Karena semua yang ada di bumi pasti akan lenyap seperti kelopak bunga yang tertiup angin.
Iya, gue selalu mengimani itu dan tanamkan dalam diri gue dalam-dalam. Gak ada yang eternal di dunia ini. Tahun 2017 ada beberapa orang di hidup gue yang pergi. Sudah merasakan itu beberapa kali, dan tetap aja rasanya unik. I just still can’t believe that someone could literally gone forever. Saat dimana dagingnya dikuburkan, itulah tanda orang itu sudah pergi selamanya. Selebihnya, aneh. Seperti tidak ada bedanya, seperti orang itu cuman jalan-jalan yang jauuuh dan gak pulang-pulang.
Tahun ini berasa banget udah kehilangan patua, oppung, dan baru-baru ini Tante Titir. Jujur aja sih, tiga orang ini punya peran yang cukup membekas dalam hidup gue. Patua yang terkenang dengan tawa renyah nya dan nasehat-nasehat yang dia selalu kasih ke gue. Cara dia berfikir dan bergaul dengan orang selalu menjadi panutan gue. Terakhir ketemu dan main-main bareng patua natal tahun lalu di Plasa Senayan dan diskusi terakhir kami tentang efek dari paracetamol, agak random ya? Tapi gue senang. Diskusi2 lainnya pernah tentang bidang ke elektroan, Donald Trump, dan fenomena remaja jaman skrg. Jadi kangen juga.
Selain itu oppung, terakhir ketemu tahun baru 2017. Masih teringat banget terakhir sebelum gue, mama, papa, Gebi mau pulang tiba-tiba oppung nangis banget gamau ditinggal pulang. Lalu dia peluk gue terakhir lagi dan disitu gue sedih. banget. Gue bisa merasakan rasa kesepian dia di kampung, melewati hari-hari tuanya yang cuman bisa duduk makan tidur karena oppung udah susah jalan karena asam urat. Gatau kenapa sejujurnya gue udah punya feeling itu bakal jadi saat terakhir ketemu oppung dan benar aja bulan November kemarin dia dipanggil Tuhan di umurnya yang +- ke 90.
Dan sekarang, kita semua kehilangan Tante Titir, mamanya Tita. Semangat Tante Titir selalu menjadi inspirasi tersendiri buat gue dan gue yakin buat banyak orang yang kenal dia juga. Meskipun dia udah sakit bertahun-tahun, dan melewati banyak jatuh-bangun, dia selalu semangat. Kayaknya gue jarang bgt denger dia ngeluh. Selalu berusaha menyenangkan orang lain dan menjadi berkat buat orang lain. Pernah suatu kali gue inget banget dia padahal pucet dan seharusnya banyak istirahat, tapi dia gamau pulang karena mau buat aktivitas untuk sekolah minggu. Pokoknya Tante Titir benar-benar selalu memikirkan orang lain, salut banget. Gue sedih kehilangan Tante Titir, tapi pasti lebih sedih lagi Tita. Seperti selayaknya seorang anak yang kehilangan ibunya, rasanya pasti hancur banget. Tita udah sabar banget menurut gue menjalani semuanya sejak masih SD sampai sekarang. Dan gue sedih banget melihat Tita sedih seperti sekarang. Tapi gue terlalu bodoh untuk bisa mengelurkan kata-kata penghiburan, gue merasa gue gaakan mengerti perasaan dia dan akhirnya gue diem aja. Ta, kalo lo baca ini lo harus tau kalo gue bener-bener pengen menghibur lo hanya saja temanmu ini sangat bodoh. Lo selalu masuk dalam doa gue, Ta. Dan gue sesedih itu tadi ketika lo ga dateng ibadah natal.. This phase will end really soon, Tut. There always comes the rainbow after the rain.
Natal kali ini agak beda rasanya. Ketika natal tahun lalu gue masi bisa bertemu mereka, masih harus nelepon oppung dan ucapin selamat natal.. Sekarang gak bisa lagi. This makes me realized how a life could really end finally, and it will also come to me one day.