Sudah lama sepertinya aku tidak menulis. Mencoba untuk tidak bereaksi apa-apa. Aku kira kita akan saling melengkapi. Namun seperinya kita cenderung saling beradu balap.
Akupun sama lelah dengan apa yang terjadi diantara kita. Aku terlalu naif jika berangggapan bahwa waktu akan merubah. Namun nyatanya waktu semakin membuka dan tak ada hubungannya dengan berubah.
Aku masih bertanya-tanya mengapa kamu selalu ingin sama? Bukankah seharusnya untuk berdua? Aku lelah, kamu hanya bahagia jika mendapat yang kamu minta. Kebalikannya, jika tidak sesuai pinta, kamu seolah orang yang paling terluka.
Ya sudah lah, aku juga lelah.
Kalaupun awal yang indah tak dapat terlaksana, ya sudah lah. Peringatan itu sudah aku abaikan sudah lama.
“Tunda” aku selalu memilihnya. Aku merasa ini saatnya aku memilih opsi lainnya yang lebih nyata.
Aku kira kita sudah mendapat cerita bahagia yang kita bagi bersama. Kamu mendapat cita-citamu begitupun aku.
Kini alarm ini tidak akan aku tunda.
Ini tanda pertama, entah berapa kali lagi ia akan peringatan itu ada. Tapi yang jelas, “Tunda” bukan lagi pilihan yang utama.



















