Double Degree and LPDP: Tips and How-to
Last night, I was invited by IYOIN Surabaya to address some folks about my recent experience studying in Paris and Beijing. I was surprised that over 400 students from universities across Indonesia signed up for the event and over 270ish eventually attended the chat. Apparently a mass-chat like this is a new means of sharing and to put instant messaging apps to a meaningful use.Â
I decided to move the entire script in Bahasa Indonesia here on my tumblr for those who had not been able to make it last night.
âSelamat malam semuanya.
Terima kasih, sdri moderator, Febri, dan pihak panitia dari IYOIN Surabaya yang telah mengundang saya untuk berbagi tentang kegiatan-kegiatan saya di luar negeri. Senang sekali teman-teman telah meluangkan waktu untuk menjadi bagian dalam online lecturing pertama ini. Semoga apa yang saya bagikan bisa berguna untuk teman-teman yang telah bergabung di group ini.
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, saya baru saja menyelesaikan double masterâs degree di SciencesPo Paris dan Peking University Beijing. Perkuliahan ini juga berhasil saya tempuh dengan dukungan finansial secara penuh oleh LPDP.
Dalam kesempatan ini saya akan memaparkan beberapa hal terkait perkuliahan double degree sebagai berikut:
- Cara aplikasi magister double degree dan gambaran kegiatan perkuliahannya,
- Tips lulus beasiswa LPDP,
- Tips berhasil membagi waktu untuk kuliah - kegiatan berorganisasi dan pengembangan diri.
Saya akan mulai dari poin yang pertama: double degree SciencesPo - Peking University.
Dual Degree di Prancis dan Tiongkok
Bagi yang belum terlalu mengenal universitas2 di Prancis dan Tiongkok, SciencesPo dan Peking University adalah dua universitas terbaik di masing-masing negara (berdasarkan QS ranking) terutama untuk jurusan International Affairs, yang menjadi jurusan saya. SciencesPo sendiri berada pada ranking ke-4 di seluruh dunia.
Source: QS Ranking on Politics and International Affairs 2016:Â http://www.topuniversities.com/university-rankings/university-subject-rankings/2016/politics#sorting=rank+region=+country=+faculty=+stars=false+search=
Di website SciencesPo, dalam hal ini di fakultas Paris School of International Affairs (PSIA) yang akrab juga dikenal sebagai Institut d'Êtudes politiques de Paris dalam bahasa aslinya, sudah dipaparkan dengan lengkap terkait program double degree: http://www.sciencespo.fr/admissions/en/content/graduate-dual-degrees. Mahasiswa akan menghabiskan waktu satu tahun di PSIA dan satu tahunnya lagi di universitas partner mereka. Ada banyak pilihan universitas partner yang tersedia, termasuk Columbia University di New York dan LSE di London. Saya sendiri tertarik untuk memilih Tiongkok dikarenakan beberapa alasan berikut.
Pertama, Tiongkok memiliki pengaruh dan power yang semakin kuat, baik di kawasan Asia Pasifik, maupun di dunia. Pengalaman tinggal dan dididik langung di institusi pendidikan terbaik di dua negara superpower di belahan Timur dan Barat dunia saya rasa akan menjadi nilai tawar sendiri untuk track record saya ke depannya, mengingat jurusan saya di bidang Hubungan Internasional. Kedua, Tiongkok dan Prancis merupakan representasi sistem pembangunan yang memadukan prinsip sosialis dan liberal di negara yang demokratis (small gov) dan terkontrol (big gov). Pemahaman keduanya akan memberikan pembanding yang baik dan seimbang untuk model pembangunan Indonesia ke depan. Terakhir, menetap di dua kota metropolitan di Timur dan Barat memberikan saya kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat dengan lebih intensif, mengenal perbedaan sistem birokrasi di kedua negara, dan belajar bahasa mereka. Bahasa Mandarin dan Bahasa Prancis adalah bahasa yang sangat penting di ranah Hubungan Internasional dan memiliki penutur yang terus bertumbuh secara kuantitas. Di program double degree, saya tetap belajar secara penuh menggunakan Bahasa Inggris sehingga saya tidak memiliki kendala bahasa (language barrier) untuk kegiatan akademis, namun tetap diwajibkan mengambil kelas belajar bahasa Prancis dan Mandarin sebanyak dua kali seminggu untuk mendukung interaksi mahasiswa dengan masyarakat.
Kembali pada topik mengajukan aplikasi double degree di SciencesPo, adapun dokumen-dokumen yang perlu disiapkan adalah sebagai berikut:
⢠CV/RÊsumÊ
⢠Transkrip nilai S1 dan program pertukaran (jika pernah mengikuti pertukaran akademik)
⢠Surat rekomendasi (disarakankan dari pihak akademik dan profesional), Akademik yang dimaksud adalah profesor / pembimbing mahasiswa saat di S1. Profesional berasal dari atasan saat bekerja.
⢠Nilai ToEFL iBT/IELTS (minimal Toefl 100-107, IELTS 7 tergantung program yang diminati)
⢠Contoh tulisan / publikasi akademis (bisa berupa skripsi yang telah dialihbahasakan ke Bahasa Inggris atau publikasi ilmiah di jurnal.
⢠Rencana Studi / Personal Statement
Pendaftar harus mengumpulkan berkas-berkas ini dan menggunggahnya di website universitas. Akan ada borang yang berisi beberapa pertanyaan terkait latar belakang personal maupun substantif dalam formulir yang perlu dilengkapi secara online. Formulir rekomendasi harus diisi sendiri oleh pihak pemberi rekomendasi melalui email yang dikirim langsung ke pihak universitas. Kedua universitas yang didaftarkan kemudian akan memeriksa keaslian dan kualitas aplikasi yang diberikan. Apabila kedua universitas meloloskan, baru setelah itu calon mahasiswa akan mendapatkan Letter of Acceptance. Seperti yang tertera di website, admisi di program Dual Degree umumnya lebih kompetitif. Di tahun saya hanya ada 10 mahasiswa yang berhasil lolos dan saya merupakan satu-satunya mahasiswa berkebangsaan Indonesia.
Secara garis besar, perkuliahan di SciencesPo dan Peking University terdiri atas kelas dengan ukuran beragam, dari yang hanya berisi 4 orang mahasiswa sampai ratusan orang. Tugas-tugas umumnya berupa daftar bacaan yang harus disiapkan sebelum masuk kelas, paper (baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif menggunakan software STATA, presentasi, simulasi sidang, dan ujian tengah serta ujian final (sit-in exam)). Saya juga mendapatkan kesempatan magang di tahun pertama dan menulis thesis di tahun kedua yang kemudian akan diuji dalam thesis defense.
Secara umum, perkuliahan di Eropa jauh lebih âdemandingâ dibandingkan di Asia. Standar penilaian juga cukup berbeda. Lebih mudah mendapatkan nilai tinggi di kampus-kampus di Asia dibandingkan di Eropa, dengan jumlah jam kelas dan tugas yang jauh lebih banyak di Eropa. Keseharian mahasiswa diluar jam kelas umumnya dihabiskan di perpustakaan untuk menyelesaikan tugas (baik individu maupun kelompok), membaca bahan kuliah, dan mempersiapkan presentasi. Selain itu banyak kuliah-kuliah tamu / konferensi yang diselenggarakan bersama tokoh2 penting. Beberapa tamu yang datang di tahun saya berkuliah di SciencesPo antara lain: Ban Ki-moon, Kofi Annan, Irina Bokova, Arnold Schwarzenegger, Thomas Piketty, dsb. Banyak tenaga pengajar permanennya yang juga menjadi praktisi dalam politik internasional, seperti mantan menteri atau direktur organisasi internasional.
Kegiatan non-akademis umumnya akan dihadiahi kredit kuliah (apabila aktifitas terkait ada di dalam daftar kegiatan resmi kampus): seperti saat ikut berlomba keluar negeri, aktif berorganisasi dan mengambil kelas-kelas seni dan olahraga. Banyak ragam aktifitas yang bisa dipilih, sehingga mahasiswa cenderung sangat produktif. Organisasi kemahasiswaan juga secara rutin menyelenggarakan program kebudayaan, study tour, peringatan Hari Besar Internasional dan piknik untuk tujuan refreshing. Untuk mahasiswa Indonesia sendiri juga dapat bergabung dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) agar terus terhubung dengan program-program yang diorganisir oleh sesama mahasiswa/i Indonesia.
Beralih ke topik kedua, bagaimana cara mendapatkan Beasiswa LPDP.
Seputar Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)
Beasiswa LPDP dikelola oleh Kementerian Keuangan RI bekerjasama dengan dua kementerian lainnya. Tanggungan LPDP sangat komprehensif, mencakup tuition fee, biaya hidup bulanan (living allowance), biaya pindah (settlement allowance senilai dua kali living allowance), uang buku, asuransi, tiket pesawat dan visa, serta insentif publikasi, pembiayaan saat menjadi pembicara di konferensi luar dan dalam negeri, dana penelitian / penulisan thesis, dana wisuda, dan insentif masuk ke universitas 50 terbaik di dunia. LPDP juga memberikan skema lain diluar skema beasiswa regularnya, meliputi Beasiswa Afirmasi (3T), Beasiswa Thesis/Disertasi, Beasiswa Kedokteran Spesialis, dan Beasiswa Presidensial. LPDP lebih memilih untuk membiayai mahasiswa/i dengan konsentrasi studi yang dianggap strategis untuk Indonesia di universitas 200 terbaik di dunia (daftar diambil dari QS Ranking). LPDP juga memberikan beasiswa S2 dan S3 di dalam negeri (daftar universitas mengikuti daftar yang disediakan LPDP), serta menyediakan dana untuk pembangunan infrastruktur sekolah di daerah terpencil. Untuk informasi lebih lanjut, termasuk berkas-berkas yang perlu disiapkan, silahkan pelajari website LPDP secara langsung:Â http://www.lpdp.kemenkeu.go.id.
Seleksi LPDP diadakan 4 kali setahun, terdiri atas: seleksi berkas, wawancara, leaderless group discussion (LGD), serta essay writing on the spot. Setelah dinyatakan lolos, calon penerima beasiswa wajib mengikuti Persiapan Keberangkatan / Pelatihan Kepemimpinan (PK) selama kurang lebih satu minggu di satu wilayah yang ditentukan oleh LPDP dan wajib mengerjakan tugas-tugas Pra dan Pasca-PK. Tujuan dari PK adalah agar penerima beasiswa lebih memahami mekanisme teknis pembiayaan LPDP, mempersiapkan calon mahasiswa saat studi nanti, serta menumbuhkan rasa cinta tanah air.
Beberapa tips lolos seleksi LPDP:
1) Persiapkan seluruh berkas dengan baik. Jangan serba minta kelonggaran diluar dari persyaratan yang sudah ditetapkan (universitas tidak ada di dalam list, surat rekomendasi berbeda format, dsb) APABILA tidak memiliki alasan yang kuat (apalagi kalau belum memiliki LoA).
2) Lebih disarankan calon pendaftaran telah terlebih dahulu memiliki Letter of Acceptance dari universitas yang dituju dan TIDAK lagi mengganti universitas tujuan saat sudah dinyatakan diterima (penggantian diperbolehkan dengan beberapa persyaratan, namun secara umum tidak disarankan).
3) Pahami dengan baik alasan melanjutkan studi, mengapa memilih jurusan dan universitas/negara yang dituju, mengapa memilih belajar di luar negeri dan bukan di dalam negeri, dan sebagainya.
4) Pahami latar belakang diri sendiri (track record, keahlian, passion, dsb) dan perencanaan ke depannya. Mengapa saudara menganggap layak dibiayai oleh Negara? Apa yang dapat Anda kontribusikan ke Negara pasca studi Anda? Mengapa rencana studi Anda berguna untuk kepentingan Negara atau sektor strategis Negara di masa yang akan datang?
5) Apabila masih studi S1, persiapkan diri sedini mungkin terutama karena teman-teman masih memiliki waktu untuk menata studi teman2. Saya sarankan agar:
  - a) menyeimbangkan prestasi akademis dan non-akademis,
  - b) aktif berorganisasi dan berkontribusi untuk kegiatan kemasyarakatan. Saat berorganisasi, saya sendiri berprinsip untuk lebih banyak memberi daripada menerima, semakin banyak kita memberi (aktif berkontribusi) maka akan semakin berbahagia dan produktif. Tanpa kita pamrih sekalipun, saya percaya Tuhan akan membalaskan berlipat kali ganda,
  - c) belajar bahasa asing (terutama bahasa inggris),
  - d) banyak membaca dan mengikuti perkembangan dalam dan luar negeri dengan kesadaran penuh bahwa kita semua, anak-anak muda, bertanggung jawab untuk meneruskan estafet pembangunan negara di masa yang akan datang.
Terakhir, saya rasa penting untuk menggarisbawahi bahwa studi keluar negeri harus didasari niat yang baik untuk suatu saat dapat berkontribusi untuk Negara, dan bukan semata-mata untuk kepentingan diri sendiri (apalagi kalau hanya karena ingin keren-kerenan dan jalan2 keluar negeri gratis!). LPDP sendiri adalah dana abadi yang diinvestasikan dari pajak rakyat Indonesia. Alangkah baiknya dipergunakan dengan bijak dengan niatan yang lurus.
Penting juga bagi saya untuk menyatakan bahwa sejauh ini double degree tidak masuk ke dalam skema resmi yang diatur di dalam LPDP. Sepengetahuan saya, baru ada tiga orang penerima yang di-approve rencana studi double degreenya dengan persyaratan: telah menerima LoA double degree saat mendaftar, kedua universitas ada di dalam list LPDP, masing-masing studi ditempuh selama satu tahun--tidak lebih. Saya juga perlu menggarisbawahi bahwa penerima skema double degree sama sekali tidak menandakan keunggulan dibanding program lainnya. Banyak program masterâs regular (satu atau dua tahun di negara yang sama) yang sama atau bahkan lebih baik dari skema double degree.
Bagaimana Membagi Waktu dengan Segudang Aktifitas?
Terakhir, saya ingin sedikit membagikan tips terkait manajemen waktu yang dulu juga pernah saya bagikan dalam Program #AwardeeStory LPDP. Saya rasa manajemen waktu yang efisien dengan pola pikir (mindset) yang benar dan tulus adalah kunci produktifitas dan kebahagiaan. Berikut pindaian kultwit yang kala itu saya bagikan:
(1) Hi, terima kasih untuk @LPDP_RI yg mempercayakan saya untuk membagikan inspirasi lewat #AwardeeStory minggu ini.
(2) Lewat LPDP, sy mengambil Double Degree di @sciencespo Paris & @PekingUniv Beijing, Jurusan Inter'l Economic Policy & Sustainable Devt.
(3) Tema #AwardeeStory yg akan saya bahas: âTips Membagi Waktu antara Kuliah dan Berprestasi / Berorganisasi melalui Kegiatan Ekskulâ.
(4) Karena keg kampus sgt menyita waktu, bnyk yg akhirnya mengesampingkan pentingnya berprestasi&berorganisasi di kegiatan ekstrakurikuler.
(5) Padahal ada banyak manfaat berekskul: networking, aplikasi ilmu secara langsung, mengasah competitiveness & soft skills, dsb.
(6) Motivasi yg efektif memilih ekskul adalah selektif: (1) sesuai dgn passion & bakat, dan/atau (2) menunjang aplikasi akademik dari kelas.
(7) Dgn demikian, keg ekskul ini tdk dianggap sbg hal yg menyita waktu, karena sdh menjadi hobi kita & menunjang pengetahuan saat di kelas.
(8) Sy sendiri aktif berekskul Debat & MUN sedari S1 di Unhas hingga di Paris. Sy juga berorganisasi lwt @ppiparis dan @iYouthDiplomacy.
(9) Berikut 4 tips praktis #TimeManagement dari berbagai sumber yg saya terapkan & berhasil! Tips ini jg dapat diterapkan dlm hal lain.
(10) Tips1 #TimeManagement - Having the right mindset: time is finite, equally distributed to everyone, time is money, ada opportunity cost.
(11) Tips2 #TimeManagement - Automate your routines and habits, eliminate trivial decision making, be quick but meticulous and efficient.
(12) Tips3.a. #TimeManagement - Schedule your priorities, identify the actual productive hours you can have for a given day (<10hours/day).
(13) Tips3.b.i #TimeManagement - Discern in group which is which: important vis Ă vis urgent activities. (see picture)
(14) Tips3.b.ii #TimeManagement - To produce quality works, make sure they're on Quadrant2: important BUT NOT urgent (see picture)
(15) Tips3.c. #TimeManagement: - Make margin (a save increment adjusted to distraction, such as techbreak for socmed).
16) Tips4 #TimeManagement: - Gunakan teknologi utk mengoptimalkan kinerja. Beberapa daftarnya di sini: http://michaelhyatt.com/favorite-apps- Â @MichaelHyatt
(17) Dengan #TimeManagement yg baik, kita dapat aktif di banyak kegiatan sesuai dengan prioritas kita tanpa mengorbankan yang lain.
(18) Here's a quote: âThe bad news is time flies. The good news is you're the pilot." â Michael Altshuler #TimeManagement #AwardeeStory
(19) Sekian Tips #TimeManagement lewat #AwardeeStory. Utk pertanyaan, silahkan hub lewat surel: biondi[dot]sima[at]sciencespo[dot]fr.
(20) Mengutip @Pak_JK, penerima @LPDP_RI berhutang pd negara lwt prestasi. Alangkah baiknya kita saling mendukung & berbagi, bkan menjatuhkan. :)
Demikian sharing yang bisa saya sampaikan. Saya akan kembalikan ke moderator untuk sesi tanya jawab jika ada yang perlu dijelaskan lebih lanjut. Saya juga sangat terbuka untuk dihubungi lebih lanjut melalui akun sosial media saya: @biondisima (instagram, twitter), atau apabila ada yang ingin berdiskusi di forum lainnya tentang topik-topik yang berbeda. Adapun beberapa topik yang saya minati dan telah pelajari dengan intensif, antara lain: Kebijakan Ekonomi, Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development), Lingkungan, Good Governance, Isu Kepemudaan, Hubungan Internasional, Stategi Komunikasi, Public Speaking, Debat dan Model United Nations.