[papamin au 🐅] got the whole world in his arms 💛 (donation request)

PR's Tumblrdome
No title available
Doug Jones

izzy's playlists!
Sweet Seals For You, Always
Lint Roller? I Barely Know Her
Xuebing Du
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

No title available
todays bird
Game of Thrones Daily
𓃗

bliss lane

roma★
untitled
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Monterey Bay Aquarium
RMH
sheepfilms
he wasn't even looking at me and he found me

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Australia

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from Paraguay

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Mexico

seen from United States
seen from Singapore

seen from United States
seen from Brazil

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
@binar-asmaraloka
[papamin au 🐅] got the whole world in his arms 💛 (donation request)
kasihan sekali ibuku.
kata mereka, turut berdukacita ya bu,
jangan diratapi,
jangan bersedih,
jangan menangis,
kasihan anakmu itu.
ah kasihannya diriku.
ibuku tidak boleh menangisi aku.
mengapa?
mengapa seperti itu?
mengapa yang berduka tidak boleh menangis?
Turut berdukacita ya
memang siapa yang mati kali ini?
banyak rangkaian bunga terpatri disepanjang jalan.
siapa yang mati di hari ulang tahunku?
ah..
aku ya?
ternyata aku yang mati kali ini.
Lama kelamaan saya sadar sendiri kalau ternyata dari dulu saya sudah punya perasaan cemburu ini.
Segala tentang dia memang selalu lebih unggul di atas saya
Dan saya gak pernah bisa melampauinya.
Tapi walaupun begitu kami gak pernah sekalipun berantem. Mungkin memang karena kami gak pernah membicarakannya juga.
Sampai sekarang hubungan kami tetap baik baik saja walaupun dengan komunikasi yang sangat minim. Kami tidak tinggal berdampingan. Saya masih menetap disini, gak pernah sekalipun beranjak. Sementara dirinya selalu berpindah tempat.
Dia selalu membagi waktunya yang sedikit itu untuk lalu dibagi lagi dengan keluarganya yang lain. Saya selalu kebagian porsi paling sedikit.
Kalau dipikir-pikir mungkin karena kami tidak tinggal bersama, jadi setiap tahun yang berlalu menjadi alasan mengapa pada akhirnya kami tidak lagi sedekat nadi.
Tapi saya juga sering berpikir apa mungkin sebenarnya kami gak pernah sedekat itu? Dan kenapa juga memori yang saya punya cuma sebatas bongkahan kecil saja? padahal kami tumbuh bersama.
Saya dulu pernah cemburu, sekarang pun saya masih suka cemburu sama dia, tapi semoga aja rasa cemburu itu akan hilang dimakan waktu. Walaupun saya sebenernya skeptis akan hal itu.
Tumbuh bersama membuat perbedaan diantara kami seperti kain tipis yang halus. Semua orang dapat melihatnya. Beberapa orang mengatakannya. Beberapa lagi diantaranya tetap bungkam agar tidak ada yang mati.
Rasanya kalau dilihat kilas balik itu, korbannya bukan cuma saya. Tapi dia juga mati tertikam. Lagi-lagi kami tidak pernah membicarakan hal ini, jadi saya gak tau sedalam apa pisau tertancap di dadanya dan apakah bekasnya masih ada?
Tolong jangan salah paham, saya gak pernah menyalahkan dia. Segala yang ada dirinya memang anugerah Tuhan
Dan cemburu yang tumbuh di hati saya adalah hasil dari pikiran saya sendiri. Saya juga masih berusaha untuk gak nyalahin diri sendiri.
Iya masih.
Saya saya gak tau harus menyalahkan siapa. Apa harusnya saya menyalahkan manusia-manusia di keliling kami?
Dan harus saya akui saya memang salah untuk terlalu mengasingkan diri. Selalu menghindar dari hadirnya. Membiarkan dia datang lalu pergi dengan hampa
Dan untuk tidak pernah lagi menyambut kepulangannya dengan suka. Gak pernah sekalipun terpikir bahwa hadirnya gak lagi bikin diri ini bahagia karena rumah akan ramai akan tawa. Kehadirannya saat ini dirasa seperti petaka.
Kapan dia akan pergi lagi?
Kapan dia akan mengunjungi bagian dari dirinya yang lain?
Porsi sedikit gak lagi jadi masalah yang berarti bagi saya. Bahkan berharap mendapat bagian waktu juga saya sudah gak pernah lagi.
Saya gak ingin dia baca ini. Tapi kalau dia membacanya,
Saya mohon jangan datang di kehidupan saya.
Jangan pulang ke rumah.
penjelasan dari segala resah
benar. aku benar-benar terganggu dengan pesan-pesan yang dikirim oleh orang-orang. aku terganggu dengan setiap cerita yang selalu mereka katakan padaku. cerita yang sebenarnya sudah mereka berkali-kali disampaikan. aku lelah setiap kali aku harus menyiapkan telinga untuk mendengarkan hal-hal yang sama tidak sekali menarik perhatian ku.
aku tidak ingin mengimbangi permainan mereka agar kami tetap bersama. aku tidak pernah mau untuk merendahkan selera ku untuk setiap orang yang kutemui. tapi tetap saja ku lakukan.
kami sebenarnya tidak pernah memiliki pemikiran yang sama. hanya aku yang berusaha memahaminya lalu mencari jalan tengah. kami juga tidak memiliki kesukaan yang sama. tapi aku akan selalu menghormati apa yang disukainya.
dia berpikir kita sangat cocok sehingga kita harus bersama. padahal aku ingin sekali menghindarinya. menjadi pribadi yang jauh dari kata 'tidak' sungguh melelahkan. ingin rasanya aku menjauhi semua orang. tapi bukahkah hidup tidak bisa sendirian? aku takut akan hal itu.
sang dara adalah seorang pelukis.
ia tak butuh kertas maupun kanvas.
tubuhnya ia gunakan sebagai wahana.
jika kau perhatikan, sang dara selalu melukis di pergelangan tangannya.
ia sangat menyukai warna merah.
baginya melukis merupakan hidup dan mati.
Bu, kuncinya hilang.
bilang sama ibu kalau aku minta maaf, ya.
maaf kalau aku tidak bisa hebat di segala hal.
kaki dan tangan ku cuma dua,
waktu ku di dunia setiap harinya cuma 24 jam,
raga ku cuma satu,
aku minta maaf ke ibu, karena nggak bisa jadi yang cukup dan lebih.
bilang gitu ya, ke ibu.
bilang juga kalau aku sayang ibu.
kalau aku nggak pulang berarti kunci ku hilang.
dan aku lupa jalan pulang.
"seharusnya saya terlahir menjadi lelaki saja,"
katanya dengan wajah yang kian memerah, saat menceritakan betapa pilunya hidup menjadi seorang bunga raya. semua orang di ruangan ini tahu dirinya sedang menahan amarah. menahan malu. menahan segala sumpah serapah.
dia, perempuan, menari di atas genangan darahnya sendiri. lalu meminumnya seakan itu bukan hal yang asing.
"kau tahu? aku sudah lama mati tertusuk tulang ku sendiri. jadi kalian tidak usah khawatirkan aku"
sejak dimulainya dialog ini, dinding-dinding ruangan menjadi sangat dingin dan sabda yang melayang di udara menjadi beku. perempuan yang orang-orang tahu itu tidak pernah dilihatnya menangis tersedu-sedu seperti itu. bagian rapuh sang dara membuat heran jiwa-jiwa yang hidup.
apa gerangan yang membuatnya compang-camping seperti itu. dia masih terlihat sangat menawan meskipun sukmanya seakan hilang di tempat antah berantah.
paras indah yang dimiliki sang dara selalu membuat setiap orang terlena. binar matanya dapat memabukkan dalam sekali tatap. setiap lekukan di tubuhnya seakan membuat tungkai lupa untuk memijak tanah. segala tentangnya membuat perempuan lain cemburu. tak jarang juga oleh karenanya ia celaka.
aku tidak masalah detak jantung mu berpacu cepat bukan karena ku lagi asal raga mu tetap milik ku.
Pernah merasa kalau waktu 24 jam dalam sehari itu gak cukup?
waktu ngerjain tugas mepet deadline...
“Kita bertemu pada keadaan yang sama-sama luka. Kita bercengkrama, sama-sama tertawa, sempat sebentar bahagia. Sebelum kemudian kau kembali padanya dan bahagia; sedangkan aku terlanjur jatuh cinta lalu kemudian kembali terluka.”
— (via mbeeer)
aku baru aja bikin kalimat seperti ini. ga sama sih tapi ya setipe
[ini untuk kawan]
terkadang cara melepaskan justru bukan dengan pergi, melainkan tetap di sisinya. menghabiskan sisa waktu yang ada, bercengkrama dengannya, berbagi tawa, lalu menyadari bahwa mungkin sudah seharusnya hanya seperti ini. tidak lebih juga tidak perlu dikurangi. sedikit menyakitkan memang, tapi gapapa. setiap perjalanan punya waktunya masing-masing. kamu ga akan terus-menerus berhenti disitu kan?
maksud aku, nanti juga kamu bakal beranjak dari dia. gatau kapan sih. ya... semoga bisa
/pagi terakhir ku/ [22:23]
hai pagi, selamat pagi.
terima kasih karena telah memberikan satu kesempatan lagi untuk melihatmu.
kali ini aku hanya ingin bersamamu. sungguh.
aku harap siang tidak menunggu ku.
dan sore,
maaf sore,
kali ini aku tidak ingin kamu menjemput ku.
mau kah?
ini permintaan terakhir ku, maaf karena selalu membuat mu marah.
ayo pagi,
kita harus bersenang-senang.
karena aku tahu sore akan tetap datang.
kina
kupu [14:26]
perkenalkan, namaku kupu-kupu.
hari dimana aku bisa keluar dari belenggu kepompong adalah hal yang sangat membanggakan.
akhirnya aku sampai pada tujuanku.
sayapku sangat indah,
entahlah apa warna sayapku ini, aku pun tidak tahu.
tapi yang pasti,
orang-orang menyukainya.
ini belum berlangsung lama
tapi orang jahat telah merobek sayapku
aku tidak tahu kapan dia melukaiku
tiba-tiba saja semuanya kacau.
pagi itu ketika aku bangun dan ingin melihat dunia yang indah ini,
yang kusadari adalah aku tidak bisa terbang
salah satu sayapku patah.
aku sangat takut waktu itu,
akan kah aku mati?
tapi aku masih menyangkalnya dan menyoba berfikir positif.
lalu aku terdiam
dan bayangan sesaat sebelum aku keluar dari kepompong terlintas didepan mataku
saat itu tuan datang menemui ku dan bertanya apakah aku ingin hidup menjadi kupu-kupu?
aku jawab iya dengan bersemangat karena memang itu yang aku inginkan
lalu dia memperingati ku,
bahwa aku hanya bisa hidup selama 12 bulan
dia bertanya lagi apakah aku tetap mau?
tanpa berpikir panjang aku langsung menyetujuinya
persetan dengan 12 belas bulan
aku tidak peduli
aku hanya ingin menjadi kupu-kupu dan bisa terbang bersama teman-teman
tapi tuan,
ini bahkan belum 12 bulan
harus kah aku mati sekarang?
tolong aku.
/23:35/
lagi lagi kita bertemu. kali ini bukan kamu dan sepeda birumu di minggu pagi. malam yang sama dan tempat yang sama. persis sekali seperti 5 bulan yang lalu.
"sudah ya tidak usah dipaksakan. kita seharusnya memang berteman saja. aku pikir itu lebih baik."
lucu. seharusnya malam minggu itu menjadi spesial karena kita baru bertemu setelah lama termakan oleh jarak. tapi itu saja yang kamu ucapkan. segampang itu.
dan setelahnya setiap kali kita bertemu. benar-benar. kamu menganggapku teman.
minggu pagi dan senyum.
"sendiri saja?"
klasik. seharusnya kamu tahu aku akan datang kesini dengan dua kemungkinan. bersamamu atau seorang diri.
malam ini seharusnya menjadi malam yang menyenangkan. sebab akhirnya aku melupakan sejenak tugas tugas yang belum tuntas itu. dan kedua kalinya kamu merusak malam mingguku.
"apa kabar? sendiri saja?"
aku baik. tidak. tentu saja tidak, bodoh. bagaimana bisa kamu setenang itu sedangkan kakiku rasanya lemas sekali. teringat pada malam itu. dan lagi. harus berapa kali kamu bertanya. jawabannya akan sama. aku hanya akan datang bersamamu. seorang diri. atau tidak akan datang sama sakali.
/11:44/
untuk biru
jangan pernah lelah untuk menjadi baik
maafkan mereka ya
jangan berusaha untuk mati
maafkan dirimu,
terima kasih, biru.
/jalan/
Tidak ada yang bisa menjawab untuk apa kita disini
Pada dasarnya baik aku maupun kamu tidak punya tujuan
Kita hanya mengikuti arus
Berharap kerikil didepan sudah berganti aspal
Pada dasarnya baik aku maupun kamu tidak mengerti
Untuk apa semua ini terjadi
Kita hanya menjalankan peran
Tanpa tahu jalan ceritanya
Kita tidak memiliki percakapan sore hari
Juga tidak ada tanya yang terjawab
Karena kita
Sesungguhnya tak pernah bersuara.