Salah Pandang
Pernah nggak ketemu sama satu momen saat sudut pandang yang kita gunakan ternyata keliru. Kekeliruan itu beranjak dari orang-orang yang kita kenal, yang ternyata memengaruhi cara pandang kita. Entah itu keluarga, teman, atau orang yang kita percaya.
Kita merasa benar dan hidup dengan cara pandang tersebut. Hingga lambat laun, kita menyadari kekeliruannya. Ada yang salah sama hidup kita tapi kita nggak tahu kenapa. Ada yang sesuatu yang bergejolak di hati tapi kita bingung karena selama ini merasa telah menjalani hidup dengan baik. Bahkan, semua kekecewaaan yang kita miliki itu karena orang lain yang dirasa berbuat buruk atau mengecewakan kita.
Kemudian, kita merenung dalam waktu yang cukup lama. Berpikir kembali tentang bagaimana kita menjalani hidup. Dan menemukan sebuah kenyataan pahit. Ternyata selama ini, kitalah yang keliru.
Kita merasa diri sebagai korban, tapi ternyata kitalah pelakunya. Kita memutuskan untuk beranjak dari lingkaran sebelumnya menuju ke cara pandang hidup yang baru. Meski harus dikucilkan, meski harus dianggap sebagai pengkhianat, meski harus di cap sebagai pembangkan. Kita sadar bahwa apa yang ada di tempat sebelumnya bukanlah hal yang layak untuk dihidupi dan dihidupkan.
Mereka hanyalah sekumpulan trauma yang berlindung di balik dinding. Merasa bahwa cara hidup terbaik adalah dengan caranya saja. Menilai orang lain terlalu picik. Dan juga hanya berkutat pada kepentingan dan keuntungan.
Mengabaikan nilai-nilai hidup yang bijaksana. Meniadakan kemungkinan perubahan seseorang. Tak pernah mau memberi uzur kepada orang lain. Dan mudah memutus silaturahmi.
Makin dewasa, kita mungkin akan menyadari bahwa lingkaran pertemanan itu sangat berpengaruh terhadap bagaimana kita menjalani hidup dan memandangnya. Mungkin kita akan menyadari bahwa diri kita kemarin itu salah dan perlu berbenah.
Kita hanya perlu mengakui kesalahan itu, meminta maaf kepada orang-orang yang pernah disakiti, dan mulai menata hidup baru dengan nilai-nilai baru yang lebih hakiki.
Karena hidup ini bukanlah kumpulan kekecewaaan yang diramu menjadi cara pandang, melainkan keyakinan dan kesadaran bahwa diri kita adalah hamba dari Tuhan Sang Pencipta yang tengah menjalani takdir-Nya pada jalannya masing-masing. Makin dewasa, kamu mungkin perlu membuat keberanian untuk beranjak dari tempat lamamu. Yang ternyata membuat hidupmu sempit bukan karena dunia ini sempit, melainkan cara pandangnnya. Yang membuatmu merasa dunia ini penuh orang jahat dan harus selalu waspada dan tidak mudah percaya, ternyata itu hanyalah traumanya yang kamu jadikan keyakinanmu. Sesuatu yang akhirnya kamu sadari, itu bukan nilai yang kamu miliki.
Makin dewasa, kamu mungkin akan mulai mengerti. (C)kurniawangunadi










