nol, nol
â
Aku punya ingin menjadi Laut yang luas dan birunya dapat melamunkan kalbu. Namun ternyata aku adalah Angin yang beterbangan dan dapat mengelap gerah keringatmu yang mengalir dari keningmu ketika kau melamun memandang Laut.Â
Ketika kau duduk melamun menghadap Laut, Angin akan menghamparkan awan untuk teduhkan tubuhmu, namun tatapanmu tetap tertuju kepada Laut. Laut itu memang memanjakanmu namun tak mau menjangkaumu, sedangkan Angin memang tak terlihat memandangmu namun ia menyibak rambut layu-mu yang menghalangi perhatianmu kepada Laut.
Dan akhirnya ada yang aku pelajari dari sikapmu. Ketika kau tak melihatku, aku jadi tidak disibukkan untuk membalas pandanganmu dan memutuskan untuk melihat yang lain, seperti mengenal bakat yang ada dalam hatiku. Dan ketika kau tak melihatku, aku pun menyadari. Bahwa yang selalu setia padamu akan kalah dengan yang selalu ada di hadapanmu. Â
Selamat jalan, berlayarlah menuju impianmu dengan Laut yang menggelar jalanmu dan dari aku yang terus meniupkan layar kapalmu.Â
â











