun menarik perhatian. Sejak hari itu aku mulai menciptakan hubungan dengan laut, bahwa aku hanya cukup dengan mengaguminya saja, tapi tidak untuk terlalu dekat dengannya.









