Saya kenal, dikelilingi, dan tahu beberapa perjuangan teman-teman saya dalam pernikahan mereka khususnya terkait anak. Upaya mereka dalam menghadirkannya ke tengah-tengah rumah tangganya yang penuh perjuangan. Saya kenal dan juga berteman dengan teman-teman yang dianugerahi kemampuan untuk tidak memiliki anak dalam rumah tangganya dengan berbagai sebab. Sebab-sebab yang tidak pernah saya tanyakan tapi kemudian mereka menceritakannya.
Mengapa menurutku itu adalah sebuah anugerah kemampuan? Karena, saya sendiri mungkin tidak mampu jika dianugerahi kondisi tersebut. Pun, mungkin teman-teman di sini yang sedang begitu bersemangat untuk menikah dengan tujuan salah satunya adalah ingin memiliki anak. Lupa, jika ada kemungkinan bahwa anak itu tidak akan hadir dalam rumah tangga kalian.
Saya juga belajar banyak sekali hal dari mengamati seluruh rangkaian kejadian ini. Saya juga belajar terkait IVF, kista, dll. Saya belajar tentang berbagai sebab kondisi tersebut, treatment apa saja yang mungkin dilakukan, potensi keberhasilan, dan juga biaya. Ya, biayanya besar, sangat besar.
Saya pernah mendapatkan sebuah cerita jika teman saya sudah menghabiskan ratusan juta, untuk itu, untuk sebuah perjuangan menghadirkan buah hati dalam pernikahannya yang sudah berjalan bertahun-tahun. Dan memang, takdir yang kulihat bahwa teman-temanku yang sedang berjuang ini sangat cukup dengan rezekinya. Pekerjaannya sangat baik, penghasilannya berkali-kali lipat dari standar umum, dan lain-lain.
Saya tertegun mendengarkan perjuangannya. Mungkin bagi sebagian dari kita, atau dalam kultur masyarakat kita. Tidak memiliki anak itu sebuah aib, sesuatu yang memalukan, atau suatu penanda gagalnya pernikahan. Saya berharap, teman-teman membuang jauh cara pandang tersebut. Saat ini, dan kelak ketika menjadi orang tua. Karena bisa jadi, jika kita memiliki anak nanti dan anak kita menikah, takdir itu bisa jadi mampir ke kehidupan rumah tangga anak-anak kita. Dan semoga kita bisa menjadi orang tua yang bijak menghadapi hal tsb.
Anak-anak itu adalah rezeki dan di luar kendali kita sebagai manusia. Saat mungkin kita saat ini begitu lelah membersamai anak-anak kita bermain, menjawab semua pertanyaannya, mudah emosi saat anak melakukan sesuatu yang tidak seperti kita inginkan. Di saat yang sama, teman-temanku sedang berharap semua momen itu hadir ke dalam hidupnya.
Sampai cerita yang terakhir kudengar dari salah satu temanku. Setelah perjuangannya berkali-kali, melakukan prosedur operasi berkali-kali, telah menghabiskan ratusan juta, akhirnya keluarga ini ikhlas. Ikhlas pada takdir yang hadir dalam hidupnya. Terakhir mereka berpesan jika ada anak dari seseorang yang dikenal dan keluarganya tidak mampu mengurusnya baik secara ekonomi dll. Dia ingin mengadopsi anak. Selain itu, cita-citanya yang lain adalah membuat panti asuhan dari penghasilannya yang sangat cukup tersebut.
Lagi dan lagi. Dikehidupan ini kita perlu untuk selalu menyalakan empati. Memberi makan empati kita agar terus hidup dan bisa memiliki ruang yang luas untuk memahami beragam keadaan. Dan semoga setelah ini, cara pandang kita menjadi berbeda dalam memahami keadaan sebuah rumah tangga yang ditakdirkan dengan keadaan seperti itu. Jika itu tidak terjadi di hidup kita, bukan berarti itu tidak ada. Jika nanti itu terjadi dalam hidup kita, kita sudah bersiap.
©kurniawangunadi