Seperti de'javu, belakangan sedang banyak penggunaan tagar #savepalestine yang tiga atau empat tahun lalu juga pernah meramaikan setiap media sosial.
seperti de'javu pula, merasa saudara seiman diperlakukan tidak manusiawi, bohong rasanya jika tidak merasa marah dan sedih.
Dan lagi lagi seperti de'javu, segala bentuk solidaritas pun digencarkan mulai dari menggemanya doa bersama disetiap mesjid demi keselamatan kaum muslim palestina hingga banjirnya jalanan oleh orasi manusia mengecam tindakan keji zionis israel.
Merunut ke masa lampau tiga atau empat tahun yang lalu, karena tak mau ketinggalan, menjadi yang paling bersemangat dalam menyuarakan kebebasan palestine lewat tagar dimedia sosial dan berdiri paling depan dalam mengumpulkan dana pun tak terelakkan. Dengan ikhlas hal tersebut terus menerus dilakukan hingga terdengar kabar bahwa musuh telah dipukul mundur. Dan syukurpun terlafadz di hati dan mulut dengan sangat tidak terhingga.
Waktu berganti. Kabar duka perihal palestina mulai jarang terdengar. Dan menjalani aktifitas sederhana sehari hari layaknya berbelanja, makan bahkan minum pun tak lagi dirundung gusar dengan pertanyaan ‘apa kabar saudara seiman disana hari ini’. Namun mirisnya, dibalik kelegaan tersebut tanpa disadari peluru dan granat sedang dipersiapkan untuk mengoyak dada para syuhada beberapa tahun kedepan (red: saat ini) lewat tangan tangan donatur yang dari produk mereka kebutuhan sandang pangan kaum muslim terpenuhi.
Kurangnya pengetahuan, sedikitnya sosialisasi dan bahkan minimnya kesadaran, menjadikan kaum muslim -suka tidak suka- sebagai boneka kayu yang keterbatasannya pergerakannya diatur teratur oleh petinggi petinggi zionis lewat produk produk tersebut. Yang bersugesti bahwa hidup diera mobilitas tinggi seperti saat ini tidak akan bertahan tanpa penggunaan produk produk tersebut. Menjadikan kaum muslim sebagai pahlawan -suka tidak suka- tertutup matanya oleh topeng sendiri. yang hendak memadamkan api namun masih tetap menyiram bahan bakar kedalamnya. Yang menjadikan kaum muslimin -suka tidak suka- sebagai harimau tanpa taring yang mengaum tapi tidak menakutkan.
Belajar dari pengalaman, berita pilu dari palestina yang baru baru ini terjadi bukan tidak mungkin akan terulang tiga atau empat tahun berikutnya namun dengan ribuan pengharapan semoga mereka tetap dalam lindungan. Dan belajar dari pengalaman pula, dengan bertambahnya pengetahuan, bertambahnya sosialisasi, dan bertambahnya kesadaran semoga membantu sesama bukan lagi perkara setengah setengah dan tidak ada lagi perasaan bersalah karena turut andil dalam mengucurnya darah para saudara Di palestina. Karena pada dasarnya zionis membutuhkan dana untuk menebar teror dan menebas kepala para orang tua bahkan anak anak disana melalui ketidakmautahuan para muslim yang tidak mencari tahu.
Memang tidak mudah merubah haluan perahu dimana arusnya terus menggerus. Perusahan perusahaan besar memenuhi dan merajai pangsa pasar. Penggunaan produk produk terkenal pun sudah dicucuk sejak balita. Padahal jika haluan berubah, peribahasa 'ala bisa karena biasa’ dan 'sekali merengkuh dua tiga pulau terlampaui bisa berlaku disini. Selain berimbas baik pada palestina hal ini juga akan mempengaruhi produk produk lokal yang tentunya akan memberi keuntungan dalam peningkatan devisa negara dan perluasan lapangan pekerjaan.
Karena membeli produk zionis adalah sama dengan menabung amunisi di bunker mereka setiap harinya. Matematikanya, semakin banyak muslim yang punya niat merubah haluan maka semakin banyak pula pengaruhnya terhadap pasokan produk produk tersebut yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi jumlah dana yang akan tersalur kepada mereka. Yang ditekankan disini adalah produk produk zionis yang sebagian besar labanya disalurkan ke Israel. Karena Yahudi tidaklah selalu sama dengan Zionis. Dan produk produk zionis yang masih bisa diusahakan untuk dicari penggantinya.
Namun kembali lagi, mengubah mindset orang lain tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebaik apapun tujuannya pasti akan ada penolakan meski dalam sebuah pembenaran. Setiap orang punya cara dalam berprinsip dan berfikir. Karenanya akan sangat baik jika segala hal selalu dimulai dari perbaikan diri sendiri.
Berdoa untuk mereka tetaplah yang utama dan memanglah sebuah keharusan. Berdoa ditambah berdonasi akan lebih baik. Namun, berdoa ditambah berdonasi serta beraksi akan merangkap menjadi satu kesatuan yang kuat.
Dan dengan segala kerendahan hati serta maaf yang sebesar besarnya, adalah tulisan ini tidak memihak dan meninggikan kelompok mana pun. Tidak pula bermaksud menyakiti siapapun. Begitupula hal yang dituturkan berdasarkan pengalaman dan murni untuk dikembalikan kepada diri sendiri. Media sosial sebagai penyampaian dipilih berdasarkan aksesibilitasnya. Kapanpun, dimanapun dengan penyebaran penyampaian paling cepat.